From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, March 8, 2017 10:21 AM

  




Pesan nyelekit Rizal Ramli buat Jokowi dan Ahok
Rabu, 8 Maret 2017 06:04Reporter : Yayu Agustini Rahayu, Randy Ferdi Firdaus
Menko Kemaritiman dan Ahok di pulau reklamasi. ©2016 merdeka.com/muhammad 
luthfi rahman


Merdeka.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya 
Rizal Ramli kembali buka suara. Dia menyoroti pembangunan ekonomi Indonesia 
yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut dia, pemerintah selama ini justru mengakomodir kepentingan konglomerat. 
Maka tidak heran, banyak usaha bidang ekonomi kelas kakap yang dikuasai oleh 
beberapa pengusaha kaya raya saja.

Rizal yang hanya bertahan satu tahun di kabinet kerja Jokowi ini menilai, 
merosotnya perekonomian di Indonesia dikarenakan pemerintahan yang menganut 
neoliberalisme. Paham tersebut berdampak pada terjadinya ketimpangan antara 
konglomerat dan warga miskin.

"Dampaknya seperti gelas anggur yang atasnya ini big business (pengusaha besar) 
baik BUMN maupun swasta. Ada sekitar 200 keluarga yang menguasai ekonomi 
Indonesia dan sekitar 180 BUMN. Selama ini, sejak orde baru mereka dilindungi, 
diproteksi, dan diberikan subsidi langsung maupun tidak langsung sehingga makin 
lama makin besar," ujar Rizal saat menjadi pembicara di Rakornas PKS yang 
digelar di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/3).

Sementara itu, di bawahnya ada bagian tipis dan panjang yang berfungsi sebagai 
pegangan. Rizal menyebut bagian tersebut sebagai golongan menengah yang 
independen.

"Jumlah golongan menengah sedikit sekali, di bawahnya lagi alas, ada 40 juta 
sampai 60 juta usaha kecil dan rumah tangga yang negara bantunya cuma 
ecek-ecek, yang negara bantunya cuma charity tapi negara tidak membantu secara 
struktural supaya mereka lebih hebat," terang Rizal.

Menurut Rizal, seharusnya golongan alas tersebut yang harus dibantu oleh 
pemerintah. Namun pada kenyataannya, pemerintah lebih cenderung menyokong para 
pengusaha besar.

"Nah struktur inilah hasil daripada neoliberalisme, sehingga aneh buat saya, 
PKS yang mewakili umat yang mewakili golongan menengah harusnya berjuang untuk 
yang di bawah ini. Memperbesar yang menengah yang independen dan mengubah yang 
atasnya," ungkap Rizal.

Golongan atas, atau para pengusaha besar, menurut Rizal, saat ini hanya jago 
kandang.
Artinya, mereka hanya mengeruk keuntungan dari dalam negeri sendiri tanpa 
memberi kontribusi yang lebih menguntungkan baik bagi negara, maupun rakyat 
kecil dan menengah.

"Kebanyakan mereka mengambil untung dari yang di bawah di dalam negeri, kalau 
udah dapat uang ia kirim uang ke luar negeri," ujar Rizal.

Hal ini, menurut Rizal, sangat bertolak belakang dengan negara maju di Asia 
seperti di Korea dan Jepang. Di sana, perusahaan besar menjadi jago dunia yang 
artinya aktif mengekspor hasil produksi ke luar negeri sehingga mereka 
mengambil untung dari luar dan mensejahterakan warga di negaranya.

"Mereka bukan jago kandang, mereka jago dunia. Sedot untung dari luar negeri, 
nilai tambah dibawa ke dalam negeri supaya mereka besar di dunia internasional 
dan mereka mesti membina yang kecil (di dalam negeri) dan supaya yang menengah 
bisa jadi pemasok untuk spare part misalnya, pemasok untuk komponen sehingga 
yang menengahnya juga kuat dan yang kecil akhirnya dikembangkan," terang Rizal.

Tidak cuma Jokowi yang kena sindir oleh Rizal, Gubernur DKI Jakarta Basuki T 
Purnama ( Ahok) pun kena serang. Rizal diketahui memang pernah terlibat 
perseteruan dengan Ahok saat membahas proyek reklamasi teluk Jakarta saat masih 
jadi menteri. Tak selang dari perseteruan itu, Rizal dicopot.

"Terganggu dengan kehadiran Ahok, terganggu karena penistaan agama, terganggu 
karena memakai slogan bersih tetapi tidak, terganggu karena selama ini pakai 
slogan transparan pada praktiknya tidak, terganggu dengan kampanye profesional 
pada praktiknya tidak," kata Rizal.

Rizal bahkan mewanti-wanti PKS agar jangan sampai menjadi partai politik yang 
mendukungnya. "Saya yakin PKS bisa lebih besar. Jika mendukung Ahok, akan 
tenggelam bersama-sama Ahok," ujar Rizal.

Rizal juga menyoroti merosotnya pamor beberapa parpol besar setelah menyatakan 
dukungannya kepada Ahok. Rizal menjelaskan, partai yang tadinya bisa meraup 
suara sebesar 18 persen maka setelah partai tersebut mendukung Ahok, 
kemungkinan akan drop menjadi 12 persen.

"Apa yang kami sebut sebagai Ahok Effect. Efek tenggelamnya partai-partai besar 
yang mendukung Ahok di Jakarta," tandas Rizal. [rnd]







Kirim email ke