Komentar :  Apa yang dikatakan oleh Rizal Ramli dalam pesannya kepada Jokowi 
dan Ahok, seperti yang tercermin dalam tulisannya dibawah ini benar adanya, 
menurut pengamatan saya munculnya kelompok ekonomi besar 
(konglomerat-kongomerat) tidak terlepas dari tersedianya berbagai macam 
subsidi, proteksi dan fasilitas, warisan rezim otoriterisme militer orde baru, 
yang kini terus dilanjutkan oleh rezim Neoliberal Jokowi-JK; baik secara 
terbuka  atau terselubung. Kolusi antara  kaum birokrat dan kaum penguasa besar 
yang menganut faham neoliberal, memungkinkan demokrasi Ekonomi yang berdasarkan 
Pasal 33 UUD 45 tersisihkan dan diganti dengan sistem ekponomi yang berdasarkan 
pada ideologi neoliberalisme, karena para penyusun kebijakan ekonomi di negara 
kita dikuasai oleh  sekelompok orang-orang yang bekumpul dalam jaringan 
ologarki ekonomi yang menganut sistem neoliberal; Jaringan oligarki nekonomi  
inilah yang harus ditolak untuk menjadi penomena sosial yang berkelanjutan di 
NKRI. Karena  penomena Oligarki ekonomi  telah menimbulkan efek-efek yang 
sangat merugikan bagi perusahaan kecil dan menengah, yang merupakan masalah 
pembangunan yang mendesak untuk dipecahkan oleh pemerintah di negara-negara  
yang sedang berkembang, khususnya Indonesia; adalah bagaimana menciptakan 
kesempatan kerja bagi rakyatnya, khususnya yang hidup di daerah pedesaan yang 
merupakan mayoritas dari penduduk di NKRI.  Jumlah penduduk pedesaan yang terus 
meningkat, pemilikan tanah yang tidak merata, dan pembangunan nasional,dengan 
projek mega infrastruktur yang mempunyai bias kota yang tinggi, menimbulkan 
masalah pengangguran yang nyata maupun yang terselubung. Keadaan seperti itu 
telah mengakibatkan mereka yang nganggur, memutuskan untuk meninggalkan desanya 
untuk mengadu nasib didaerah perkotaan. Untuk mengatasi keadaan seprti itu, 
kita harus membuang ilusi bahwa kebijakan neolibearal akan membawakan  
kesetabilan  politik di Indonesia, oleh karena itu kita harus segera banting 
strir untuk memahami bahwa perkembangan industri kecil di Indonesia adalah 
salah satu prasyarat untuk tercapainya suatu stabilitas politik Indonesia, 
karena kemampuannya untuk memperkecil jumlah pengangguran baik yang tinggal di 
daerah pedesaan maupun didaerah perkotaan. 

 

Tapi apa yang kita saksikan rezim neolibral Jokowi-JK lebih cenderung menyokong 
para pengusaha besar, dan mengharapkan pertumbuhan ekonomi melaluai kegiatan 
pembangunan infrastruktur sebagai strategi yaitu:  ``mencapai pertumbuhan 
ekonomi dan menunggu perembesan ke bawah``´, yang sekaligus dapat diartikan 
strategi tak langsung dan pasif, dipandang dari sudut pandang kepentingan usaha 
kecil dan menengah.

Bisa dipercaya bahwa macetnya perkembangan industri kecil akan menimbulkan 
situasi politik yang rawan karena akan berdampak banyaknya pengangguran di 
Indonesia. Rezim neoliberal Jokowi-JK tidak dapat mengharapkan industri 
kapitalis neolibral, untuk mampu memecahkan masalah pengangguran di negara 
kita, karean pengangguran di negara-negara kapitalis neoliberal sendiri kini 
sudah banyak pengangguran yang berkelanjutan,karena sifat dari industri itu 
hanya mengejar akomulasi sebanyak mungkin dari modalnya.

 

Roeslan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Mittwoch, 8. März 2017 07:23
An: GELORA_In
Betreff: [nasional-list] Fw: [GELORA45] Pesan nyelekit Rizal Ramli buat Jokowi 
dan Ahok

 

  

 

 

From: [email protected] [GELORA45] 

Sent: Wednesday, March 8, 2017 10:21 AM

 

  

 


Pesan nyelekit Rizal Ramli buat Jokowi dan Ahok 
<https://www.merdeka.com/politik/pesan-nyelekit-rizal-ramli-buat-jokowi-dan-ahok.html>
 


Rabu, 8 Maret 2017 06:04Reporter :  
<https://www.merdeka.com/reporter/yayu-agustini-rahayu/> Yayu Agustini Rahayu,  
<https://www.merdeka.com/reporter/randy-ferdi-firdaus/> Randy Ferdi Firdaus

 

Das Bild wurde vom Absender entfernt.Menko Kemaritiman dan Ahok di pulau 
reklamasi. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya 
Rizal Ramli kembali buka suara. Dia menyoroti pembangunan ekonomi Indonesia 
yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut dia, pemerintah selama ini justru mengakomodir kepentingan konglomerat. 
Maka tidak heran, banyak usaha bidang ekonomi kelas kakap yang dikuasai oleh 
beberapa pengusaha kaya raya saja.

Rizal yang hanya bertahan satu tahun di kabinet kerja Jokowi ini menilai, 
merosotnya perekonomian di Indonesia dikarenakan pemerintahan yang menganut 
neoliberalisme. Paham tersebut berdampak pada terjadinya ketimpangan antara 
konglomerat dan warga miskin.

"Dampaknya seperti gelas anggur yang atasnya ini big business (pengusaha besar) 
baik BUMN maupun swasta. Ada sekitar 200 keluarga yang menguasai ekonomi 
Indonesia dan sekitar 180 BUMN. Selama ini, sejak orde baru mereka dilindungi, 
diproteksi, dan diberikan subsidi langsung maupun tidak langsung sehingga makin 
lama makin besar," ujar Rizal saat menjadi pembicara di Rakornas PKS yang 
digelar di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/3).

Sementara itu, di bawahnya ada bagian tipis dan panjang yang berfungsi sebagai 
pegangan. Rizal menyebut bagian tersebut sebagai golongan menengah yang 
independen.

"Jumlah golongan menengah sedikit sekali, di bawahnya lagi alas, ada 40 juta 
sampai 60 juta usaha kecil dan rumah tangga yang negara bantunya cuma 
ecek-ecek, yang negara bantunya cuma charity tapi negara tidak membantu secara 
struktural supaya mereka lebih hebat," terang Rizal.

Menurut Rizal, seharusnya golongan alas tersebut yang harus dibantu oleh 
pemerintah. Namun pada kenyataannya, pemerintah lebih cenderung menyokong para 
pengusaha besar.

"Nah struktur inilah hasil daripada neoliberalisme, sehingga aneh buat saya, 
PKS yang mewakili umat yang mewakili golongan menengah harusnya berjuang untuk 
yang di bawah ini. Memperbesar yang menengah yang independen dan mengubah yang 
atasnya," ungkap Rizal.

Golongan atas, atau para pengusaha besar, menurut Rizal, saat ini hanya jago 
kandang.
Artinya, mereka hanya mengeruk keuntungan dari dalam negeri sendiri tanpa 
memberi kontribusi yang lebih menguntungkan baik bagi negara, maupun rakyat 
kecil dan menengah.

"Kebanyakan mereka mengambil untung dari yang di bawah di dalam negeri, kalau 
udah dapat uang ia kirim uang ke luar negeri," ujar Rizal.

Hal ini, menurut Rizal, sangat bertolak belakang dengan negara maju di Asia 
seperti di Korea dan Jepang. Di sana, perusahaan besar menjadi jago dunia yang 
artinya aktif mengekspor hasil produksi ke luar negeri sehingga mereka 
mengambil untung dari luar dan mensejahterakan warga di negaranya.

"Mereka bukan jago kandang, mereka jago dunia. Sedot untung dari luar negeri, 
nilai tambah dibawa ke dalam negeri supaya mereka besar di dunia internasional 
dan mereka mesti membina yang kecil (di dalam negeri) dan supaya yang menengah 
bisa jadi pemasok untuk spare part misalnya, pemasok untuk komponen sehingga 
yang menengahnya juga kuat dan yang kecil akhirnya dikembangkan," terang Rizal.

Tidak cuma Jokowi yang kena sindir oleh Rizal, Gubernur DKI  
<http://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/> Jakarta Basuki T Purnama (  
<https://www.merdeka.com/tag/a/ahok/> Ahok) pun kena serang. Rizal diketahui 
memang pernah terlibat perseteruan dengan Ahok saat membahas proyek reklamasi 
teluk Jakarta saat masih jadi menteri. Tak selang dari perseteruan itu, Rizal 
dicopot.

"Terganggu dengan kehadiran Ahok, terganggu karena penistaan agama, terganggu 
karena memakai slogan bersih tetapi tidak, terganggu karena selama ini pakai 
slogan transparan pada praktiknya tidak, terganggu dengan kampanye profesional 
pada praktiknya tidak," kata Rizal.

Rizal bahkan mewanti-wanti PKS agar jangan sampai menjadi partai politik yang 
mendukungnya. "Saya yakin PKS bisa lebih besar. Jika mendukung Ahok, akan 
tenggelam bersama-sama Ahok," ujar Rizal.

Rizal juga menyoroti merosotnya pamor beberapa parpol besar setelah menyatakan 
dukungannya kepada Ahok. Rizal menjelaskan, partai yang tadinya bisa meraup 
suara sebesar 18 persen maka setelah partai tersebut mendukung Ahok, 
kemungkinan akan drop menjadi 12 persen.

"Apa yang kami sebut sebagai Ahok Effect. Efek tenggelamnya partai-partai besar 
yang mendukung Ahok di Jakarta," tandas Rizal. [rnd]

 

 



Kirim email ke