Anda berhasil membuktikan pujian anda pada Gonggong itu ternyata tulus. ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :
Ane bilang: Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih waras.Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari sudut pandang sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak personal. Ente bilang: objektif = memuji; waras = memuji; tidak personal = memuji. Gimana bisa objektif = memuji?Gimana bisa waras = memuji?Gimana bisa tidak personal = memuji? Dibawah ini sebagian argumen anhar gonggong itu waras. MANA ARGUMEN ENTE? Coba cerna apakah anhar gonggong ini objektif dari sudut pandang sejarah. Lihat gimana dia bilang pemerintah lebih mendengar taufik ismail drpd sejarahwan: http://news.liputan6.com/read/130034/kontroversi-sejarah-g30spkiSejarawan Anhar Gonggong mengatakan propaganda mengenai PKI adalah isu paling mudah diletupkan untuk peralihan kekuasaan saat itu."Ketika Pak Harto berkuasa, tidak ada yang secara terbuka mengatakan bahwa yang mengatur G30S/PKI itu adalah Pak Harto," kata Anhar dalam sebuah diskusi sejarah bangsa di Jakarta. Sekarang, kata Anhar, keadaan sudah terbuka. "Artinya apa? Ada proses pemikiran untuk lebih pada pencarian kebenaran oleh berbagai pihak," ujar dia. https://www.eramuslim.com/berita/bincang/dr-anhar-gonggong-selesaikan-polemik-sejarah-pki-dengan-cara-akademis-bukan-politis.htm#.WNGJFaK1uUkKejaksaan Agung dalam keputusan Jaksa Agung nomor 019/A/JA/03 tahun 2007 tertanggal 5 Maret 2007 yang melarang penerbitan dan peredaran buku sejarah Kurikulum 2004 untuk SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs), SMA, Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu pertimbangan pelarangan, buku-buku teks itu menghilangkan keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemberontakan di Madiun, Jawa Timur, pada 1948, dan pemberontakan pada 1965. Selain itu buku-buku itu dianggap tidak sepenuhnya mencatat fakta kebenaran sejarah bangsa Indonesia.Sejarawan dari Universitas Indonesia Dr. Anhar Gonggong menyayangkan langkah pelarangan yang melibatkan pihak kejaksaan. Menurutnya, larangan oleh kejaksaan itu kurang tepat. Berikut bincang-bincang eramuslim dengan Dr Anhar Gonggong. Sampai saat ini peristiwa pemberontakan PKI masih menjadi persoalan yang sensitif. Masih menjad polemik di masyarakat. Bagaimana seharusnya pemerintah menangani persoalan ini? Semestinya ya itu sederhana saja menyelesaikannya, ketika G30S itu diadakan, kata PKI-nya kan memang tidak ada. Baru setelah Untung cs kalah baru ditambahkan PKI, begitu prosesnya. Jadi sepanjang orde baru itu, ya PKI itu yang diberikan cap. Tetapi itu bisa diselesaikan lewat buku-buku itu. Bisa dikatakan enggak apa-apa, tidak ada kata PKI dibelakangnya, selain itu dapat juga diterangkan bahwa tidak apa-apa ada kata PKI dimasukan didalamnya, tetapi dengan memakai kata G30S PKI.Tapi harus ada penjelasannya juga, ketika gerakan itu ada, kata PKI-nya tidak ada. Baru kemudian setelah dia kalah, pemerintah orde baru menambahkan kata PKI, jadi bisa diatur seperti itu, kan tidak susah. http://indonesiabuku.blogspot.com/2007/05/anhar-gonggong-faktanya-pemerintah.htmlOleh Fadila Fikriani Armadita, Rhoma Aria Dwi Yuliantri Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail Ketimbang Sejarawan” I: Kontroversi peristiwa sejarah untuk SMA itu apa saja? AG: Ada beberapa, sepanjang yang saya ingat waktu saya pernah mengumpulkan 75 guru SMP-SMA seluruh Jakarta-Bogor. Tiga tahun berturut-turut dengan guru yang berbeda dengan harapan saya bisa mendapat informasi apa kesulitan mereka di dalam mengajarkan sejarah. Dikarenakan hal-hal yang dianggap oleh pemerintah tidak boleh diberikan. Pertama Pancasila. Pancasila tidak boleh dikatakan bahwa lahirnya Pancasila 1 Juni. Bahwa lahirnya Pancasila adalah ketika Jamin yang katanya berpidato pada tgl 29 Mei yang sudah membuat rumusan yang sama dengan Pancasila atau tanggal 18 Agustus. Guru sangat sulit mengajarkan itu. Karena itu memang tujuannya desoekarnoisasi. Karena kalau tanggal 1 Juni itu berarti identik Soekarno. Ada dosa besar dari pemerintah Orde Baru dalam kaitan dengan itu. Dalam arti kata bahwa melakukan deSoekarnoisasi. Bahwa bukan Bung Karno yang merumuskan Pancasila pertama kali itu faktual salah sebagai perumus awal, tetapi sebagai hari lahir Pancasila sebagai dasar negara ya memang tidak, sebab 1 Juni atau 22 Juni belum ada negara. Kita merdeka tanggal 17 Agustus. Pancasila dirumuskan Bung Karno untuk digunakan sebagai dasar negara kalau kelak kita merdeka. Jadi istilah Pak Notonegoro itu tanggal 1 Juni dan 22 Juni itu adalah hari dari lahirnya atau dirumuskannya calon-calon dasar negara yang nantinya setelah dirumuskan akan dimasukkan dalam alinea keempat pembukaan UUD 45 yang ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus. Tapi jangan salah sebenarnya istilah Pancasila hanya sekali digunakan oleh Bung Karno tanggal 1 Juni. Dan selanjutnya rumusan Pancasila yang kita kembangkan—kalau benar yang kita terima adalah pembukaan UUD tanggal 18 Agustus di alinea keempat—itu tak ada istilah Pancasila. Silakan cari, istilah pancasila tidak ada. I: Jamin punya istilah apa? AG: Tidak ada, hanya merumuskan dasar saja. Kalau Soekarno jelas ada istilah Pancasila. Dulu dia usulkan pertama Pancasila, kalau tidak senang bisa diperas menjadi tri sila, kalau tidak senang bisa dirubah menjadi ekasila. Itu yang saya maksud dosa besar pemerintah Orde Baru tatkala mengatakan bahwa bukan Bung Karno yang merumuskan dan memberi nama rumusannya dengan Pancasila. Kata Pancasila itu adalah monopoli Bung Karno. Dalam arti kata, dialah orang pertama yang merumuskannya. Hanya saja oleh karena kompromi politik, maka begitu selesai bicara tanggal 1 Juni kekuatan BPUPKI terbelah menjadi kekuatan nasionalis mendukung Pancasila, kekuatan Islam yang mendukung Islam sebagai dasar negara. Setelah rumusan 22 Juni, 18 Agustus adalah proses kompromi sebenarnya. Tetapi dalam kaitan Pancasila dengan Bung Karno tidak bisa dihilangkan dalam situasi apa pun. Dia yang merumuskan pada 1 Juni, dia ketua panitia panitia sembilan yg merumuskan Piagam Jakarta. Ketika 18 Agustus saat disahkan sebagai pembukaan UUD 1945 dia juga ketua PPKI. Tiga proses perumusan Pancasila dari awal-akhir Bung Karno selalu ada. Di sini ini dosa besar Nugroho Notosusanto dan Soeharto. I: Lalu di mana sebetulnya letak kesulitan guru. Karena buku ajar atau ada kesulitan lain? AG: Antara lain buku ajar. Buku yang diajarkan menyebutkan bukan 1 Juni tetapi 18 Agustus, dengan mengacu pada bukunya Jamin. Selain itu ketakutan menerangkan karena dia merasa dirinya diawasi. Kondisi ketika itu kepala sekolah punya kekuatan otoriter. Bisa-bisa dia dituduh PKI atau kehilangan pekerjaannya. I: Kenapa mesti Jamin yang dirujuk? AG: Buku Jamin memang unik, itu berasal dari dokumen-dokumen sidang BPUPKI. Ada 3000 halaman tebalnya. Lalu dokumen itu dipinjam oleh Jamin dari Pringgodigdo yang saat itu sebagai sekretaris dari BPUPKI. Dia pinjam tetapi tidak pernah dikembalikan. Buku itu yang diolah jadi buku kontroversial. Kontroversinya adalah ada pengantar Soekarno yang membenarkan isi buku itu. Ini yang susah. I: Kontroversi pertama tadi Pancasila, yang lainnya apa? AG: Lainnya Serangan Oemoem 1 Maret. Guru juga susah, dia mau mengatakan Sultan tidak terlibat. Dalam buku yang diberikan disebutkan Soeharto. Memang tujuannya agar Soeharto diterima dan dia pantas jadi presiden. Sebenarnya sederhana yang menjadi persoalan, siapa yang mengambil inisiatif. Ada jenjang kepemimpinan dalam militer. Sultan punya 2 posisi; tidak hanya sebagai Raja Jogja tetapi juga Menteri Pertahanan. Di bawah Sultan ada Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar. Di bawah Sudirman ada Nasution sebagai Panglima Komando Jawa. Nah, Soeharto ketika itu hanya sebagai Komandan Brigade Mataram; pangkatnya Letnan Kolonel. Selain Sultan, Soedirman, Nasution, ada lagi Bambang Sugeng sebagai Gurbenur Militer. Itu Bambang Sugeng yang membuat kertas instruksi rahasia yang di dalamnya menginstruksikan kepada Soeharto supaya menyiapkan serangan besar-besaran dan bukan istilahnya serangan umum ke ibukota Jogja. Jadi itu dirubah, tidak otentik istilah serangan umum. Jadi ada 4 orang di atas Soeharto. Kalau dilihat dari situ nggak mungkin dia mengambil inisiatif. Tetapi sebagai pengatur serangan, dia yang berperanan penting. Ada bukti betapa Soeharto sangat dihargai tinggi oleh Kolonel Van Langen, Komandan Tentara Belanda Jawa. Ketika sudah berdamai dia datang ke Jogya dan bertemu dengan Soeharto dan dia mengatakan, ”Oh..ini yang namanya Soeharto.” Mengapa Serangan 1 Maret sangat dikagumi oleh Belanda itu sendiri? Karena dilakukan pada siang hari. Tidak pernah terbayang oleh Belanda dia akan mendapat serangan pada siang hari karena menurut taktik militer itu sangat berbahaya. Itulah kekaguman Kolonel Van Langen pada Soeharto. Artinya dia bukanlah orang yang tidak mempunyai peranan penting. Cuma kalau dikatakan dirinya yang berinisiatif itu perlu dipertanyakan mengingat 4 komandan di atasnya dengan posisinya cuma Letnan Kolonel, Komandan Brigade di Yogyakarta. I: Guru tidak mampu mengajarkan hal itu karena tak tahu atau karena takut? AG: Dua-duanya terjadi. Berdasar pertemuan dengan guru-guru, mereka mengaku pengetahuan mereka minim karena memang membacanya kurang. Buku yang dia pegang cuma buku standar dan buku paket. I: Selain Pancasila dan Serangan Oemoem ada lagi peristiwa kontroversial? AG: G 30 S. Itukan sangat banyak hal-hal yang berkaitan dengannya. Orang dipaksa untuk mengatakan itu PKI, padahal pada kenyataannya ketika gerakan itu dicetuskan tidak ada PKI-nya. Hanya setelah Soeharto menang barulah disebutkan otaknya PKI. Ditambahlah istilah itu menjadi G30 S/PKI. Berkaitan dengan itu yang sangat kontroversial adalah Supersemar. Pertanyaan yang sering diajukan ada dua, apa benar surat perintah ada; kalau ada isinya apa. Kemudian apa surat itu bisa untuk menjatuhkan Soekarno. Kalau keberadaannya saya yakin itu ada. Saya cek kepada beberapa orang ada. Di pidato Bung Karno juga ada. Hanya saja Bung Karno marah jadi tidak digunakan semestinya. I: Bagaimana bisa banyak orang menyalahartikan Supersemar itu? AG: Itulah soalnya. Jadi Soekarno sendiri mengakui itu memang ada. Saya pernah tanya beberapa orang mengakui memang ada. Tapi yang jadi persoalan kalau kita baca isinya itu kan unuk mengamankan Soekarno. Tapi justru digunakan untuk menjatuhkan Soekarno. Namun itu bukan sesuatu yang salah dalam dunia politik. Orang bisa melakukan apa saja untuk meraih kekuasaan. Itu yang menjadi kesulitan bagi guru apa benar isinya seperti itu. Buku resmi yang digunakan mengatakan itu ada, dan isinya mengatakan bisa digunakn untuk menajtuhkan Soekarno karena memang Soekarno sudah menyeleweng dari Pancasila dan UUD 1945. I: Pak Anhar sendiri memandang peristiwa G 30 S itu? AG: Kalau saya memandangnya biasa saja. Gampang menerangkannya secara faktual-historis tanpa ada muatan politik. Katakan saja ketika untuk mengumumkan gerakan itu pada tanggal 1 Oktober kan kata PKI tidak ada. I:Kalau peristiwa pasca PKI? AG: Kalau pasca PKI, kata PKI itu dicantumkan berdasar atas penemuan2 dari mereka yang menang. Saat itulah baru dikatakan gerakan ini harus dberitahu kepada masyarakat bahwa yang melakukan adalah PKI. Jadi perlu ditambahkan kata PKI di belakang G30s. Penambahan kata PKI dilakukan oleh Orde Baru di bawah pimpinan Suharto-Nasution ketika itu. I: Keterlibatan PKI sendiri seperti apa? AG: Nah itu yang susah, kalau menurut Soeharto PKI terlibat, kalau Anda tanya orang PKI mereka bilang tidak terlibat. Ada sekian banyak versi ada yang mengatakan bahwa ini adalah pertentangan lingkungan Angkatan Darat. Ada yang mengatakan ini CIA, China, Unisoviet, PKI, bahkan terakhir ada yang bilang Soeharto terlibat. Paling tidak ada semnbilan versi tentang siapa sih dalang dari Gerakan 30. Mana yang benar? I: Kalau Bapak sendiri cenderung siapa yang terlibat? AG: Saya lebih cenderung PKI terlibat kalau melihat proses pada tahun 1960-1964. Di sini PKI bersama Soekarno bermain dan memperoleh posisinya yang kuat. PKI melakukan berbagai kegiatan dengan menggunakan jargon mendukung pemeritah besar revolusi tanpa reserve; dia berusaha menggunakan Nasakom untuk meraih kekuasaan yang lebih kuat di pemerintahan. Terkait dengan pemberontakan itu tidak berarti orang seperti Jamin, Nasution, Soekarno, tidak tahu. Mungkin yang bikin mereka kaget dilakukannya pembunuhan pada 6 Jenderal dan 1 Perwira. Mereka tidak menduga. Banyak perwira tahu, ini menurut saya lho.... masak seorang Panglima Angkatan Darat, Menko Keamanan, tidak dapat laporan dari intelejen. Menurut analisis mereka cuma sebuah kudeta atau penyerangan pada batas tertentu tidak ada pembunuhan sekejam itu. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, March 21, 2017 10:37 AM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai Yang bilang itu anda bukan Gonggong, kalau Gonggong yg ngomong itu namanya menyombongkan atau membanggakan diri, kalau anda bilang tentang Gonggong itu namanya memuji ---In [email protected], <nesare1@...> wrote : Ya jelas ente yang ngeyel.Ane kasih argument. Gak mampu baca kan?! Dari pertama ente menyerang ane, bilang ane memuji anhar gonggong lalu dicuplik tulisan ane dan ambil kesimpulan begini:Objektif = memuji?Waras = memuji?Tidak personal = memuji? Ini sumber tulisan ane yg ente bilang memuji: Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari sudut pandang sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak personal.Dulu dia pernah bilang dalam suatu diskusi bahwa yang menang (soeharto) naruh istilah PKI dalam peristiwa G30S.Dia juga bilang bahwa PKI terlibat walaupun dia bilang tidak perlu mencantumkan PKI dibelakang G30S. Dimana memujinya? Kalau anhar gonggong yg anti komunis bilang dia membela soeharto dan tidak membela PKI itu baru sejalan/benar ‘kan, artinya dia personal, bias dan tidak objektif. Tetapi ‘kan dia gak bilang begitu. Dia bilang dia tidak membela PKI maupun soeharto. G30S itu peristiwa sendiri bagi dia. PKI tidak perlu disandingkan dengan G30S. ini sudah dibicarakan sejak dulu oleh para indonesianists yg dibredel oleh soeharto. Koq bisa anhar gonggong yg anti komunis bisa setuju dengan pendapat para indonesianists yg membela PKI? Ane tanya dari awal dan terus ane ulang2i pertanyaan ini, tapi ente ndak jawab. Ente memaksa supaya ane setuju dengan kesimpulan ente bahwa Objektif = memuji; waras = memuji; tidak personal = memuji.Lucunya ente bilang ane yg memaksa ente utk menyetujui pendapat ane. Pointnya ente yg menuduh, tapi argumennya tidak ada. Terus lari2 kemana2 ke kunyuk, EQ, wiretap, ngeyel dll. Ente ini memang kelasnya dibawah kunyuk!!!! Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Monday, March 20, 2017 11:43 AM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai kentara kalau sekedar eyel2an. ---In [email protected], <nesare1@...> wrote : Itu kan pendapat ente dan memang kelakuannya ente kan begitu.Kalau ente menganggap 1+1 =2 ya itu kan pendapat ente.Kalau ane berpendapat 1+1=1.999999999999 kan akan diminta argumennya.Ente kalau sekolah ya harus kasih argument kenapa 1+1=1.9999999999. kan gitu baru bener. Ya jelas gak ada yg nanya apalagi argue apakah trump memuji Obama, ngapain ditanya krn semua kunyuk sudah tahu trump itu bukan memuji Obama malahan trump itu bashing Obama sampai sekarang. Yg gak tahu itu hanya 1 orang = bukan kunyuk = ente! Buset kaya’ gini argumennya? Sampai segini jauh masih gak tahu bahwa trump itu anti Obama. Pantesan orang2 kaya’ ini yg pendukung partai democrat sehingga partai democrat kalah sama trump. Lama2 kunyuk ini pengin jadi orang, biar ngerasain gimana ya prilaku manusia itu.Eh ngomong2 ente mau jadi kunyuk ndak? Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Monday, March 20, 2017 10:48 AM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai Tidak semua perlu argumen. Hal yg sudah jelas seperti 1+1=2 itu tidak perlu argumen lagi, seandainya di-argue seperti 1+1=10(binary) itu ya cuman argumen kosong asal menang ngomong karena pada dasarnya 10(binary) itu nilainya ya sama dengan 2(decimal). Waktu Reuters menulis Trump praises Obama "very good man" juga tidak ada yg argue semua paham itu praise/pujian, tidak ada yg kemudian mempertanyakan "very good man=praise?". Hanya kunyuk yg pakai argument seperti anda itu. ---In [email protected], <nesare1@...> wrote : Mana diskusinya?Milis ini ruang diskusi. Ente eyel2an. Ente gak diskusi.Ente ambil kesimpulan tanpa argument. Koq bisa: - Waras disamakan dengan memuji? - Objektif disamakan dengan memuji? - Sudut pandang sejarah dikatakan benar lalu disamakan dengan memuji? - Tidak membela PKI dan tidak membela soeharto disamakan dengan memuji? - Tidak personal disamakan dengan memuji? - Dst…dst…. Waktu anhar gonggong bilang kalau PKI menang juga bisa bunuh2, ente tahu ndak komentar ane apa?Waktu anhar gonggong anti komunisme , ente tahu ndak komentar ane apa? Argument ente apa bilang ane memuji anhar gonggong itu?Ente ‘kan ambil kesimpulan begini:Objektif = memuji?Waras = memuji?Tidak personal = memuji? Ayo jawab ini kan bahasa. Dimana logikanya bisa sama? Argumennya apa? Ente itu kan sibuk mau cari masalah menyerang ane. Dipakailah anhar gonggong itu krn ente kira ente yg bener.Persis dgn habib sidiq yg pake’ al maidah buat menyerang ahok. Ahok nya mah gak menyerang al quran dan Islam sama sekali. Kan ini modus operandinya ente menyerang Jokowi. Kentutpun ente pake buat menyerang orang. Selama ini kan sudah ane telanjangi kesalahan2 ente itu yg sdh begitu banyak: interest rate, private company vs public company dll.Ente itu gak ngerti tapi sok tahu! Bisanya caci maki/swearing: oon, vampire, kunyuk dll.
