05.04.17, 14:47:30: Copy dr sahabat

Pilih Gubernur dan Pilih Semangka
by *Andar Ismail*

Memilih buah semangka itu susah. Soalnya dari warna kulitnya kita tidak
tahu apa buah ini bagus atau tidak.

Konon caranya begini: ulurkan empat jari tangan lalu dengan agak bertenaga
tepuk-tepuklah semangka itu. Tepuk dari depan, dari belakang, dari kiri dan
kanan. Kalau ada bunyi "pok, pok, pok!" seolah2 ada getaran air, katanya
itu semangka ranum, manis, dan kandungan airnya tinggi alias juicy.

Ini tentang pilih semangka. Kalau pilih gubernur atau presiden tentu lebih
susah,  siapa gerangan berani tepuk-tepuk kepala cagub atau capres mustahil
kita boleh tepuk-tepuk kepala beliau dari depan belakang kiri dan kanan?

Itu baru satu macam kriteria Padahal kalau kita pilih presiden gubernur
bupati ketua perkumpulan ketua panitia atau lainnya kriterianya lebih
banyak. Kriteria apakah yang paling kita utamakan.
Coba pikir kalau kita naik pesawat terbang yang terguncang-guncang melintas
di atas puncak puncak gunung, kriteria apa yang kita pakai untuk menilai
pilot. Pasti bukan apa pilotnya beragama atau tidak, juga bukan apa agama
pilot itu, juga bukan apa pilotnya seagama dengan aku atau tidak, juga
bukan apa etnik pilotnya.
Bukan! Yang kita nilai adalah apakah pilotnya cakap atau tidak? Kita perlu
pilot yang cakap. Dia harus cakap menerbangkan pesawat ini supaya semua
penumpang selamat, itu yang terpenting. Meskipun saya pribadi merasa perlu
menunduk berdoa setiap kali naik pesawat terbang atau alat angkut lain
namun saya tidak pernah merasa perlu untuk mencari tahu apakah pilot
nahkoda atau pengemudinya beragama ataukah tidak. Yang penting Ia cakap.

Nah, bukankah faktor cakap sepatutnya menjadi kriteria utama dalam memilih
seorang pemimpin ? Apa manfaatnya kita mempunyai pemimpin yang saleh
beragama namun tidak cakap menjalankan tugasnya. Cakap berarti tahu
seluk-beluk lapangan tugas yang diembannya. Dia sanggup menangani secara
bijaksana dan tepat guna tiap persoalan yang timbul. Cakap juga berarti
menghasilkan kinerja yang bermutu tinggi. Itu bukan berarti bahwa pemimpin
memborong segala tugas. Pemimpin bukan pemborong tugas melainkan pendorong
tugas yaitu memberdayakan orang-orangnya menjalankan tugasnya masing-masing.

Berkaitan erat dengan cakap adalah cekatan. Pemimpin yang cakap namun
lamban tidak mendatangkan banyak kemajuan, kita butuh pemimpin yang cekatan
yaitu cepat tanggap gesit dan tegas. Dia menindaklanjuti tiap laporan  dan
keluhan. Ia bukan peragu, bukan orang yang suka menunda-nunda. Ia memantau
kinerja anak buahnya dan bisa memuji namun jika perlu juga memaki.

Akan tetapi meskipun pemimpin cakap dan cekatan, kita akan terpuruk jika
ternyata ia sibuk meraup uang ke dalam kantongnya sendiri. Kita butuh
pemimpin yang jujur, artinya tidak mencuri, tidak membohong, tidak
menyalahgunakan fasilitas kerja untuk kepentingan pribadi.
Jujur juga berarti berintegritas, perbuatannya sejalan dengan perkataannya.
Ia tidak hanya senyum-senyum santun bermanis mulut sambil sebentar-sebentar
menyebut nama Allah namun sebetulnya hanya sibuk membuat pencitraan.

Itulah tiga kriteria  utama seorang pemimpin: cakap, cekatan, dan jujur.
Supaya bisa maju kita perlu pemimpin yang berkualifikasi seperti itu.

Kirim email ke