Nah, sebuah tulisan lagi yang bermutu karena orang yang menulisnya tidak asal 
jeplak, tapi pakai otak dan keberpihakan yang tidak samar-samar atau berwarna 
abu-abu.

Para Pejuang Kendeng
28 March 2017 Iqra Anugrah
 Harian IndoPROGRESSPrint PDFNYARIS tiga tahun sudah para petani Kendeng 
melakukan perlawanan menghadapi PT Semen Indonesia. Terhitung sejak Juni 2014, 
para petani melakukan protes dengan berbagai cara, termasuk dengan mendirikan 
tenda – yang kemudian beserta mushalla warga juga diluluhlantakkan – di depan 
pabrik semen. Jikalau dihitung dari tahun 2006, ketika lawan masih bernama PT 
Semen Gresik, maka hampir satu dekade sudah gelombang perlawanan para petani 
Kendeng berlangsung. Dalam beberapa kesempatan, saya mencoba terlibat dalam 
aksi perlawanan ini, terutama akhir-akhir ini ketika para sedulur melancarkan 
aksi cor kaki di depan Istana Negara.Tujuan perlawanan ini jelas: ini masalah 
penghidupan, juga lingkungan, dan yang terpenting, hak. Rasanya, tidak sulit 
untuk memahami ini. Dalam kenyataannya, pesan ini begitu kabur dan terdistorsi. 
Para sedulur Kendeng mungkin sudah kenyang mendapatkan segala macam cap: 
warga-warga lugu yang gampang ditipu dan dihasut, massa bayaran, provokator, 
hingga yang paling lucu menurut saya, anti-NKRI. Sialnya lagi, liputan berita 
ini juga hanya sayup-sayup terdengar, tertutupi oleh berita-berita konflik elit 
– termasuk soal pilkada Jakarta sialan itu.Tapi para sedulur tidak 
menyerah.Tidak sekali saya dengar celetukan bernada resah yang muncul di 
kalangan aktivis: Bagaimana mungkin berita tentang upaya perlawanan ini 
dipelintir sedemikian rupa? Kok bisa? Lantas, saya menjawab: mengapa 
heran?Tidak perlu heran apabila perlawanan para sedulur di Kendeng dan juga 
perlawanan-perlawanan kaum tani di berbagai tempat lainnya di Indonesia sering 
mendapatkan cap-cap peyoratif. Karena, dalam sejarahnya, para penguasa dan 
kelas-kelas yang menindas selalu berkepentingan untuk mendiskreditkan gerakan 
rakyat. Gerakan pembebasan nasional di negeri-negeri jajahan dicap sebagai 
‘para provokator’, gerakan hak-hak sipil di Barat dilabeli ‘terlalu radikal’, 
gerakan buruh dianggap sebagai ‘tukang bikin onar yang bikin macet jalan’, 
gerakan perempuan dituding ‘melanggar norma-norma kesusilaan’, gerakan kaum 
miskin kota dicurigai ‘rawan ditunggangi.’ Dan seterusnya dan seterusnya.Sudah 
dari sononya, bahwa, dalam masyarakat kelas, tudingan-tudingan picik terhadap 
gerakan rakyat seperti ini akan selalu muncul.Oleh karena itu, tidak perlu 
heran apabila dalam beberapa minggu terakhir muncul komentar-komentar bernada 
nyinyir dan melecehkan maupun sikap diam seribu bahasa yang tidak kalah 
memuakkannya. Joko Widodo, Ganjar Pranowo, dan Azam Azman Natawijaya adalah 
triumvirat penguasa dari lapis kekuasaan yang berbeda – kepala eksekutif 
nasional, kepala daerah, dan unsur pimpinan parlemen – yang sikap politiknya 
melegitimasi berdirinya pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Atau, dalam 
bahasa yang lebih gamblang, jikalau anda anti political correctness yang 
berlebihan, melegitimasi perampasan tanah besar-besaran, penghancuran 
penghidupan masyarakat agraris, dan krisis ekologis akut di daerah tersebut 
serta memberi bahan bagi proyek-proyek pembangunan skala besar yang menghisap 
hasil kerja dan penghidupan rakyat di banyak tempat di nusantara.Ganjar, si 
Marhaen gadungan itu, mengeluarkan izin baru pembangunan pabrik PT Semen 
Indonesia yang berarti melanggar putusan Mahkamah Agung yang sudah membatalkan 
izin tersebut. Kata Jokowi, “urusan daerah bukan urusan saya.” Apa yang mau 
diharapkan dari seorang presiden developmentalis pro-investasi berjubah baru? 
Komentar si bedebah Azam? Tidak perlu ditanggapi, karena isi kepalanya mungkin 
tidak lebih berharga dari adukan semen yang sudah terlalu lama ditinggal. Toh, 
dengan komentar sopan maupun kurang ajar, diinjak penguasa bajingan mau 
bagaimanapun tidak enak rasanya.Kita daftar dan sebut lagi contoh-contoh lain 
yang tidak kalah menjengkelkannya. Sebut saja dua nama ‘tokoh kebudayaan’ 
apkiran: Timur Sinar Suprabana dan Denny Siregar. Si Pak Tua Timur dengan 
pongahnya membuat komentar nyinyir atas aksi cor kaki para sedulur. Seakan 
berlomba dengan Timur, Denny Siregar – yang tidak mau datang ke diskusi dan 
debat terbuka karena baper duluan (yaelah katanya Deadpool, belum diserang kok 
sudah kalah walkout?) – menuding bahwa aksi para sedulur Kendeng, yang telah 
berlangsung berhari-hari itu hingga sekarang, adalah aksi yang dikompori oleh 
aktivis dengan tujuan-tujuan tertentu yang menyengsarakan rakyat. Mereka, entah 
sadar maupun tidak, dengan orderan maupun tidak, sesungguhnya telah melakukan 
kekerasaan kebudayaan untuk mendiskreditkan gerakan-gerakan rakyat. Mereka, 
dengan puisi-puisi dan esai-esai mereka yang lebih hancur kualitasnya dengan 
kertas pembungkus gorengan atau tisu toilet, telah melayani kepentingan 
rezim.Dengan kata lain, para penguasa dan budayawan gadungan ini adalah 
musuh-musuh rakyat baru!Bagaimana dengan para ‘aktivis’ di lingkaran kekuasaan 
istana. Oh kawan, janganlah kau mimpi di siang bolong. Mungkin perlu kau baca 
lagi debat-debat teoretik dan rujukan-rujukan sejarah soal gerakan rakyat, 
bukan hanya laporan riset empirisis maupun laporan donor hasil dari agitprop – 
agitasi proposal maksudnya. Mengharapkan mereka yang sudah masuk di dalam 
lingkaran kekuasan untuk mendorong perubahan tapi lupa akan potensi 
emansipatoris dari gerakan rakyat adalah tendensi borjuis kecil! Terakhir kali 
saya cek, sejumlah ‘intelektual-aktivis’ yang tergabung dalam Kantor Staf 
Presiden, seperti Teten Masduki dan Noer Fauzi Rachman hanya menjadi 
resepsionis dan jubir bagi presiden. Paling-paling komentar soal KLHS. Di mana 
suara mereka soal reforma agraria? Mudah-mudahan, sebagai seorang pegiat yang 
masih hijau dalam dunia gerakan rakyat, saya berdoa supaya mereka terhindar 
dari virus karirisme. Jikalau tidak, mungkin KSP sebaiknya ganti nama saja 
menjadi ini: Komprador Suruhan Pemodal!Tentu saja, bagi para musuh rakyat – 
atau mereka yang mungkin pelan-pelang berpaling dari gerakan rakyat – tidaklah 
penting apabila klaim-klaim mereka sesungguhnya adalah klaim-klaim kontrarian 
yang berisi logikaotak atik gathuk. Tidaklah penting juga apabila 
tuduhan-tuduhan mereka bersifat ahistoris dan tidak ilmiah. Toh, di zaman 
kapitalisme digital yang serba instan nan medioker ini, yang terpenting adalah 
bagaimana suatu klaim dapat secara cepat dan mudah dipakai untuk melayani 
kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan politik tertentu – yang pada ujungnya 
adalah reproduksi dan penguatan hierarkhi dari masyarakat kelas itu sendiri. 
Hoax maupun onggokan informasi-informasi sampah lainnya memiliki fungsi yang 
sama dengan desas-desus seputar Peristiwa G30S atau Kebakaran Reichstag: 
digunakan untuk melayani kepentingan yang berkuasa dan mendiskreditkan gerakan 
rakyat.Tetapi, justru persis di masa seperti inilah, adalah penting untuk 
kembali melihat sejarah perjuangan rakyat. Kaum tani di nusantara punya sejarah 
perlawanan panjang melawan ragam-ragam bentuk penindasan, mulai dari tarif 
pajak yang terlalu tinggi hingga gangguan atas corak hidup subsisten mereka 
oleh apa yang disebut sebagai relasi sosial kapitalis. Dan ini tidak hanya 
terjadi di Indonesia. Abad ke-20, sebagaimana dicatat oleh Eric Wolf, 
menyaksikan perlawanan skala besar kaum tani menghadapi neokolonialisme dan 
imperialisme yang semangatnya sering sekali berkelit-kelindan dengan semangat 
perjuangan pembebasan nasional, mulai dari Russia, Meksiko, Tiongkok, Aljazair, 
Kuba, hingga Vietnam. Bahkan, ketika perlawanan kaum tani tidak mengambil corak 
yang terbuka atau manifes, perlawanan tersebut tetap berlanjut dalam ranah yang 
lebih keseharian, melalui gosip, memberikan hasil ternak dan tani berkualitas 
rendah di kala penarikan pajak sebagai bentuk protes, sarkasme, dan lain 
sebagainya.Juga, kaum tani, sebagaimana bagian dari kelas yang tertindas, 
memiliki imajinasi atas dan kemampuan untuk membayangkan tatanan yang lebih 
baik – dunia di mana kesejahteraan dan kemajuan dapat dimiliki dan dinikmati 
secara bersama. Sebagai contoh, satu episode sejarah yang orang sering lupa 
dari masa-masa awal pergolakan Restorasi Meiji adalah partisipasi petani dalam 
episode ‘Zaman Bergerak’ tersebut. Dalam The Culture of the Meiji Period, 
Daikichi Irokawa mencatat bagaimana para petani dan pemuda desa di banyak 
tempat bereksperimen dalam bidang ketatanegaraan dengan merancang draft-draft 
konstitusi menyambut zaman yang baru. Contoh lain: dalam amatan saya dalam 
kerja-kerja lapangan yang saya lakukan untuk penelitian, saya menyaksikan 
bagaimana para bapak dan ibu tani mengasah insting ekonomi mereka, merumuskan 
aksi-aksi politik kolektif dan membayangkan tatanan ekonomi yang lebih baik, 
serta memiliki kemampuan humor dan sarkasme yang luar biasa jenakanya: dalam 
satu kesempatan, saya pernah ngobrol dengan sejumlah kawan petani di Sulawesi 
yang menyindir sejumlah pejabat dan politisi yang ngotot dengan usulan 
konservasi anti-manusia. Kata mereka, “ya silahkan saja bapak usir kami dari 
tempat tinggal kami, tapi nanti kalau ada penyuluhan atau pemilu biar yang 
datang paling rusa dan babi hutan, kan mereka yang bapak lindungi, bukan kami.” 
Sebuah lelucon satir yang hanya dapat muncul dari mereka yang tetap konsisten 
melawan sembari mencintai hidup.Ini semua mungkin dianggap tidak penting oleh 
para musuh rakyat itu. Atau, lebih tepatnya, mereka jangan-jangan tidak 
memiliki kemampuan untuk memahami hal-hal seperti itu. Jangankan terlibat dalam 
gerakan rakyat, membaca literatur soal kehidupaan petani pedesaan (atau mencoba 
memahami strategi subsistensi para petani yang berbasis pada hubungan 
kekerabatan sosial pedesaan, yang menjelaskan mengapa para petani Kendeng tidak 
mau menjadi buruh pabrik semen dan dapat meninggalkan keluarga mereka di 
kampung halaman), atau melakukan riset-riset kecil soal keagrariaan saja 
mungkin mereka tidak mampu dan tidak mau. Mungkin karena mereka kebanyakan 
makan rente pemodal atau menulis dengan ejaan untuk bahan lawakan receh 
se!per!ti! i!ni! Toh, mereka dengan senang hati merayakan bias-bias kelas, 
urban, dan gender yang mereka idap – sebuah simptom dari penyakit waham borjuis 
yang sudah begitu mendarah daging di dalam diri mereka. Mereka, yang 
imajinasinya kerdil dan miskin itu, sesungguhnya hanya merapal dan memamah biak 
sangkaan-sangkaan dan mantra-mantra Orde Baru – oh, warga (kategori subyek 
politis yang dinetralkan dan didepolitisasi) butuh pembangunan (ya, pembangunan 
kapitalis yang mengekstraksi surplus dari pedesaan untuk kepentingan 
orang-orang kota dan elit-elit desa) dan mereka yang melawan kalau bukan 
provokator (orang desa/petani bodoh dan gampang kena hasutan) berarti pasukan 
bayaran (lupa bahwa solidaritas kolektif dapat muncul dari pengalaman bersama 
dalam ketertindasan, lagipula, soal bayaran, hello, ngaca dulu dong). Sialnya, 
retorika-retorika sampah ini kemudian dilepeh lagi dan dikunyah beramai-ramai 
oleh lapisan-lapisan borjuis unyil karbitan yang makin hari kian kelihatan 
bagai jamur yang tumbuh setelah hujan.Saya tidak heran: toh klaim gerakan 
rakyat memang selalu membuat penguasa bergetar. Karenanya, berjuta fitnah 
dilancarkan untuk melemahkan klaim tersebut. Tetapi para sedulur tidak 
menyerah.Aksi cor semen bukanlah suatu kesia-siaan. Besar kemungkinan, proyek 
investasi besar-besaran rezim Jokowi tetap berjalan, pembangunan pabrik semen 
hanya berhenti untuk sementara, dan isu-isu agraria kembali akan menjadi ‘angin 
lalu’ yang tertutupi oleh isu-isu elit yang lain – perang oligark dalam 
pilkadal Jakarta misalnya (buzzer Anies maupun Ahok, I’m looking at you). 
Tetapi, ia telah berhasil mengundang gelombang perlawanan yang lebih besar. 
Pertama-tama dan terutama, para sedulur telah memberikan teladan yang luar 
biasa: keberanian dan konsistensi dalam melawan. Aksi cor kaki bukanlah aksi 
siksa diri yang egoistis, sebagaimana dituduhkan oleh banyak pihak. Jauh dari 
itu, aksi cor kaki adalah aksi perlawanan yang politis, militan, dan penuh 
integritas. Aksi tersebut hanya dapat muncul dari mereka yang mencintai hidup 
dan penghidupannya dan setia akan cita-cita kemajuan bersama – alih-alih bagi 
segelintir elit – yang dapat dinikmati oleh semua. Aksi cor kaki para sedulur 
juga mengingatkan kita kembali akan satu hal yang penting: perlunya untuk 
tetapsetia di garis massa. Kita bisa memproblematisir dan mengkritik strategi 
dan taktik dari aksi tersebut (tentu saja, secara konstruktif alih-alih 
nyinyir), tetapi, setidak-tidaknya, aksi ini telah berhasil menjadi momentum 
untuk mengumpulkan energi perlawanan, memperluas titik perlawanan, dan menjadi 
bahan untuk merumuskan lokus perlawanan baru melawan rezim developmentalis 
pro-investasinya Jokowi.Tugas untuk kita ke depan adalah untuk mempertajam dan 
semakin memprogresifkan perlawanan ini. Untuk itu, izinkanlah saya menyebutkan 
beberapa usulan yang dapat didiskusikan dan diperdebatkan lebih lanjut. 
Pertama,orientasi ke depan dari gelombang perlawanan anti-semen, yang mulai 
menjamur dari Jawa hingga Sulawesi, perlu diperluas, diperdalam, dan dimajukan, 
bukan hanya mencakup persoalan Pegunungan Kendeng dan berorientasi 
defensif-moderat untuk menolak pembangunan pabrik semen, tapi dimajukan menjadi 
suatu formasi aliansi nasional yang menolak pembangunan infrastruktur ala rezim 
investasi Jokowi dengan orientasi dan tendensi politik 
anti-neoliberalisme.Kedua, skala dan cakupan waktu dari aksi-aksi perlawanan 
ini perlu diperluas dan diperpanjang secara strategis, mengingat keterbatasan 
waktu dan logistik yang kita punya. Agenda-agenda mobilisasi ke depan dalam 
momen-momen tertentu, termasuk agenda internasionalisasi isu pabrik semen di 
Pegunungan Kendeng dan isu-isu agraria lain di Indonesia menjadi 
penting.Ketiga, identifikasi kasus-kasus agraria lain yang tidak kalah penting 
dan mendesak menjadi penting, di Tulang Bawang (Lampung) dan Sukamulya (Jawa 
Barat) misalnya, serta kasus-kasus kriminalisasi petani dan aktivis agraria di 
banyak tempat. Kasus pabrik semen di Pegunungan Kendeng yang sekarang sedang 
mendapatkanspotlight perlu dijadikan bahan untuk menaikan leverage atau posisi 
tawar gerakan sosial dalam mengadvokasi isu-isu agraria lain tersebut.Keempat, 
upaya kerja-kerja ilmiah (atau dalam bahasa yang lebih ortodoks, saintifik dan 
teoretik) dan kerja-kerjaframing advokasi (atau, lagi-lagi dalam bahasa yang 
lebih ortodoks, agitasi dan propaganda) juga menjadi penting dalam aksi-aksi 
perlawanan seperti ini. Studi-studi agraria dan kajian-kajian teoretik soal 
strategi gerakan sosial menjadi semakin perlu untuk dikaji untuk menjadi bahan 
advokasi dan pendidikan publik serta pembuatan strategi politik. Setidaknya, 
ada dua poin penting yang dapat kita tarik dari aksi perlawanan para sedulur 
yaitu 1) bahwa perjuangan para sedulur dan kelas tertindas lainnya adalah 
perjuangan atas hak yang berarti memperjuangkan kepentingan-kepentingan 
kelompok masyarakat lain yang juga tertindas – kita dan 2) perjuangan gerakan 
sosial perlu meninggalkan strategi bergantung dan berharap kepada elit – 
termasuk para aktivis yang sudah masuk ke dalam lingkaran rezim – dan perlu 
kembali serius memperbincangkan strategi politik yang lebih independen dan 
progresif, termasuk strategi untuk merebut kekuasaan dan melampaui logika 
kedaulatan negara.Terakhir, pelajaran berharga lain yang tidak kalah pentingnya 
dari strategi perlawanan para sedulur Kendeng adalah keterlibatan dan 
kepemimpinan perempuan dalam gerakan sosial. Ini dibutuhkan bukan hanya untuk 
meradikalisasi arah dan tujuan dari gerakan sosial itu sendiri tapi juga untuk 
mendorong terwujudnya emansipasi seluas-luasnya dengan berlatih di ranah yang 
paling dekat.Perlawanan tentu saja masih panjang. Hari-hari penuh protes belum 
akan berakhir, dan semangat perlawanan masih terasa pekat di udara. Namun, 
setidaknya kita tahu, bahwa klaim-klaim para elit dan makelar kariris 
pendukungnya semakin lama semakin terblejeti, gelombang perlawanan semakin 
meluas, dan tentu saja, pengorbanan Yu Patmi dan para kawan-kawan tani lainnya 
tidak akan sia-sia.*** Saya berterima kasih kepada sejumlah rekan terutama 
kawan-kawan Forum Islam Progresif (FIP) atas diskusi dan kerja bersama yang 
cukup intens dalam persoalan Kendeng yang hasilnya menjadi bahan untuk 
penulisan artikel ini. Penulis adalah editor IndoPROGRESS dan pembelajar 
isu-isu agraria

Kirim email ke