Bung Karno dan Pembebasan Papua Barat
Jangan sesekali meninggalkan sejarah. Penggalan kalimat Bung Karno ini menjadi 
penting untuk kembali mengkaji sejarah keberadaan Republik dan perjuangan 
pembebasan Papua Barat29 Maret 2017
Antusias massa rakyat dalam pembebasan Papua Barat dari cengkeraman 
kolonialisme [Foto: Istimewa]
Koran Sulindo – Sebelum kita tergesa-gesa bicara dan menentukan sikap terhadap 
tuntutan berbagai organisasi Papua untuk merdeka, sebaiknya kita mempelajari 
beberapa fakta sejarah. Sejarah yang dibuat oleh massa rakyat. Tanpa masa lalu 
tidak ada masa sekarang. Kita tidak boleh melupakan, apa lagi memutar balik 
sejarah.Periode penjajahan kolonial Belanda tidak dimulai segera setelah orang 
Belanda menginjakkan kakinya di kepulauan ini pada akhir abad ke-16. 
Sebaliknya, ia merupakan sebuah proses ekspansi politik dan ekonomi selama 
beberapa abad sampai akhirnya mencapai wilayah yang ketika itu disebut Dutch 
East Indies atau Netherlands Indies.Dalam proses ekspansinya itu, Belanda 
mendapat perlawanan dari  berbagai kerajaan, kesultanan dan komunitas suku 
bangsa lokal. Belanda, misalnya, baru bisa menguasai Aceh setelah berakhir 
Perang Aceh pada 1904. Lamanya masa penjajahan kolonial Belanda yang 
berbeda-beda bukan alasan untuk menegasi proses pembangunan nasion Indonesia. 
Dan Papua Barat ketika itu disebut Netherland New Guinea serta berada di bawah 
kekuasaan Belanda.Fakta sejarah penting lainnya yang menunjukkan proses 
pembangunan dan pembentukan bangsa Indonesia adalah Kongres Pemuda Kedua yang 
diselenggarakan pada 27 hingga 28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Pada 
kesempatan itu dikeluarkan Sumpah Pemuda yang menyatakan putra dan putri 
Indonesia bertanah air satu, berkebangsaan satu, dan berbahasa satu yaitu 
Indonesia. Kenyataan bahwa tidak semua suku bangsa mengirim wakilnya ke Kongres 
tersebut sama sekali tidak mengurangi sifat nasional dari Sumpah Pemuda itu. 
Tidak mungkin semua suku bangsa mengirim wakilnya karena tingkat kesadaran dan 
perkembangan gerakan nasional ketika itu  tidak sama dan merata di Indonesia. 
Karena itu, suku bangsa yang tidak mengirim wakilnya ke Kongres tidak 
seharusnya merasa seolah-olah tidak dimasukkan dalam semangat Kongres persatuan 
pemuda 1928.Pada 1942, Jepang dengan mudah menduduki Hindia-Belanda karena 
penguasa kolonial tidak memberi perlawanan yang berarti. Begitu Perang Dunia 
(PD) II berakhir, pada 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia menyatakan merdeka 
dari penjajahan Belanda. Walau PBB dan Belanda tidak mengakui Proklamasi 1945, 
rakyat Indonesia dengan bedil dan bambu runcing membela kemerdekaannya melawan 
usaha Belanda untuk menduduki kembali negeri jajahannya. Belanda sangat 
berkepentingan mempertahankan koloninya karena ia membutuhkan kekayaan alam dan 
tenaga kerja murah Indonesia untuk memulihkan ekonominya dari kehancuran yang 
diderita karena PD II. Belanda, sampai hari ini masih menolak untuk mengakui 
kemerdekaan Indonesia pada 1945. Karena dengan pengakuan itu, Belanda berarti 
mengakui agresi militer pada 1947 dan 1948 terhadap Republik Indonesia.Sejak 17 
Agustus 1945 itu, Papua Barat sudah merupakan bagian dari Indonesia. Perlu 
diingat pidato Bung Karno di Kota Baru, Jayapura, 4 Mei 1963: “…Dan apa yang 
dinamakan tanah air Indonesia? Yang dinamakan tanah air Indonesia ialah segenap 
wilayah yang dulu dijajah oleh pihak Belanda, yang dulu dinamakan 
Hindia-Belanda, yang dulu dinamakan Netherlands-Indies. Itulah wilayah Republik 
Indonesia. Dengar-kan benar kataku, itulah wilayah Republik Indonesia. Itu 
berarti bahwa sejak 17 Agustus 1945 Irian Barat telah masuk di dalam wilayah 
Republik Indonesia. Apa yang belum terjadi? Karena penjajah Belanda di Irian 
Barat sesudah proklamasi itu masih berjalan terus, maka Irian Barat belum 
kembali termasuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Sehingga kita 
punya perjuangan yang lalu ialah Saudara-Saudara perhatikan benar-benar, bukan 
memasukan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Kesalahan 
ini masih kadang-kadang dibuat. Orang masih berkata, berjuang memasukan Irian 
Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Tidak! Irian Barat 
sejak 17 Agustus 1945 sudah masuk dalam wilayah Republik Indonesia. Orang 
kadang-kadang berkata, memasukan Irian Barat ke dalam wilayah Ibu Pertiwi. 
Salah! Tidak! Irian Barat sejak daripada dulu sudah masuk ke dalam wilayah 
kekuasaan Republik Indonesia…”Tak Perlu Pepera
Dengan demikian, sesungguhnya tanpa Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) atau 
referendum pada 1969, Papua Barat sudah sejak 1945 menjadi bagian sah 
Indonesia. Masalahnya adalah Belanda ingin terus mempertahankan Papua Barat 
sebagai koloninya sehingga pemerintah Indonesia di bawah Soekarno terpaksa 
harus membebaskannya dari cengkeraman kolonial Belanda! Jadi, mereka yang terus 
giat mengatakan Indonesia menganeksasi Papua Barat sebenarnya telah memalsu 
fakta sejarah! Perbatasan wilayah Republik Indonesia memang diwarisi dari 
perbatasan wilayah masa penjajahan Belanda. Itulah juga yang terjadi dengan 
negeri-negeri bekas jajahan kolonial Inggris, Prancis, Belgia dan 
lain-lain.Tapi, Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Victor F. Yeimo1 
 dalam “Penyelesaian Masalah Papua Barat (suatu perspektif internasional) 
menulis: ”Masalah utama bangsa Papua Barat adalah status politik wilayah Papua 
Barat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang belum final, karena 
proses memasukkan wilayah Papua Barat dalam NKRI itu dilakukan dengan penuh 
pelanggaran terhadap standar-standar, prinsip-prinsip hukum dan HAM 
internasional oleh Amerika Serikat (AS), Belanda, Indonesia dan PBB demi 
kepentingan ekonomi politik mereka.”Ini merupakan contoh pemutarbalikan fakta 
sejarah! Status politik wilayah Papua Barat sebenarnya sudah selesai sejak 
Proklamasi 17 Agustus 1945. Victor menempatkan kedudukan Indonesia sama dengan 
AS dan Belanda. Padahal posisi Indonesia adalah mempertahankan kedaulatannya, 
sedangkan Belanda mempertahankan penjajahan atas Papua Barat, dan AS berusaha 
menggantikan Belanda untuk mengeksploitasi kekayaan alam Papua Barat.Fakta 
sejarah lain yang diputarbalik adalah menyamakan kasus Papua Barat dengan Timor 
Timur. Portugal adalah kekuasaan kolonial yang pertama menguasai Timor. 
Persaingan antara Belanda dan Portugal berakhir pada 1860 dengan perjanjian 
yang membagi Timor menjadi Timor Barat di bawah kekuasaan kolonial Belanda dan 
Timor Timur di bawah Portugal. Pada 1974 terjadi kudeta di Portugal yang 
melahirkan politik dekolonisasi. Portugal mengundurkan diri dari Timor 
Timur.Setelah perang sipil,  Juli 1976, Fretilin yang berhaluan kiri 
mengumumkan berdirinya Republik Demokratis Timor Timur. Ini merupakan duri di 
mata Soeharto. Setelah mendapat lampu hijau dari AS, tentara fasis Soeharto 
menyerang dan menduduki Timor Timur. Indonesia di bawah Soeharto menjadi negara 
agresor yang menganeksasi Timor Timur dengan pembantaian terhadap penduduknya! 
Jumlah rakyat Timor Timur yang mati karena kelaparan, pembantaian dan 
penghilangan paksa selama pendudukan rezim Soeharto mencapai sekitar 91 ribu 
hingga 203 ribu! Padahal, penduduk Timor Timur ketika itu hanya sekitar 823 
ribu pada 1999. Jenderal Wiranto adalah salah satu pelaku pelanggar HAM berat 
di Timor Timur, namun ia bebas, malah diberi kedudukan dalam kabinetnya 
pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla!Di samping fakta sejarah, sebelum kita 
bersikap mendukung atau menolak gerakan “Pembebasan Papua Barat”, masih ada 
beberapa masalah yang harus dipertimbangkan. Pertama, watak kelas dari berbagai 
organisasi Papua yang mendukung gerakan “Pembebasan Papua Barat”. Apakah mereka 
mewakili kepentingan sosial-ekonomi rakyat jelata Papua? Bagaimana sikap 
organisasi-organisasi itu terhadap neoliberalisme dan imperialisme?Dalam 
“Manifesto from First Papuan People’s Congress-1961”, saya temukan antara lain 
tuntutan: “our flag be hoisted beside the Netherland flag; our national anthem 
(Hai Tanahku Papua) be sung and played in addition to the Netherlands national 
anthem.” Ini berarti, Kongres Rakyat Papua adalah sebuah lembaga yang pro 
Belanda karena ingin benderanya berkibar di samping bendera Belanda dan lagu 
kebangsaannya dinyanyikan bersama dengan lagu kebangsaan Belanda. Apakah ini 
tidak serupa dengan kasus Republik Maluku Selatan (RMS) yang mendapat dukungan 
dari Kerajaan Belanda?Salah satu tokoh Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn ikut 
mendirikan “International Parliamentarians for West Papua”. Sedangkan, Benny 
Wenda merupakan tokoh Papua yang tinggal di Inggris dan aktif bekerja untuk 
menggalang dukungan di kalangan anggota parlemen negeri-negeri imperialis. 
Lembaga ini mengutuk pelanggaran HAM di Papua Barat. Bagus sekali! Berbagai 
macam pelanggaran HAM yang dilakukan aparat militer rezim Soeharto hingga 
Jokowi di Papua Barat harus dikutuk dan kita menuntut dihentikannya semua 
pelanggaran itu. Masalahnya adalah apakah pelanggaran HAM itu hanya terjadi di 
Papua Barat?Bersediakah Jeremy Corbyn dan semua anggota parlemen AS, Belanda, 
dan negeri imperialis lainnya mengutuk pelanggaran HAM berat sejak 1965 hingga 
hari ini yang terus terjadi di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan 
pulau-pulau lainnya? Apakah kita bisa mempercayai Partai Buruh Inggris yang 
bersama AS melakukan perang agresi terhadap Irak dan Libya?Pada awal Januari 
lalu wartaplus.com memberitakan, Jenderal Goliath Tabuni dari Tentara 
Pembebasan Nasional Papua Barat  berseru kepada negara-negara  pendukung 
“Pembebasan Papua Barat” mendesak PBB agar basis militer AS di Darwin, 
mengirimpeacekeepers ke Papua.. Rupanya Jenderal Tabuni ini tidak sadar bahwa 
sekali tentara AS masuk, akan sangat sulit sekali memerintahkannya untuk pergi. 
Dan kita sudah dapat membayangkan model pemerintah yang akan didirikan Papua 
Barat dengan pendampingan tentara AS.Studi tentang KNPB
Akan sangat baik kalau sebuah studi dilakukan terhadap KNPB untuk mengetahui 
program dan sistem masyarakat seperti apa yang ingin mereka bangun seandainya 
berhasil “membebaskan” Papua Barat. Apakah para pemimpinnya betul-betul 
mewakili kepentingan rakyat pekerja Papua? Jangan kita lupakan pengalaman 
perjuangan rakyat Afrika Selatan yang dipimpin Kongres Nasional Afrika (ANC) 
dan Nelson Mandela. Apakah kelas yang berkuasa sekarang mewakili kepentingan 
rakyat jelata Afrika Selatan? Apakah kehidupan dan kesejahteraan rakyat Afrika 
Selatan mengalami kemajuan dan membebaskan mereka dari penghisapan dan 
penindasan? Sepanjang pengetahuan saya, yang terjadi di Afrika Selatan adalah 
pertukaran warna kulit dari para penguasa dan kaum elitenya saja.Studi lainnya 
lagi yang akan berguna adalah mempelajari struktur kelas dalam masyarakat 
Papua. Misalnya, hubungan antara anggota suku bangsa biasa dengan ketua adat 
atau kepala sukunya dalam proses produksi. Apa peran gereja dan apakah gereja 
juga merupakan salah satu lembaga yang menguasai tanah?Kalau kita mengamati 
situasi Indonesia secara keseluruhan, apakah dampak kebijakan pemerintah Jokowi 
yang sedang mendorong penanaman modal asing secara besar-besaran untuk 
membiayai mega-proyek infrastukturnya, mengeksplotasi sumber alam dan perluasan 
perkebunan, tidak dirasakan seluruh rakyat Indonesia termasuk rakyat Papua? 
Apakah perampasan tanah adat para suku bangsa Papua, pembabatan hutan-hutan dan 
pertambangan dengan dampak sangat serius terhadap lingkungan tidak terjadi di 
pulau-pulau Indonesia lainnya? Sebetulnya musuh yang dihadapi rakyat Papua sama 
dengan yang dihadapi rakyat suku bangsa lainnya, yaitu rezim Jokowi-JK yang 
mewakili kepentingan tuan tanah besar, kapitalis birokrat, komprador dan kaum 
imperialis. Apakah perjuangan pembebasan nasional rakyat Papua tidak sedang 
mengalihkan perhatian rakyat Papua dari masalah sosio-ekonominya yang mendesak? 
Apakah reforma agraria sejati tidak seharusnya menjadi tuntutan rakyat Papua 
juga?Pada zaman imperialisme dimana sistem kapitalis dunia terus menerus 
dilanda krisis tanpa ujung, rakyat Indonesia dari berbagai suku bangsa dan 
kepercayaan serta  agama yang berbeda harus menanggung penderitaan makin lama 
makin berat, kelangsungan hidupnya terancam karena sumber pencaharian dan ruang 
hidupnya hilang di bawah timbunan “pembangunan neo-liberal” pemerintah. Dalam 
kondisi seperti ini perjuangan melawan penghisapan dan penindasan kaum 
imperialis serta semua lembaga internasionalnya yang diwakili oleh kaum tuan 
tanah besar, kaum kabir dan komprador adalah yang utama. Karena perjuangan ini 
membutuhkan persatuan dan kerja sama erat di antara rakyat tanpa memandang 
latar belakang suku bangsa dan agama atau kepercayaanya.Perlu diingat masalah 
Papua Barat menjadi berlarut-larut sampai melibatkan PBB dan AS serta 
langkah-langkah militer pemerintah Indonesia sepenuhnya merupakan tanggung 
jawab pemerintah kolonial Belanda yang tidak mau meninggalkan Papua Barat. 
Indonesia di bawah Soekarno tidak pernah melakukan agresi terhadap Papua Barat! 
Perampokan besar-besaran kekayaan alam Papua tidak terjadi di zaman 
Soekarno!Pembunuhan, penyiksaan, pelanggaran HAM di Papua tidak dilakukan oleh 
pemerintahan Soekarno! Justru pemerintahan Soekarno yang dirongrong dan 
dipecah-belah oleh gerakan separatis RMS, PRRI dan Permesta hingga akhirnya 
dijatuhkan kudeta militer Soeharto pada 1965. Kalau pemerintahan Soekarno 
bersifat kolonial dan pro-imperialis, ia tidak akan digulingkan oleh Soeharto, 
antek kaum imperialis! Jangan putar balik fakta sejarah atas nama hak 
menentukan nasib sendiri rakyat Papua! [Tatiana Lukman]

Kirim email ke