Saudara-saudara sekalian. Perhatikan apa yang MUI lakukan. MUI kutuk "pelaku"
bom Kampung Melayu. Jadi yang dikutuk adalah pelakunya. Bukan ideology
dibelakang si pelaku. Ideology itu ada di dalam MUI sendiri yang di
pertontonkan ketika mendukung demo ber jilid-jilid itu. Ketika Baasir
menginisiasi BOM Bali dst. dan kemudian ditangkap, apa yang diperbuat Din
Sjamsudin? Ketua Muhamadijah, Ketua MUI, mengunjungi di penjara dan mengatakan
Baasir belum tentu bersalah.Nah lo. Di belakang MUI masih ada ideology kuat
anti NKRI dan condong untuk Khilafah. Sekarang kelihatan belangnya , maka pada
sedikit bersembunyi. Mengeluarkan statement kutukan sekalipun tidak merubah
esensi ideology MUI, sebagai sarang extremism di negara Pancasila. Bagaimana
MUI tahu kalau seluruh Masjid dipakai untuk mengumbar kebencian, tetapi tidak
mengeluarkan Fatwa? Tolong lihat ketika Takbiran, anak-anak berteriak bunuh
kafir dst. siapa itu kafir di negara Pancasila? Bukankah negara menjamin agama
lain (yang dikafirkan Islam) resmi sebagai agama yang berhak hidup di
Indonesia? Bahkan kehadirannya jauh lebih dahulu dari Islam itu sendiri di
Nusantara? Lihat Candi Borobudur, Prambanan dan kuil-kuil lain di tanah Jawa,
Sumatra, Kalimantan, Bali dll. Pemimpin-pemimpin umat yang anti NKRI harus
ditelanjangi satu persatu supaya tahu kejahatan kemanusiaannya sebelum terjadi
lebih parah lagi. Ujaran kebencian itu jelas mengandung suatu ideology yang
merusak kemanusiaan itu sendiri. Karena pada dasarnya semua umat manusia itu
adalah ciptaan Tuhan yang harus di junjung tinggi lebih dari barang dan
binatang. Filosofi padang pasir itu jelas berbeda dengan negara lain. Manusia
lain potensial sebagai ancaman dan harus dibinasakan, kecuali direndahkan
martabatnya lebih rendah dari binatang. Jadi pembunuhan karakter selalu
dilakukan seiring dengan pembunuhan fisik. Pertama adalah mengatakan "Kafir",
kedua "Orang kafir" berhak dibunuh. Dan inilah Syariah. Kalau sudah masif semua
yang berbeda di "kafir"kan maka pembunuhan karakter dan fisik adalah sah dalam
Syariah.Ingat dalam demo yang berjilid-jilid teriakan kafir begitu masif. Tidak
ada satu aparat pun yang mencegah bahkan memproses orang yang melampiaskan kata
kafir itu. Padahal kata "kafir" itu seperti pena buat wartawan, seperti senjata
bagi prajurit. Dia sangat ampuh membunuh siapa saja. Karena gaung itu bukan
dalam lafas mulut bersuara, melainkan dalam lubuk iman mereka. Kata-kata
untaian itu dirapalkan setiap membaca Kitab Suci dan di fokus personifikasikan
siapa itu kafir dalam konteks hidup actual mereka sekarang dan disini.Sekarang
perjuangan kita harus lewat undang-undang. Tidak boleh lagi orang berujar kata
"Kafir" kepada siapapun sebagai warga negara NKRI dan bahkan para orang asing
yang berdiam di NKRI. Selama kata kafir itu mudah diucapkan dan ada objek
ujaran, maka NKRI sangat rawan disintegrasi. Saya merasa tidak aman ketika
saudara saya yang Islam berani mengatakan kafir, walaupun tidak langsung kepada
saya. Ketika dia bisa mengatakan kafir kepada orang lain, maka dia bisa
mengatakan kafir kepada saudara sedarah sedaging yang berbeda iman. Dan sebagai
ketaatannya kepada hukum Syariah maka bisa kapan saja membunuh saya untuk
kepuasan imannya. Bagi Islam Agama adalah yang pertama dan terutama dan bukan
Tuhan. Dalam Kristen sungguh berbeda. Mar 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu
dan dengan segenap kekuatanmu.
Mar 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum
ini." Disini tidak di suruh kasihilah sesamamu yang seagama, sejenis, se suku,
se aliran. Perintah ini tidak ada dalam agama lain.Karena Yesus tidak menyuruh
orang untuk beragama untuk bisa melakukan perintahnya. Tetapi mendekat
kepadaNya. Jas_4:8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.
Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai
kamu yang mendua hati! Semoga ini bisa menjadi perjuangan di NKRI menyadarkan
orang yang memiliki ideology merusak kesatuan dan persatuan di Indonesia.
On Thursday, May 25, 2017 5:50 AM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Ikut arus jaman itu sepert excuse.Manusia punya free will dan punya
pilihan.Gak ada alasan menyalahkan jaman untuk berbuat sesuatu yang salah.
Kalau kita ikuti Nuremberg Trials, kita bisa lihat ada tokoh2 Nazis yang
menggunakan excuse ini. salah satu contohnya adalah hans frank, gubernur
jendralnya jerman di polandia, terkenal dengan julukan “algojo dari Krakow
polandia”. Dia menyalahkan system dimana orang yahudi kaya. Dia bilang semua
orang tahu system yang bikin enak orang yahudi itu salah. Lalu setelah
ketakutan/Nuremberg trials, dia ganti wajah dan bilang: “Hittler has disgraced
germany for all time. He betrayed and disgraced the people that loved him. I
will be the first to admit my guilt”. Excuse ikut arus itu tidak bisa
menjustifikasi seseorang berbuat salah karena seseorang itu punya free will dan
choice untuk tidak melakukannya. Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, May 25, 2017 7:16 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] MUI kutuk pelaku bom Kampung Melayu Di dunia
sekarang harus pandai ikut arus zaman, jika ingin mendapat berkat. 2017-05-25
13:06 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] <[email protected]>:
Mungkin ada unsur malu.Mengutuknya sudah benar.Yang belum tentu benar adalah
orang2 didalam MUI apakah semuanya mengutuk?Ini yang menjadi pertanyaan penting
karena banyak orang dalam MUI itu.Sangat tergantung dengan pimpinannya. Dulu
waktu jamannya Din Sam Syamsuddin lain suka nakal berpolitik. Begitu juga
sekarang jamannya KH Ma’ruf Amin lain lagi. Nesare From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, May 25, 2017 5:52 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: [GELORA45] MUI kutuk pelaku bom Kampung Melayu Serius ataukah hanya
ikut ramai mengutuk??
http://www.antaranews.com/berita/631341/mui-kutuk-pelaku-bom-kampung-melayu
MUI kutuk pelaku bom Kampung Melayu
Kamis, 25 Mei 2017 15:46 WIB | 759 ViewsPewarta: Anom PrihantoroPolisi berjaga
di lokasi dua ledakan bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu malam
(24/5/2017). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
... pelakunya mereka adalah manusia yang sudah kehilangan nilai kemanusiaannya.
Sungguh ini adalah tragedi kemanusiaan yang sangat keji dan memilukan..
Jakarta (ANTARA News) - Majelis Ulama Indonesia mengutuk keras pelaku bom di
Kampung Melayu, Jakarta karena aksi mematikan itu sangat biadab dan jauh dari
nilai-nilai agama.
"Siapa pun pelakunya mereka adalah manusia yang sudah kehilangan nilai
kemanusiaannya. Sungguh ini adalah tragedi kemanusiaan yang sangat keji dan
memilukan," kata Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi, di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan, pemboman itu terorisme di Indonesia masih sangat kuat sehingga
harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak, karena terorisme adalah
musuh negara.
MUI, kata dia, sudah menetapkan dalam fatwa Nomor 3/2014 bahwa terorisme adalah
tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman
serius terhadap kedaulatan negara, keamanan, perdamaian dunia, serta merugikan
kesejahteraan masyarakat.
Perbuatan terorisme, lanjut dia, haram hukumnya. Untuk hal itu MUI meminta
aparat keamanan menangkap para aktor dan pelakunya dan mengusut tuntas sampai
ke akar-akarnya.
Dia mengatakan MUI juga menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada segenap
keluarga korban bom Kampung Melayu, semoga almarhum para korban khusnul
khotimah (meninggal dengan cara yang baik) dan keluarga yang ditinggalkan
diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menerima musibah ini.
"Dimohon kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan memberikan
kepercayaan sepenuhnya kepada aparat keamanan untuk mengambil langkah yang
diperlukan," kata dia. Editor: Ade Marboen
#yiv3866077820 #yiv3866077820 -- #yiv3866077820ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-mkp #yiv3866077820hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-mkp #yiv3866077820ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-mkp .yiv3866077820ad
{padding:0 0;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-mkp .yiv3866077820ad p
{margin:0;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-mkp .yiv3866077820ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-sponsor
#yiv3866077820ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-sponsor #yiv3866077820ygrp-lc #yiv3866077820hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-sponsor #yiv3866077820ygrp-lc .yiv3866077820ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3866077820 #yiv3866077820actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3866077820
#yiv3866077820activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3866077820
#yiv3866077820activity span {font-weight:700;}#yiv3866077820
#yiv3866077820activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3866077820 #yiv3866077820activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3866077820 #yiv3866077820activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3866077820 #yiv3866077820activity span
.yiv3866077820underline {text-decoration:underline;}#yiv3866077820
.yiv3866077820attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3866077820 .yiv3866077820attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3866077820 .yiv3866077820attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3866077820 .yiv3866077820attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3866077820 .yiv3866077820attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3866077820 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3866077820 .yiv3866077820bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3866077820
.yiv3866077820bold a {text-decoration:none;}#yiv3866077820 dd.yiv3866077820last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3866077820 dd.yiv3866077820last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3866077820
dd.yiv3866077820last p span.yiv3866077820yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3866077820 div.yiv3866077820attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3866077820 div.yiv3866077820attach-table
{width:400px;}#yiv3866077820 div.yiv3866077820file-title a, #yiv3866077820
div.yiv3866077820file-title a:active, #yiv3866077820
div.yiv3866077820file-title a:hover, #yiv3866077820 div.yiv3866077820file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3866077820 div.yiv3866077820photo-title a,
#yiv3866077820 div.yiv3866077820photo-title a:active, #yiv3866077820
div.yiv3866077820photo-title a:hover, #yiv3866077820
div.yiv3866077820photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3866077820
div#yiv3866077820ygrp-mlmsg #yiv3866077820ygrp-msg p a
span.yiv3866077820yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3866077820
.yiv3866077820green {color:#628c2a;}#yiv3866077820 .yiv3866077820MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3866077820 o {font-size:0;}#yiv3866077820
#yiv3866077820photos div {float:left;width:72px;}#yiv3866077820
#yiv3866077820photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3866077820
#yiv3866077820photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3866077820
#yiv3866077820reco-category {font-size:77%;}#yiv3866077820
#yiv3866077820reco-desc {font-size:77%;}#yiv3866077820 .yiv3866077820replbq
{margin:4px;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-mlmsg select, #yiv3866077820 input, #yiv3866077820 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-mlmsg pre, #yiv3866077820 code {font:115%
monospace;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-mlmsg #yiv3866077820logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-msg
p#yiv3866077820attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-reco #yiv3866077820reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-sponsor
#yiv3866077820ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-sponsor #yiv3866077820ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-sponsor #yiv3866077820ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3866077820 #yiv3866077820ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3866077820
#yiv3866077820ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3866077820