Lho, kok bung jadi menuduh begini. Siapa yang menilai siapa barbar ?
mengapa bisa barbar ?
Bung bilang mestinya di Tuban harus didirikan patung Raden Wijaya, dengan
alasan agresor masuk dan keluar dikalahkan di situ. Ternyata larinya
tentara Mongol bukan dari Tuban, tetapi dari ujung Galuh. Masa tempatnya
agresor masuk justru dipasangi patung Raden Wijaya ? Mengapa bukan di
tempat kemenangan atau tempat mengusir musuh ?
Saya hanya mempertanyakan apa bukan semestinya di Daha, tempat kemenangan
besar atau di ibu kotanya Majapahit, di Trowulan.Ternyata memang sudah
dibangun di Trowulan.
Kalau pertanyaan saya tiak benar, bung boleh saja tidak setuju, dengan atau
tanpa alasan, tetapi jangan menuduh sembarangan.

2017-08-21 12:50 GMT+02:00 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Bung kayaknya keberatan untuk menghargai patriotisme R. Wijaya yang
> berhasil mempertahankan tanahairnya terhadap agresor Kubilai-Khan yang
> menganggap penguasa di Singhasari (Kertanegara), karena tidak mau tunduk
> pada kewajiban memberikan upeti sebagai tanda ketundukan, lalu kemudian
> menilainya sebagai barbar?
>
> Am Mon, 21 Aug 2017 10:20:39 +0200 schrieb "kh djie
> [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:
>
> > Seperti e-mail dr. bung Jonathan, sudah didirikan di Trowulan, pusat
> > kerajaan Majapahit, dan diresmikan oleh Danrem setempat :
> > https://tniad.mil.id/2015/01/danrem-082cpyj-resmikan-
> patung-raden-wijaya/
>
> 
>

Kirim email ke