Tapi, ... saya kok merasa yang didiskusikan sudah melenceng dari permasalahan 
semula Patung Kwan Kong yang kontroversial itu, ... bahkan sebagian kelompok 
mmenuntut dirobohkan!

Menurut saya, jangan terkecoh tulisanTeguh Setiawan, yang berjudul “Di Tuban 
Seharusnya Berdiri Patung Raden Widjaja, Bukan Yang Lain!” itu! Lha, jelas 2 
masalah yang BERBEDA kok mau disetandingkan. Harus ingat, Dewa Kwan Kong itu 
lama sudah di-dewa-kan ditengah2 masyarakat Tiongkok, dan itu terjadi seribu 
tahun lebih dahulu ketimbang penyerangan tentara Kubilaikhan ke Nusantara yang 
katanya mendarat di Tuban! Jadi, TIDAK ada hubungan antara Dewa Kwan Kong 
dengan serangan tentara Mongol. Bahwa tentara Kubilaikhan itu membawa patung 
Kwan Kong sebagai rasa syukur dan perlindungan, bisa saja. Itulah tradisi 
budaya masyarakat TIonghoa ketika itu, yang sudah menjadikan Kwan Kong sebagai 
Dewa. Seddang umat Tridharma, Taoisme, Konfucianisme dan Budhisme di Indonesia, 
yang berada dibawah naungan klenteng Kwan Sing Bio itu, untuk memuja Dewa Kwan 
Kong, mereka urunan membangun Patung Kwan Kong raksasa itu dihalaman kelenteng 
Kwan Sing Bio! 

Jadi, pembangunaqn patung Kwan Kong itu di Tuban, memang sama sekali TIDAK ada 
HUBUNGAN dengan invasi atau agresi tentara Kubilaikhan ke Tuban! Bahwa ada usul 
lebih baik membangun patung Raden Wijaya di Tuban, yaa, boleh-boleh saja 
dicarikan tempat yang lebih strategis dan lebih tinggi, sehingga patung Raden 
Wijaya nampak lebih perkasa, lebih megah di Tuban, ...

Salam,
ChanCT



From: kh djie [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, August 21, 2017 7:25 PM
To: Gelora45 
Subject: Re: [GELORA45] Patung Raden Wijaya (Bra Wijaya)

  

Lho, kok bung jadi menuduh begini. Siapa yang menilai siapa barbar ? mengapa 
bisa barbar ?
Bung bilang mestinya di Tuban harus didirikan patung Raden Wijaya, dengan 
alasan agresor masuk dan keluar dikalahkan di situ. Ternyata larinya tentara 
Mongol bukan dari Tuban, tetapi dari ujung Galuh. Masa tempatnya agresor masuk 
justru dipasangi patung Raden Wijaya ? Mengapa bukan di tempat kemenangan atau 
tempat mengusir musuh ?
Saya hanya mempertanyakan apa bukan semestinya di Daha, tempat kemenangan besar 
atau di ibu kotanya Majapahit, di Trowulan.Ternyata memang sudah dibangun di 
Trowulan.
Kalau pertanyaan saya tiak benar, bung boleh saja tidak setuju, dengan atau 
tanpa alasan, tetapi jangan menuduh sembarangan.

2017-08-21 12:50 GMT+02:00 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

    
  Bung kayaknya keberatan untuk menghargai patriotisme R. Wijaya yang
  berhasil mempertahankan tanahairnya terhadap agresor Kubilai-Khan yang
  menganggap penguasa di Singhasari (Kertanegara), karena tidak mau tunduk
  pada kewajiban memberikan upeti sebagai tanda ketundukan, lalu kemudian
  menilainya sebagai barbar?

  Am Mon, 21 Aug 2017 10:20:39 +0200 schrieb "kh djie
  [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:

  > Seperti e-mail dr. bung Jonathan, sudah didirikan di Trowulan, pusat
  > kerajaan Majapahit, dan diresmikan oleh Danrem setempat :
  > https://tniad.mil.id/2015/01/danrem-082cpyj-resmikan-patung-raden-wijaya/





Kirim email ke