Lho yang menggunakan istilah barbar itu si Jengis-Khan ketika dia
kaget kok utusannya ke kerajaan Singshasari telinganya diperung dan
permintaan upetinya ditolak mentah-mentah.

Apa bung tidak membaca kutipan uraian dari Wikipedia yang saya sertakan
yang menyebutkan kata barbar itu dan saling hubungan kalimatnya?
Jadi, maksud penulisan kata barbar disitu itu bukan untuk menuduh. Dan
lagi kalimat saya itu kan sebuah kutipan dari ucapan "Kubilai Khan" yang
"sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Pada tahun 1292, dia pun
memerintahkan dikirimkannya ekspedisi untuk menghukum Kertanegara, yang
dia sebut orang barbar.". Sekali lagi kata barbar itu ditujukan kepada
Kertanegara oleh si Jengis-Khan. Dari mana kok bung yang merasa ikut
dituduh?

Tapi tokh seandainya bung merasakan ada semacam tuduhan ("Kalau
pertanyaan saya tiak benar, bung boleh saja tidak setuju, dengan atau
tanpa alasan, tetapi jangan menuduh sembarangan."), apa bung bisa
menunjukkan dalam hal apa tuduhan saya itu?

Sebenarnya fikiran atau sikap apa sih yang mendorong-dorong dan
memperbesar-besarkan patungnya dewa perangnya sejarah luarnegeri itu?
Perang dilancarkan dengan membawa patung atau senjata? Itu yang kasat
mata. Yang penting untuk analisa sejarah terutama adalah ide pembimbing
perang itu sendiri. Dalam hal ini saya menilai invasi Jengis-Khan ini
suatu bentuk perang penjajahan terhadap bangsa-bangsa  yang bermukim
maupun negara-negaranya yang sedang membangun masyarakat dan wilayah di
Asia Tenggara, termasuk di pulau Jawadwipa.

Terus terang pandangan yang saya baca di milis ttg patung itu sebagian
besar sekali kan hanya memperhatikan alasan pihak pendatang saja. Tapi
bagaimana pandangan pihak tuanrumah yang didatangi kok tidak dijadikan
pertimbangan dalam menilai peristiwa sejarah dan ternyata tidak sedikit
pengikut "aliran penilaian satu pihak saja" ini. Berpura-pura atau
memang tidak tahu bahwa di tempat yang sama justru pernah terjadi
peristiwa sejarah yang lebih punya arti bagi penduduk yang sudah
berabad-abad bermukim dan pernah memiliki budaya dan susunan
ketata-negaraan maupun pemerintahan yang akan dijajah oleh tentaranya
Jengis-Khan itu.

Gambaran invasi serdadunya Jengiskhan dan pihak-pihak yang berperang
ini ada dlm bukunya Weatherford, Jack (2004), Genghis khan and the
making of the modern world, New York: Random House, p. 239, ISBN
0609809644 dan ditulis a.l. sbb:
 
Serbuan Yuan-Mongol ke Jawa adalah invasi Kekaisaran Tiongkok-Mongol di
bawah Dinasti Yuan ke tanah Jawadwipa (pulau Jawa sekarang). Pada tahun
1293, Kubilai Khan, Khan Agung Kekaisaran Mongol dan pendiri Dinasti
Yuan, mengirim invasi besar ke pulau Jawa dengan 20,000[1] sampai
30,000 tentara. Ini adalah ekspedisi untuk menghukum Raja Kertanegara
dari Kerajaan Singhasari, yang menolak membayar upeti dan bahkan
melukai utusan Mongol.

Sebaliknya tidak ada pendapat yang dikemukakan,bagaimana sikap dan
pertimbangan dalam analisa keilmuan sejarahnya terhadap antipode
lawannya Jengis Khan yang diwakili oleh peranan R.Wijaya yang bersikap
patriotik itu? 
Disingkirkan begitu saja dengan penonjol-nonjolan si dewa perang yang
sangar itu? 
Atau sikap seperti ini bisa diartikan persetujuan diam-diam atas agresi
Jengis-Khan ke pulau Jawa pada abad itu?

Kembali pada sangkaan bung, yang saya kemukakan itu adalah pandangan
saya tentang peranan patriotisme R. Wijaya itu atas agresinya
Jengiskhan yang di mulai di Tuban. Bukan urusan kata barbar.

Saya berpendapat sikap R. Wijaya mengusir agresor itu perlu diteladani
bagi kaum patriot Indonesia. Bagaimana bentuknya yah itu banyak sekali
versinya dan yang penting sesuai dengan tingkat kesadaran yang
bersangkutan pada umumnya. Saya lebih mengutamakan belajar dari
kecakapan R.Wijaya yang dengan tegar dan akal yang cerdik bisa mengubah
kedudukan pasukannya yang asor menjadi kekuatan handal untuk mengusir
kaum agresor yang menggunakan ribuan prajurit mereka yang sudah
berpengalaman menang perang dimana-mana.

Kalimat persetujuan saya atas pandangan bung Sunny ttg argumen bikin
patung R. Wijaya di Tuban, yang menjadi sebab reaksi bung itu
sebenarnya kan demikian bunyinya: "Sesuai dengan catatan sejarah
agresinya dimulai dan diakhiri di situ." (Lihat email Date: Mon, 21 Aug
2017 09:20:25 +0200). Artinya datangnya di situ dan lari tunggang
langgang kalah perang pada pokoknya yah disitu.

Kegagalan ini sekaligus merupakan ekspedisi militer dan perang
perampokan dengan kedok tuntutan upeti terakhir Kubilai Khan ke
seluruh wilayah Asia Tenggara. Dan itulah yang menjadikan otoritet R.
Wijaya sebagai negarawan terkenal dan mempunyai dasar pertimbangan yang
berbobot dalam sejarah, kalau patungnya didirikan di Tuban.
 
Kembali pada pertanyaan bung. Saya tidak mempersoalkan salah-tidaknya
suatu pertanyaan apa saja dari bung, seperti sangkaan bung itu. Tapi
sekedar mengemukakan argumen. Dan ternyata dari diskusi kita ini
tersirat arti pentingnya kedudukan sejarah kota Tuban yang akhirnya
tokh menjadi titik teleng perdebatan banyak pihak. Ada yang mengatakan
soalnya tidak ada latarbelakang politik. Mana mungkin? Itu justru
politik untuk menutup-nutupi tujuan politik! Mau coba-coba melakukan
politik etis?







Am Mon, 21 Aug 2017 13:25:58 +0200 schrieb "kh djie
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:

> Lho, kok bung jadi menuduh begini. Siapa yang menilai siapa barbar ?
> mengapa bisa barbar ?
> Bung bilang mestinya di Tuban harus didirikan patung Raden Wijaya,
> dengan alasan agresor masuk dan keluar dikalahkan di situ. Ternyata
> larinya tentara Mongol bukan dari Tuban, tetapi dari ujung Galuh.
> Masa tempatnya agresor masuk justru dipasangi patung Raden Wijaya ?
> Mengapa bukan di tempat kemenangan atau tempat mengusir musuh ?
> Saya hanya mempertanyakan apa bukan semestinya di Daha, tempat
> kemenangan besar atau di ibu kotanya Majapahit, di Trowulan.Ternyata
> memang sudah dibangun di Trowulan.
> Kalau pertanyaan saya tiak benar, bung boleh saja tidak setuju,
> dengan atau tanpa alasan, tetapi jangan menuduh sembarangan.
> 
> 2017-08-21 12:50 GMT+02:00 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
> [email protected]>:  
> 
> >
> >
> > Bung kayaknya keberatan untuk menghargai patriotisme R. Wijaya yang
> > berhasil mempertahankan tanahairnya terhadap agresor Kubilai-Khan
> > yang menganggap penguasa di Singhasari (Kertanegara), karena tidak
> > mau tunduk pada kewajiban memberikan upeti sebagai tanda
> > ketundukan, lalu kemudian menilainya sebagai barbar?
> >
> > Am Mon, 21 Aug 2017 10:20:39 +0200 schrieb "kh djie
> > [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:
> >  
> > > Seperti e-mail dr. bung Jonathan, sudah didirikan di Trowulan,
> > > pusat kerajaan Majapahit, dan diresmikan oleh Danrem setempat :
> > > https://tniad.mil.id/2015/01/danrem-082cpyj-resmikan-  
> > patung-raden-wijaya/
> >
> > 
> >  

Kirim email ke