Pada Minggu, 10 September 2017 5:10, "'Chan CT' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Hanya orang BODOH yang bisa mengatakan orang yang berbuat SALAH adalah
BODOH! Setiap orang didunia ini, betapapun pintar dan genial nya, sebagai
manusia biasa, tetap bisa saja berbuat KESALAHAN! Tapi, kesalahan apapun yang
dilakukan TIDAK HARUS menegasi dan menyangkal kegeniusan dan kebesaran jiwa
pimpinan macam Lenin, Stalin dan Ketua Mao, ...! Lenin dan Stalin dengan segala
kesalahan yang dilakukan TETAP adalah Pemimpin BESAR Rakyat Sovyet, begitu juga
Ketua Mao dengan segala kesalahan yang terjadi TETAP adalah Pemimpin BESAR
Rakyat Tiongkok! Sebaliknya, orang-orang yang berhasil melihat kesalahan orang
lain setelah melewati praktek yang terjadi, TIDAK MESTI lebih pintar dan lebih
genial dari Lenin, Stalin dan Ketua Mao, ...! Hanya orang-orang BODOH yang
TIDAK BISA gunakan otak sendiri, ... bisanya hanya mendewakan Lenin-Stalin-Mao
dengan mudah menuduh orang-orang yang BERBEDA dengan dirinya dan berani
mengkritik, adalah REMO, PENGHIANAT, RENEGAT, ... From: Tatiana Lukman
[email protected] [GELORA45] Sent: Sunday, September 10, 2017 12:06 AMTo:
Lusi D. ; [email protected] [GELORA45] Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD
Subject: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar ganti
rugi nasionalisasi oleh bung Karno. Inilah pencerminan orang yang bicara ttg
NEP tapi memisahkannya dari situasi kongkrit Rusia ketika itu. Dia tahunya dan
berpegang pada " Lenin menerapkan kapitalisme negara.. ". Dus kenapa Jokowi
tidak boleh menerapkan kapitalisme negara??? Emangnya NEP milik Lenin atau
milik Soviet saja? Seperti Chan juga yang ambil alasan "Lenin juga menerapkan
"kapitalisme negara" , dus Deng xiao ping benar!! Deng bukan remo, tapi justru
"penyelamat" Tkk dengan melahirkan "perkembangan dan pertumbuhan dua digit".
Jadi tidak bisa diharapkan mereka akan mau menganalisa dan meninjau lebih dalam
apa arti dan dampak dari adanya "kediktaturan proletariat", adanya sebuah
partai proletar, dan adanya seorang pemimpin seperti Lenin. Buat mereka mah
Lenin tidak berarti apa-apa, wong Chan juga menganggapnya goblok karena
terburu-buru menghantam kaum kapitalis..sama gobloknya dengan Mao yang juga
terburu-buru masuk dalam revolusi dan pembangunan sosialis!!! Makanya dibetulin
oleh Deng!!! Pakai penghisapan, tidak apa-apa, tapi tetap sosialisme, hanya
harus diembel-embeli "kepribadian/ciri Tkk"!!!
Seperti dulu ketika perdebatan tentang NEP, tak satupun yang mau tahu atau
berkomentar tentang kata-kata pembimbing Lenin untuk NEP (tiga tahap NEP,
memperkuat aliansi buruh dan tani, tujuan NEP adalah membangun dasar ekonomi
sosialis, Rusia dengan NEP akan menghasilkan Rusia sosialis). Dan orang lupa
bahwa dalam NEP konsesi diberikan kepada pengusaha kecil dan menengah, dan tani
kaya. Sama sekali tidak ada tuan tanah besar, konglomerat , kabir dan KAPITALIS
KOMPRADOR seperti di Indonesia sekarang!!!! Masuknya modal asing juga sangat
kecil sekali. Logis!! Siapa yang mau menanam modal di negeri yang sedang
membangun sosialisme!!??? Dan jangan lupa blokade ekonomi tetap berjalan. Semua
keadaan ini buat mereka adalah hal-hal yang remeh temeh!!!Tidak penting!
Pokoknya NEP bisa juga diterapkan oleh Jokowi ! (tahu nggak nanti jawabnya:
siapa yang bilang Jokowi menerapkan NEP?? Padahal, walaupun tidak dibilang
dengan kata-kata begitu, tapi kan orang ngerti maksudnya). Begitulah bung Lusi,
komentar saya.
On Thursday, September 7, 2017 10:57 PM, Lusi D. <[email protected]> wrote:
Menurut kurikulum politik ekonomi marxis yang termasuk wajib diajarkan
di setiap universitas, ada dua kategori disiplin keilmuan Ekonomi
Marxis: Ilmu Ekonomi Politik Kapitalisme dan Ilmu Ekonomi Politik
Sosialisme. Adapun NEP itu termasuk dalam kategori disiplin Ilmu Ekonomi
Politik Sosialisme. Menjadi langkah awal untuk memutar roda pembangunan
ekonomi sosialisme dibawah syarat-syarat kekuasaan politik kaum
penghisap sudah ditumbangkan dan semua alat-alat produksi berada di
tangan klas buruh.
Tidak ada yang melarang bung menafsirkannya seperti yang bung tulis di
bawah itu. Mengapa? Kan Bung Nesare lebih mengerti tentang NEP
dibandingkan dengan penciptanya sendiri, seorang marxis bernama Lenin.
Nah tentang NEP ini cukup demikian saja timbrungan saya.
Lusi.-
Am Thu, 7 Sep 2017 11:45:07 -0400
schrieb "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:
> Argument bung itu kan syarat2nya NEP?!
>
> Lenin menjalankan kapitalisme tidak? Jawabannya jelas iya. Jelas
> sekali progression menuju state capitalism didalam workers’ state.
> Itu adalah system ekonomi yg mencakup free market dan kapitalisme
> walaupun harus ikut state control.
>
>
>
> Ngapain dikasih syarat? Wong syaratnya sudah ada waktu itu yaitu
> memang buruh sdh menang dan kaum penghisap sdh kalah.
>
> Oh kalau bukan sosialisme, gak boleh menerapkan NEP?
>
> Atau maksudnya negara kapitalisme gak boleh menerapkan NEP krn NEP
> milik negara sosialisme?
>
>
>
> Macem2 saja argumennya.
>
>
>
> Nesare
>
>
>
> From: [email protected] [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, September 7, 2017 11:01 AM
> To: [email protected] [GELORA45] <[email protected]>
> Cc: [email protected]; [email protected]
> Subject: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar
> dollar ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
>
>
>
>
>
> Am Thu, 7 Sep 2017 09:44:27 -0400
> schrieb "[email protected] [GELORA45]
> <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected]
> <mailto:[email protected]> >:
>
> Nimbrung sedikit atas diskusi tanggapan Nesare versus Tatiana soal
> NEP.
>
> Kutipan mulai,
>
> Nesare:
> >
> > Saya bilang lenin saja menerapkan NEP walaupun dia anti kapitalisme
> > itu karena kalau negara lagi susah apalagi berkaitan dengan duit,
> > cara apapun akan dipakai pemimpinnya. Ini yang dilakukan lenin dalam
> > menanggungi masalah ekonomi rusia waktu itu yg lagi kesusahan.
> >
> > Pendapat dan tindakan itu hal yang berbeda dan bisa berlainan.
> > Pendapat Lenin sosialis tetapi tindakan nya NEP.
> > Begitu juga bung Karno sosialis tetapi tindakannya bikin UU PMA
> > 1958.
> >
> > Dah ngerti?!
> > . . . . .
> >
> > Nesare
>
> Kutipan selesai.
>
> Lusi:
>
> Arti dan nuansa NEP itu bukan kapitalisme seperti banyak sangkaan
> orang. Misalnya pendapat bung diatas: "Saya bilang lenin saja
> menerapkan NEP walaupun dia anti kapitalisme itu . . .)".
>
> Karena untuk melaksanakan NEP ada syarat-syarat tertentu dan yang
> utama sistim kekuasaan politik kaum penghisap sudah ditumbangkan dan
> semua alat-alat produksi berada di tangan klas buruh.
> Apa di Indonesia sistim kekuasaan kaum penghisap sudah ditumbangkan
> dan semua alat-alat produksi sudah berada di tangan klas buruh?
> Berikut saya kutipkan ulasan Lenin mengenai pelaksanaan NEP.
>
> Bhs Jeman, Lenin:
> Man betrachte aber, wie sich die Sache jetzt geändert hat, da ja die
> Staatsmacht bereits in den Händen der Arbeiterklasse liegt, da die
> politische Macht der Ausbeuter gestürzt ist und alle Produktionsmittel
> (mit Ausnahme derer, die der Arbeiterstaat freiwillig, zeitweilig und
> bedingt den Ausbeutern als Konzession überläßt) sich in den Händen der
> Arbeiterklasse befinden.
> 6. Januar 1923.
>
> Terjemahan Bhs Indonesia, Lenin:
> Tetapi orang memandang sebagaimana persoalannya sekarang yang telah
> berubah, oleh karena ya kekuasaan negara sudah berada di tangan klas
> buruh, karena kekuasaan politik kaum penghisap sudah ditumbangkan dan
> semua alat-alat produksi (dengan perkecualian bagi mereka yang
> menyerahkannya pada negara secara sukarela, untuk sementara dan dengan
> syarat pada kaum penghisap sebagai konsesi) berada di tangan klas
> buruh.
> 6 Januari 1923.
>
> (Lih. Kumpulan Karya Lenin bhs Jerman: Lenin Werke, Dietz Verlag
> Berlin, 1973, Band 33, Seite 461)
>
> Lusi.-
>
> >
> --------------------
> >
> >
> > Jadi jangan bilang saya bodoh dan buta krn saya gak mau baca seluruh
> > karya lenin yg berkaitan dgn NEP dan saya menghubungkan NEP dan
> > freeport! Emangnya baca seluruh ide lenin ttg NEP bisa apa?
> > kelihatannya bung sudah baca semuanya ya? Tolong kasih tahu isi dan
> > pesannya apa? Saya jelas sdh bilang: lenin menerapkan NEP krn
> > kesulitan menggerakkan ekonomi rusia! Tolong jabarkan dimana
> > pentingnya membaca seluruh ide lenin ttg NEP ini?!
> >
> >
> >
> > Bung juga menulis bahwa bung Karno juga mengartikan penanaman modal
> > asing sama dengan imperialisme. Saya tanya kalau bung Karno menang
> > dengan asumsi semua yg dikirim sekolah keluar negeri sudah pintar2,
> > baik2 dan siap utk menjalankan RI, apakah bung Karno tidak akan
> > melakukan PMA kenegara asing nantinya?
> >
> >
> >
> > Jelas sekali bung gak ngerti arti “go to hell with your aid” dan
> > “bung Karno bukan anti investasi asing”.
> >
> > Makanya bung menulis: bung Karno bilang PMA = imperialism hanya utk
> > mendukung pendapat bung bahwa bung Karno tidak akan
> > menasionalisasikan freeport krn bung Karno tidak akan kasih PMA
> > masuk Indonesia.
> >
> >
> >
> > Sudah tahu belum kesalahan berpikirnya bung? Itu terletak diakhir
> > kalimat diatas yaitu: walaupun bung Karno anti imperialism, bung
> > Karno tidak anti investasi asing. Begitu juga bung Karno tidak bodoh
> > utk tidak akan melakukan PMA dinegara asing kalau RI sudah siap
> > dibangun oleh bangsanya sendiri. Yg bung Karno tekankan itu adalah
> > kesejahteraan rakyat. Siapkan diri sendiri lalu kelola sumber daya
> > yg ada utk mencapai tujuan bersama itu. Ini pesan umumnya. Bukannya
> > nasionalisasi dan PMA.
> >
> >
> >
> > Nesare
> >
> >
> >
> >
> >
> > From: [email protected] <mailto:[email protected]>
> > [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, September 6,
> > 2017 2:57 PM To: [email protected]
> > <mailto:[email protected]> ; [email protected]
> > <mailto:[email protected]> ; Tatiana Lukman
> > <[email protected] <mailto:[email protected]> > Cc:
> > DISKUSI FORUM HLD <[email protected]
> > <mailto:[email protected]> >; Yahoogroups
> > <[email protected] <mailto:[email protected]> >
> > Subject: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar
> > dollar ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
> >
> >
> >
> >
> >
> > Jangan bicara soal NEP kalau tidak bersedia mempelajari seluruh
> > karya Lenin yang berkaitan dengan NEP. Benar-benar sangat bodoh dan
> > kebutaan luar biasa akan sejarah, membandingkan NEP dengtan
> > eksplotasi Freeport yang sedang menjadi tema. Dulu sudah pernah
> > terjadi perdebatan tentang NEP yang digunakan oleh remo Chan untuk
> > membela restorasi kapitalisnya Deng dengan satu-satunya argumenatasi
> > pendapatnya pemimpin remo Jepang!! Chan juga tidak bersedia
> > mempelajari karya Lenin yang berkaitan dengan NEP, karena sudah
> > tentu merasa dirinya pintar dan sudah cukup tahu hanya dengan baca
> > tulisannya remo Jepang. Argumentasi saya yang membedakan NEP dengan
> > reform kapitalis Deng SAMA SEKALI tidak mendapat bantahan dari Chan.
> > Seperti biasa, dia diamkan argumentasi itu, dan dia masukkan masalah
> > lain... Begitulah debat kusir remo Chan.
> >
> >
> >
> > On Wednesday, September 6, 2017 8:40 PM, "Tatiana Lukman
> > [email protected] <mailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> [GELORA45]"
> > <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> > wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> > Inilah pendapat fraksi PKI di DPR pada tahun 1957.
> >
> >
> >
> >
> >
> > Perjuangan nasional kita melawan imperialisme Belanda pada
> > hakekatnya adalah perjuangan melawan modal Belanda. Jika rakyat
> > Indonesia pertama-tama berjuang untuk merebut kekuasaan politik,
> > dari tangan Belanda, maka hal ini tidak lain karena kekuasaan
> > politik yang didirikan oleh Belanda di Indonesia adalah justru
> > untuk melindungi dan menjamin keamanan modal Belanda di dalam
> > memeras tenaga rakyat dan kekayaan alam Indonesia. Oleh karena itu
> > melawan kolonialisme atau imperialisme adalah sama dengan melawan
> > modal asing. Imperialisme adalah identik dengan penanaman modal
> > asing atau ekspor modal.Pengertian yang semacam ini tidak hanya
> > dimiliki oleh kaum buruh Komunis. Bung Karno dalam tulisannja “
> > Mentjapai Indonesia Merdeka ” menyatakan: “Sejak adanya
> > opendeur-politiek di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk
> > ke Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal
> > Betanda saja, tetapi juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga
> > modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Perancis, juga modal
> > Italia, juga modal lain-lain, sehingga imperialisme di Indonesia
> > kini adalah imperialisme yang internasional karenanya. Raksasa
> > ‘biasa’ yang dulu berjengkelitan di atas pada kerezekian Indonesia,
> > kini sudah menjadi raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh”.
> > Dari tulisan Bung Karno ini, jelaslah bahwa beliau juga mengartikan
> > penanaman modal asing sama dengan imperialisme. Oleh karena itu
> > pula sesuai dengan pernyataan Bung Karno, yang saya kutip di atas
> > ini, dengan rancangan Undang-undang yang akan mengundang masuk
> > modal asing dari segala sudut dunia tidak bisa diartikan lain
> > kecuali memperkuat kedudukan imperialisme internasional yang sudah
> > bercokol di negeri kita selama ini.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Dengan menunjukkan arti daripada penanaman modal asing yang identik
> > dengan imperialisme, saya tidak hendak terus begitu saja menarik
> > kesimpulan, bahwa setiap orang yang membela politik penanaman modal
> > asing berarti lahir-batin orang itu juga membela politik
> > imperialisme. Memang ada golongan yang membela politik penanaman
> > modal asing karena mereka itu sesungguhnya adalah agen-agen
> > imperialisme. Tetapi ada juga orang yang menyetujui penanaman modal
> > asing dengan perhitungan seakan-akan penanaman modal asing itu bisa
> > memperbaiki tingkat penghidupan rakyat dan bisa membantu
> > perkembangan ekonomi nasional.
> >
> > Terhadap Pemerintah yang rupanya juga memperhitungkan bahwa
> > penanaman modal asing itu bisa memperbaiki tingkat penghidupan
> > rakyat dan membantu perkembangan ekonomi nasional, fraksi kami,
> > Fraksi Partai Komunis Indonesia, ingin menunjukkan kenyataan bahwa
> > selama ini di Indonesia sudah bercokol cukup banyak modal asing,
> > tetapi justru karena kekuasaan modal asing ini maka ekonomi
> > nasional Indonesia tidak bisa berkembang dan tingkat penghidupan
> > rakyat sangat rendah.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > On Wednesday, September 6, 2017 8:06 PM, "[email protected]
> > <mailto:[email protected]%0b%3e%20[GELORA45]%20%3cmailto:[email protected]%20[GELORA45]%3e%20>
> > [GELORA45] <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> "
> > <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> > wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> > UU PMA 78 tahun 1958 sudah ada dijaman Orla yg memerlukan modal
> > asing utk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia serta
> > memperbesar produksi nasional. Ini hasil kerja sama pemerintah dan
> > DPR. Didalam UU PMA ini ada jelas terlihat bagaimana upaya dari
> > pemerintah untuk melindungi kepentingan ekonomi rakyat dan
> > melindungi dari ancaman pemodal asing pada sektor2 strategis.
> >
> >
> >
> > UU PMA 1958 diganti menjadi UU No. 16 tahun 1965. Dalam UU 1965 ini
> > PMA dihentikan. Disini kelihatan sikap revolusioner bung Karno dgn
> > Berdikari nya Disini jelas bung Karno tidak anti PMA tetapi
> > mendahulukan kedaulatan dan kepentingan rakyat. Saya yakin kalau
> > rakyat sudah siap ya kran PMA dan atau kerja sama dengan pihak asing
> > akan terjadi. Program mengirim mahasiswa/I keluar negeri dalam
> > rangka ini: mempersiapkan sumber daya manusianya baru terus itu
> > bekerja membangun negara.
> >
> >
> >
> > Bukannya bung Karno tidak mau kerja sama dgn asing atau anti PMA
> > Kalau PKI saya tidak tahu. Wong dalam PKI sendiri tidak selalu 1
> > suara (aidit mungkin tidak setuju dgn PMA tetapi nyoto belum tentu).
> > Lenin saja menerapkan NEP ketika kesulitan ekonomi. Tidak bisa
> > dianalisa sikap PKI bagaimana nantinya kalau bung Karno dan PKI
> > masih tetap berkuasa terhadap PMA dan campur tangan asing. Tetapi
> > kalau bung Karno jelas dia tidak anti PMA/investasi asing.
> >
> >
> >
> >
> >
> > Nesare
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > From: [email protected] <mailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]]
> > Sent: Wednesday, September 6, 2017 1:31 PM To:
> > [email protected] <mailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> ; [email protected]
> > <mailto:[email protected]> <mailto:[email protected]> Cc:
> > Yahoogroups <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> >; DISKUSI FORUM HLD
> > <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:[email protected]> > Subject: Re: Trs:
> > [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar ganti rugi
> > nasionalisasi oleh bung Karno.
> >
> >
> >
> >
> >
> > SEANDAINYA tidak ada kudeta Suharto dan BK tetap jadi presiden, maka
> > PKI tentu akan masih terus hidup!! Pasti tidak akan perlu
> > menasionalisasi Freeport, karena pertama=tama tidak akan diijinkan
> > baik oleh PKI maupun BK eksplotasi Freeport seperti yang dijalankan
> > Suharto!! KArena tidak akan pernah diijinkan kelahiran PMA yang
> > mengeruk kekayaan alam kita oleh pemodal asing dengan mengabaikan
> > kepentingan rakyat , lingkungan dan kedaulatan rakyat!
> >
> >
> >
> > On Tuesday, September 5, 2017 2:02 PM, "[email protected]
> > [GELORA45]
> > <mailto:[email protected]%20[GELORA45]%0b%3e%20%3cmailto:[email protected]%20[GELORA45]%3e%20>
> > <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:GELORA45@yahoogroupscom> > wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> > Betul setuju dengan komentar bung ini.
> >
> > Ini dulu. Jamannya masih perang krn RI masih dirongrong. Revolusi
> > masih berjalan.
> >
> > Kalau sekarang gimana? Kalau sekarang presiden RI itu adalah bung
> > Karno. Apakah bung berpendapat bung Karno akan menasionalisasi semua
> > perusahaan asing yg ada termasuk freeport hasil dagangan
> > Orba/soeharto?
> >
> >
> >
> > Pendapat saya: bung Karno tidak akan menasionalisasikan perusahaan2
> > asing itu. Dia tidak sebodoh itu.
> >
> >
> >
> > Nesare
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > From: [email protected] <mailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]]
> > Sent: Tuesday, September 5, 2017 4:22 AM To:
> > [email protected]
> > <mailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> ; Yahoo! Inc.
> > <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:[email protected]> >; Jaringan Kerja
> > Indonesia <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:[email protected]> >; Gelora 45
> > <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> >; Sastra Pembebasan
> > <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:[email protected]> >; Yahoo! Inc.
> > <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:nasional-list@yahoogroupscom>
> > <mailto:nasional-list@yahoogroupscom>
> > >; Yahoo! Inc. <[email protected]
> > ><mailto:[email protected]%0b>
> > ><mailto:[email protected]> > Cc: Yahoogroups
> > ><[email protected]
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > ><mailto:[email protected]> >; Rachmat Hadi-Soetjipto
> > ><[email protected] <mailto:[email protected]%0b>
> > ><mailto:[email protected]> >; Daeng
> > ><[email protected] <mailto:[email protected]%0b>
> > ><mailto:[email protected]> >; Gol <gogol.r@gmailcom
> > ><mailto:gogol.r@gmailcom%0b> <mailto:[email protected]> >; Harry
> > >Singgih <[email protected] <mailto:[email protected]%0b>
> > ><mailto:[email protected]> >; Mitri <[email protected]
> > ><mailto:[email protected]%0b> <mailto:[email protected]>
> > >>; Farida Ishaja <farida.ishaja@gmailcom
> > >><mailto:farida.ishaja@gmailcom%20%3cmailto:[email protected]>
> > >><mailto:[email protected]> >; Lingkar Sitompul
> > >><[email protected] <mailto:[email protected]%0b>
> > >><mailto:[email protected]> >; Ronggo A.
> > >><[email protected] <mailto:[email protected]%0b>
> > >><mailto:[email protected]> >; [email protected]
> > >><mailto:[email protected]> <mailto:[email protected]> ;
> > >>Billy Gunadi <[email protected]
> > >><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > >><mailto:[email protected]> >; Oman
> > >Romana <[email protected]
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > ><mailto:[email protected]> > Subject: Re: Trs: [GELORA45]
> > >Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar ganti rugi
> > >nasionalisasi oleh bung Karno.
> >
> >
> >
> >
> >
> > Siapa yang suruh Suharto bayar Belanda ganti rugi nasionalisasi yang
> > dilakukan pemerintahan Sukarno?? Kan itu karena Suharto antek
> > imperialis, maka dia mau saja disuruh bayar. Sama seperti perusahaan
> > dan pemilik hotel AS di Kuba yang menuntut supaya Kuba bayar
> > nasionalisasi yang dilakukan ketika Revolusi menang. Selama Kuba
> > tidak mau jadi antek AS, tidak akan ada pembayaran apa-apa!!
> >
> >
> >
> > KMB dibatalkan BK, juga karena menganggap isinya sangat tidak adil
> > dan sangat pro Belanda... Antara lain, masak Indonesia harus
> > bertanggung jawab dan bayar hutang-hutangnya Belanda!!
> >
> >
> >
> > Seandainya BK mau jadi antek imperialis dan kaum pemodal asing
> > seperti pemerintahan sejak Suharto sampai sekarang, tidak ada alasan
> > kaum imperialis untuk menjatuhkan Sukarno...PMA seperti yang
> > dijalankan Suharto dan rezim boneka tanpa Suharto sampai sekarang
> > bukanlah PMA yang diinginkan BK.... PMA yang sekarang dipraktekkan
> > adalah PMA yang diinginkan PSI dan MASYUMI!!! Itu jelas dalam
> > perdebatan di DPR ...Dan jelas BK anti penghisapan dan menginginkan
> > Sosialisme... Justru sekarang banyak orang yang mempreteli BK dari
> > karakter anti nekolimnya!!!
> >
> >
> >
> > On Tuesday, September 5, 2017 6:56 AM, 'Chalik Hamid' via
> > forumdiskusi <[email protected]
> > <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:[email protected]> > wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pada Selasa, 5 September 2017 6:19, "kh djie [email protected]
> > <mailto:[email protected]> <mailto:[email protected]> [GELORA45]"
> > <[email protected] <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:[email protected]> > menulis:
> >
> >
> >
> >
> >
> > Ini terkait dengan persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den
> > Haag, Belanda, yang memutuskan sebagai imbalan atas penyerahan
> > kedaulatan kepada Republik Indonesia (saat itu Republik Indonesia
> > Serikat) pada 27 Desember 1949, Indonesia harus membayar utang
> > kepada Belanda sebesar 4,5 milyar gulden –awalnya Belanda meminta
> > 6,5 milyar gulden.
> >
> > <https://myrepro.files.wordpress.com/2016/02/picsart_02-16-08-32-27.jpg>
> >
> > Selain itu, untuk membangun kembali pascaperang, Belanda mendapatkan
> > gelontoran dana, dalam bentuk hutang, dari program Marshall Plan AS
> > antara tahun 1948-1951 sebesar US$1.128 juta. Sumbangan dari
> > Marshall Plan dan Indonesia ini dikenal sebagai The Miracle of
> > Holland (keajaiban Belanda).
> >
> > “Indie verloren, betekende niet ramspoed geboren (Hindia hilang,
> > bukan berarti tiba bencana). Belanda masih bisa menarik keuntungan
> > dari bekas jajahannya meski tanah jajahan itu sudah lepas,” tulis
> > sejarawan Lambert Giebels dalam “De Indonesische
> > Injectie” (Sumbangan Indonesia), yang dimuat di De Groene
> > Amsterdammer, Januari 2000.
> >
> > Setelah membayar sekira 4 milyar gulden antara tahun 1950-1956,
> > Indonesia secara sepihak membatalkan persetujuan KMB. Belakangan,
> > pada awal Orde Baru, berdiri Inter Govenmental Group on Indonesia
> > (IGGI), diketuai oleh Belanda, yang punya agenda tersembunyi berupa
> > mencari penyelesaian utang Indonesia zaman Orde Lama, yang berkaitan
> > dengan nasionalisasi perusahaan Belanda, sekira US$2,4 milyar.
> >
> > Giebels tak habis pikir, mengapa Belanda tega melakukan itu kepada
> > Indonesia. Padahal kepada Suriname, yang juga bekas jajahannya,
> > Belanda membayar lunas ganti rugi atas perbudakan sebesar 1,5 milyar
> > euro begitu Suriname merdeka pada 25 November 1975. Jumlah itu
> > dianggap belum cukup. “Suriname berhak mendapat ganti rugi senilai
> > 50 milyar euro,” kata ekonom Suriname Armand Zunder kepada Philip
> > Smet dari Radio Nederland Wereldomroep, 2 Juli 2010.
> >
> > Zunder membandingkan kasus Suriname dengan kasus lainnya. Belanda
> > minta ganti rugi dari Jerman setelah Perang Dunia II. Jerman
> > membayar lebih dari 120 milyar euro untuk warga Yahudi. Organisasi
> > Internasional DiversCités sudah berseru kepada Parlemen Prancis,
> > juga negara-negara Eropa termasuk Belanda, untuk membayar ganti rugi
> > kepada bekas jajahannya atas peran mereka dalam perbudakan. Pada
> > 1999, di Afrika terbentuk The Africa World Reparations and
> > Repatriation Truth Commission, sebuah komisi penyelidik
> > internasional yang menuntut ganti rugi. Menurut hukum
> > internasional, perbudakan dikategorikan sebagai kejahatan terhadap
> > kemanusiaan.
> >
> > Bagaimana dengan Belanda? Jangankan ganti rugi, permintaan maaf atas
> > penjajahan dan aksi militer di masa lalu baru disampaikan pemerintah
> > Belanda pada 2005. Mereka juga akhirnya mengakui 17 Agustus 1945
> > sebagai hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan lagi 27
> > Desember 1949.
> >
> >
> >
>
>
>
#yiv0955550463 #yiv0955550463 -- #yiv0955550463ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-mkp #yiv0955550463hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-mkp #yiv0955550463ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-mkp .yiv0955550463ad
{padding:0 0;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-mkp .yiv0955550463ad p
{margin:0;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-mkp .yiv0955550463ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-sponsor
#yiv0955550463ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-sponsor #yiv0955550463ygrp-lc #yiv0955550463hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-sponsor #yiv0955550463ygrp-lc .yiv0955550463ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0955550463 #yiv0955550463actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0955550463
#yiv0955550463activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0955550463
#yiv0955550463activity span {font-weight:700;}#yiv0955550463
#yiv0955550463activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0955550463 #yiv0955550463activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0955550463 #yiv0955550463activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0955550463 #yiv0955550463activity span
.yiv0955550463underline {text-decoration:underline;}#yiv0955550463
.yiv0955550463attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0955550463 .yiv0955550463attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0955550463 .yiv0955550463attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0955550463 .yiv0955550463attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0955550463 .yiv0955550463attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0955550463 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0955550463 .yiv0955550463bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0955550463
.yiv0955550463bold a {text-decoration:none;}#yiv0955550463 dd.yiv0955550463last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0955550463 dd.yiv0955550463last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0955550463
dd.yiv0955550463last p span.yiv0955550463yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0955550463 div.yiv0955550463attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0955550463 div.yiv0955550463attach-table
{width:400px;}#yiv0955550463 div.yiv0955550463file-title a, #yiv0955550463
div.yiv0955550463file-title a:active, #yiv0955550463
div.yiv0955550463file-title a:hover, #yiv0955550463 div.yiv0955550463file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0955550463 div.yiv0955550463photo-title a,
#yiv0955550463 div.yiv0955550463photo-title a:active, #yiv0955550463
div.yiv0955550463photo-title a:hover, #yiv0955550463
div.yiv0955550463photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0955550463
div#yiv0955550463ygrp-mlmsg #yiv0955550463ygrp-msg p a
span.yiv0955550463yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0955550463
.yiv0955550463green {color:#628c2a;}#yiv0955550463 .yiv0955550463MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0955550463 o {font-size:0;}#yiv0955550463
#yiv0955550463photos div {float:left;width:72px;}#yiv0955550463
#yiv0955550463photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0955550463
#yiv0955550463photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0955550463
#yiv0955550463reco-category {font-size:77%;}#yiv0955550463
#yiv0955550463reco-desc {font-size:77%;}#yiv0955550463 .yiv0955550463replbq
{margin:4px;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-mlmsg select, #yiv0955550463 input, #yiv0955550463 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-mlmsg pre, #yiv0955550463 code {font:115%
monospace;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-mlmsg #yiv0955550463logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-msg
p#yiv0955550463attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-reco #yiv0955550463reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-sponsor
#yiv0955550463ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-sponsor #yiv0955550463ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-sponsor #yiv0955550463ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0955550463 #yiv0955550463ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0955550463
#yiv0955550463ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0955550463