Siapa yang menghubungkan NEP dgn freeport?

Coba ikuti diskusinya, baca dgn teliti dan jangan marah2 dan mau goblok2in saya.

 

Bung bilang kalau bung Karno dan PKI menang, tidak akan ada nasionalisasi.

Saya bilang ini salah. UU PMA sudah ada 1958. Ini bung Karno dan PKI lagi 
diatas tampuk pemerintahan!

Dah ngerti konteksnya?

 

Saya bilang lenin saja menerapkan NEP walaupun dia anti kapitalisme itu karena 
kalau negara lagi susah apalagi berkaitan dengan duit, cara apapun akan dipakai 
pemimpinnya. Ini yang dilakukan lenin dalam menanggungi masalah ekonomi rusia 
waktu itu yg lagi kesusahan.

 

Pendapat dan tindakan itu hal yang berbeda dan bisa berlainan.

Pendapat Lenin sosialis tetapi tindakan nya NEP.

Begitu juga bung Karno sosialis tetapi tindakannya bikin UU PMA 1958.

 

Dah ngerti?!

 

Jadi jangan bilang saya bodoh dan buta krn saya gak mau baca seluruh karya 
lenin yg berkaitan dgn NEP dan saya menghubungkan NEP dan freeport! Emangnya 
baca seluruh ide lenin ttg NEP bisa apa? kelihatannya bung sudah baca semuanya 
ya? Tolong kasih tahu isi dan pesannya apa? Saya jelas sdh bilang: lenin 
menerapkan NEP krn kesulitan menggerakkan ekonomi rusia! Tolong jabarkan dimana 
pentingnya membaca seluruh ide lenin ttg NEP ini?!

 

Bung juga menulis bahwa bung Karno juga mengartikan penanaman modal asing sama 
dengan imperialisme. Saya tanya kalau bung Karno menang dengan asumsi semua yg 
dikirim sekolah keluar negeri sudah pintar2, baik2 dan siap utk menjalankan RI, 
apakah bung Karno tidak akan melakukan PMA kenegara asing nantinya?

 

Jelas sekali bung gak ngerti arti “go to hell with your aid” dan “bung Karno 
bukan anti investasi asing”.

Makanya bung menulis: bung Karno bilang PMA = imperialism hanya utk mendukung 
pendapat bung bahwa bung Karno tidak akan menasionalisasikan freeport krn bung 
Karno tidak akan kasih PMA masuk Indonesia.

 

Sudah tahu belum kesalahan berpikirnya bung? Itu terletak diakhir kalimat 
diatas yaitu: walaupun bung Karno anti imperialism, bung Karno tidak anti 
investasi asing. Begitu juga bung Karno tidak bodoh utk tidak akan melakukan 
PMA dinegara asing kalau RI sudah siap dibangun oleh bangsanya sendiri. Yg bung 
Karno tekankan itu adalah kesejahteraan rakyat. Siapkan diri sendiri lalu 
kelola sumber daya yg ada utk mencapai tujuan bersama itu. Ini pesan umumnya. 
Bukannya nasionalisasi dan PMA.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, September 6, 2017 2:57 PM
To: [email protected]; [email protected]; Tatiana Lukman 
<[email protected]>
Cc: DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>; Yahoogroups 
<[email protected]>
Subject: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar ganti 
rugi nasionalisasi oleh bung Karno.

 

  

Jangan bicara soal NEP kalau tidak bersedia mempelajari seluruh karya Lenin 
yang berkaitan dengan NEP. Benar-benar sangat bodoh dan kebutaan luar biasa 
akan sejarah, membandingkan NEP dengtan eksplotasi Freeport yang sedang menjadi 
tema. Dulu sudah pernah terjadi perdebatan tentang NEP yang digunakan oleh remo 
Chan untuk membela restorasi kapitalisnya Deng dengan satu-satunya argumenatasi 
pendapatnya pemimpin remo Jepang!! Chan juga tidak bersedia mempelajari karya 
Lenin yang berkaitan dengan NEP, karena sudah tentu merasa dirinya pintar dan 
sudah cukup tahu hanya dengan baca tulisannya remo Jepang. Argumentasi saya 
yang membedakan NEP dengan reform kapitalis Deng SAMA SEKALI tidak mendapat 
bantahan dari Chan. Seperti biasa, dia diamkan argumentasi itu, dan dia 
masukkan masalah lain... Begitulah debat kusir remo Chan.

 

On Wednesday, September 6, 2017 8:40 PM, "Tatiana Lukman 
[email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45]" 
<[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

Inilah pendapat fraksi PKI di DPR pada tahun 1957.

 

 

Perjuangan nasional kita melawan imperialisme Belanda pada hakekatnya adalah 
perjuangan melawan modal Belanda. Jika rakyat Indonesia pertama-tama berjuang 
untuk merebut kekuasaan politik, dari tangan Belanda, maka hal ini tidak lain 
karena kekuasaan politik yang didirikan oleh Belanda di Indonesia adalah justru 
untuk melindungi dan menjamin keamanan modal Belanda di dalam memeras tenaga 
rakyat dan kekayaan alam Indonesia. Oleh karena itu melawan kolonialisme atau 
imperialisme adalah sama dengan melawan modal asing. 
Imperialisme adalah identik dengan penanaman modal asing atau ekspor 
modal.Pengertian yang semacam ini tidak hanya dimiliki oleh kaum buruh Komunis. 
Bung Karno dalam tulisannja “ Mentjapai Indonesia Merdeka ” menyatakan: “Sejak 
adanya opendeur-politiek di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk ke 
Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal Betanda saja, 
tetapi juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga modal Jepang, juga modal 
Jerman, juga modal Perancis, juga modal Italia, juga modal lain-lain, sehingga 
imperialisme di Indonesia kini adalah imperialisme yang internasional 
karenanya. Raksasa ‘biasa’ yang dulu berjengkelitan di atas pada kerezekian 
Indonesia, kini sudah menjadi raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh”. 
Dari tulisan Bung Karno ini, jelaslah bahwa beliau juga mengartikan penanaman 
modal asing sama dengan imperialisme. Oleh karena itu pula sesuai dengan 
pernyataan Bung Karno, yang saya kutip di atas ini, dengan rancangan 
Undang-undang yang akan mengundang masuk modal asing dari segala sudut dunia 
tidak bisa diartikan lain kecuali memperkuat kedudukan imperialisme 
internasional yang sudah bercokol di negeri kita selama ini.




 

Dengan menunjukkan arti daripada penanaman modal asing yang identik dengan 
imperialisme, saya tidak hendak terus begitu saja menarik kesimpulan, bahwa 
setiap orang yang membela politik penanaman modal asing berarti lahir-batin 
orang itu juga membela politik imperialisme. Memang ada golongan yang membela 
politik penanaman modal asing karena mereka itu sesungguhnya adalah agen-agen 
imperialisme. Tetapi ada juga orang yang menyetujui penanaman modal asing 
dengan perhitungan seakan-akan penanaman modal asing itu bisa memperbaiki 
tingkat penghidupan rakyat dan bisa membantu perkembangan ekonomi nasional.

Terhadap Pemerintah yang rupanya juga memperhitungkan bahwa penanaman modal 
asing itu bisa memperbaiki tingkat penghidupan rakyat dan membantu perkembangan 
ekonomi nasional, fraksi kami, Fraksi Partai Komunis Indonesia, ingin 
menunjukkan kenyataan bahwa selama ini di Indonesia sudah bercokol cukup banyak 
modal asing, tetapi justru karena kekuasaan modal asing ini maka ekonomi 
nasional Indonesia tidak bisa berkembang dan tingkat penghidupan rakyat sangat 
rendah.




 

On Wednesday, September 6, 2017 8:06 PM, "[email protected] [GELORA45] 
<mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

UU PMA 78 tahun 1958 sudah ada dijaman Orla yg memerlukan modal asing utk 
mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia serta memperbesar produksi nasional. 
Ini hasil kerja sama pemerintah dan DPR. Didalam UU PMA ini ada jelas terlihat 
bagaimana upaya dari pemerintah untuk melindungi kepentingan ekonomi rakyat dan 
melindungi dari ancaman pemodal asing pada sektor2 strategis.

 

UU PMA 1958 diganti menjadi UU No. 16 tahun 1965. Dalam UU 1965 ini PMA 
dihentikan. Disini kelihatan sikap revolusioner bung  Karno dgn Berdikari nya  
Disini jelas bung Karno tidak anti PMA tetapi mendahulukan kedaulatan dan 
kepentingan rakyat. Saya yakin kalau rakyat sudah siap ya kran PMA dan atau 
kerja sama dengan pihak asing akan terjadi. Program mengirim mahasiswa/I keluar 
negeri dalam rangka ini: mempersiapkan sumber daya manusianya baru terus itu 
bekerja membangun negara.

 

Bukannya bung Karno tidak mau kerja sama dgn asing atau anti PMA Kalau PKI saya 
tidak tahu. Wong dalam PKI sendiri tidak selalu 1 suara (aidit mungkin tidak 
setuju dgn PMA tetapi nyoto belum tentu). Lenin saja menerapkan NEP ketika 
kesulitan ekonomi. Tidak bisa dianalisa sikap PKI bagaimana nantinya kalau bung 
Karno dan PKI masih tetap berkuasa terhadap PMA dan campur tangan asing. Tetapi 
kalau bung Karno jelas dia tidak anti PMA/investasi asing.

 

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, September 6, 2017 1:31 PM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Cc: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> 
>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >
Subject: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar ganti 
rugi nasionalisasi oleh bung Karno.

 

  

SEANDAINYA tidak ada kudeta Suharto dan BK tetap jadi presiden, maka PKI tentu 
akan masih terus hidup!! Pasti tidak akan perlu menasionalisasi Freeport, 
karena pertama=tama tidak akan diijinkan baik oleh PKI maupun BK eksplotasi 
Freeport seperti yang dijalankan Suharto!! KArena tidak akan pernah diijinkan 
kelahiran PMA yang mengeruk kekayaan alam kita oleh pemodal asing dengan 
mengabaikan kepentingan rakyat , lingkungan dan kedaulatan rakyat!

 

On Tuesday, September 5, 2017 2:02 PM, "[email protected] [GELORA45] 
<mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] 
<mailto:GELORA45@yahoogroupscom> > wrote:

 

  

Betul setuju dengan komentar bung ini.

Ini dulu. Jamannya masih perang krn RI masih dirongrong. Revolusi masih 
berjalan.

Kalau sekarang gimana? Kalau sekarang presiden RI itu adalah bung Karno. Apakah 
bung berpendapat bung Karno akan menasionalisasi semua perusahaan asing yg ada 
termasuk freeport hasil dagangan Orba/soeharto?

 

Pendapat saya: bung Karno tidak akan menasionalisasikan perusahaan2 asing itu. 
Dia tidak sebodoh itu.

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, September 5, 2017 4:22 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; 
Yahoo! Inc. <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Jaringan Kerja Indonesia 
<[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Gelora 45 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Sastra 
Pembebasan <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Yahoo! Inc. 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Yahoo! 
Inc. <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Cc: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> 
>; Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Daeng <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Gol <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Harry Singgih <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Mitri <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Farida Ishaja <farida.ishaja@gmailcom 
<mailto:[email protected]> >; Lingkar Sitompul <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Ronggo A. <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; [email protected] 
<mailto:[email protected]> ; Billy Gunadi <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Oman Romana <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >
Subject: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar ganti 
rugi nasionalisasi oleh bung Karno.

 

  

Siapa yang suruh Suharto bayar Belanda ganti rugi nasionalisasi yang dilakukan 
pemerintahan Sukarno?? Kan itu karena Suharto antek imperialis, maka dia mau 
saja disuruh bayar. Sama seperti perusahaan dan pemilik hotel AS di Kuba yang 
menuntut supaya Kuba bayar nasionalisasi yang dilakukan ketika Revolusi menang. 
Selama Kuba tidak mau jadi antek AS, tidak akan ada pembayaran apa-apa!!

 

KMB dibatalkan BK, juga karena menganggap isinya sangat tidak adil dan sangat 
pro Belanda... Antara lain, masak Indonesia harus bertanggung jawab dan bayar 
hutang-hutangnya Belanda!!

 

Seandainya BK mau jadi antek imperialis dan kaum pemodal asing seperti 
pemerintahan sejak Suharto sampai sekarang, tidak ada alasan kaum imperialis 
untuk menjatuhkan Sukarno...PMA seperti yang dijalankan Suharto dan rezim 
boneka tanpa Suharto sampai sekarang bukanlah PMA yang diinginkan BK.... PMA 
yang sekarang dipraktekkan adalah PMA yang diinginkan PSI dan MASYUMI!!! Itu 
jelas dalam perdebatan di DPR ...Dan jelas BK anti penghisapan dan menginginkan 
Sosialisme... Justru sekarang banyak orang yang mempreteli BK dari karakter 
anti nekolimnya!!!

 

On Tuesday, September 5, 2017 6:56 AM, 'Chalik Hamid' via forumdiskusi 
<[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote:

 

 

Pada Selasa, 5 September 2017 6:19, "kh djie [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45]" <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > menulis:

 

  

Ini terkait dengan persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, 
Belanda, yang memutuskan sebagai imbalan atas penyerahan kedaulatan kepada 
Republik Indonesia (saat itu Republik Indonesia Serikat) pada 27 Desember 1949, 
Indonesia harus membayar utang kepada Belanda sebesar 4,5 milyar gulden 
–awalnya Belanda meminta 6,5 milyar gulden.

 <https://myrepro.files.wordpress.com/2016/02/picsart_02-16-08-32-27.jpg> 

Selain itu, untuk membangun kembali pascaperang, Belanda mendapatkan gelontoran 
dana, dalam bentuk hutang, dari program Marshall Plan AS antara tahun 1948-1951 
sebesar US$1.128 juta. Sumbangan dari Marshall Plan dan Indonesia ini dikenal 
sebagai The Miracle of Holland (keajaiban Belanda).

“Indie verloren, betekende niet ramspoed geboren (Hindia hilang, bukan berarti 
tiba bencana). Belanda masih bisa menarik keuntungan dari bekas jajahannya 
meski tanah jajahan itu sudah lepas,” tulis sejarawan Lambert Giebels dalam “De 
Indonesische Injectie” (Sumbangan Indonesia), yang dimuat di De Groene 
Amsterdammer, Januari 2000.

Setelah membayar sekira 4 milyar gulden antara tahun 1950-1956, Indonesia 
secara sepihak membatalkan persetujuan KMB. Belakangan, pada awal Orde Baru, 
berdiri Inter Govenmental Group on Indonesia (IGGI), diketuai oleh Belanda, 
yang punya agenda tersembunyi berupa mencari penyelesaian utang Indonesia zaman 
Orde Lama, yang berkaitan dengan nasionalisasi perusahaan Belanda, sekira 
US$2,4 milyar.

Giebels tak habis pikir, mengapa Belanda tega melakukan itu kepada Indonesia. 
Padahal kepada Suriname, yang juga bekas jajahannya, Belanda membayar lunas 
ganti rugi atas perbudakan sebesar 1,5 milyar euro begitu Suriname merdeka pada 
25 November 1975. Jumlah itu dianggap belum cukup. “Suriname berhak mendapat 
ganti rugi senilai 50 milyar euro,” kata ekonom Suriname Armand Zunder kepada 
Philip Smet dari Radio Nederland Wereldomroep, 2 Juli 2010.

Zunder membandingkan kasus Suriname dengan kasus lainnya. Belanda minta ganti 
rugi dari Jerman setelah Perang Dunia II. Jerman membayar lebih dari 120 milyar 
euro untuk warga Yahudi. Organisasi Internasional DiversCités sudah berseru 
kepada Parlemen Prancis, juga negara-negara Eropa termasuk Belanda, untuk 
membayar ganti rugi kepada bekas jajahannya atas peran mereka dalam perbudakan. 
Pada 1999, di Afrika terbentuk The Africa World Reparations and Repatriation 
Truth Commission, sebuah komisi penyelidik internasional yang menuntut ganti 
rugi. Menurut hukum internasional, perbudakan dikategorikan sebagai kejahatan 
terhadap kemanusiaan.

Bagaimana dengan Belanda? Jangankan ganti rugi, permintaan maaf atas penjajahan 
dan aksi militer di masa lalu baru disampaikan pemerintah Belanda pada 2005. 
Mereka juga akhirnya mengakui 17 Agustus 1945 sebagai hari proklamasi 
kemerdekaan Indonesia, bukan lagi 27 Desember 1949.

 

-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected] 
<mailto:[email protected]> .
To post to this group, send email to [email protected] 
<mailto:[email protected]> .
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

 

 

 

 



Kirim email ke