Nasionalis, Agamis dan dekat dengan Ulama

Jenderal Gatot Nurmantyo Idaman Umat Islam

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Habib Umar bin Hafidz (tengah). 
Foto: Republika
Jakarta, HanTer - Di kalangan ulama dan umat Islam nama Panglima TNI Jenderal 
Gatot Nurmantyo cukup baik. Selain berjiwa nasionalis, Gatot dinilai agamis dan 
dekat dengan kalangan ulama. Pembelaannya terhadap umat Islam sudah tidak perlu 
diragukan lagi. Diperkirakan, jika Gatot maju pada Pilpres 2019, akan mendapat 
dukungan dari umat Islam dan kelompok nasionalis.

Penilai tersebut disampaikan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Mukhlas Syarkun, 
Ketua Lembaga Dakwah Front (LDF) DPP FPI, Novel Bamukmin, Anggota Komisi Hukum 
dan Perundang Undangan (KUMDANG) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, dan Irjen 
Pol (Purn) Anton Tabah Digdoyo kepada Harian Terbit di jakarta, Kamis (26/10).

Irjen Pol (Purn) Anton Tabah Digdoyo menegaskan, sosok Jendral Gatot dicintai 
rakyat. Hal itu dilakukannya karena Gatot mengetahui dirinya memang dari rakyat 
untuk rakyat. Oleh karena itu polisi juga harusnya meniru yang dilakukan Gatot 
sesuai Tribrata dan Catur Prasetya.  

Oleh karena itu yang dilakukan Gatot bukan pencitraan untuk menarik simpati 
umat Islam.  "Itu sama sekali bukan pencitraan. Saya prajurit tahu mana yang 
pencitraan," ujar Anton kepada Harian Terbit. 

Anton menegaskan, bukan pencitraan yang dilakukan Gatot bisa dilihat dari 
bahasa tubuhnya. Gatot merupakan sosok jenderal apa adanya. Sehingga salah 
besar jika ada yang mengatakan aktivitas Gatot dekat dengan umat Islam dan 
Ulama sebagai pencitraan.

"Wah salah besar itu (yang menyatakan pencitraan). Itu bukan prediksi tapi 
prejudice. Tipe Pak Gatot bisa dilihat dari bahasa tubuh yang lebih asli dan 
tidak bisa ditipu," paparnya. 

Sementara itu, Ketua Front Mahasiswa FPI, Habib Ali Alatas juga berharap 
Panglima Gatot juga benar - benar dekat kepada ulama dan umat Islam berdasarkan 
hati nurani bukan karena ada maksud lain. Sehingga siapapun seorang muslim yang 
membela umat Islam ketika disudutkan dan dizalimi maka pantas untuk didukung 
menjadi pemimpin. Selama ini Panglima Gatot yang membela agama Islam dari 
penistaan dan penodaan.

"Saran saya Jenderal Gatot terus meningkatkan iman da makin takut terhadap 
Allah SWT bukan pada yang lain, Allah pasti memberi petunjuk bagi orang-orang 
yang beriman dan bertakwa," paparnya.

Terpisah, Ketua Lembaga Dakwah Front (LDF) DPP FPI, Novel Bamukmin mengatakan, 
hingga saat ini pihaknya melihat Jenderal Gatot  adalah orang yang baik, dekat 
dengan ulama dan umat Islam. Selain itu Gatot juga tegas dalam pembelaanya 
terhadap Islam. Tidak heran ketika ada pihak yang menyerang dan membully umat 
Islam maka Gatot orang pertama yang menghadangnya dengan pernyataan - 
pernyataan keras. "Semoga apa yang dilakukan Panglima bukan sandiwara," ujar 
Novel.

Menurutnya, saat ini umat Islam sangat butuh pejabat yang mengayominya. Oleh 
karena itu baik tidaknya Gatot dalam pembelaan terhadap umat Islam maka akan 
dilihat pada Pilpres  2019 mendatang. Novel juga tidak bisa menilai yang 
dilakukan Gatot adalah pencitraan atau bukan.

Novel menuturkan, Gatot melihat iklim politik di Indonesia saat ini sudah tidak 
sehat. Karena politik transaksional yang terjadi yaitu untuk kepentingan partai 
serta para cukong cukong. Oleh karena itu walaupun dilarang berpolitik karena 
harus netral tetapi Panglima melihat ini panggilan anak bangsa melihat 
negaranya akan hancur digerus oleh kepentingan asing dan aseng.

“Maka Panglima harus menyelamatkan bangsa ini. Bila perlu Panglima berpolitik 
praktis dengan mengambil paksa kepemimpinan negara ini dan insya Allah didukung 
umat," jelasnya. 

Diterima Ulama

Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Mukhlas Syarkun mengatakan, dikalangan ulama dan 
umat Islam nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo cukup baik. Selain itu 
terhadap umat Islam moderat atau kanan nama Garot juga baik. Hanya di kalangan 
Islam liberal saja ada sebagian yang tidak suka atas aktivitas Gatot terhadap 
umat Islam.  Karena orang liberal itu antitesa dengan kaum kanan.

Mukhlas menilai, Gatot juga cocok untuk menjadi pemimpin umat Islam.Karena 
Gatot dianggap jenderal yang apresiasi peran umat Islam dalam kemerdekaan. 
Sehingga hal tersebut  dipersepsikan akan dianggap melindungi umat Islam 
ditengah tengah tengah fenomena upaya penangkapan ulama dan aktivis Islam.

Untuk Semua Umat

Sementara itu pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo 
mengatakan, Panglima harus sesuai  Sapta Marga sehingga harus tunduk pada 
konstitusi. Oleh karena itu Panglima harus fokus pada tugas pokoknya. Panglima 
tidak perlu dicitrakan atau mencitrakan diri dekat dengan umat Islam dan ulama. 
Sehingga Panglima harus dekat kepada semua umat beragama dan ulama semua agama.

"Tempatnya tentara di barak kalau masa damai. Sehingga Panglima jangan keluar 
barak. Karena kalau masa damai. Demokrasi itu ranahnya sipil bukan tentara," 
jelasnya.

Panglima, sambung Karel, harusnya lebih banyak mengunjungi barak untuk melihat 
kondisi prajuritnya ketimbang kampus dan masjid. Daripada merangkai kata 
berbusa busa maka lebih baik Panglima merasakan susahnya hidup prajurit.  

“Umat Islam harus melihat secara proporsional bahwa Panglima itu tugasnya 
menjaga negara bukan ceramah di masjid. Siapapun panglima-nya, selama dia taat 
konstitusi maka umat Islam harus mendukung penuh,” kata karel. 




(Safari)

Kirim email ke