SURATDARI SINGAPUR
TOMILJAS MengupasBuku MAY SWAN SITINURBAYA BRIDGE Buku May Swan Siti Nurbaya Bridge -- selanjutnya disingkat The Bridge -- ikut menghiasi rak buku sayabersama novel-novelnya yang lain. Walau tertata di deretan buku-buku yang sudahpernah saya baca namun keinginan untuk membaca ulang timbul setelah seorangteman bertanya: apa hubungan karya May Swan yang ini dengan Siti Nurbayadalam “Kasih Tak Sampai”-nya Marah Rusli? Agaknya penulis mengutip nama Siti Nurbaya sebagaibagian dari judul karena adanya kesamaan kisah cinta yang tak kesampaian. SitiNurbaya terpaksa melepas cintanya kepada Samsulbahri dan menawarkan diri untukmenikah dengan Datuk Maringgih demi untuk melepaskan ayah yang disayanginyadari jeratan hutang. DalamThe Bridge, Swee Lan terpaksa melepaskan cintanya kepada Koon Seng dan menerimalamaran dari seorang pemuda lain yang diatur dengan rapi oleh ibunya. AlasanSwee Lan juga mirip, demi menyelamatkan perusahaan ayah yang disayanginya darikebangkrutan. Meskipun ada kesamaan, namun terdapat perbedaan besar antara kedua kisah tersebut yang berlainan jaman danlatarbelakang; yang satu berakhir tragis dengan kematian sedangkan The Bridgeberakhir dengan tumbuhnya sebuah pandangan hidup baru pada Koon Seng,karakter utama dalam novel ini. Koon Seng berhasil membebaskan dirinya daribelenggu patah hati dan patah semangat. The Bridge bukan hanya sekedar novel percintaanantara dua insan. Seperti ciri karya-karya May Swan lainnya, The Bridgemelukiskan kehidupan nyata dalam masyarakat, dengan jeli memperhatikan kejadiansehari-hari, mendalami perkembangan emosi masing-masing karakter dalam ceritadan mengangkat kejadian-kejadian besar sejarah yang melatarinya. Jalan cerita mengarungi kehidupan masyarakat etnis Tionghoa di Indonesiatahun-tahun 1950an hingga 1980an. Berhasilnya Perang Pembebasan Tiongkok padatahun 1949, suasana politik di sekolah-sekolah Tionghoa yang dekat dengan RRT,masa Konferensi Asia-Afrika, kedatangan PM Chou En Lai ke Indonesia danhubungan erat perdagangan antara Indonesia dan Singapura yang sudah berjalanbertahun-tahun terutama dibidang karet alam. Koon Seng untuk pertama kalinya berkenalandengan Swee Lan ialah ketika ia menghadiri ulang tahun sekolah menengahHwa Chung dimana Swee Lan bekerja sebagai guru. Koon Seng yang diundang sebagaiKepala Cabang perusahaan Singapura Lee Rubber Company di Jakarta denganantusias memenuhi undangan dengan harapan akan bertemu PM Chou En Lai yangdikabarkan juga akan menghadiri perayaan ulang tahun sekolah tsb. Koon Sengkecewa, PM Chou En Lai berhalangan datang; namun ia merasa beruntungberkenalan dengan Swee Lan yang atraktif. Seiring berjalannya waktu merekamenjalin hubungan cinta. Pada awalnya kedua orang tua Swee Lan tidakmenaruh keberatan apa-apa atas hubungan percintaan mereka. Ibu Swee Lansering-sering bahkan menunjukkan tanda-tanda merestui. Namun ketika datangtawaran dari partner bisnis suaminya untuk menggabungkan kedua perusahaan keluargamasing-masing, ibu Swee Lan melihat potensi yang lebih besar pada pemuda WangMing, putra partner dagang suaminya itu. Ibu Swee Lan meyakinkan suaminya untukmenikahkan Swee Lan dengan Wang Ming demi kemantapan bisnis keluarga. Sejak itu dengan rapi ia mengatur siasat dan strategi, berusaha kerasuntuk memutus hubungan Swee Lan dengan Koon Seng. Antara lain denganmenggunakan asal usul Koon Seng yang adalah seorang Hokkian siangsialau, sedangkan Wang Ming adalah sama-sama orang Shanghai. Disini May Swan melalui literatur mengungkapkan pula apa yang tidak banyakdiketahui orang, tentang adanya sentimen ketidak serasian dalam masyarakatTionghoa diantara mereka yang berlainan bahasa dialeknya. Mayoritas penduduk Tionghoadi Singapura terdiri dari berbagai dialect-speaking groups. Sadar akan kuatnyahubungan emosi berdasarkan dialek, demi menyatukan masyarakat, pada tahun 70an,pemerintah Singapura mengambil keputusan politik menjalankan “Speak MandarinCampaign” bertahun tahun. Masyarakat dianjurkan berbahasa Mandarin, tidakmenggunakan bahasa dialek masing-masing. The Bridge jugamengungkap masalah-masalah kelam dalam sejarah Indonesia. Dengan pandai MaySwan mengaitkan karakter dalam cerita dengan peristiwa sejarah yang memangterjadi hingga mencapai dua tujuan sekaligus: membuat cerita lebih nyata danmengungkap peristiwa sejarah kelam itu sendiri. Larry, seorang teman akrab Koon Seng yang berusaha keras membantu untukmenyembuhkannya dari patah hati dan patah semangat, mengajak Koon Seng berliburke Sumatera Barat. Di Sumbar mereka bertemudengan paman Larry, salah seorang pengikut Sukarno yang lolos dari pembantaian65/66 karena waktu kejadian ia kebetulan sedang berada di Singapura. Dari pamanini mereka mendengar secara detail peristiwa pembunuhan massal ataspendukung-pendukung PKI dan Bung Karno di Kabupaten Pesisir Selatan.Diungkapkan, mereka yang terbunuh dan berkubur di kuburan massal Bukit Pulaiadalah bekas-bekas pejuang kemerdekaan ketika melawan penjajahan Belanda danJepang. Tiga orang diantaranya adalah penyandang gelar Perintis Kemerdekaan RIdari Pemerintah Sukarno. Penulis mengelaborasi lebih lanjut tentangPeristiwa 30 September itu sendiri yang memakan korban hampir 3 juta manusiatak bersalah. Penulis meletakkan kesalahan terbesar pada kepasifan pimpinanPKI, yang setelah Angkatan Darat dibawah pimpinan Jenderal Suharto mulaimelakukan penangkapan dan pembunuhan-pembunuhan, pimpinan PKI tidakmengomandokan perlawanan. Penulis bahkan menyesalkan sikap pimpinan PKI diluarnegeri yang dalam waktu lama memegang teguh ”garis tidak melawan” pimpinanpartai di Indonesia. Mereka bahkan menindas kritik-kritik dari para anggotayang mengusulkan agar delegasi CC PKI di luarnegeri mengambil oper pimpinan danmenyerukan perlawanan. Akibatnya, seperti dikatakan penulis dalamThe Bridge, “It led to the brutal murder of millions of unarmed citizens andParty leaders as easy as killing sitting ducks with their legs amputated andhands tied to their back”. Kembali pada kisah cintatak sampai antara Koon Seng dan Swee Lan, cerita ditutup dengan dialog yangsangat indah ketika Swee Lan mengunjungi Koon Seng di rumah sakit akibatterlibat kecelakaan lalu lintas. Ketika itu Swee Lan telah dikaruniai seoranganak dari perkawinannya dengan Wang Ming, dan Koon Seng telah berhasilmembebaskan dirinya dari belenggu patah hati. Meskipun tidak diutarakan dalam kata-katapenulis berhasil melukiskan bahwa sebenarnya rasa cinta mereka berdua tidaklahpadam. Namun mereka berhasil memahami dan menerima posisi masing-masing.Sungguh suatu pertemuan kembali dan dialog yang indah. TOMILJAS ==StockholmNovember 2017==
