Baguuuslah kalo masih berani mengakui “ASAL KLAS” tidak menentukan! Karena memang kenyatan karakter pembawaan dan kesadaran ideologi/politik manusia itu sendiri yang lebih menentukan, ... makanya kita bisa melihat tidak sedikit yang anggota Partai KOMUNIS bejad moral, sebaliknya juga TIDAK SEDIKIT asal klas kapitalis bahkan masih menjadi kapitalis-kapitalis tapi berjiwa komunis, bisa berbuat sosial dan peduli padaa PERJUANGAN RAKYAT!
Lalu dimana masalahnya? Baik Lenin maupun Mao justru menganjurkan kader-kadernya harus paham dan bisa menjadi pengusaha, baik dalam memimpin pabrik, maupun usaha perdagangan dipasar, ... bahkan harus mampu bersaing dengan kapitalis-kapitalis. Itulah yang beberapa hari yl. saya ajukan Pengusaha Merah, yang ikut menghadiri Kongres-19 PKT, ada 148 adalah pengusaha Merah itu. Diantaranya 121 adalah CEO BUMN dan Perusahaan-Kolektif, hanya 27 orang yang benar-benar perusahaan hak milik perseorangan. Artinya, mereka adalah anggota PKT yg TETAP jalankan usaha pribadinya, tidak bedanya dengan kapitalis yg kita kenal itu! Hanya saja saya belum menemukan kisah-kisah nyata mereka yg dinyatakan sebagai PELOPOR mendorong kemajuan ekonomi nasional dan ikut mensejahterakan RAKYAT BANYAK! Tempo hari saya pernah mengajukan contoh beberapa anggota PKT yg tetap jalan usaha sendiri, termasuk Wan Jian Lin, orang terkaya ketika itu (sekarang sudah melorot entah No. berapa), yang 2 tahun terakhir ini ikut menanamkan modal mengeentaskan desa-desa terbelakang dan miskin, ikut membangun jalan tol, ... dsb. Disamping WangJL bersama beberapa pengusaha lain, termasuk Jack Ma ditahun 2010 membentuk Foundation untuk usaha sosial, secara khusus Wang setiap tahun kucurkan 50 juta RMB utk menunjang beasiswa 100 mahasiswa. Begitulah PKT sekarang ini mendorong kapitalis-kapitalis ikut melibatkan diri dalam usaha sosial, ... ikut aktif mengentaskan kemiskinan dengan mengembangkan usahanya didesa-desa miskin, ... Lalu, apa salah mereka tetap menjalankan usahanya itu? Hanya karena mempertahankan hak-milik peribadi jadi KAPITALIS yang patut dibasmi? Sedang CEO, CEO BUMN yang juga jalankan usaha, tapi karena hak milik negara atau kolektif, tidak melakukan penghisapan pada BURUH/PEKERJA nya? Aaayooo, putar-otak kalau masih bisa berpikir? Hehehee, ... Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Tuesday, November 14, 2017 7:32 PM To: [email protected] ; Lusi D. Cc: DISKUSI FORUM HLD ; Yahoogroups ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry Singgih ; Gol ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Oman Romana ; Billy Gunadi ; Harsono Sutedjo Subject: Re: [GELORA45] Fw: TOM ILJAS membedah buku May Swan "SITI NURBAYA BRIDGE" Benar sekali bung Lusi. Asal kelas penting tapi tidak menentukan. Chou en lai pernah bilang persamaan antara dirinya dengan Khrustjov adalah sama-sama mengkhianati kelasnya.Ini saja dulu si Chan nggak ngerti. Khruschov mengkhianati kelas buruh (asal kelas dia), Chou juga mengkhianati kelas asal dia. Nilai-nilai komunis tidak OTOMATIS dimiliki oleh anggota sebuah Partai Komunis (lihat saja sendiri di sekeliling kita, ha...ha..) Banyak orang yang memiliki kwalitas komunis dan menjunjung usaha komunis tanpa masuk menjadi anggota partai komunis. Sedangkan partai yang menamakan dirinya partai komunispun tidak otomatis memiliki kwalitas dan menjunjung usaha pembangunan sosialis. Lha, contohnya gamblang! Dulu PKUS kita sebut Partai REMO, dan Uni Soviet sosial imperialis! Sekarang, sistim ekonomi dan masyarakat di Tkk sudah sejak 30 tahun lebih sama sekali tidak ada bau-bau sosialisnya (kata si Chan watak sosialisnya itu ada di BUMN!! Ha...ha.. Hidup sosialisme dengan ciri Indonesia!!!) hanya orang-orang remo seperti Chan yang terus ngotot menolak mengakui PKT sebagai partai REMO dan Tkk sebagai sosial imperialis!! Padahal kenyataan sudah begitu gamblang!!!! Di mana bedanya modal imperialis AS, Jepang, EU dengan modal Tkk? apa bung lihat bedanya? Si Chan bilang modal Tkk itu dipegang oleh PKT dan orang komunis! Jadi nilai-nilai moral dan etik komunis sudah direvisi: boleh punya modal dan menghisap!!(ini sudah resmi diakui di konstitusi PKT). Tapi dia menolak dikatakan revisionis! apakah ada dampak positif bagi buruh Indonesia dan lingkungan ketika pertambangan dieksplotasi oleh modal Tkk yang kata si Chan, dipegang oleh PKT atau orang komunis itu? Kalau berani mengatakan modal AS berbeda dengan modal tkk, harus juga berani menampilkan di mana perbedaannya, bukan?? Kenapa Chan tidak berkomentar ketika ada beberapa postingan tentang modal TKK yang mengekplotasi nikel di Sulawesi di mana upah buruh Indonesia lebih rendah dari pada buruh Tkk walaupun mengerjakan pekerjaan yang sama, kondisi hidup buruh Tkk jauh lebih baik dari pada buruh Indonesia. Tidak ada komentar ketika dinyatakan eksplotasi pertambangan yang dikelola Tkk mengakibatkan dampak lingkungan yang serius!! Dia juga tidak bercuit ketika beberapa kali ditemukan buruh-buruh Tkk ilegal. Dia juga tidak berkomentar tentang basis militer Tkk di Djibuti. Apa arti dari klaim Tkk atas Laut China Selatan? Apa arti dari giatnya Tkk mendorong One belt one road--jalan sutera ?? Apakah untuk membagi-bagi kemakmuran kepada rakyat dunia? Chan dan para pendukung dan pengagum Tkk gembira sekali dan bangga melihat kekuatan ekonomi Tkk yang sudah mulai menggeser kedudukan AS! Tapi mereka menolak mengakui bahwa kenyataan itu JUSTRU membuktikan Tiongkok sedang berkembang menjadi kekuatan imperialis!! Saya dibilang "dalam tempurung" tapi saya tanya apakah dia pernah ke Venezuela, Mexico, Brazil, Argentina, Ecuador untuk mengetahui perjuangan rakyat setempat?? Tidak ada jawaban. Jadi sebenarnya siapa yang dalam tempurung? tempurung revisionis lagi! On Tuesday, November 14, 2017 10:13 AM, "'Lusi D.' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Ikut nimbrung. Soal lagu kebangsaan Uni Soviet. Memang sebelum diciptakan yang resmi, untuk sementara menggunakan lagu Internasionale yang memang bisa menggetarkan jiwa kaum pekerja itu. Saya kira yang dipuji Stalin itu hasil ciptaan dan pengabdian lagunya. Bukan asal-usul klas sang pencipta seperti yang bung tonjol-tonjolkan itu. Yah memang sebelum klas proletariat di Rusia dulu memegang kekuasaan mana mungkin anak kaum pekerja bisa menikmati pendidikan sampai tingkat kesarjanaan? Sistim masyarakatnya waktu itu kan sepenuhnya mengabdi klas feodal dan borjuis besar. Dimana saja memang begitu. Di Indonesia kan juga begitu. Lah Chou Enlai itu asal klasnya apa? Tapi dia sampai meninggal selalu berpihak pada ketua Mao. Ini yang menentukan dalam semua sejarah. Bung Chan tidak perlu jauh-jauh ke luar sejarah perjuangan rakyat Tiongkok. Penyair terkenal dan sastrawan Tiongkok Lhu Shin. Dia itu kan bukan anggota PKT, tapi diakui dan dihormati sebagai seorang komunis karena peranan dan sikap pendiriannya yang konsisten menentang sistim penghisapan manusia atas manusia. Salam Lusi.- Am Tue, 14 Nov 2017 09:26:56 +0800 schrieb "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Beberapa hari yl, terbaca oleh saya tulisan yang menggelitik, > “ANGGOTA Partai Komunis Tidak identik dengan ORANG Komunis”, > mengkisahkan penyair Lagu Kebangsaan Sovyet, kira2 berdasarkan bunyi > tulisannya bhs. Th namanya jadi Sergey Vladimirovich Mikhalkov, > ketika menciptakan lagu Kebangsaan itu diusia 30 tahun BELUM jadi > anggota PKUS! Dipuji Stalin sampai ditemui 7X, ... atau mungkin juga > tertarik dengan pemuda yang satu ini, karena ternyata dia termasuk > KELUARGA KORBAN Rev. Oktober, keluarga Mikhalkov, tergolong KAPITALIS > yang hak-miliknya disita! Tapi anehnya, kenapa lagu Kebangsaan USSR > apa betul baru digubah tahun 1943? Sedang penyairnya Sergey baru > tahun 1950 menjadi anggota PKUS. > > Yang hendak saya ajukan disini, kesimpulan yang menarik Sergey, yang > meninggal diusia 96, tahun 2009, dengan cerdas dan jeli membedakan > “ANGGOTA Partai Komunis” dengan “ORANG Komunis”, dan itulah yang > diangkat salah satu sebab utama PKUS ambruk, karena hanya BANYAK > anggota PKUS tapi sudah tidak ada lagi ORANG KOMUNIS! > > Kebalikkan dari nenek dalam tempurung ini, TIDAK BERHASIL melihat > PERBEDAAN “MODAL” ditangan imperialisme dengan “MODAL” ditangan > Partai Komunis dan orang KOMUNIS! Jadi dalam benaknya, semua pemilik > modal itu KAPITALIS yang HARUS digempur dan harus dibasmi, ... Tidak > berhasil melihat KENYATAAN kita semua harus melalui jaman kapitalis > dan banyak sistem kapitalis yang masih harus digunakan dan > diberlakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak berani mengakui > kenyataan setelah Diktatur Demokrasi Rakyat ditegakkan, masih > memungkinkan PKT mengendalikan dan menjinakkan kapitalis-kapitalis > yang diberi kesempatan tetap hidup, tumbuh dan berkembang, ... dan > semua itu untuk mendorong lebih cepat RAKYAT Tiongkok yang berjumlah > hampir 1,4 Milyar lolos dari kemiskinan dan memasuki masyarakat > sedikit makmur! > > Kalau saja dijaman sekarang ini hendak hidup dalam masyarakat yang > “murni” tanpa “penghisapan manusia atas manusia”, “tanpa klas”, ... > yaa hidup saja sendiri dalam tempurung! > > Salam, > ChanCT > > > From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] > Sent: Monday, November 13, 2017 12:59 AM > To: [email protected] ; Yahoo! Inc. ; Jaringan Kerja > Indonesia ; Sastra Pembebasan ; Yahoo! Inc. ; Yahoo! Inc. ; DISKUSI > FORUM HLD ; Chalik Hamid Cc: Yahoogroups ; > [email protected] ; Daeng ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry > Singgih ; Farida Ishaja ; Gol ; [email protected] ; Mitri ; > Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Oman Romana ; Billy Gunadi ; > [email protected] Subject: Re: [GELORA45] Fw: TOM ILJAS membedah buku > May Swan "SITI NURBAYA BRIDGE" > > > > Kepasifan PKI itu disebabkan oleh garis revisionis yang berdominasi > dalam Partai. Dan itu dikoreksi dengan otokritik PB yang meletakkan > garis baru. Anehnya, diantara mereka yang dulu mengkritik dan > menuntut delegasi CCPKI di luar negeri untuk mengambil oper pimpinan > dan melawan, justru dengan sudah adanya garis baru, kok malah jadi > pendukung reformisme bahkan seperti Chan jadi REMO dan pendukung > penanaman modal asing untuk "pembangunan" a la Jokowi yang hakekatnya > sama saja dengan "pembangunan" jaman Suharto. Begitu merosotnya, > sampai mampu menciptakan "teori" kebangsaan modal. Modal AS buruk dan > patut dilawan, tapi modal Tiongkok baik!!!! > > > > On Sunday, November 12, 2017 7:04 AM, "Chalik Hamid > [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: > > > > > > > > SURAT DARI SINGAPUR > TOM ILJAS Mengupas Buku MAY SWAN > SITI NURBAYA BRIDGE > > Buku May Swan Siti Nurbaya Bridge -- selanjutnya disingkat The > Bridge -- ikut menghiasi rak buku saya bersama novel-novelnya yang > lain. Walau tertata di deretan buku-buku yang sudah pernah saya baca > namun keinginan untuk membaca ulang timbul setelah seorang teman > bertanya: apa hubungan karya May Swan yang ini dengan Siti Nurbaya > dalam “Kasih Tak Sampai”-nya Marah Rusli? > > Agaknya penulis mengutip nama Siti Nurbaya sebagai bagian dari judul > karena adanya kesamaan kisah cinta yang tak kesampaian. Siti Nurbaya > terpaksa melepas cintanya kepada Samsulbahri dan menawarkan diri > untuk menikah dengan Datuk Maringgih demi untuk melepaskan ayah yang > disayanginya dari jeratan hutang. Dalam The Bridge, Swee Lan terpaksa > melepaskan cintanya kepada Koon Seng dan menerima lamaran dari > seorang pemuda lain yang diatur dengan rapi oleh ibunya. Alasan Swee > Lan juga mirip, demi menyelamatkan perusahaan ayah yang disayanginya > dari kebangkrutan. > > Meskipun ada kesamaan, namun terdapat perbedaan besar antara kedua > kisah tersebut yang berlainan jaman dan latarbelakang; yang satu > berakhir tragis dengan kematian sedangkan The Bridge berakhir dengan > tumbuhnya sebuah pandangan hidup baru pada Koon Seng, karakter utama > dalam novel ini. Koon Seng berhasil membebaskan dirinya dari belenggu > patah hati dan patah semangat. > > The Bridge bukan hanya sekedar novel percintaan antara dua insan. > Seperti ciri karya-karya May Swan lainnya, The Bridge melukiskan > kehidupan nyata dalam masyarakat, dengan jeli memperhatikan kejadian > sehari-hari, mendalami perkembangan emosi masing-masing karakter > dalam cerita dan mengangkat kejadian-kejadian besar sejarah yang > melatarinya. > > Jalan cerita mengarungi kehidupan masyarakat etnis Tionghoa di > Indonesia tahun-tahun 1950an hingga 1980an. Berhasilnya Perang > Pembebasan Tiongkok pada tahun 1949, suasana politik di > sekolah-sekolah Tionghoa yang dekat dengan RRT, masa Konferensi > Asia-Afrika, kedatangan PM Chou En Lai ke Indonesia dan hubungan erat > perdagangan antara Indonesia dan Singapura yang sudah berjalan > bertahun-tahun terutama dibidang karet alam. Koon Seng untuk pertama > kalinya berkenalan dengan Swee Lan ialah ketika ia menghadiri ulang > tahun sekolah menengah Hwa Chung dimana Swee Lan bekerja sebagai > guru. Koon Seng yang diundang sebagai Kepala Cabang perusahaan > Singapura Lee Rubber Company di Jakarta dengan antusias memenuhi > undangan dengan harapan akan bertemu PM Chou En Lai yang dikabarkan > juga akan menghadiri perayaan ulang tahun sekolah tsb. Koon Seng > kecewa, PM Chou En Lai berhalangan datang; namun ia merasa beruntung > berkenalan dengan Swee Lan yang atraktif. Seiring berjalannya waktu > mereka menjalin hubungan cinta. > > Pada awalnya kedua orang tua Swee Lan tidak menaruh keberatan apa-apa > atas hubungan percintaan mereka. Ibu Swee Lan sering-sering bahkan > menunjukkan tanda-tanda merestui. Namun ketika datang tawaran dari > partner bisnis suaminya untuk menggabungkan kedua perusahaan keluarga > masing-masing, ibu Swee Lan melihat potensi yang lebih besar pada > pemuda Wang Ming, putra partner dagang suaminya itu. Ibu Swee Lan > meyakinkan suaminya untuk menikahkan Swee Lan dengan Wang Ming demi > kemantapan bisnis keluarga. Sejak itu dengan rapi ia mengatur siasat > dan strategi, berusaha keras untuk memutus hubungan Swee Lan dengan > Koon Seng. Antara lain dengan menggunakan asal usul Koon Seng yang > adalah seorang Hokkian siangsia lau, sedangkan Wang Ming adalah > sama-sama orang Shanghai. > > Disini May Swan melalui literatur mengungkapkan pula apa yang tidak > banyak diketahui orang, tentang adanya sentimen ketidak serasian > dalam masyarakat Tionghoa diantara mereka yang berlainan bahasa > dialeknya. Mayoritas penduduk Tionghoa di Singapura terdiri dari > berbagai dialect-speaking groups. Sadar akan kuatnya hubungan emosi > berdasarkan dialek, demi menyatukan masyarakat, pada tahun 70an, > pemerintah Singapura mengambil keputusan politik menjalankan “Speak > Mandarin Campaign” bertahun tahun. Masyarakat dianjurkan berbahasa > Mandarin, tidak menggunakan bahasa dialek masing-masing. > > The Bridge juga mengungkap masalah-masalah kelam dalam sejarah > Indonesia. Dengan pandai May Swan mengaitkan karakter dalam cerita > dengan peristiwa sejarah yang memang terjadi hingga mencapai dua > tujuan sekaligus: membuat cerita lebih nyata dan mengungkap peristiwa > sejarah kelam itu sendiri. > > Larry, seorang teman akrab Koon Seng yang berusaha keras membantu > untuk menyembuhkannya dari patah hati dan patah semangat, mengajak > Koon Seng berlibur ke Sumatera Barat. Di Sumbar mereka bertemu dengan > paman Larry, salah seorang pengikut Sukarno yang lolos dari > pembantaian 65/66 karena waktu kejadian ia kebetulan sedang berada di > Singapura. Dari paman ini mereka mendengar secara detail peristiwa > pembunuhan massal atas pendukung-pendukung PKI dan Bung Karno di > Kabupaten Pesisir Selatan. Diungkapkan, mereka yang terbunuh dan > berkubur di kuburan massal Bukit Pulai adalah bekas-bekas pejuang > kemerdekaan ketika melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Tiga orang > diantaranya adalah penyandang gelar Perintis Kemerdekaan RI dari > Pemerintah Sukarno. > > Penulis mengelaborasi lebih lanjut tentang Peristiwa 30 September itu > sendiri yang memakan korban hampir 3 juta manusia tak bersalah. > Penulis meletakkan kesalahan terbesar pada kepasifan pimpinan PKI, > yang setelah Angkatan Darat dibawah pimpinan Jenderal Suharto mulai > melakukan penangkapan dan pembunuhan-pembunuhan, pimpinan PKI tidak > mengomandokan perlawanan. Penulis bahkan menyesalkan sikap pimpinan > PKI diluar negeri yang dalam waktu lama memegang teguh ”garis tidak > melawan” pimpinan partai di Indonesia. Mereka bahkan menindas > kritik-kritik dari para anggota yang mengusulkan agar delegasi CC PKI > di luarnegeri mengambil oper pimpinan dan menyerukan perlawanan. > Akibatnya, seperti dikatakan penulis dalam The Bridge, “It led to the > brutal murder of millions of unarmed citizens and Party leaders as > easy as killing sitting ducks with their legs amputated and hands > tied to their back”. > > Kembali pada kisah cinta tak sampai antara Koon Seng dan Swee Lan, > cerita ditutup dengan dialog yang sangat indah ketika Swee Lan > mengunjungi Koon Seng di rumah sakit akibat terlibat kecelakaan lalu > lintas. Ketika itu Swee Lan telah dikaruniai seorang anak dari > perkawinannya dengan Wang Ming, dan Koon Seng telah berhasil > membebaskan dirinya dari belenggu patah hati. Meskipun tidak > diutarakan dalam kata-kata penulis berhasil melukiskan bahwa > sebenarnya rasa cinta mereka berdua tidaklah padam. Namun mereka > berhasil memahami dan menerima posisi masing-masing. Sungguh suatu > pertemuan kembali dan dialog yang indah. > > TOM ILJAS > ==Stockholm November 2017== > > >
