Besaran persentase itu pasti berbeda untuk setiap orang dan umumnya porsi latihanlah yang lebih besar. Ini berlaku di bidang apa pun, bahkan dalam urusan berbicara. Misalnya ketika orang ingin bisa bicara dalam bahasa asing, maka porsi latihan jadi penting. Tentu, terkecuali sekaliber Yesus yang konon sudah lancar ngomong sejak masih di buaian. Atau dalam urusan musik, khususnya musik klasik, orang harus menyamai kaliber si eksentrik Glenn Gould yang sekalipun dijuluki si jenius 'pemalas' toh tetap perlu latihan juga barang seporsi kecil.
Karena itu jadi kurang mengerti apa yang Anda maksud dengan "memaksa" anak untuk belajar musik / piano. Apa bakatnya yang 70% membuat dia tidak mau mengerjakan latihan yang 30%? Mudah-mudahan maksudnya "memaksa" sang anak pegang alat karena dia terbiasa melihat orangtuanya begitu. Soal Mozart effect kayaknya itu cuma penghargaan para pemujanya yang dikemas saja secara "ilmiah". Menurut kuping "asbak" ini, musik jenis apa pun pasti punya pengaruh terhadap pendengarnya, apalagi kalau disetel di atas ambang dengar ( >60 dB) atau terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Sialnya, CIA merusak reputasi musik yang digolongkan musik rock secara negatif. Yaitu dijadikan sebagai alat penyiksa tahanan di Abu Ghraib & Guantamo. Sama seperti para penculik aktivis '98. Padahal kalau mau kan bisa juga pake Mozart. Toh di antara musiknya yang serba manis ada juga simponinya yang up tempo. Mozart Will Survive mozart died a poor man but look at me... --- bhjo@... wrote: Saya penggemar pemainan piano dari Lang Lang. Tetapi saya tidak setuju sama sekali dgn. pendapat dia bahwa utk. bermain piano/musik yg. hebat berdasarkan 90% praktek dan 10% bakat. Saya berpendapat barangkali memerlukan bakat 70% dan baru perlu praktek 30%. Mozart sudah bisa bikin komposisi lagu klasik waktu berumur 5 tahun. Ini membuktikan faktor keturunan/DNA adalah penting. Jadi faktor bakat alias keturunan/DNA adalah faktor yg. lebih penting drpd. faktor praktek. Kalau tidak begitu, tentunya banyak orang akan mau menjadi seperti Lang Lang. Saya setuju kalau anak belajar piano dgn. lagu klasik. Anak2 kami kami "paksa" utk. belajar piano dgn. lagu klasik karena mula penelitian yg. ada dilakukan dari lagu klasik dg. piano, yg. kemudian dinamakan "Mozart effect". Musik membangun perkembangan susunan otak (dimana neuron2/sel otak2 masih membuat sambungan satu dgn. yg. lain) waktu otak masih berkembang setelah anak lahir. Barangkali musik juga bisa mempengaruhi perkembang otak bayi waktu masih dalam kandungan kalau ibunya mendengarkan musik waktu sedang hamil. Apakah pengaruh musik yg. positif utk. otak yang namanya "Mozart effect" itu betul atau tidak, masih kontroversi secara ilmiah? Apakah cuma musik klasik yg. bisa mempengaruhi perkembangan otak secara positif, kita belum tahu tetapi barangkali musik klasik yg. paling unggul dan bukan seperti musik "cowboy" seperti rock dll. --- jonathangoeij@... wrote : Hal yang sangat tepat, hal yg dgn gamblang ditunjukkan pada piano. Sebuah lagu klasik sederhana saja dibutuhkan ratusan jam latihan, dibutuhkan kedisiplinan dan ketekunan untuk bisa menguasainya, setelah menguasai secara tehnik masih harus menjiwai lagu tsb., merupakan proses tanpa akhir seumur hidup. Anak saya pada dasarnya pintar dan aktif sekali penuh energi, sayangnya sukar sekali fokus dalam mengerjakan sesuatu termasuk belajar. Tetapi setelah belajar piano secara tekun setiap hari dan menguasai 1-2 lagu klasik eh ternyata pelajaran sekolah-nya juga berubah total dan jadi langganan terima berbagai academic award. Masuk akal juga saya pikir, belajar karya Mozart, Beethoven, Chopin, dlsb membutuhkan konsentrasi, ketekunan, disiplin, dan kesukaran yang jauh diatas pelajaran sekolah. --- jetaimemucho1@... wrote : Ooo, saya percaya betul dan setuju dengan apa yang dikatakan Lang Lang itu: 90% praktek dan hanya 10% bakat. Saya banyak menemukan orang-orang yang "pandai" dalam artian otaknya encer dan berbakat tertentu, tapi tidak menghasilkan apa-apa, karena malas belajar, malas baca, tidak berdisiplin, tidak tekun, etc. Sebaliknya orang-orang yang tekun, berdisiplin, rajin, namun dengan otak yang biasa-biasa saja, malah bisa berbuat banyak dalam hidupnya. Pisau yang tajam tapi kalau dibiarkan terus tidak dipakai, lama-lama juga bisa karatan. Sebaliknya pisau tumpul kalau terus diasah, kan lama-lama bisa tajam. On Monday, November 20, 2017 6:21 AM, jonathangoeij@... wrote: Lang Lang: My Musical Ability Is 90% Practice, 10% Talent Bloomberg Surveillance October 21st, 2014, 4:23 AM PDTOct. 21 (Bloomberg) -- Pianist Lang Lang discusses his life, career and musical performances on “Bloomberg Surveillance.” (Source: Bloomberg)
