Banyak orang salah kaprah menerapkan Mozart effect yg dipercayai dengan membabi 
buta.

Seakan2 kalau main music, anaknya bakalan jadi pintar atau bertambah pintar.

Ini yg terjadi dengan anak2 chinese American yg berbondong2 suruh anak2nya main 
music.

Hasilnya bisa dilihat dikota2 diamerika, kebanyakan yg tanding di music 
competition itu orang2 asia. Yg putih jarang. Adapun kebanyakan mereka turunan 
dari negara2 sosialis seperti rusia, Rumania dll.

 

Ada pengorbanan dalam menyuruh anak2 belajar music ini.

Iya kalau yg pro akan melihat sisi positifnya.

Kalau lihat sisi negatifnya ya banyak juga. Anak yg gak bakat music stress 
setengah mati disuruh kursus music. Apalagi music klasik yg lebih susah 
belajarnya drpd music non klasik. Kasihan sekali lihat anak2 itu stress krn 
kata orang tuanya: music bisa bikin pinter.

 

Walaupun bener music bisa stimulate brain development, tetapi berapa besar dan 
apa cost nya? 

Ini yg perlu disimak oleh orang tua. Bukannya mati berpatokan: main music bikin 
anak tambah pinter.

 

Ini juga yg menjadi pertimbangan dan tidak ada seorangpun yg tahu harus berapa 
% practice dan berapa % talent.

Lang lang ngomong begitu itu kapasitasnya dia seorang professional. Dia harus 
practice. Kalau gak practice gimana bisa hapalin repertoirenya. Coba kalau main 
lagu piano concerto yg begitu panjang kalau gak practice gimana bisa hapal 
notesnya. Belum lagi feelingnya.

Waktu kecil sebelum jadi professional kan juga begitu. Coba kalau dia gak ada 
bakal, emangnya dia bisa sejago sekarang? Kan enggak.

 

Saya pernah dikasih tahu oleh seorang Russian pianist faculty dari NEC, MIT, BU 
yg bilang: frank liszt practice 99%. Dia ngomong begini krn mau menekankan 
pentingnya practice tetapi bukannya 80, 90, 99 percentage yg menjadi fokusnya, 
tetapi fokusnya adalah harus practice. Talent gak akan ada manfaatnya tanpa 
practice. 

 

kenapa liszt ngomong begitu itu karena dia waktu first piano virtuoso. Dia 
kerja setengah mati, tournya banyak, jadi dia perlu jaga reputasi nya terutama 
sbg counterpartnya violinist virtuoso Paganini. Repertoirenya yg panjang dan 
susah jelas memerlukan hours of practice yg lama juga.

Good/right practice sangat penting. Gurunya kalau bego ngajar ya anak2nya 
walaupun practice hoursnya banyak juga gak akan hebat2 banget. Jadi careful and 
intelligent practice serta bimbingan guru yg bisa ngajar sangat penting. Tidak 
semua sekolah music ada music pedagogy. Ini penting sekali dalam mengajar 
music. Di USA itu sangat sedikit sekolah music termasuk conservatory yg kasih 
course ini. adapun belum tentu facultynya qualified. Ini karena classical music 
is in downturn sejak lama sekali shg bikin minat belajar music berkurang.

Orang yg jago main music itu belum tentu bisa ngajar artinya lang lang itu 
belum tentu bisa ngajar piano sejago Kang Hasan dari “desa diatas awan” di 
Indonesia.

 

Walaupun bethoven yg jauh lebih lama dan Chopin yg waktunya bersamaan dgn Liszt 
juga main piano, tetapi Liszt itu adalah pianist pertama yg main solo piano 
recital. Oh ya ngomong2 walaupun liszt itu composer yg jago dan pieces nya 
bagus2 dan challenging pada jamannya, tetapi composer setelah Liszt seperti 
Rachmaninoff, Godowsky dll itu bikin composition yg jauh lebih susah. 

 

Pengalaman yg saya alami sendiri dalam melihat 2 orang anak A dan B. 

A bakatnya biasa2 saja. karena tidak pintar dia mau jadi pianist. Ini kata 
ibunya yg Chinese American. Dia practice lama sekali. Pertama2 menang ngalahin 
B yg bakat musiknya lebih besar dan lebih pinter tapi tidak mau jadi pianist. 
Akhirnya ya A kalah sama B walaupun A practice lebih lama. Bayangkan B hanya 
practice piano10 – 15 menit sehari minus kegiatan2 extrakurikulernya yg lain. 
Juga B practice biola yg juga hanya 10-15 menit dan lucunya practicenya hanya 
di mobil krn waktunya yg terbatas. B bisa jadi concertmaster dikota nya dan 
juara piano di music festival yg paling besar dikotanya.

 

Jadi jangan dipaksa2. Didorong/encourage boleh, tapi jangan diharuskan.

Anaknya bisa stress kalau gak bisa.

Orang tua itu sok tahu maunya ini itu, akhirnya bikin anak jadi objek.

Seharusnya anaknya itu subjek. Dia harus bahagia dan seneng melakukan sesuatu 
bukan dipaksa. Ini salah besar.

Manusia itu dilahirkan sudah dari sononya. Raganya sudah ditentukan dan jiwanya 
juga sudah dari sononya. Gak bisa berubah. Yg bisa diubah itu hanya 
permukaan2nya saja alias polesan. Kodrat dari sono nya tidak bisa dirubah. 
Polesan itulah yg banyak dilihat oleh manusia yg terbatas ini. Itulah akibatnya 
anak stress disuruh orang tuanya maen music krn dalihnya: “music bisa bikin 
pinter”.

 

Ngalor ngidulnya sdh selesai dgn pesan: “gak usah suruh2 orang begini begitu 
kalau kita sendiri gak bisa menjalaninya”.

 

Nesare

 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, November 20, 2017 5:22 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Lang Lang: My Musical Ability Is 90% Practice, 10% 
Talent

 

  

Saya juga menggemari piano Lang Lang selain itu juga Li Yundi, dan Yuja Wang. 
Mereka mainnya dgn style tersendiri yg khas, biarpun repertoire yg dimainkan 
sama terasa feeling-nya berbeda. Tentang kebenaran berapa persen praktek berapa 
persen bakat tentu sukar dibilang, tetapi yang pasti sebagian besar pianist 
terkemuka didunia mesti latihan keras dgn jangka waktu lama, Lang Lang misalnya 
mengatakan latihan rutin setiap hari sekitar 5-6 jam, bahkan waktu masih kecil 
latihan sampai 8 jam perhari. Franz Liszt bahkan latihan 10 jam perhari.

 

Mozart Effect mungkin ada kebenarannya atau tidak kurang begitu jelas, tetapi 
memang sejak didalam kandungan anak kami sudah mendengarkan musik klasik 
demikian juga setelah lahir masih bayi terus menerus dipasang musik klasik 
lewat CD. Tetapi selain mendengarkan musik, saya rasa yg mempunyai pengaruh 
lebih besar justru belajar musik itu sendiri secara intensif, terutama sekali 
piano. Waktu main piano menggunakan 10 jari kesemuanya berperan yang artinya 
baik otak kanan dan kiri keduanya dipakai, melatih pendengaran dengan baik 
membedakan suara dan memproduksinya lagi melalui tuts piano, membaca sheet 
music yang sedemikian rumit baik treble dan bass clef dan menerjemahkannya 
dalam permainan piano belum lagi pedaling, kesemuanya itu membutuhkan multi 
tasking yang luar biasa.

 

Saya juga sedikit "memaksa" anak2 utk rutin latihan setiap hari, saya jadwalkan 
setiap hari sedikitnya 2 session (45 menit utk yg besar dan 30 menit utk yg 
kecil per-session) perhari sedang weekend dan hari libur bisa sampai 4-5 
session dan terasa kemajuan yang pesat sekali, sebelumnya cuman 30 menit sehari 
dan kemajuan terasa lambat. Kemajuan pesat itu bukan hanya dalam permainan 
piano saja tetapi juga pada pelajaran sekolah terasa sekali perbedaannya, 
menurut penelitian memang belajar piano secara intensif meningkatkan 
kecerdasan, setidaknya itu yg dikatakan artikel Forbes ini:

https://www.forbes.com/2004/07/15/cx_0715health.html#6f24c9753bd9

 


---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <bhjo@... 
<mailto:bhjo@...> > wrote :

Saya penggemar pemainan piano dari Lang Lang. Tetapi saya tidak setuju sama 
sekali dgn. pendapat dia bahwa utk. bermain piano/musik yg. hebat berdasarkan 
90% praktek dan 10% bakat. Saya berpendapat barangkali memerlukan bakat 70% dan 
baru perlu praktek 30%. Mozart sudah bisa bikin komposisi lagu klasik waktu 
berumur 5 tahun. Ini membuktikan faktor keturunan/DNA adalah penting. Jadi 
faktor bakat alias keturunan/DNA adalah faktor yg. lebih penting drpd. faktor 
praktek. Kalau tidak begitu, tentunya banyak orang akan mau menjadi seperti 
Lang Lang.

 

Saya setuju kalau anak belajar piano dgn. lagu klasik. Anak2 kami kami "paksa" 
utk. belajar piano dgn. lagu klasik karena mula penelitian yg. ada dilakukan 
dari lagu klasik dg. piano, yg. kemudian dinamakan "Mozart effect". Musik 
membangun perkembangan susunan otak (dimana neuron2/sel otak2 masih membuat 
sambungan satu dgn. yg. lain)  waktu otak masih berkembang setelah anak lahir. 
Barangkali musik juga bisa mempengaruhi perkembang otak bayi waktu masih dalam 
kandungan kalau ibunya mendengarkan musik waktu sedang hamil. Apakah pengaruh 
musik yg. positif utk. otak yang namanya "Mozart effect" itu betul atau tidak, 
masih kontroversi secara ilmiah? Apakah cuma musik klasik yg. bisa mempengaruhi 
perkembangan otak secara positif, kita belum tahu tetapi barangkali musik 
klasik yg. paling unggul dan bukan seperti musik "cowboy" seperti rock dll.



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , 
<jonathangoeij@... <mailto:jonathangoeij@...> > wrote :

 

Hal yang sangat tepat, hal yg dgn gamblang ditunjukkan pada piano. Sebuah lagu 
klasik sederhana saja dibutuhkan ratusan jam latihan, dibutuhkan kedisiplinan 
dan ketekunan untuk bisa menguasainya, setelah menguasai secara tehnik masih 
harus menjiwai lagu tsb., merupakan proses tanpa akhir seumur hidup.

 

Anak saya pada dasarnya pintar dan aktif sekali penuh energi, sayangnya sukar 
sekali fokus dalam mengerjakan sesuatu termasuk belajar. Tetapi setelah belajar 
piano secara tekun setiap hari dan menguasai 1-2 lagu klasik eh ternyata 
pelajaran sekolah-nya juga berubah total dan jadi langganan terima berbagai 
academic award. Masuk akal juga saya pikir, belajar karya Mozart, Beethoven, 
Chopin, dlsb membutuhkan konsentrasi, ketekunan, disiplin, dan kesukaran yang 
jauh diatas pelajaran sekolah.

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , 
<jetaimemucho1@... <mailto:jetaimemucho1@...> > wrote :

Ooo, saya percaya betul  dan setuju dengan apa yang dikatakan Lang Lang itu: 
90% praktek dan hanya 10% bakat. Saya banyak menemukan orang-orang yang 
"pandai" dalam artian otaknya encer dan berbakat tertentu, tapi tidak 
menghasilkan apa-apa, karena malas belajar, malas baca, tidak berdisiplin, 
tidak tekun, etc. Sebaliknya orang-orang yang tekun, berdisiplin, rajin, namun 
dengan otak yang biasa-biasa saja, malah bisa berbuat banyak dalam hidupnya. 
Pisau yang tajam tapi kalau dibiarkan terus tidak dipakai, lama-lama juga bisa 
karatan. Sebaliknya pisau tumpul kalau terus diasah, kan lama-lama bisa tajam.

 

On Monday, November 20, 2017 6:21 AM, "jonathangoeij@... [GELORA45] 
<mailto:jonathangoeij@...%20[GELORA45]> " <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

 

 


Lang Lang: My Musical Ability Is 90% Practice, 10% Talent 
<https://www.bloomberg.com/news/videos/2014-10-21/musical-ability-90-practice-10-talent-pianist-lang>
 


 <https://www.bloomberg.com/shows/bloomberg-surveillance> Bloomberg Surveillance


October 21st, 2014, 4:23 AM PDT

Oct. 21 (Bloomberg) -- Pianist Lang Lang discusses his life, career and musical 
performances on “Bloomberg Surveillance.” (Source: Bloomberg)

 

 

 

 



Kirim email ke