Ketika Teknologi Bambu Bisa Atasi Banjir dan Tanah Longsor...
ALEK KURNIAWAN
Kompas.com - 22/11/2017, 09:07 WIB


[image: Bambu digunakan sebagai tanggul untuk mengatasi masalah banjir di
Sungai Cijangkelok, Kabupaten Kuningan.]
Bambu digunakan sebagai tanggul untuk mengatasi masalah banjir di Sungai
Cijangkelok, Kabupaten Kuningan.(Alek Kurniawan)

*KOMPAS.com* - Sudah sejak lama masyarakat di KabupatenKuningan
<http://indeks.kompas.com/tag/Kuningan> tepatnya di bantaran Sungai
Cijangkelok di Desa Citenjo merasa khawatir ketika musim hujan datang.

Hal ini diakibatkan oleh bencana banjir
<http://indeks.kompas.com/tag/banjir> yang kerap melanda daerah tersebut.
Salah satu bencana yang masih terkenang dalam ingatan warga adalah banjir
pada Januari 2017.

“Saya masih ingat waktu itu 22 Januari 2017 pukul 12.00 siang. Hujan turun
sangat lebat. Pukul 02.00 pagi hujan reda, pukul 04.00 pagi hujan lebat
turun lagi. Hujan berlangsung 3-4 jam,” ujar petugas Operasi dan
Pemeliharaan Daerah Aliran Sungai (OP DAS) Cisanggarung, Kuningan, untuk
Sungai Cijangkelok, Yayat Sudiyatna.

Yayat juga menjelaskan, pada sore harinya, permukaan air sungai mulai
meluap dan luber sampai ke permukiman warga.

“Air banjir ini mencapai satu meter dan menggenangi tujuh desa. Desa
Citenjo merupakan yang terparah,” tambah pria yang bekerja memantau
proyek *bioengineering
<http://indeks.kompas.com/tag/bioengineering>* di bantaran Sungai
Cijangkelok ini.

Melihat kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA)
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar
Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung memberikan perhatian khusus
terhadap Desa Citenjo.

Sebulan berikutnya, yakni pada Februari 2017, dibangunlah tanggul oleh BBWS
Cimanuk Cisanggarung yang bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk
mencegah banjir susulan.

Yang dibangun ini bukanlah tanggul pada umumnya, melainkan tanggul yang
terbuat dari bambu <http://indeks.kompas.com/tag/bambu> dengan metode
*bioengineering*.

[image: Bambu yang ditanam ini berfungsi untuk menahan air sungai yang
meluap dan menyebabkan banjir di Desa Citenjo, Kab. Kuningan, Rabu
(15/11/2017).]
Bambu yang ditanam ini berfungsi untuk menahan air sungai yang meluap dan
menyebabkan banjir di Desa Citenjo, Kab. Kuningan, Rabu (15/11/2017).(Alek
Kurniawan)

Dalam bahasa Indonesia, *bioengineering* dapat diartikan menjadi rekayasa
hayati.

Melansir laman Institut Teknologi Bandung (ITB), Senin (20/11/2017),
rekayasa hayati merupakan disiplin ilmu yang diaplikasikan dalam
perekayasaan berbasis biosistem (gabungan ilmu biologi, lingkungan, dan
pertanian) untuk meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat biosistem itu
sendiri.

Pengaplikasian ilmu rekayasa hayati memang jarang terlihat keberadaannya
secara kasatmata. Namun ternyata, bidang ilmu tersebut membawa banyak
manfaat bagi masyarakat.

“Pada Februari 2017, kami menanam bambu sepanjang 300 meter di bantaran
Sungai Cijangkelok untuk pembuatan tanggul alami. Bambu
<http://indeks.kompas.com/tag/bambu>kami pilih karena tanaman ini cocok
dengan unsur tanah di sini dan dapat menahan erosi air sungai yang meluap,”
kata petugas pembuat komitmen (PPK) OP III BBWS Cimanuk Cisangarung, I
Gusti Ngurah Antariza.

Selain itu, Antariza juga menjelaskan, metode *bioengineering *ini dipilih
untuk mengembalikan fungsi vegetasi lahan sungai dan secara otomatis dapat
merestorasi agar tanggul sungai kembali hijau.

“Metode ini juga dipakai untuk meminimalkan dana. Proyek yang berjalan
selama 3 bulan ini hanya menghabiskan dana APBN Rp 200 juta,” lanjut
Antariza.

Saat ini, proyek *bioengineering* di Desa Citenjo sudah selesai 100 persen.
Bambu yang tertanam semakin rapat dan lebat sehingga diharapkan bisa
menahan air sungai yang meluap.

*Menanggulangi tanah longsor <http://indeks.kompas.com/tag/tanah-longsor>*

Selain bisa mengatasi masalah banjir di Desa Citenjo, Kabupaten Kuningan,
ternyata metode *bioengineering* bambu ini juga digunakan untuk
menanggulangi tanah longsor di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari,
Kabupaten Brebes <http://indeks.kompas.com/tag/Brebes>.

[image: Pembangunan tanggul di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari,
Kabupaten Brebes saat dibangun.]
Pembangunan tanggul di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari, Kabupaten
Brebes saat dibangun.(BBWS Cimanuk Cisanggarung)

Pada awal tahun 2017, bantaran sungai yang juga berbatasan dengan jalan
antar-provinsi ini longsor sehingga jalan yang menghubungkan Provinsi Jawa
Barat dan Jawa Tengah terputus sementara.

Setelah jalan diperbaiki, BBWS Cimanuk Cisanggarung kembali menerapkan
metode *bioengineering* dengan tanaman bambu untuk menahan tanah yang
longsor.

“Meski metode yang digunakan sama dengan yang di Kuningan, pembuatan
tanggul di sini melalui dua tahap. Pertama, pembangunan tanggul tepat di
pinggir sungai. Kedua, pembuatan tanggul di batas sungai dengan jalan
raya,” ujar pelaksana teknis PPK OP III BBWS Cimanuk Cisanggarung, Muhammad
Cucu Sudiyan.

Untuk tanggul di pinggir sungai, konstruksi yang digunakan adalah
pemasangan batu dan karung berisi pasir serta penanaman cerucuk bambu di
antaranya.

“Kemudian untuk tahap keduanya kami menanam bambu dengan jarak beberapa
sentimeter. Lalu pada jarak yang kosong tersebut, kami tanami rumput
vetiver (akar wangi) yang berfungsi untuk mencengkeram tanah sampai
kedalaman 3 meter,” tambah Sudiyan.

Selain itu, ditanami pula tumbuhan kaliandra yang berguna menyedot air dan
menahan butir-butir tanah yang tergerus. Terakhir, terdapat tanaman pandan
laut yang bisa menahan longsoran tanah.

[image: Bambu yang sudah ditanami pandan laut, rumput vertiver, dan
kaliandra diharapkan dapat mengatasi tanah longsor di Kabupaten Brebes.]
Bambu yang sudah ditanami pandan laut, rumput vertiver, dan kaliandra
diharapkan dapat mengatasi tanah longsor di Kabupaten Brebes.(BBWS Cimanuk
Cisanggarung)

Proyek yang berjalan mulai Februari hingga April 2017 tersebut pun sudah
dirasakan manfaatnya pada musim hujan ini. Belum ada lagi tanah yang
longsor.

Ke depannya, BBWS Cimanuk Cisanggarung menargetkan pembangunan lanjutan
sepanjang 500 meter di bantaran sungai tersebut sehingga cakupan area yang
terlindungi semakin banyak.

Ditjen SDA juga berharap bisa menerapkan metode *bioengineering* bambu ini
di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan
oleh semua kalangan masyarakat.

Kirim email ke