----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: kh djie [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>Kepada: Gelora45 <[email protected]>;
[email protected] <[email protected]>Terkirim: Rabu, 22
November 2017 15.36.08 GMT+1Judul: [GELORA45] Bambu
Ketika Teknologi Bambu Bisa Atasi Banjir dan Tanah Longsor...
ALEK KURNIAWANKompas.com - 22/11/2017, 09:07 WIB Bambu digunakan sebagai
tanggul untuk mengatasi masalah banjir di Sungai Cijangkelok, Kabupaten
Kuningan.(Alek Kurniawan)
KOMPAS.com - Sudah sejak lama masyarakat di KabupatenKuningan tepatnya di
bantaran Sungai Cijangkelok di Desa Citenjo merasa khawatir ketika musim hujan
datang.
Hal ini diakibatkan oleh bencana banjir yang kerap melanda daerah tersebut.
Salah satu bencana yang masih terkenang dalam ingatan warga adalah banjir pada
Januari 2017.
“Saya masih ingat waktu itu 22 Januari 2017 pukul 12.00 siang. Hujan turun
sangat lebat. Pukul 02.00 pagi hujan reda, pukul 04.00 pagi hujan lebat turun
lagi. Hujan berlangsung 3-4 jam,” ujar petugas Operasi dan Pemeliharaan Daerah
Aliran Sungai (OP DAS) Cisanggarung, Kuningan, untuk Sungai Cijangkelok, Yayat
Sudiyatna.
Yayat juga menjelaskan, pada sore harinya, permukaan air sungai mulai meluap
dan luber sampai ke permukiman warga.
“Air banjir ini mencapai satu meter dan menggenangi tujuh desa. Desa Citenjo
merupakan yang terparah,” tambah pria yang bekerja memantau proyek
bioengineering di bantaran Sungai Cijangkelok ini.
Melihat kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA)
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar
Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung memberikan perhatian khusus terhadap
Desa Citenjo.
Sebulan berikutnya, yakni pada Februari 2017, dibangunlah tanggul oleh BBWS
Cimanuk Cisanggarung yang bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk
mencegah banjir susulan.
Yang dibangun ini bukanlah tanggul pada umumnya, melainkan tanggul yang terbuat
dari bambu dengan metode bioengineering.
Bambu yang ditanam ini berfungsi untuk menahan air sungai yang meluap dan
menyebabkan banjir di Desa Citenjo, Kab. Kuningan, Rabu (15/11/2017).(Alek
Kurniawan)
Dalam bahasa Indonesia, bioengineering dapat diartikan menjadi rekayasa hayati.
Melansir laman Institut Teknologi Bandung (ITB), Senin (20/11/2017), rekayasa
hayati merupakan disiplin ilmu yang diaplikasikan dalam perekayasaan berbasis
biosistem (gabungan ilmu biologi, lingkungan, dan pertanian) untuk meningkatkan
efisiensi fungsi dan manfaat biosistem itu sendiri.
Pengaplikasian ilmu rekayasa hayati memang jarang terlihat keberadaannya secara
kasatmata. Namun ternyata, bidang ilmu tersebut membawa banyak manfaat bagi
masyarakat.
“Pada Februari 2017, kami menanam bambu sepanjang 300 meter di bantaran Sungai
Cijangkelok untuk pembuatan tanggul alami. Bambukami pilih karena tanaman ini
cocok dengan unsur tanah di sini dan dapat menahan erosi air sungai yang
meluap,” kata petugas pembuat komitmen (PPK) OP III BBWS Cimanuk Cisangarung, I
Gusti Ngurah Antariza.
Selain itu, Antariza juga menjelaskan, metode bioengineering ini dipilih untuk
mengembalikan fungsi vegetasi lahan sungai dan secara otomatis dapat
merestorasi agar tanggul sungai kembali hijau.
“Metode ini juga dipakai untuk meminimalkan dana. Proyek yang berjalan selama 3
bulan ini hanya menghabiskan dana APBN Rp 200 juta,” lanjut Antariza.
Saat ini, proyek bioengineering di Desa Citenjo sudah selesai 100 persen. Bambu
yang tertanam semakin rapat dan lebat sehingga diharapkan bisa menahan air
sungai yang meluap.
Menanggulangi tanah longsor
Selain bisa mengatasi masalah banjir di Desa Citenjo, Kabupaten Kuningan,
ternyata metode bioengineering bambu ini juga digunakan untuk menanggulangi
tanah longsor di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari, Kabupaten Brebes.
Pembangunan tanggul di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari, Kabupaten
Brebes saat dibangun.(BBWS Cimanuk Cisanggarung)
Pada awal tahun 2017, bantaran sungai yang juga berbatasan dengan jalan
antar-provinsi ini longsor sehingga jalan yang menghubungkan Provinsi Jawa
Barat dan Jawa Tengah terputus sementara.
Setelah jalan diperbaiki, BBWS Cimanuk Cisanggarung kembali menerapkan metode
bioengineering dengan tanaman bambu untuk menahan tanah yang longsor.
“Meski metode yang digunakan sama dengan yang di Kuningan, pembuatan tanggul di
sini melalui dua tahap. Pertama, pembangunan tanggul tepat di pinggir sungai.
Kedua, pembuatan tanggul di batas sungai dengan jalan raya,” ujar pelaksana
teknis PPK OP III BBWS Cimanuk Cisanggarung, Muhammad Cucu Sudiyan.
Untuk tanggul di pinggir sungai, konstruksi yang digunakan adalah pemasangan
batu dan karung berisi pasir serta penanaman cerucuk bambu di antaranya.
“Kemudian untuk tahap keduanya kami menanam bambu dengan jarak beberapa
sentimeter. Lalu pada jarak yang kosong tersebut, kami tanami rumput vetiver
(akar wangi) yang berfungsi untuk mencengkeram tanah sampai kedalaman 3 meter,”
tambah Sudiyan.
Selain itu, ditanami pula tumbuhan kaliandra yang berguna menyedot air dan
menahan butir-butir tanah yang tergerus. Terakhir, terdapat tanaman pandan laut
yang bisa menahan longsoran tanah.
Bambu yang sudah ditanami pandan laut, rumput vertiver, dan kaliandra
diharapkan dapat mengatasi tanah longsor di Kabupaten Brebes.(BBWS Cimanuk
Cisanggarung)
Proyek yang berjalan mulai Februari hingga April 2017 tersebut pun sudah
dirasakan manfaatnya pada musim hujan ini. Belum ada lagi tanah yang longsor.
Ke depannya, BBWS Cimanuk Cisanggarung menargetkan pembangunan lanjutan
sepanjang 500 meter di bantaran sungai tersebut sehingga cakupan area yang
terlindungi semakin banyak.
Ditjen SDA juga berharap bisa menerapkan metode bioengineering bambu ini di
seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan oleh
semua kalangan masyarakat.