Jaman dulu, banyak rumah gedeg dan tiangnya dari bambu.
Salah satu restaurant Hotel Mandira di Bali, di buat dari bambu.
Designernya orang dari luar negeri. Indah sekali.
Daun bambu dipakai pembungkus Bakcang dan kueh cang, Di
hari raya Pehtjoen banyak dimakan. Tunasnya, rebung, dipakai
untuk bikin lumpia goreng/basah, juga untuk sambel goreng pakai
santen. Juga sebagai komponen dari Lontong Cap Go Meh.
Di Belanda, kami bisa makan ini semua. Banyak orang bikin makanan
rumahan atau beli di toko2 Indonesia. Juga bisa pesan pada koki2
kedutaan besar Indonesia, yang buat pada hari2 liburnya.
Di Tiongkok jaman kuno pernah banjir besar. Seorang menteri berhasil
mengatasi banjir dengan menyuruh tanam satu keluarga 100 batang bambu,
di pegunungan yang tidak boleh dipotong, sebelum tunas2nya jadi bambu
besar.
Bambu selain akarnya dapat mengikat tanah dengan kuat, juga menarik air
ke dalam batang bambu waktu musim hujan, dan melepaskan airnya
perlahan di musim kemarau.
Bambu juga ditanam di tepi sungai untuk menahan erosi. Di Indonsia ternyata
orang pinter dengan tanam akar wangi di antaranya untuk tahan erosi,
yang akarnya bisa masuk jauh ke dalam tanah. Akar wangi bisa disuling.
Minyak akar wangi, minyak etheris, termasuk minyak mahal.
Di Tiongkok dulu orang tanam telo rambat yang diimport, karena hasilnya
tinggi sekali.
Dengan ini kelaparan di Tiongkok dapat diatasi. Kemudian orang tanam ini
sampai
di lereng2 gunung. Waktu hujan terjadi banjir besar, beserta lumpur, terjadi
malaptaka besar di Tiongkok.
Jadi, yang baik ditanam di tanah datar, bisa mendatangkan celaka besar
kalau
ditanam di lereng2 gunung, kalau tak dapat menahan air, dan kalau akarnya
tidak
dapat mengikat tanah dengan kuat.
Untung waktu ada usaha orang menanam kentang di Dieng, anak yang
mengingatkan
bahayanya.

2017-11-23 7:09 GMT+01:00 'Karma, I Nengah [PT. BI-POS]'
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>:

>
>
> Bambu memang banyak sekali fungsinya, disamping untuk alat musik seperti
> seruling, gamelan dll, bambu juga bisa untuk gedek rumah, kaso rumah dll.
>
> Belanda sangat sulit masuk kebali karena benteng bali utara dipenuhi pohon
> bambu sehingga belanda hanya bisa masuk bali di tahun 1906, setelah akal
> licik belanda dengan melempar uang logam perak ke benteng-benteng bambu ini
> maka rakyat bali ramai-ramai menebang pohon bambu tersebut.
>
> Univesitas mulawarman baru baru ini membuat kayu dari bambu sehingga
> penggunaan kayu bisa diperkecil.
>
> Bambu muda yang disebut rebung bisa digunakan untuk sayur, daun bambu
> dibali dipakai membungkus kue.
>
> Daun bambu juga bisa digunakan untuk obat asam urat, kadang didalam bambu
> ada sejenis kristal yang bisa digunakan untuk obat luka.
>
>
>
>
>
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]]
> *Sent:* Thursday, November 23, 2017 1:52 PM
> *To:* Yahoo! Inc. <[email protected]>; Jaringan
> Kerja Indonesia <[email protected]>; Gelora 45 <
> [email protected]>; Sastra Pembebasan <sastra-pembebasan@
> yahoogroups.com>; Yahoo! Inc. <[email protected]>; Yahoo!
> Inc. <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD <
> [email protected]>
> *Subject:* [**EXTERNAL**] Fw: [GELORA45] Bambu
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ----- Pesan yang Diteruskan -----
>
> *Dari:* kh djie [email protected] [GELORA45] <[email protected]>
>
> *Kepada:* Gelora45 <[email protected]>; [email protected] <
> [email protected]>
>
> *Terkirim:* Rabu, 22 November 2017 15.36.08 GMT+1
>
> *Judul:* [GELORA45] Bambu
>
>
>
>
>
>
>
>
> Ketika Teknologi Bambu Bisa Atasi Banjir dan Tanah Longsor...
>
> *ALEK KURNIAWAN*
>
> Kompas.com - 22/11/2017, 09:07 WIB
>
>
>
>
>
> [image: Bambu digunakan sebagai tanggul untuk mengatasi masalah banjir di
> Sungai Cijangkelok, Kabupaten Kuningan.]
>
> Bambu digunakan sebagai tanggul untuk mengatasi masalah banjir di Sungai
> Cijangkelok, Kabupaten Kuningan.(Alek Kurniawan)
>
> *KOMPAS.com* - Sudah sejak lama masyarakat di KabupatenKuningan
> <http://indeks.kompas.com/tag/Kuningan> tepatnya di bantaran Sungai
> Cijangkelok di Desa Citenjo merasa khawatir ketika musim hujan datang.
>
> Hal ini diakibatkan oleh bencana banjir
> <http://indeks.kompas.com/tag/banjir> yang kerap melanda daerah tersebut.
> Salah satu bencana yang masih terkenang dalam ingatan warga adalah banjir
> pada Januari 2017.
>
> “Saya masih ingat waktu itu 22 Januari 2017 pukul 12.00 siang. Hujan turun
> sangat lebat. Pukul 02.00 pagi hujan reda, pukul 04.00 pagi hujan lebat
> turun lagi. Hujan berlangsung 3-4 jam,” ujar petugas Operasi dan
> Pemeliharaan Daerah Aliran Sungai (OP DAS) Cisanggarung, Kuningan, untuk
> Sungai Cijangkelok, Yayat Sudiyatna.
>
> Yayat juga menjelaskan, pada sore harinya, permukaan air sungai mulai
> meluap dan luber sampai ke permukiman warga.
>
> “Air banjir ini mencapai satu meter dan menggenangi tujuh desa. Desa
> Citenjo merupakan yang terparah,” tambah pria yang bekerja memantau proyek 
> *bioengineering
> <http://indeks.kompas.com/tag/bioengineering>* di bantaran Sungai
> Cijangkelok ini.
>
> Melihat kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA)
> Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar
> Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung memberikan perhatian khusus
> terhadap Desa Citenjo.
>
> Sebulan berikutnya, yakni pada Februari 2017, dibangunlah tanggul oleh
> BBWS Cimanuk Cisanggarung yang bekerja sama dengan masyarakat setempat
> untuk mencegah banjir susulan.
>
> Yang dibangun ini bukanlah tanggul pada umumnya, melainkan tanggul yang
> terbuat dari bambu <http://indeks.kompas.com/tag/bambu> dengan metode
> *bioengineering*.
>
> [image: Bambu yang ditanam ini berfungsi untuk menahan air sungai yang
> meluap dan menyebabkan banjir di Desa Citenjo, Kab. Kuningan, Rabu
> (15/11/2017).]
>
> Bambu yang ditanam ini berfungsi untuk menahan air sungai yang meluap dan
> menyebabkan banjir di Desa Citenjo, Kab. Kuningan, Rabu (15/11/2017).(Alek
> Kurniawan)
>
> Dalam bahasa Indonesia, *bioengineering* dapat diartikan menjadi rekayasa
> hayati.
>
> Melansir laman Institut Teknologi Bandung (ITB), Senin (20/11/2017),
> rekayasa hayati merupakan disiplin ilmu yang diaplikasikan dalam
> perekayasaan berbasis biosistem (gabungan ilmu biologi, lingkungan, dan
> pertanian) untuk meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat biosistem itu
> sendiri.
>
> Pengaplikasian ilmu rekayasa hayati memang jarang terlihat keberadaannya
> secara kasatmata. Namun ternyata, bidang ilmu tersebut membawa banyak
> manfaat bagi masyarakat.
>
> “Pada Februari 2017, kami menanam bambu sepanjang 300 meter di bantaran
> Sungai Cijangkelok untuk pembuatan tanggul alami. Bambu
> <http://indeks.kompas.com/tag/bambu>kami pilih karena tanaman ini cocok
> dengan unsur tanah di sini dan dapat menahan erosi air sungai yang meluap,”
> kata petugas pembuat komitmen (PPK) OP III BBWS Cimanuk Cisangarung, I
> Gusti Ngurah Antariza.
>
> Selain itu, Antariza juga menjelaskan, metode *bioengineering *ini
> dipilih untuk mengembalikan fungsi vegetasi lahan sungai dan secara
> otomatis dapat merestorasi agar tanggul sungai kembali hijau.
>
> “Metode ini juga dipakai untuk meminimalkan dana. Proyek yang berjalan
> selama 3 bulan ini hanya menghabiskan dana APBN Rp 200 juta,” lanjut
> Antariza.
>
> Saat ini, proyek *bioengineering* di Desa Citenjo sudah selesai 100
> persen. Bambu yang tertanam semakin rapat dan lebat sehingga diharapkan
> bisa menahan air sungai yang meluap.
>
> *Menanggulangi tanah longsor <http://indeks.kompas.com/tag/tanah-longsor>*
>
> Selain bisa mengatasi masalah banjir di Desa Citenjo, Kabupaten Kuningan,
> ternyata metode *bioengineering* bambu ini juga digunakan untuk
> menanggulangi tanah longsor di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari,
> Kabupaten Brebes <http://indeks.kompas.com/tag/Brebes>.
>
> [image: Pembangunan tanggul di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari,
> Kabupaten Brebes saat dibangun.]
>
> Pembangunan tanggul di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari, Kabupaten
> Brebes saat dibangun.(BBWS Cimanuk Cisanggarung)
>
> Pada awal tahun 2017, bantaran sungai yang juga berbatasan dengan jalan
> antar-provinsi ini longsor sehingga jalan yang menghubungkan Provinsi Jawa
> Barat dan Jawa Tengah terputus sementara.
>
> Setelah jalan diperbaiki, BBWS Cimanuk Cisanggarung kembali menerapkan
> metode *bioengineering* dengan tanaman bambu untuk menahan tanah yang
> longsor.
>
> “Meski metode yang digunakan sama dengan yang di Kuningan, pembuatan
> tanggul di sini melalui dua tahap. Pertama, pembangunan tanggul tepat di
> pinggir sungai. Kedua, pembuatan tanggul di batas sungai dengan jalan
> raya,” ujar pelaksana teknis PPK OP III BBWS Cimanuk Cisanggarung, Muhammad
> Cucu Sudiyan.
>
> Untuk tanggul di pinggir sungai, konstruksi yang digunakan adalah
> pemasangan batu dan karung berisi pasir serta penanaman cerucuk bambu di
> antaranya.
>
> “Kemudian untuk tahap keduanya kami menanam bambu dengan jarak beberapa
> sentimeter. Lalu pada jarak yang kosong tersebut, kami tanami rumput
> vetiver (akar wangi) yang berfungsi untuk mencengkeram tanah sampai
> kedalaman 3 meter,” tambah Sudiyan.
>
> Selain itu, ditanami pula tumbuhan kaliandra yang berguna menyedot air dan
> menahan butir-butir tanah yang tergerus. Terakhir, terdapat tanaman pandan
> laut yang bisa menahan longsoran tanah.
>
> [image: Bambu yang sudah ditanami pandan laut, rumput vertiver, dan
> kaliandra diharapkan dapat mengatasi tanah longsor di Kabupaten Brebes.]
>
> Bambu yang sudah ditanami pandan laut, rumput vertiver, dan kaliandra
> diharapkan dapat mengatasi tanah longsor di Kabupaten Brebes.(BBWS
> Cimanuk Cisanggarung)
>
> Proyek yang berjalan mulai Februari hingga April 2017 tersebut pun sudah
> dirasakan manfaatnya pada musim hujan ini. Belum ada lagi tanah yang
> longsor.
>
> Ke depannya, BBWS Cimanuk Cisanggarung menargetkan pembangunan lanjutan
> sepanjang 500 meter di bantaran sungai tersebut sehingga cakupan area yang
> terlindungi semakin banyak.
>
> Ditjen SDA juga berharap bisa menerapkan metode *bioengineering* bambu
> ini di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, manfaatnya dapat
> dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.
>
> 
>

Kirim email ke