*Jumlah penduduk NKRI pada tahun 2016 adalah 260,1, dari jumlah ini
terdapat 35% yang miskin*.* Mengapa masih banyak orang miskin sekalipun
sudah 72 tahun merdeka dengan rahmat Tuhan?*


http://www.sinarharapan.co/news/read/1712058883/35-penduduk-masih-miskin-dan-rentan



35% PENDUDUK MASIH MISKIN DAN RENTAN

*LAJU PENGENTASAN KEMISKINAN MELAMBAT BEBERAPA TAHUN TERAKHIR*

05 Desember 2017 09:14 BC <http://www.sinarharapan.co/news/author/BC> OPINI
<http://www.sinarharapan.co/news/tajuk/opini> dibaca: 448


inShare

istimewa /

JAKARTA--Laporan terbaru Bank Dunia menyatakan saat ini terdapat 35 persen
penduduk yang masih miskin dan rentan jatuh miskin, yang membutuhkan
perhatian pemerintah agar mampu keluar dari kemiskinan.

Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves di Jakarta,
Senin (4/12) mengatakan Indonesia membutuhkan pertumbuhan kelas menengah
yang lebih besar untuk membantu percepatan pertumbuhan konsumsi dan
mendukung terciptanya tata kelola yang lebih memadai. Laporan Bank Dunia
memperlihatkan sebanyak 45 persen penduduk di Indonesia saat ini merupakan
kelompok yang ingin menjadi kelas menengah.

Ciri dari kelompok ini adalah mereka tidak lagi miskin, namun rentan untuk
jatuh miskin. Kelompok ini belum mencapai tingkat kemapanan ekonomi dan
belum memiliki gaya hidup kelas menengah. Upaya yang dapat dilakukan untuk
mendorong jutaan penduduk Indonesia masuk ke kelas menengah adalah dengan
menyediakan lapangan pekerjaan yang bisa memberikan pendapatan kelas
menengah.

Laporan terbaru Bank Dunia menegaskan perlunya kebijakan baru yang
dibutuhkan bagi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk mencapai
pertumbuhan inklusif yang bermanfaat guna mengurangi kemiskinan dan
menyediakan ruang untuk kemapanan ekonomi. "Agar kawasan ini dapat
mempertahankan pertumbuhan inklusif, perlu tantangan untuk menghilangkan
kemiskinan ekstrem sepenuhnya, meningkatkan prospek pergerakan ekonomi dan
menjamin kemapanan ekonomi," ujar Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia
Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa dalam keterangannya yang diterima di
Jakarta, Senin (4/12/2017).

Laporan berjudul "Riding The Wave: An East Asian Miracle for the 21st
Century" menyebutkan saat ini proporsi masyarakat miskin yang ekstrem dan
moderat telah menurun drastis, namun individu yang rentan miskin tidak
berubah antara 2002 hingga 2015, yaitu seperempat dari total penduduk di
kawasan ini. Untuk itu, perlu adanya kebijakan guna mendukung pertumbuhan
inklusif agar dapat mengatasi berbagai kendala yang dihadapi oleh berbagai
kelas ekonomi yang berbeda.

Kebijakan bagi penduduk miskin ekstrem diperlukan untuk mengurangi hambatan
terhadap peluang ekonomi serta mempertahankan pertumbuhan secara luas, yang
dapat membantu mereka meningkatkan pendapatan. Selain itu, akses layanan
seperti kesehatan dan infrastruktur serta mekanisme untuk mengelola risiko,
juga harus diperbaiki untuk membantu masyarakat yang rentan secara ekonomi.

Beberapa waktu lalu Rodrigo Chaves menilai selama dekade terakhir,
Indonesia telah mampu mengurangi tingkat angka kemiskinan dari 16,6% di
2007 menjadi 10,6% pada awal 2017. "Ini merupakan suatu pencapaian
mengesankan yang perlu dirayakan,” katanya.

Namun, kata Chaves, baru-baru ini tingkat pengentasan kemiskinan telah
melambat. Ditambah lagi, kesenjangan pendapatan yang tinggi masih menjadi
tantangan besar. Oleh karena itu, pengentasan kemiskinan lebih lanjut serta
peningkatan kesetaraan sosial memerlukan upaya yang
berkelanjutan–pembelanjaan yang lebih besar dan lebih baik, serta
perbaikan-perbaikan lebih lanjut dalam efektivitas program-program
pemerintah.

Lebih lanjut dikatakan bahwa rata-rata tahunan tingkat pengentasan
kemiskinan turun dari 1,2 poin persentase antara tahun 2007 dan 2010,
menjadi hanya 0,5 poin persentase antara tahun 2011 dan 2014. Dari tahun
2014 sampai 2016, pengentasan kemiskinan berlanjut pada tingkat yang sama
lambatnya, turun hanya 0,7 poin persentase, menjadi 10,6% pada September
2016.

"Alasan utama untuk melambatnya laju pengentasan kemiskinan ini adalah
bahwa mereka yang hidup dalam kemiskinan semakin terpuruk dan menjauh dari
garis kemiskinan sehingga memerlukan usaha yang lebih. Terlebih lagi, 24%
penduduk Indonesia yang hidup di antara garis kemiskinan dan 1,5 kali garis
kemiskinan masih sangat rentan untuk kembali jatuh miskin jika mereka
mengalami guncangan, seperti terkena penyakit, bencana alam, atau gangguan
lainnya terhadap pendapatan dan mata pencaharian sehari-hari mereka,"
pungkasnya.

Dengan demikian, maka pemerintah masih harus bekerja keras untuk menangani
kemiskinan di negeri ini. Pemerintah hendaknya tidak terpaku pada angka
penduduk miskin yang tinggal 10,6%, melainkan juga mereka yang rentan
miskin yang masih 24%. Sebab, angka 10,6% itu diperoleh dari standar
pengukuran angka kemiskinan yang sangat rendah, di bawah standar Bank
Dunia. Seperti diketahui, menurut ukuran Bank Dunia, warga miskin adalah
mereka yang pengeluarannya di bawah US$2 per hari, sedangkan pemerintah
menggunakan ukuran Rp 220.000 sebulan atau di bawah Rp 10.000 sehari.

Kita perlu jujur pada diri sendiri. Tidak masanya lagi kita menipu diri
dengan klaim-klaim yang tidak berdasarkan fakta riel. Sebab rakyat tak lagi
bodoh, apalagi bisa dibodohi terus menerus.

Kirim email ke