Seandainya saja, sekali lagi seandainya saja Pemerintah yang berkuasa 
BENAR-BENAR pengabdi RAKYAT yang baik, bagi kondisi alam, SDA yang begitu KAYA, 
... sungguh TIDAK masuk akal sudah MERDEKA lebih 72th masih juga 35% rakyat nya 
tergolong MISKIN! Itu kalau kita bandingkan dengan negara-negara tetangga, 
katakanlah dengan Singapore, negara begitu kecil wilayahnya dan tidak ada 
apa2nya, tapi berhasil bangun masyarakat yg makmur! Dan kalau kita bandingkan 
Indonesia dengan Tiongkok yang bermula dengan kondisi masyarakat sangat miskin 
dimasa PD-II berakhir, saya bisa menyatakan kondisi kemiskinan RAKYAT Tiongkok 
yang menghadapi masa perang puluhan tahun tentu jauh, jauh lebih PARAH 
ketimbang Indonesia, ... Namun dalam 30 th terakhir ini, nampak jelas Tiongkok 
berhasil mengejar ketertinggalan dan membangun masyarakat sedikit makmur, 
mereka berani menargetkan dalam 3 tahun mendatang ini, tahun 2020 menyelesaikan 
40 juta rakyatnya yg masih kategori miskin, menjadi masyarakat Tiongkok yang 
BEBAS dari KEMISKINAN! Bahkan Presiden Xi sesumbar menegaskan, seorang warga 
pun TIDAK BOLEH tertinggal dalam kemiskinan, ...!  Mari kita saksikan bersama, 
tahun 2020 nanti sampai dimana RRT berhasil membangun masyarakat yang dikatakan 
SOSIALISME berkarakter Tiongkok itu!

Itu kalau kita lihat dari sudut PEMERINTAH, tapi dari sudut pandang RAKYAT nya 
sendiri, saya terkadang berpikir, setelah mengikuti banyak kisah bagaimana 
desa-desa miskin yg terlebakang di banyak wilayah TIongkok berubah menjadi 
desa-makimur. Tentu masalah UTAMA adalah KETIDAK BERDAYAAN! Disamping mereka 
tidak ada DANA untuk memperbaiki diri, tapi kita juga bisa melihat ketidak 
berdayaan itu karena kurangnya “PENGETAHUAN”, “KEAHLIAN, SKILL”, ... untuk 
menggunakan kondisi yg ada merubah/memperbaiki kehidupan. Coba ada orang yang 
bisa memberikan pengarahan dan bimbingan yg baik, tentunya bisa merubah kondisi 
kemiskinan mereka itu, ... apalagi bagi kondisi alam Indonesia yang jauh lebih 
menguntungkan, dan sekarang bisa mendapatkan bantuan, kepedulian pemerintah 
Jokowi yang keluarkan sertificate tanah bagi petani penggarap tanah, dengan 
dana bantuan Desa. Artinya, bagi warga TANI, NELAYAN yang sedikit saja 
mempunyai pengetahuan bercocok-tanam dan penangkapan ikan, ... PASTI bisa 
tumbuh berkembang dengan baik. Setidaknya tidak sampai kelaparan apalagi kurang 
gizi! Mudah-mudahan saja bisa jadi, ...


Salam,
ChanCT


From: kh djie 
Sent: Friday, December 8, 2017 9:10 AM
To: Gelora45 ; Chan CT 
Subject: Re: Fw: [GELORA45] 35% PENDUDUK MASIH MISKIN DAN RENTAN

Sehabis perang, dan ada kedamaian, negeri yang tadinya agak makmur sering jatuh 
ke kemiskinan,
karena dalam keadaan damai, rakyatnya merasa kemakmuran mulai kembali, lalu 
berani punya anak banyak.
Tetapi karena tanah pertanian terbatas, dan pemerintahnya tidak cepat 
menggunakan teknik pertanian baru
seperti bibit unggul, perbaikan teknik menanam, pemakaian pupuk, pembangunan 
pabrik pupuk, irrigasi,
pembangunan waduk, saluran irrigasi, petani jadi jatuh miskin.

2017-12-08 1:46 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

    



  From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
  Sent: Friday, December 8, 2017 7:55 AM

    

  Jumlah penduduk NKRI pada tahun 2016 adalah 260,1, dari jumlah ini terdapat 
35% yang miskin. Mengapa masih banyak orang miskin sekalipun sudah 72 tahun 
merdeka dengan rahmat Tuhan?



  
http://www.sinarharapan.co/news/read/1712058883/35-penduduk-masih-miskin-dan-rentan





  35% PENDUDUK MASIH MISKIN DAN RENTAN
  LAJU PENGENTASAN KEMISKINAN MELAMBAT BEBERAPA TAHUN TERAKHIR

  05 Desember 2017 09:14 BC OPINI dibaca: 448 



  inShare  

   

  istimewa / 

  JAKARTA--Laporan terbaru Bank Dunia menyatakan saat ini terdapat 35 persen 
penduduk yang masih miskin dan rentan jatuh miskin, yang membutuhkan perhatian 
pemerintah agar mampu keluar dari kemiskinan. 

  Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves di Jakarta, Senin 
(4/12) mengatakan Indonesia membutuhkan pertumbuhan kelas menengah yang lebih 
besar untuk membantu percepatan pertumbuhan konsumsi dan mendukung terciptanya 
tata kelola yang lebih memadai. Laporan Bank Dunia memperlihatkan sebanyak 45 
persen penduduk di Indonesia saat ini merupakan kelompok yang ingin menjadi 
kelas menengah. 

  Ciri dari kelompok ini adalah mereka tidak lagi miskin, namun rentan untuk 
jatuh miskin. Kelompok ini belum mencapai tingkat kemapanan ekonomi dan belum 
memiliki gaya hidup kelas menengah. Upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong 
jutaan penduduk Indonesia masuk ke kelas menengah adalah dengan menyediakan 
lapangan pekerjaan yang bisa memberikan pendapatan kelas menengah. 

  Laporan terbaru Bank Dunia menegaskan perlunya kebijakan baru yang dibutuhkan 
bagi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk mencapai pertumbuhan 
inklusif yang bermanfaat guna mengurangi kemiskinan dan menyediakan ruang untuk 
kemapanan ekonomi. "Agar kawasan ini dapat mempertahankan pertumbuhan inklusif, 
perlu tantangan untuk menghilangkan kemiskinan ekstrem sepenuhnya, meningkatkan 
prospek pergerakan ekonomi dan menjamin kemapanan ekonomi," ujar Wakil Presiden 
Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa dalam keterangannya 
yang diterima di Jakarta, Senin (4/12/2017). 

  Laporan berjudul "Riding The Wave: An East Asian Miracle for the 21st 
Century" menyebutkan saat ini proporsi masyarakat miskin yang ekstrem dan 
moderat telah menurun drastis, namun individu yang rentan miskin tidak berubah 
antara 2002 hingga 2015, yaitu seperempat dari total penduduk di kawasan ini. 
Untuk itu, perlu adanya kebijakan guna mendukung pertumbuhan inklusif agar 
dapat mengatasi berbagai kendala yang dihadapi oleh berbagai kelas ekonomi yang 
berbeda. 

  Kebijakan bagi penduduk miskin ekstrem diperlukan untuk mengurangi hambatan 
terhadap peluang ekonomi serta mempertahankan pertumbuhan secara luas, yang 
dapat membantu mereka meningkatkan pendapatan. Selain itu, akses layanan 
seperti kesehatan dan infrastruktur serta mekanisme untuk mengelola risiko, 
juga harus diperbaiki untuk membantu masyarakat yang rentan secara ekonomi. 

  Beberapa waktu lalu Rodrigo Chaves menilai selama dekade terakhir, Indonesia 
telah mampu mengurangi tingkat angka kemiskinan dari 16,6% di 2007 menjadi 
10,6% pada awal 2017. "Ini merupakan suatu pencapaian mengesankan yang perlu 
dirayakan,” katanya. 

  Namun, kata Chaves, baru-baru ini tingkat pengentasan kemiskinan telah 
melambat. Ditambah lagi, kesenjangan pendapatan yang tinggi masih menjadi 
tantangan besar. Oleh karena itu, pengentasan kemiskinan lebih lanjut serta 
peningkatan kesetaraan sosial memerlukan upaya yang berkelanjutan–pembelanjaan 
yang lebih besar dan lebih baik, serta perbaikan-perbaikan lebih lanjut dalam 
efektivitas program-program pemerintah. 

  Lebih lanjut dikatakan bahwa rata-rata tahunan tingkat pengentasan kemiskinan 
turun dari 1,2 poin persentase antara tahun 2007 dan 2010, menjadi hanya 0,5 
poin persentase antara tahun 2011 dan 2014. Dari tahun 2014 sampai 2016, 
pengentasan kemiskinan berlanjut pada tingkat yang sama lambatnya, turun hanya 
0,7 poin persentase, menjadi 10,6% pada September 2016. 

  "Alasan utama untuk melambatnya laju pengentasan kemiskinan ini adalah bahwa 
mereka yang hidup dalam kemiskinan semakin terpuruk dan menjauh dari garis 
kemiskinan sehingga memerlukan usaha yang lebih. Terlebih lagi, 24% penduduk 
Indonesia yang hidup di antara garis kemiskinan dan 1,5 kali garis kemiskinan 
masih sangat rentan untuk kembali jatuh miskin jika mereka mengalami guncangan, 
seperti terkena penyakit, bencana alam, atau gangguan lainnya terhadap 
pendapatan dan mata pencaharian sehari-hari mereka," pungkasnya. 

  Dengan demikian, maka pemerintah masih harus bekerja keras untuk menangani 
kemiskinan di negeri ini. Pemerintah hendaknya tidak terpaku pada angka 
penduduk miskin yang tinggal 10,6%, melainkan juga mereka yang rentan miskin 
yang masih 24%. Sebab, angka 10,6% itu diperoleh dari standar pengukuran angka 
kemiskinan yang sangat rendah, di bawah standar Bank Dunia. Seperti diketahui, 
menurut ukuran Bank Dunia, warga miskin adalah mereka yang pengeluarannya di 
bawah US$2 per hari, sedangkan pemerintah menggunakan ukuran Rp 220.000 sebulan 
atau di bawah Rp 10.000 sehari. 

  Kita perlu jujur pada diri sendiri. Tidak masanya lagi kita menipu diri 
dengan klaim-klaim yang tidak berdasarkan fakta riel. Sebab rakyat tak lagi 
bodoh, apalagi bisa dibodohi terus menerus.  




  

Kirim email ke