Kalau boleh saya koreksi sedikit, ya. Film ini dibuat sebelum FBKP meledak, 
diawal tahun 1960an, yang meengkisahkan perjuangan dimana dan bagaimana 
mendiririkan Sekolah Universitas Komunis. Karena ingat saya, dimasa RBKP hanya 
ada 6 opera/film sebagai teladan kesenian Proletar, diluar 6 teladan itu TIDAK 
ada yang lain! Begitu ketentuan Jiang Qing yang sangat radikal, ... jadi selama 
10 tahun masa RBKP rakyat Tiongkok hanya bisa melihat ke-6 opera/film teladan 
itu saja.

Saya malah lebih tertarik dengan semangat memadukan teori dengan praktek yang 
ditekankan dalam film ini, ... begitulah Ketua Mao begitu juga Deng! Kisah 
mendirikan sekolah Komunisme itu hendak dibangun dimana, siapa muridnya dan 
bagaimana penekanannya memadukan teori dengan praktek, sesuai kehidupan didesa 
yang dihadapi tani-miskin, ... dalam produksi? 

Hanya saja sayang pertarungan sengit antara pemikiran lama, feodal/borjuis 
dengan pemikiran proletar dibenturkan menjadi perjuangan 2 garis, 2 jalan yang 
kemudian tidak terdamaikan! Padahal kalau berdasarkan ajaran Ketua Mao, 
seharusnya lebih menekankan PENDIDIKAN dalam mengubah pemikiran ideologi orang, 
tidak dilabrak saja deengan terus ditingkatkan menjadi RBKP yg akhirnya terlalu 
banyak KORBAN, ... Tidak perlu begitu!

Salam,
ChanCT

From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, January 8, 2018 8:32 PM
To: GELORA_In 
Subject: [GELORA45] Fw: [temu_eropa] nonton film!

  




On Friday, January 5, 2018 6:10 PM, "Tatiana Lukman [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:




  

Film ini dibuat selama berlangsung RBKP yang oleh pimpinan PKT revisionis dalam 
dokumen resminya dicap sebagai kesalahan Mao. Mereka yang dengan jujur 
mempelajari dokumen-dokumen PKT yang dikeluarkan selama RBKP, apalagi mereka 
yang pernah tinggal di Tkk, pasti akan bisa mengenali masalah yang menjadi tema 
film ini. Dalam film ini, misalnya, tercermin dengan jelas politik pembang unan 
sosialis Mao dalam bidang pendidikan. Dalam RBKP diterapkan secara masif 
perpaduan antara belajar dan bekerja (ban gong ban tu), ujian masuk dihapus dan 
prioritas diberikan kepada anak-anak kaum tani dan kaum buruh, dipropagandakan 
agar anak-anak kaum tani , setelah tamat universitas, balik ke kampungnya, 
bukannya menjadi intelektual dan tinggal di kota. Banyak sekolah dibangun di 
pedesaan. Begitulah antara lain, cara Mao mengatasi kontradiksi dan perbedaan 
tingkat kebudayaan dan tingkat hidup antara kota dan desa. Bertolak belakang 
dengan politik kapitalis Deng yang mengakibatkan petani meninggalkan desanya 
(karena pertanian diabaikan) untuk menjadi buruh migran di pabrik-pabrik yang 
dibangun di kota dan daerah-daerah ekonomi khusus.

Breaking With Old Ideas


                        
                 
           
                    Breaking With Old Ideas
                  One of the most controversial dramatic films produced in 
China during the cultural revolution, "Breaking&qu...  
           
     


Dalam film tercermin ide-ide revisionis yang menentang ban gong ban tu, 
menentang masuknya anak-anak kaum tani ke pendidikan tingkat atas. Ukuran atau 
parameter yang digunakan selama RBKP untuk menerima siswa adalah faktor 
ideologi dan politik, partisipasi dalam produksi dan pembangunan sosialis, 
bukan angka-angka atau diploma.

Dalam film ini juga tercermin perjuangan dua garis dalam pertanian, perjuangan 
melawan ide-ide revisionis/kapitalis Liu-Deng yang menganjurkan kembalinya 
tanah menjadi milik perorangan (berarti meremehkan semangat kolektif-komune 
rakyat), kepemilikan tanah berdasarkan keluarga....







Kirim email ke