Yang main FITNAH,dan main PEMUTARBLIKAN masalah itu siapa sesungguhnya??? 
Justru nenek dalam tempurung ini!!!

Sekarang coba kita masuki isi film “Patah Arang”, kalau boleh diterjemahkan 
begitu, yang kamu ajukan itu. Jelas-jelas menunjukkan keharusan PEMADUAN teori 
dengan praktek. Itulah penekanan Ketua Mao dan begitu juga yang ditekankan 
Deng! Dan, ... kenyataan begitulah pim pinan PKT sampai sekarang ini menganggap 
apa yang dijalankan Ketua Mao yang dimulai melawan penjajah Jepang, mengalahkan 
KMT dan kemudian pembangunan setelah RRT terbentuk, BERLANJUT dengan PERUBAHAN 
yang terjadi setelah Deng dan piimpinan PKT berikut sampai sekarang, adalah 
proses berkesinambungan yang tidak bisa diputus-putus, apalagi dipertentangkan! 
KEBERHASILAN yang dicapai masa Ketua Mao itulah DASAR atau landasan kuat yang 
digunakan Deng untuk membawa RRT maju lebih CEPAT sekarang ini! Tanpa ada 
landasan kuat itu tidak mungkin Deng bisa melancarkan politik Reformasi dan 
Keterbukaan. Mao dan Deng dinilai oleh RAKYAT Tiongkok sebagai pemimpin besar 
nya, Pemimpin BESAR RAKYAT Tiongkok! Kamu saja yang masih mempertentangkan Mao 
dengan Deng! Padahal darimana kamu dapatkan HAK menilai pemimpin RAKYAT 
Tiongkok? Sedikitpun kamu TIDAK BERHAK!

Pertarungan ideoloogi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sudah 
seharusnya dilakukan dengan menekankan PENDIDIKAN ideologi secara baik-baik, 
... Bukan dan TIDAK MESTI dibenturkan menjadi perjuangan klas, perjuangan 2 
garis yang TIDAK TERDAMAIKAN seperti yang dijalankan masa RBKP, ... inilah 
KESALAHAN yang terjadi dimasa RBKP dan HARUS DIKOREKSI! Jangan biarkan korban 
jatuh tak terkendalikan, terlalu luas dan terlalu banyak! Untuk mencapai 
TUJUAN, memenangkan ideologi proletar dalam melawan edologi feodal/borjuis, 
.... saya perhatikan dalam buuuaaanyak hal dan fakta yang terjadi dalam kisah 
pengalaman perjuangan selama ini, termasuk kisah yg terjadi dalam film “Patah 
Arang” masih bisa diperbaiki pelaksanaan pendidikan ideologi dengan tidak harus 
main gempur dan GANYANG saja! 

Satu contoh yang terakhir ini menjadi bahan pembicaraan, seorang tokoh GARDA 
MERAH, Wang Bin Bin, anak seorang kader tinggi ketika itu, menjadi PELOPOR 
paling garang mengganyang kepala sekolah yang dituduh menempuh Jalan 
Kapitalisme. Tidak tanggung-tanggung, dia ganti nama menjadi Wang Yao Wu ( 王要武 
= Raja Mau Perjuta, karena ketika itu hangat menyerukan perjuangan bersenjata 
), sehingga dirapat-rapat pengganyangan terhadap kepala sekolah nya, dilakukan 
penyiksaan, pemukulan yang berlebihan sampai kepala sekolah itu TEWAS! 
Begitulah sat itu Wang menjadi pelopor KEKERASAN dalam mengganyang tokoh yang 
dituduh penempuh jalan kapitalis!

Tapi, setelah selesai masa RBKP, masih diawal memasuki masa 
Reformasi-Keterbukaan, Wang justru kembali menjadi PELOPOR imigarasi! Kemana 
dia berimigrasi? Dedengkot kapitalisme/imperialisme yang dia ganyang dimasa 
RBKP itu, .... Amerika! Lalu, ditahun 96 Wang kembali menjadi PELOPOR minta 
MAAF pada KORBAN kekerasan RBKP! Kalau tidak cepat minta maaf, dosa kesalahan 
ini tidak bisa diampuni keluarga korban, ... begitu, kata Wang! Dia perlukan 
dari AS datang kembali kesekolah asal di Beijing, untuk mengikuti upacara 
rehabilitasi kepala sekolah yang diganyang masa RBKP itu dan dia maju kedepan 
minta maaf, ...! Tapi, keluarga korban TIDAK BISA menerima maaf yg diajukan 
Wang ini, biarlah dosa kekejaman yang dilakukan dahulu itu dipikul menjadi 
beban hidupnya, tidak bisa diselesaikan hanya dengan ucapan maaf begitu saja! 
Itulah KESALAHAN FATAL, melakukan kekejaman sampai membunuh orang yang tidak 
berdosa, ... yang mati tidak bisa dihidupkan kembali. Yang berbuat KESALAHAN 
MEMBUNUH orang jadi harus memikul dosa itu seumur hidup!

Tentu, mengajukan contoh Wang Bin Bin ini, tidak berarti saya hendak bilang 
begitulah watak/karakter pemuda-pemudi Garda Merah pada umumnya! TIDAK! Saya 
hendak menyatakan, bahwa melihat watak manusia TIDAK bisa dilihat gerak sesaat 
saja, ... BUKAN makin radikal makin menunjukkan kehebatan dia, tapi justru 
harus lebih berhati-hati terhadap orang macam itu! Dengan pemikiran yang 
ekstrim menunjukkan dirinya yang PALING heeiiibat, PELOPOR disetiap masa, ... 
tanpa pedulikan KORBAN yang terjadi akibat sikapnya itu! Serampaaangan seperti 
kamu itu.

Begitu juga kalau kita perhatikan dalam kisah film “Patah Arang” dibawah, jelas 
terjadi perjuangan pendapat sekolah macam apa yang akan didirikan, ... 
meneruskan garis lama yang feodal/borjuis atau garis baru proletar yang 
dibawakan kepala sekolah baru yang diutus bung Long itu. Setelah dia berhasil 
merubah menerima anak-anak tani-miskin sekalipun baru menerima pendidikan SR 
1-2 tahun, TETAP berhak dan bisa jadi murid, kemudian masuki perubahan cara 
mengajar/mendidik murid sekolah, dengan memadukan kebutuhan konkrit kehidupan 
di desa itu. Dan, ... disitu juga dikisahkan akhirnya Guru-Liu, yang 
mengajarkan biologi diklas, semula hanya mengajarkan KUDA, setelah diprotes 
muridnya selama hidupnya belum pernah melihat kuda, kenapa tidak mengajarkan 
sapi dan babi yg setiap hari mereka lihat, ... malah mengusir keluar murid itu 
dari klas. Tapi, akhirnya, kan guru Liu itu bisa menerima dengan baik. Bukan 
hanya perubahan apa yang diajarkan, tapi juga mempraktekkan pengetahuannya 
untuk mengobati sapi/kerbao didesa itu.

Itulah menurut saya, pendidikan ideologi dalam kenyataan hidup di masyarakat 
memang harus dikerjakan dengan penuh kesabaran, ... apalagi kenyataan ideologi 
feodal di Tiongkok yang sudah bersejarah lebih 5 ribu tahun itu! Jangan 
bermimpi bisa hilang dan dikalahkan begitu mudahnya seperti membalik tangan, 
... yang PASTI tidak bisa digenjot dengan main ganyak apalagi dengan kekerasan 
memaksa orang menerima ideologi proletar! Juga terhadap anak-anak tani-miskin 
yang sekolah dikota berubah pikirannya menjadi menolak kehidupan sederhana 
didesa, menolak baju dan sepatu bikian ibunya yang masih ndeso, ...! Tidak lalu 
diganyang, dengan kekerasan dipaksa kembali kedesa ataupun dicampakan dan 
dibuang saja anak itu, ... tetap harus lakukan perjuangan, pekerjaan ideologi 
dengan bijaksana dan penuh kesabaran.

Yang saya sesalkan, anak-anak pimpinan PKI macam kamu ini masih saja bergaya 
cowboy main labrak saja! Tanpa ada pemikiran berusaha melihat 
keemungkinan-kemungkinan menemukan langkah kebijakan yang lebih baik dari 
pengalaman SEJARAH, ... bisanya hanya membenarkan atau menyalahkan secara 
mutlak saja. Sudah mebegitu berusaha memutarbalikkan kenyataan. Sungguh 
celaakaaan, ...!


Salam,
ChanCT


From: Tatiana Lukman 
Sent: Wednesday, January 10, 2018 3:09 AM
To: [email protected] ; Chan CT 
Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry 
Singgih ; Farida Ishaja ; Gol ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; [email protected] 
; Ronggo A. ; Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; [email protected] ; 
Sie Tik Tan ; Sahala Silalahi ; Tjoa ; Andreas Sungkono 
Subject: Re: [GELORA45] Fw: [temu_eropa] nonton film!

Apa yang kamu sebut koreksi malah pemutarbalikkan! Kamu samakan Mao dengan 
Deng!!! Ini bukan soal memadukan teori dengan praktek saja, tapi khusus soal 
reform dalam pendidikan yang menjungkir balikkan peraturan dan kebiasaan 
borjuis yang dijalankan oleh para penguasa revisionis dalam dunia kebudayaan 
dan pendidikan!!! Dalam film itu jelas dimana sekolah akan didirikan ( di 
pedesaan bukan dikota seperti yang diinginkan kaum remo), siapa muridnya 
(anak-anak kaum tani yang selalu kamu hina dan remehkan sebagai orang-orang 
yang bodoh dan jorok!). Dan diperlihatkan juga bahwa yang menentang reform ini 
justru orang-orang pimpinan Partai. Ini cocok dengan kenyataan, karena 
orang-orang yang mengambil jalan kapitalis adalah pimpinan partai di berbagai 
badan Partai dari pusat sampai tingkat daerah dan juga negara.


Kamu tidak mengerti bahwa pertarungan antara pikiran lama/feodal/borjuis dengan 
pikiran proletar SESUNGGUHNYALAH perjuangan antara dua garis!!! Siapa yang 
membela pikiran lama/feodal dan borjuis?? Jelas bukan pengikutnya Mao, tapi 
pengikutnya Liu-Deng!! Terbukti dengan menangnya garis revisionis dan restorasi 
kapitalis maka pikiran yang berdominasi sekarang adalah pikiran feodal dan 
borjuis...pemulihan Konghucu, apa artinya itu? Kalau bukan perjuangan dua garis 
yang UNTUK SEMENTARA dimenangkan oleh garis revisionis-restorasi kapitalis!!!


Kamu memang tidak mengerti dan anti RBKP!! Tidak mengerti perlunya melancarkan 
revolusi dibawah kondisi kediktaturan proletar.Kamu ingin memberi kesan, bahkan 
menuduh seolah-olah orang orang yang melancarkan revolusi adalah orang-orang 
yang kejam, berdarah dingin, haus darah dan menginginkan jatuh korban 
banyak!!!! Aku tidak ragu-ragu bilang kamu orang reaksioner, karena memang 
logikamu adalah logika imperialis!! Dalam revolusi dan perang sudah tentu 
banyak jatuh korban. Tapi yang kamu salahkan adalah orang komunisnya, tak 
sepatah katapun tentang kekejaman kaum reaksioner dan kaum imperialis yang 
justru WATAK KELAS nya menentukan kekejaman dan kelakuan binatangnya!! Tidak 
heran, Lenin, Stalin dan Mao selalu dituduh sebagai pembunuh! Sikapmu sama 
sekali tidak ada bedanya dengan sikap kaum reaksioner dan kaum imperialis! 
Sampai-sampai kau juga menuntut PKI   minta maaf, seperti yang dituntut oleh 
para jenderal!!! Kau letakkan para jenderal fasis, antek kaum imperialis, 
sejajar dengan PKI yang apapun kesalahannya, tetap merupakan partainya rakyat 
tertindas dan terhisap!!! Sikap apa itu!! Kalau bukan sikap reaksioner!!!


Kamu mengeluh hanya 6 karya kebudayaan revolusioner selama berlangsungnya 
RBKP!! Nah, sekali lagi kamu cerminkan watak reaksionermu!! Tentu kamu senang 
dengan karya kebudayaan Tkk sekarang ya?!! Jutaan karya kebudayaan dilahirkan 
oleh kapitalisme sekarang, adakah yang menjunjung kaum buruh, kaum tani, kaum 
pekerja pada umumnya??? Adakah yang patut dibanggakan!! Sebaliknya kamu sama 
sekali tidak mau tahu bahwa melahirkan karya baru revolusioner pada jaman RBKP 
bukanlah pekerjaan gampang, karena masih harus menghadapi tentangan dari kaum 
revisionis yang menguasai bidang kebudayaan. Tjiang Tjing banyak menghadapi 
perlawanan!! Jalannya tidak mulus dan gampang!!! Sedikit tapi bermutu dan 
menjadi contoh teladan bagi kaum revolusioner sedunia bagaimana seharusnya 
menjalankan revolusi dalam bidang kebudayaan!!! 





On Tuesday, January 9, 2018 5:40 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:




  
Kalau boleh saya koreksi sedikit, ya. Film ini dibuat sebelum FBKP meledak, 
diawal tahun 1960an, yang meengkisahkan perjuangan dimana dan bagaimana 
mendiririkan Sekolah Universitas Komunis. Karena ingat saya, dimasa RBKP hanya 
ada 6 opera/film sebagai teladan kesenian Proletar, diluar 6 teladan itu TIDAK 
ada yang lain! Begitu ketentuan Jiang Qing yang sangat radikal, ... jadi selama 
10 tahun masa RBKP rakyat Tiongkok hanya bisa melihat ke-6 opera/film teladan 
itu saja.

Saya malah lebih tertarik dengan semangat memadukan teori dengan praktek yang 
ditekankan dalam film ini, ... begitulah Ketua Mao begitu juga Deng! Kisah 
mendirikan sekolah Komunisme itu hendak dibangun dimana, siapa muridnya dan 
bagaimana penekanannya memadukan teori dengan praktek, sesuai kehidupan didesa 
yang dihadapi tani-miskin, ... dalam produksi? 

Hanya saja sayang pertarungan sengit antara pemikiran lama, feodal/borjuis 
dengan pemikiran proletar dibenturkan menjadi perjuangan 2 garis, 2 jalan yang 
kemudian tidak terdamaikan! Padahal kalau berdasarkan ajaran Ketua Mao, 
seharusnya lebih menekankan PENDIDIKAN dalam mengubah pemikiran ideologi orang, 
tidak dilabrak saja deengan terus ditingkatkan menjadi RBKP yg akhirnya terlalu 
banyak KORBAN, ... Tidak perlu begitu!

Salam,
ChanCT

From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, January 8, 2018 8:32 PM
To: GELORA_In 
Subject: [GELORA45] Fw: [temu_eropa] nonton film!

  



On Friday, January 5, 2018 6:10 PM, "Tatiana Lukman [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:




  

Film ini dibuat selama berlangsung RBKP yang oleh pimpinan PKT revisionis dalam 
dokumen resminya dicap sebagai kesalahan Mao. Mereka yang dengan jujur 
mempelajari dokumen-dokumen PKT yang dikeluarkan selama RBKP, apalagi mereka 
yang pernah tinggal di Tkk, pasti akan bisa mengenali masalah yang menjadi tema 
film ini. Dalam film ini, misalnya, tercermin dengan jelas politik pembang unan 
sosialis Mao dalam bidang pendidikan. Dalam RBKP diterapkan secara masif 
perpaduan antara belajar dan bekerja (ban gong ban tu), ujian masuk dihapus dan 
prioritas diberikan kepada anak-anak kaum tani dan kaum buruh, dipropagandakan 
agar anak-anak kaum tani , setelah tamat universitas, balik ke kampungnya, 
bukannya menjadi intelektual dan tinggal di kota. Banyak sekolah dibangun di 
pedesaan. Begitulah antara lain, cara Mao mengatasi kontradiksi dan perbedaan 
tingkat kebudayaan dan tingkat hidup antara kota dan desa. Bertolak belakang 
dengan politik kapitalis Deng yang mengakibatkan petani meninggalkan desanya 
(karena pertanian diabaikan) untuk menjadi buruh migran di pabrik-pabrik yang 
dibangun di kota dan daerah-daerah ekonomi khusus.

Breaking With Old Ideas


                        
                 
           
                    Breaking With Old Ideas
                  One of the most controversial dramatic films produced in 
China during the cultural revolution, "Breaking&qu...  
           
     


Dalam film tercermin ide-ide revisionis yang menentang ban gong ban tu, 
menentang masuknya anak-anak kaum tani ke pendidikan tingkat atas. Ukuran atau 
parameter yang digunakan selama RBKP untuk menerima siswa adalah faktor 
ideologi dan politik, partisipasi dalam produksi dan pembangunan sosialis, 
bukan angka-angka atau diploma.

Dalam film ini juga tercermin perjuangan dua garis dalam pertanian, perjuangan 
melawan ide-ide revisionis/kapitalis Liu-Deng yang menganjurkan kembalinya 
tanah menjadi milik perorangan (berarti meremehkan semangat kolektif-komune 
rakyat), kepemilikan tanah berdasarkan keluarga....










Kirim email ke