----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: Tatiana Lukman 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI 
FORUM HLD <[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto 
<[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Harry Singgih 
<[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; Mitri <[email protected]>; Lingkar Sitompul 
<[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; 
Ronggo A. <[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; Oman 
Romana <[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>; Sie Tik Tan <[email protected]>; Sahala 
Silalahi <[email protected]>; Tjoa <[email protected]>; Andreas Sungkono 
<[email protected]>Terkirim: Rabu, 10 Januari 2018 05.20.53 GMT+1Judul: 
Re: [GELORA45] nonton film!
     

Yang main FITNAH,dan main PEMUTARBLIKAN masalah itu siapa sesungguhnya??? 
Justru nenek dalam tempurung ini!!! Sekarang coba kita masuki isi film “Patah 
Arang”, kalau boleh diterjemahkan begitu, yang kamu ajukan itu. Jelas-jelas 
menunjukkan keharusan PEMADUAN teori dengan praktek.. Itulah penekanan Ketua 
Mao dan begitu juga yang ditekankan Deng! Dan, ... kenyataan begitulah pim 
pinan PKT sampai sekarang ini menganggap apa yang dijalankan Ketua Mao yang 
dimulai melawan penjajah Jepang, mengalahkan KMT dan kemudian pembangunan 
setelah RRT terbentuk, BERLANJUT dengan PERUBAHAN yang terjadi setelah Deng dan 
piimpinan PKT berikut sampai sekarang, adalah proses berkesinambungan yang 
tidak bisa diputus-putus, apalagi dipertentangkan! KEBERHASILAN yang dicapai 
masa Ketua Mao itulah DASAR atau landasan kuat yang digunakan Deng untuk 
membawa RRT maju lebih CEPAT sekarang ini! Tanpa ada landasan kuat itu tidak 
mungkin Deng bisa melancarkan politik Reformasi dan Keterbukaan. Mao dan Deng 
dinilai oleh RAKYAT Tiongkok sebagai pemimpin besar nya, Pemimpin BESAR RAKYAT 
Tiongkok! Kamu saja yang masih mempertentangkan Mao dengan Deng! Padahal 
darimana kamu dapatkan HAK menilai pemimpin RAKYAT Tiongkok? Sedikitpun kamu 
TIDAK BERHAK! Pertarungan ideoloogi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, 
sudah seharusnya dilakukan dengan menekankan PENDIDIKAN ideologi secara 
baik-baik, ... Bukan dan TIDAK MESTI dibenturkan menjadi perjuangan klas, 
perjuangan 2 garis yang TIDAK TERDAMAIKAN seperti yang dijalankan masa RBKP, 
... inilah KESALAHAN yang terjadi dimasa RBKP dan HARUS DIKOREKSI! Jangan 
biarkan korban jatuh tak terkendalikan, terlalu luas dan terlalu banyak! Untuk 
mencapai TUJUAN, memenangkan ideologi proletar dalam melawan edologi 
feodal/borjuis, ... saya perhatikan dalam buuuaaanyak hal dan fakta yang 
terjadi dalam kisah pengalaman perjuangan selama ini, termasuk kisah yg terjadi 
dalam film “Patah Arang” masih bisa diperbaiki pelaksanaan pendidikan ideologi 
dengan tidak harus main gempur dan GANYANG saja!  Satu contoh yang terakhir ini 
menjadi bahan pembicaraan, seorang tokoh GARDA MERAH, Wang Bin Bin, anak 
seorang kader tinggi ketika itu, menjadi PELOPOR paling garang mengganyang 
kepala sekolah yang dituduh menempuh Jalan Kapitalisme. Tidak 
tanggung-tanggung, dia ganti nama menjadi Wang Yao Wu ( 王要武 = Raja Mau Perjuta, 
karena ketika itu hangat menyerukan perjuangan bersenjata ), sehingga 
dirapat-rapat pengganyangan terhadap kepala sekolah nya, dilakukan penyiksaan, 
pemukulan yang berlebihan sampai kepala sekolah itu TEWAS! Begitulah sat itu 
Wang menjadi pelopor KEKERASAN dalam mengganyang tokoh yang dituduh penempuh 
jalan kapitalis! Tapi, setelah selesai masa RBKP, masih diawal memasuki masa 
Reformasi-Keterbukaan, Wang justru kembali menjadi PELOPOR imigarasi! Kemana 
dia berimigrasi? Dedengkot kapitalisme/imperialisme yang dia ganyang dimasa 
RBKP itu, ... Amerika! Lalu, ditahun 96 Wang kembali menjadi PELOPOR minta MAAF 
pada KORBAN kekerasan RBKP! Kalau tidak cepat minta maaf, dosa kesalahan ini 
tidak bisa diampuni keluarga korban, .... begitu, kata Wang! Dia perlukan dari 
AS datang kembali kesekolah asal di Beijing, untuk mengikuti upacara 
rehabilitasi kepala sekolah yang diganyang masa RBKP itu dan dia maju kedepan 
minta maaf, ....! Tapi, keluarga korban TIDAK BISA menerima maaf yg diajukan 
Wang ini, biarlah dosa kekejaman yang dilakukan dahulu itu dipikul menjadi 
beban hidupnya, tidak bisa diselesaikan hanya dengan ucapan maaf begitu saja! 
Itulah KESALAHAN FATAL, melakukan kekejaman sampai membunuh orang yang tidak 
berdosa, ... yang mati tidak bisa dihidupkan kembali. Yang berbuat KESALAHAN 
MEMBUNUH orang jadi harus memikul dosa itu seumur hidup! Tentu, mengajukan 
contoh Wang Bin Bin ini, tidak berarti saya hendak bilang begitulah 
watak/karakter pemuda-pemudi Garda Merah pada umumnya! TIDAK! Saya hendak 
menyatakan, bahwa melihat watak manusia TIDAK bisa dilihat gerak sesaat saja, 
... BUKAN makin radikal makin menunjukkan kehebatan dia, tapi justru harus 
lebih berhati-hati terhadap orang macam itu! Dengan pemikiran yang ekstrim 
menunjukkan dirinya yang PALING heeiiibat, PELOPOR disetiap masa, .... tanpa 
pedulikan KORBAN yang terjadi akibat sikapnya itu! Serampaaangan seperti kamu 
itu. Begitu juga kalau kita perhatikan dalam kisah film “Patah Arang” dibawah, 
jelas terjadi perjuangan pendapat sekolah macam apa yang akan didirikan, .... 
meneruskan garis lama yang feodal/borjuis atau garis baru proletar yang 
dibawakan kepala sekolah baru yang diutus bung Long itu. Setelah dia berhasil 
merubah menerima anak-anak tani-miskin sekalipun baru menerima pendidikan SR 
1-2 tahun, TETAP berhak dan bisa jadi murid, kemudian masuki perubahan cara 
mengajar/mendidik murid sekolah, dengan memadukan kebutuhan konkrit kehidupan 
di desa itu. Dan, ... disitu juga dikisahkan akhirnya Guru-Liu, yang 
mengajarkan biologi diklas, semula hanya mengajarkan KUDA, setelah diprotes 
muridnya selama hidupnya belum pernah melihat kuda, kenapa tidak mengajarkan 
sapi dan babi yg setiap hari mereka lihat, ... malah mengusir keluar murid itu 
dari klas. Tapi, akhirnya, kan guru Liu itu bisa menerima dengan baik. Bukan 
hanya perubahan apa yang diajarkan, tapi juga mempraktekkan pengetahuannya 
untuk mengobati sapi/kerbao didesa itu. Itulah menurut saya, pendidikan 
ideologi dalam kenyataan hidup di masyarakat memang harus dikerjakan dengan 
penuh kesabaran, ... apalagi kenyataan ideologi feodal di Tiongkok yang sudah 
bersejarah lebih 5 ribu tahun itu! Jangan bermimpi bisa hilang dan dikalahkan 
begitu mudahnya seperti membalik tangan, ... yang PASTI tidak bisa digenjot 
dengan main ganyak apalagi dengan kekerasan memaksa orang menerima ideologi 
proletar! Juga terhadap anak-anak tani-miskin yang sekolah dikota berubah 
pikirannya menjadi menolak kehidupan sederhana didesa, menolak baju dan sepatu 
bikian ibunya yang masih ndeso, ....! Tidak lalu diganyang, dengan kekerasan 
dipaksa kembali kedesa ataupun dicampakan dan dibuang saja anak itu, ... tetap 
harus lakukan perjuangan, pekerjaan ideologi dengan bijaksana dan penuh 
kesabaran. Yang saya sesalkan, anak-anak pimpinan PKI macam kamu ini masih saja 
bergaya cowboy main labrak saja! Tanpa ada pemikiran berusaha melihat 
keemungkinan-kemungkinan menemukan langkah kebijakan yang lebih baik dari 
pengalaman SEJARAH, ... bisanya hanya membenarkan atau menyalahkan secara 
mutlak saja. Sudah mebegitu berusaha memutarbalikkan kenyataan. Sungguh 
celaakaaan, ....!  Salam,ChanCT  From: Tatiana Lukman Sent: Wednesday, January 
10, 2018 3:09 AMTo: [email protected] ; Chan CT Cc: Yahoogroups ; 
DISKUSI FORUM HLD ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry Singgih ; Farida 
Ishaja ; Gol ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; [email protected] ; Ronggo A. ; 
Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; [email protected] ; Sie Tik Tan ; 
Sahala Silalahi ; Tjoa ; Andreas Sungkono Subject: Re: [GELORA45] Fw: 
[temu_eropa] nonton film! Apa yang kamu sebut koreksi malah pemutarbalikkan! 
Kamu samakan Mao dengan Deng!!! Ini bukan soal memadukan teori dengan praktek 
saja, tapi khusus soal reform dalam pendidikan yang menjungkir balikkan 
peraturan dan kebiasaan borjuis yang dijalankan oleh para penguasa revisionis 
dalam dunia kebudayaan dan pendidikan!!! Dalam film itu jelas dimana sekolah 
akan didirikan ( di pedesaan bukan dikota seperti yang diinginkan kaum remo), 
siapa muridnya (anak-anak kaum tani yang selalu kamu hina dan remehkan sebagai 
orang-orang yang bodoh dan jorok!). Dan diperlihatkan juga bahwa yang menentang 
reform ini justru orang-orang pimpinan Partai. Ini cocok dengan kenyataan, 
karena orang-orang yang mengambil jalan kapitalis adalah pimpinan partai di 
berbagai badan Partai dari pusat sampai tingkat daerah dan juga negara.
Kamu tidak mengerti bahwa pertarungan antara pikiran lama/feodal/borjuis dengan 
pikiran proletar SESUNGGUHNYALAH perjuangan antara dua garis!!! Siapa yang 
membela pikiran lama/feodal dan borjuis?? Jelas bukan pengikutnya Mao, tapi 
pengikutnya Liu-Deng!! Terbukti dengan menangnya garis revisionis dan restorasi 
kapitalis maka pikiran yang berdominasi sekarang adalah pikiran feodal dan 
borjuis...pemulihan Konghucu, apa artinya itu? Kalau bukan perjuangan dua garis 
yang UNTUK SEMENTARA dimenangkan oleh garis revisionis-restorasi kapitalis!!!
Kamu memang tidak mengerti dan anti RBKP!! Tidak mengerti perlunya melancarkan 
revolusi dibawah kondisi kediktaturan proletar.Kamu ingin memberi kesan, bahkan 
menuduh seolah-olah orang orang yang melancarkan revolusi adalah orang-orang 
yang kejam, berdarah dingin, haus darah dan menginginkan jatuh korban 
banyak!!!! Aku tidak ragu-ragu bilang kamu orang reaksioner, karena memang 
logikamu adalah logika imperialis!! Dalam revolusi dan perang sudah tentu 
banyak jatuh korban. Tapi yang kamu salahkan adalah orang komunisnya, tak 
sepatah katapun tentang kekejaman kaum reaksioner dan kaum imperialis yang 
justru WATAK KELAS nya menentukan kekejaman dan kelakuan binatangnya!! Tidak 
heran, Lenin, Stalin dan Mao selalu dituduh sebagai pembunuh! Sikapmu sama 
sekali tidak ada bedanya dengan sikap kaum reaksioner dan kaum imperialis! 
Sampai-sampai kau juga menuntut PKI   minta maaf, seperti yang dituntut oleh 
para jenderal!!! Kau letakkan para jenderal fasis, antek kaum imperialis, 
sejajar dengan PKI yang apapun kesalahannya, tetap merupakan partainya rakyat 
tertindas dan terhisap!!! Sikap apa itu!! Kalau bukan sikap reaksioner!!!
Kamu mengeluh hanya 6 karya kebudayaan revolusioner selama berlangsungnya 
RBKP!! Nah, sekali lagi kamu cerminkan watak reaksionermu!! Tentu kamu senang 
dengan karya kebudayaan Tkk sekarang ya?!! Jutaan karya kebudayaan dilahirkan 
oleh kapitalisme sekarang, adakah yang menjunjung kaum buruh, kaum tani, kaum 
pekerja pada umumnya??? Adakah yang patut dibanggakan!! Sebaliknya kamu sama 
sekali tidak mau tahu bahwa melahirkan karya baru revolusioner pada jaman RBKP 
bukanlah pekerjaan gampang, karena masih harus menghadapi tentangan dari kaum 
revisionis yang menguasai bidang kebudayaan. Tjiang Tjing banyak menghadapi 
perlawanan!! Jalannya tidak mulus dan gampang!!! Sedikit tapi bermutu dan 
menjadi contoh teladan bagi kaum revolusioner sedunia bagaimana seharusnya 
menjalankan revolusi dalam bidang kebudayaan!!!   

On Tuesday, January 9, 2018 5:40 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:


  Kalau boleh saya koreksi sedikit, ya. Film ini dibuat sebelum FBKP meledak, 
diawal tahun 1960an, yang meengkisahkan perjuangan dimana dan bagaimana 
mendiririkan Sekolah Universitas Komunis. Karena ingat saya, dimasa RBKP hanya 
ada 6 opera/film sebagai teladan kesenian Proletar, diluar 6 teladan itu TIDAK 
ada yang lain! Begitu ketentuan Jiang Qing yang sangat radikal, .... jadi 
selama 10 tahun masa RBKP rakyat Tiongkok hanya bisa melihat ke-6 opera/film 
teladan itu saja. Saya malah lebih tertarik dengan semangat memadukan teori 
dengan praktek yang ditekankan dalam film ini, ... begitulah Ketua Mao begitu 
juga Deng! Kisah mendirikan sekolah Komunisme itu hendak dibangun dimana, siapa 
muridnya dan bagaimana penekanannya memadukan teori dengan praktek, sesuai 
kehidupan didesa yang dihadapi tani-miskin, ... dalam produksi?  Hanya saja 
sayang pertarungan sengit antara pemikiran lama, feodal/borjuis dengan 
pemikiran proletar dibenturkan menjadi perjuangan 2 garis, 2 jalan yang 
kemudian tidak terdamaikan! Padahal kalau berdasarkan ajaran Ketua Mao, 
seharusnya lebih menekankan PENDIDIKAN dalam mengubah pemikiran ideologi orang, 
tidak dilabrak saja deengan terus ditingkatkan menjadi RBKP yg akhirnya terlalu 
banyak KORBAN, ... Tidak perlu begitu! Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman 
[email protected] [GELORA45] Sent: Monday, January 8, 2018 8:32 PMTo: 
GELORA_In Subject: [GELORA45] Fw: [temu_eropa] nonton film!   

On Friday, January 5, 2018 6:10 PM, "Tatiana Lukman [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:


   Film ini dibuat selama berlangsung RBKP yang oleh pimpinan PKT revisionis 
dalam dokumen resminya dicap sebagai kesalahan Mao. Mereka yang dengan jujur 
mempelajari dokumen-dokumen PKT yang dikeluarkan selama RBKP, apalagi mereka 
yang pernah tinggal di Tkk, pasti akan bisa mengenali masalah yang menjadi tema 
film ini. Dalam film ini, misalnya, tercermin dengan jelas politik pembang unan 
sosialis Mao dalam bidang pendidikan. Dalam RBKP diterapkan secara masif 
perpaduan antara belajar dan bekerja (ban gong ban tu), ujian masuk dihapus dan 
prioritas diberikan kepada anak-anak kaum tani dan kaum buruh, dipropagandakan 
agar anak-anak kaum tani , setelah tamat universitas, balik ke kampungnya, 
bukannya menjadi intelektual dan tinggal di kota. Banyak sekolah dibangun di 
pedesaan. Begitulah antara lain, cara Mao mengatasi kontradiksi dan perbedaan 
tingkat kebudayaan dan tingkat hidup antara kota dan desa. Bertolak belakang 
dengan politik kapitalis Deng yang mengakibatkan petani meninggalkan desanya 
(karena pertanian diabaikan) untuk menjadi buruh migran di pabrik-pabrik yang 
dibangun di kota dan daerah-daerah ekonomi khusus. Breaking With Old Ideas
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Breaking With Old Ideas
 One of the most controversial dramatic films produced in China during the 
cultural revolution, "Breaking&qu... |  |

 |

 |

 Dalam film tercermin ide-ide revisionis yang menentang ban gong ban tu, 
menentang masuknya anak-anak kaum tani ke pendidikan tingkat atas. Ukuran atau 
parameter yang digunakan selama RBKP untuk menerima siswa adalah faktor 
ideologi dan politik, partisipasi dalam produksi dan pembangunan sosialis, 
bukan angka-angka atau diploma. Dalam film ini juga tercermin perjuangan dua 
garis dalam pertanian, perjuangan melawan ide-ide revisionis/kapitalis Liu-Deng 
yang menganjurkan kembalinya tanah menjadi milik perorangan (berarti meremehkan 
semangat kolektif-komune rakyat), kepemilikan tanah berdasarkan keluarga....    



    

Kirim email ke