Lagi-lagi kelihatan gobloknya. Dari dulu sudah berapa orang yang mengingatkan
kepada si Chan ini bahwa SISTIM tidak sama dengan INDIVIDU!!! Seorang KAPITALIS
yang murah hati, bisa saja ditemukan di mana saja!!! Tapi itu SAMA SEKALI tidak
menghilangkan karakternya sebagai orang yang menggunakan penghisapan untuk
mendapat keuntungan!!! Dan sama sekali tidak membuat kita menerima kapitalisme
sebagai sistim ekonomi yang menggunakan penghisapan sebagai dasar
keberadaannya!!!! Keluar dari tempurung remo, belajar MDH, kalau mau bela diri
dengan benar!! Yang jelas sudah lama anda memperlihatkan watak remo
anti-sosialis dan pro-kapitalis...Lha wong sudah minta supaya modal jangan
dikutik-kutik!! Jadi dulu PKI juga "salah" karena telah memelopori perjuangan
rakyat untuk menyita modal Belanda dan modal AS!!! Makin lama makin kelihatan
tampang aslinya!!
On Tuesday, February 6, 2018 6:14 AM, "Chalik Hamid
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: "[email protected]"
<[email protected]>; Tatiana Lukman <[email protected]>; Sie Tik
Tan <[email protected]>; "[email protected]"
<[email protected]>Cc: Yahoogroups
<[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Rachmat
Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Harry Singgih
<[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; Gol
<[email protected]>; Mitri <[email protected]>; Lingkar Sitompul
<[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>;
"[email protected]" <[email protected]>; Billy Gunadi
<[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; Harsono Sutedjo
<[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Sahala Silalahi
<[email protected]>; Andreas Sungkono <[email protected]>; GELORA_In
<[email protected]>; Tjoa <[email protected]>; Nunu Nugroho
<[email protected]>Terkirim: Selasa, 6 Februari 2018 01.13.01 GMT+1Judul: Re:
[GELORA45] PERUSAHAAN TIONGKOK YANG BERKIPRAH DI ASIA TENGGARA
Beginilah nenek dalam tempurung ini menunjukkan sikap radikalisnya! TIDAK
BERHASIL melihat kenyataan adanya kapitalis-kapitalis yang masih berjiwa
SOSIAL, masih nasionalis dan masih berpihak pada RAKYAT sesuai dengan karakter
PRIBADI manusianya yang berbeda-beda, ... TIDAK SEMUA kapitalis PASTI
jahat/kejam dan oleh karena harus dibasmi sekarang juga! Itulah sebab dalam
masa revolusi pun kita seringkali bisa dengan mudah menemukan
kapitalis-kapitalis, bahkan kapitalis berhasil yang tetap bersedia mendukung
dan membantu revolusi dengan cukup teguh, dan biasa dijuluki kapitalis-MERAH!
Begitu juga dimasa pembangunan, baik di Indonesia maupun di Tiongkok, ... tetap
masih bisa ditemukan kapitalis-kapitalis yang sungguh-sungguh ikut mendorong
maju roda perputaran ekonomi nasional. Jadi mereka-mereka itu tidak semata-mata
mengejar keuntungan lebih besar dengan menghisap hasil kerja dengan TANPA
peduli kehidupan tenaga kerja nya! Telitilah baik-baik setiap kapitalis, setiap
negara apakah dia negara kapitalis atau kapitalis negara macam Tiongkok dalam
menjalankan dan mengembangkan usaha nya, tidak main generalisasi sama saja
KAPITALISME yg menjalankan penghisapan manusia atas manusia, ...! Akhirnya
tidak bedanya dengan Trump yg malah berbalik main tuduh Tiongkok menjalankan
IMPERIALISME di Amerika Latin, penghisapan yang hanya mengutamakan kepentingan
negeri sendiri tanpa usaha membantu kesejahteraan Rakyat Amerika Latin!
Betul-betul maling berteriak maling! Sudah lebih 70 tahun Freeport dikangkangi
AS, emas dikuras besar-besaran rakyat Papua dibiarkan tetap papa-miskin, itulah
bukti nyata! Hehehee, ..... Sebaliknya sekalipun kesenjangan sosial di RRT
sangat tinggi, tapi adalah juga kenyataan yang harus dilihat, nanti ditahun
2020 RRT akan BERHASIL membebaskan 1,3 milyar RAKYAT nya bebas dari kemiskinan!
Begitu target yang ditetapkan Kongres-18 PKT 5 tahun yl, ... dan Xi menegaskan
seorangpun tidak boleh tertinggal masih hidup dalam kemiskinan, menderita
kekurangan, .....! Itulah tingkat pertama jalan sosialisme berkarakter Tiongkok
untuk mencapai masyarakat sedikit makmur dalam arti tidak ada lagi rakyat
miskin. Sedang target berikut, nanti dalam memperingati 100 tahun RRT, ditahun
2049 akan mencapai masyarakat MAKMUR dalam arti yang lebih ADIL dan merata,
.... From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Monday,
February 5, 2018 8:48 PMTo: Sie Tik Tan ;
[email protected] Cc: Yahoogroups ; Daeng ; Rachmat
Hadi-Soetjipto ; Harry Singgih ; Farida Ishaja ; Gol ; Mitri ; Lingkar Sitompul
; Ronggo A. ; [email protected] ; Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono
Sutedjo ; [email protected] ; Sahala Silalahi ; Andreas Sungkono ; GELORA_In ;
Tjoa ; Nunu Nugroho Subject: [GELORA45] Re: [perhimpunanpersaudaraan]
PERUSAHAAN TIONGKOK YANG BERKIPRAH DI ASIA TENGGARA Siapapun tak dapat
membantah atau mengajukan argumentasi bahwa praktek penanaman modal pengusaha
Tkk di negeri-negeri Dunia Ketiga tidak ada bedanya dengan semua pemodal eropa
dari jaman kolonial sampai sekarang. Ya memang "… upah buruh juga relatif
rendah.." . "..... ongkos produksinya akan semakin menurun ......" yang mereka
cari untuk memastikan profit sebesar mungkin. Satu-satunya "argumentasi" atau
"alasan" atau pertanyaan yang diajukan para pendukung "sosialisme a la Deng"
adalah "lho dimana salahnya? Emangnya nggak boleh cari untung? Wong uangnya
juga uang mereka sendiri! Ngapain kamu ikut campur???". Kalau orang sudah
membenarkan dan menerima penghisapan sebagai sebuah praktek "normal" dan
"logis", ya sudah tentu kenyataan seperti di Malaysia itu juga dianggap
"normal" dan "logis". Nanti, kalau para pengusaha bilyuner itu memberi sedekah,
bikin proyek ini dan itu untuk orang-orang miskin, nah dipujilah mereka!! Tuh,
lihat, begitu baik dan murah hatinya orang-orang kaya itu; mereka peduli nasib
orang miskin! Tapi kalau buruhnya di Malaysia mogok menuntut upah dan kondisi
kerja yang lebih baik, akan lain lagi ceritanya!!!!
On Monday, February 5, 2018 12:37 PM, Sie Tik Tan <[email protected]> wrote:
Typist eksport kapital , dng tujuan ke- negeri2 yg SDA yg murah krn harga
produknya anjlok atau birokratnya komprador, SDM yg murah dan produktif krn
usia jauh lebih muda dibanding negeri asal kapital. Suatu bentuk win-win yg ada
sejak jaman kolonialisme dan yg oleh Reagan-Thatcher dikembangkan sebagai
globalisme dng neo- liberalisasinya.
Verstuurd vanaf mijn iPad
Op 5 feb. 2018 om 08:57 heeft Mohammad Kasim [email protected]
[perhimpunanpersaudaraan] <[email protected]> het
volgende geschreven:
|
|
| |
|
| |
| |
|
| Choose a language Chinese Simplified Chinese Traditional Albanian Arabic
Belarusian Bengali Bulgarian Cambodian Croatian Czech English Esperanto
Filipino French German Greek Hausa Hebrew Hindi Hungarian Indonesian
Italian Japanese Korean Laos Malay Mongol Myanmar Nepal Persian Polish
Portuguese Pushtu Romanian Russian Serbian Sinhalese Spanish Swahili
Tamil Thai Turkish Ukrainian Urdu Vietnamese Uygur Kazak Kirgiz LHASA
KUMBA---------- Icelandic Dutch Norwegian Danish Finnish Swedish
Estonian Lithuanian | | Monday Feb 5th 2018 |
|
| |
|
| | | | |
| | Web indonesian.cri.cn | |
|
|
| |
|
| Home|Asia Tenggara|Lentera|Blitz Asia|Foto|Travel|Blog|Bahasa Mandarin
|Pedoman Muslim|Facebook&WeChat |
| |
|
| |
|
|
| Perusahaan Tiongkok Yang Berkiprah di Asia Tenggara |
| 2018-02-05 10:58:06 CRI |
| XINHUA: Malaysia pernah menjadi negara penghasil karet alam terbesar ketiga
di dunia, setelah Thailand dan Indonesia. Akan tetapi, dalam beberapa tahun
terakhir, area tanaman pohon karet di Malaysia terus menciut dan tenaga
kerjanya juga semakin berkurang gara-gara harga getah karet yang terus menurun,
apa lagi pemerintah Malaysia telah mengalihkan fokusnya pada pengembangan
industri hilir seperti pabrik pembuatan sarung karet. Akan tetapi, kelesuan
sektor getah karet itu tidak menghalangi langkah perusahaan Tiongkok untuk
berinvestasi di Malaysia. PT Guang Ken Rubber (GKR) dari Provinsi Guangdong
Tiongkok telah menanam modal sebanyak ratusan juta yuan RMB, dan menjalin kerja
sama dengan Bornion Timber SDN BHD Malaysia mulai tahun 2008.. Di lahan seluas
30.000 hektar yang disewanya, PT GKR menanam pohon karet dengan mengadaptasi
teknik pembibitan Tiongkok. Kebun karet tersebut kini telah berkembang menjadi
salah satu kebun karet yang terbesar di Malaysia. Lai Xionghui, Direktur Umum
PT GKR dan Bornion Timber mengatakan kepada wartawan bahwa Asia Tenggara
memiliki kondisi iklim yang memadai untuk mengembangkan industri karet karena
jumlah produksinya tinggi dan upah buruh juga relatif rendah.. Lai Xionghui
mengatakan, para buruh yang dipekerjakan di Malaysia rata-rata berusia antara
20 hingga 30 tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Tiongkok,
meskipun upah ditambah sebesar 50 persen, perekrutan buruh tetap saja sulit.
Lai Xionghui menerangkan, kini kebun milik GKR tertanam 770.000 batang pohon
karet produktif yang bisa disadap. Lai menyebutkan bahwa seiring dengan
bertambahnya jumlah pohon produktif dari tahun ke tahun, maka ongkos
produksinya akan semakin menurun. PT GKR dan Bornion menargetkan 7 juta batang
pohon karet produktif dalam beberapa tahun mendatang, hingga saatnya tiba, akan
semakin banyak jumlah buruh yang dibutuhkan. Biasanya sebatang pohon karet baru
bisa disadap pada umur 5 hingga 6 tahun. Ini berarti pihaknya akan menanam
minimal ratusan ribu batang pohon karet dalam beberapa tahun mendatang. Lai
mengatakan, pemerintah setempat memberlakukan kebijakan yang membatasi
perekrutan tenaga kerja asing. Oleh karena itu, perekrutan buruh tetap menjadi
kendala dan kini mereka masih kekurangan 200 buruh. Lai Xionghui menambahkan,
pihaknya berencana mendirikan sebuah pabrik pengolahan karet untuk memproses
produk karet dengan nilai tambah tinggi. "Yang terpenting ialah kami akan
memperlihatkan kepada masyarakat setempat bahwa kami akan terus berkiprah di
sini dalam jangka panjang," tutur Lai Xionghui. |
| |
|
| |
| |
|
| | | |
|
| |
| |
|
| |
|
| | | |
|
| |
|
| |
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
| |
| |
| Terpopuler |
|
| |
|
| • Menhan AS: Akan Perluas Kerja Sama Anti Terorisme dengan Indonesia |
| • AIIB Aktif Investasi Pada Infrastruktur |
| • Kemlu Tiongkok Menanggapi Peristiwa Mariott |
| • Dubes Tiongkok Jelaskan Keadaan Ketabrakan Kapal Di Laut Tiongkok Timur |
| • Publikasi Buku Xi Jinping: The Governance of China Jilid ke-2 Menerobos 10
Juta |
| • PM Tiongkok Hadiri Pertemuan Ke-2 Kerja Sama Lancang-Mekong |
| Indeks>> |
|
|
| |
| |
|
| |
| |
| |
| |
|
| Komentar Pembaca |
|
|
| • Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota
Beijing dimana telah terukir kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam
memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan
60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu
Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu
penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing. Kami pun menginap di
salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing.
Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah : |
| • 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta... Sekarang pindah
gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia
? Mohon balasan ! |
| • 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA,
judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi,
informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi. |
| • 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang
yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer
satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau
dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya
kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua
meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia
suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo
yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama |
| Indeks>> |
|
|
| |
| Komentar(0 Komentar)
发布
- Weibo
- QQ
-
- Pengunjung
- 手机登录
Belum ada komentar Disponsori oleh Changyan |
| |
|
| |
| © China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040 |
#yiv3237064083 #yiv3237064083 -- #yiv3237064083ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-mkp #yiv3237064083hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-mkp #yiv3237064083ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-mkp .yiv3237064083ad
{padding:0 0;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-mkp .yiv3237064083ad p
{margin:0;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-mkp .yiv3237064083ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-sponsor
#yiv3237064083ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-sponsor #yiv3237064083ygrp-lc #yiv3237064083hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-sponsor #yiv3237064083ygrp-lc .yiv3237064083ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3237064083 #yiv3237064083actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3237064083
#yiv3237064083activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3237064083
#yiv3237064083activity span {font-weight:700;}#yiv3237064083
#yiv3237064083activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3237064083 #yiv3237064083activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3237064083 #yiv3237064083activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3237064083 #yiv3237064083activity span
.yiv3237064083underline {text-decoration:underline;}#yiv3237064083
.yiv3237064083attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3237064083 .yiv3237064083attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3237064083 .yiv3237064083attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3237064083 .yiv3237064083attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3237064083 .yiv3237064083attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3237064083 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3237064083 .yiv3237064083bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3237064083
.yiv3237064083bold a {text-decoration:none;}#yiv3237064083 dd.yiv3237064083last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3237064083 dd.yiv3237064083last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3237064083
dd.yiv3237064083last p span.yiv3237064083yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3237064083 div.yiv3237064083attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3237064083 div.yiv3237064083attach-table
{width:400px;}#yiv3237064083 div.yiv3237064083file-title a, #yiv3237064083
div.yiv3237064083file-title a:active, #yiv3237064083
div.yiv3237064083file-title a:hover, #yiv3237064083 div.yiv3237064083file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3237064083 div.yiv3237064083photo-title a,
#yiv3237064083 div.yiv3237064083photo-title a:active, #yiv3237064083
div.yiv3237064083photo-title a:hover, #yiv3237064083
div.yiv3237064083photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3237064083
div#yiv3237064083ygrp-mlmsg #yiv3237064083ygrp-msg p a
span.yiv3237064083yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3237064083
.yiv3237064083green {color:#628c2a;}#yiv3237064083 .yiv3237064083MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3237064083 o {font-size:0;}#yiv3237064083
#yiv3237064083photos div {float:left;width:72px;}#yiv3237064083
#yiv3237064083photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3237064083
#yiv3237064083photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3237064083
#yiv3237064083reco-category {font-size:77%;}#yiv3237064083
#yiv3237064083reco-desc {font-size:77%;}#yiv3237064083 .yiv3237064083replbq
{margin:4px;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-mlmsg select, #yiv3237064083 input, #yiv3237064083 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-mlmsg pre, #yiv3237064083 code {font:115%
monospace;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-mlmsg #yiv3237064083logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-msg
p#yiv3237064083attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-reco #yiv3237064083reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-sponsor
#yiv3237064083ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-sponsor #yiv3237064083ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-sponsor #yiv3237064083ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3237064083 #yiv3237064083ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3237064083
#yiv3237064083ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3237064083