Siapapun tak dapat membantah atau mengajukan argumentasi bahwa praktek
penanaman modal pengusaha Tkk di negeri-negeri Dunia Ketiga tidak ada bedanya
dengan semua pemodal eropa dari jaman kolonial sampai sekarang. Ya memang "…
upah buruh juga relatif rendah.." . "..... ongkosproduksinya akan semakin
menurun ...." yang mereka cari untuk memastikan profit sebesar mungkin.
Satu-satunya "argumentasi" atau "alasan" atau pertanyaan yang diajukan para
pendukung "sosialisme a la Deng" adalah "lho dimana salahnya? Emangnya nggak
boleh cari untung? Wong uangnya juga uang mereka sendiri! Ngapain kamu ikut
campur???". Kalau orang sudah membenarkan dan menerima penghisapan sebagai
sebuah praktek "normal" dan "logis", ya sudah tentu kenyataan seperti di
Malaysia itu juga dianggap "normal" dan "logis". Nanti, kalau para pengusaha
bilyuner itu memberi sedekah, bikin proyek ini dan itu untuk orang-orang
miskin, nah dipujilah mereka!! Tuh, lihat, begitu baik dan murah hatinya
orang-orang kaya itu; mereka peduli nasib orang miskin! Tapi kalau buruhnya di
Malaysia mogok menuntut upah dan kondisi kerja yang lebih baik, akan lain lagi
ceritanya!!!!
On Monday, February 5, 2018 12:37 PM, Sie Tik Tan <[email protected]>
wrote:
Typist eksport kapital , dng tujuan ke- negeri2 yg SDA yg murah krn harga
produknya anjlok atau birokratnya komprador, SDM yg murah dan produktif krn
usia jauh lebih muda dibanding negeri asal kapital. Suatu bentuk win-win yg ada
sejak jaman kolonialisme dan yg oleh Reagan-Thatcher dikembangkan sebagai
globalisme dng neo- liberalisasinya.
Verstuurd vanaf mijn iPad
Op 5 feb. 2018 om 08:57 heeft Mohammad Kasim [email protected]
[perhimpunanpersaudaraan] <[email protected]> het
volgende geschreven:
|
|
| |
|
| |
| |
|
| Choose a language Chinese Simplified Chinese Traditional Albanian Arabic
Belarusian Bengali Bulgarian Cambodian Croatian Czech English Esperanto
Filipino French German Greek Hausa Hebrew Hindi Hungarian Indonesian
Italian Japanese Korean Laos Malay Mongol Myanmar Nepal Persian Polish
Portuguese Pushtu Romanian Russian Serbian Sinhalese Spanish Swahili
Tamil Thai Turkish Ukrainian Urdu Vietnamese Uygur Kazak Kirgiz LHASA
KUMBA---------- Icelandic Dutch Norwegian Danish Finnish Swedish
Estonian Lithuanian | | Monday Feb 5th 2018 |
|
| |
|
| | | | |
| | Web indonesian.cri.cn | |
|
|
| |
|
| Home|Asia Tenggara|Lentera|Blitz Asia|Foto|Travel|Blog|Bahasa Mandarin
|Pedoman Muslim|Facebook&WeChat |
| |
|
| |
|
|
| Perusahaan Tiongkok Yang Berkiprah di Asia Tenggara |
| 2018-02-05 10:58:06 CRI |
| XINHUA: Malaysia pernah menjadi negara penghasil karet alam terbesar ketiga
di dunia, setelah Thailand dan Indonesia. Akan tetapi, dalam beberapa tahun
terakhir, area tanaman pohon karet di Malaysia terus menciut dan tenaga
kerjanya juga semakin berkurang gara-gara harga getah karet yang terus menurun,
apa lagi pemerintah Malaysia telah mengalihkan fokusnya pada pengembangan
industri hilir seperti pabrik pembuatan sarung karet.Akan tetapi, kelesuan
sektor getah karet itu tidak menghalangi langkah perusahaan Tiongkok untuk
berinvestasi di Malaysia. PT Guang Ken Rubber (GKR) dari Provinsi Guangdong
Tiongkok telah menanam modal sebanyak ratusan juta yuan RMB, dan menjalin kerja
sama dengan Bornion Timber SDN BHD Malaysia mulai tahun 2008. Di lahan seluas
30.000 hektar yang disewanya, PT GKR menanam pohon karet dengan mengadaptasi
teknik pembibitan Tiongkok. Kebun karet tersebut kini telah berkembang menjadi
salah satu kebun karet yang terbesar di Malaysia.Lai Xionghui, Direktur Umum PT
GKR dan Bornion Timber mengatakan kepada wartawan bahwa Asia Tenggara memiliki
kondisi iklim yang memadai untuk mengembangkan industri karet karena jumlah
produksinya tinggi dan upah buruh juga relatif rendah..Lai Xionghui mengatakan,
para buruh yang dipekerjakan di Malaysia rata-rata berusia antara 20 hingga 30
tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Tiongkok, meskipun upah
ditambah sebesar 50 persen, perekrutan buruh tetap saja sulit.Lai Xionghui
menerangkan, kini kebun milik GKR tertanam 770.000 batang pohon karet produktif
yang bisa disadap. Lai menyebutkan bahwa seiring dengan bertambahnya jumlah
pohon produktif dari tahun ke tahun, maka ongkos produksinya akan semakin
menurun. PT GKR dan Bornion menargetkan 7 juta batang pohon karet produktif
dalam beberapa tahun mendatang, hingga saatnya tiba, akan semakin banyak jumlah
buruh yang dibutuhkan.Biasanya sebatang pohon karet baru bisa disadap pada umur
5 hingga 6 tahun. Ini berarti pihaknya akan menanam minimal ratusan ribu batang
pohon karet dalam beberapa tahun mendatang. Lai mengatakan, pemerintah setempat
memberlakukan kebijakan yang membatasi perekrutan tenaga kerja asing. Oleh
karena itu, perekrutan buruh tetap menjadi kendala dan kini mereka masih
kekurangan 200 buruh.Lai Xionghui menambahkan, pihaknya berencana mendirikan
sebuah pabrik pengolahan karet untuk memproses produk karet dengan nilai tambah
tinggi. "Yang terpenting ialah kami akan memperlihatkan kepada masyarakat
setempat bahwa kami akan terus berkiprah di sini dalam jangka panjang," tutur
Lai Xionghui. |
| |
|
| |
| |
|
| | | |
|
| |
| |
|
| |
|
| | | |
|
| |
|
| |
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
| |
| |
| Terpopuler |
|
| |
|
| • Menhan AS: Akan Perluas Kerja Sama Anti Terorisme dengan Indonesia |
| • AIIB Aktif Investasi Pada Infrastruktur |
| • Kemlu Tiongkok Menanggapi Peristiwa Mariott |
| • Dubes Tiongkok Jelaskan Keadaan Ketabrakan Kapal Di Laut Tiongkok Timur |
| • Publikasi Buku Xi Jinping: The Governance of China Jilid ke-2 Menerobos 10
Juta |
| • PM Tiongkok Hadiri Pertemuan Ke-2 Kerja Sama Lancang-Mekong |
| Indeks>> |
|
|
| |
| |
|
| |
| |
| |
| |
|
| Komentar Pembaca |
|
|
| • Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota
Beijing dimana telah terukir kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam
memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan
60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu
Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu
penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing. Kami pun menginap di
salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing.
Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah : |
| • 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong
berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon
balasan ! |
| • 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA,
judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi,
informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi. |
| • 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang
yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer
satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau
dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya
kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua
meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia
suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo
yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama |
| Indeks>> |
|
|
| |
| Komentar(0 Komentar)
发布
- Weibo
- QQ
-
- Pengunjung
- 手机登录
Belum ada komentarDisponsori oleh Changyan |
| |
|
| |
| © China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040 |