Sayangnya yang ambrol ini bukan rumah pribadi tapi infrastruktur publik, tembok terowongan yang di atasnya dilewati kereta bandara kebanggaan.
Sekali lagi, ini bukan musibah infrastruktur yang pertama. Sudah bertubi-tubi di berbagai tempat dan menimbulkan korban tewas maupun luka. Sepenglihatan dan sependengaran saya, sejak ratusan proyek mandek di tahun 2016, orang-orang konstruksi pada stess. Terutama yang menggarap proyek-proyek di Jabodetabek & Sumatra-selatan. Kabarnya mereka "didesak" untuk buru-buru menyelesaikan proyek antara April-Mei 2018. Supaya bisa dipamerkan saat Asian Games. Kalau gagal, boss / pimpinan tetap saja yang paling benar. Orang lapangan yang selalu dijadikan kambing hitam. --- djiekh@... wrote: Yang saya tahu, kalau bangun rumah di negeri Belanda :Sudah ada peraturannya, berapa % dari luas tanah bolehdibangun untuk rumah.Berapa m jarak minimum dari tepi jalan.Berapa m jarak minimum dari tetangga.Kalau bangun pagar, ada maximum ketinggiannya.Bagian depan rumah harus sejajar dengan jalan.Ada aturan boleh dengan atap datar, atau harus atap miring.Ada peraturan warnanya, tidak boleh warna tertentu. Warnarumah2 di suatu komplex tidak boleh berbeda sangat menyolok.Arsitek membuat design rumah dengan bantuan ahli konstruksiuntuk perhitungan fondasinya, berapa besar tiang pancang betonnya, dan berapa jumlahnya. tiang pancang itu harus ditanam dengan heiapparaat sampai menyentuh lapisn keras dalam tanah. Bisa 15 m, bisa juga dalam sekali tergantung profile tanah, sampai kena lapisan keras.Design arsitek + segala perinciannya dibawa ke bureau bangunan kotapraja yang benar2 punya ahlinya, yang akan menilai.Waktu itu saya minta ijin apa boleh bagian depan rumah melenceng5 % dari arah jalan. Kepalanya tanya, mengapa.. Saya bilang itu menurut Fengshui saya dianjuri begitu.. Dia tertawa, ah, gampang,lalu gambar jalanannya yang dia ubah. Dia bilang, kan jalanannya belum ada. Wah, tidak kira kok gampang. Saya kira mesti bikin surat permohonan macam2.Lalu dia tanya, ini bijgebouw kok sama tingginya dengan hoofdgebouw ?Saya bilang, ya itu juga dianjuri oleh ahli Fengshui. Dia bilang, boleh,tidak ada peraturan yang melarang. Hanya di Belanda, biasanya bijgebouw lebih rendah sedikit dari hoofdgebouw.Wah, dia teliti benar. Ini kok jumlah aantal trede dari trap (tangga)kok 12, bukan 13. Saya bilang ya, itu juga anjuran ahli Fengshui,supaya pilih 12 atau 14. Dia bilang, ya urusan dalam rumah, boleh2 saja. 2018-02-06 7:36 GMT+01:00 ajeg : Ini bukan musibah infrastruktur yang pertama, tapi sudah beruntun di berbagai tempat dan menimbulkan korban tewas maupun luka. Sepertinya terlalu berlebihan kalau kejadian berturut-turut begini dilihat hanya sebagai kecelakaan yang kebetulan beruntun. Pasti ada sesuatu yang salah sehingga kecelakaan konstruksi kok beruntun berjamaah. Jadi, mulai saja dengan memeriksa proses masuknya kontraktor.Sudah melalui tender yang benar atau bagaimana. Lalu soal teknis lainnya. Kita di Indonesia mah sudah bosan melihat 'anak buah / orang lapangan selalu salah, komandan / pimpinan pasti benar'. --- SADAR@... wrote : Bukankah biasanya pengembang dengan kontraktor bangunan yang harus bertanggungjawab kalau terjadi masalah, ... kecuali dia bisa buktikan tembok itu ambrol karena gempa bumi, misalnya yg diluar perhitungan. Tapi kenyataan hanya ditimpa hujan lebat saja sudah ambrol, dengan korban jiwa yg harus ditanggung sepenuhnya oleh pengembang dan kontraktor! From: ajeg Musibah infrastruktur lagi-lagi terjadi dan menimbulkan korban. Siapa bertanggungjawab? - Tembok di Jl Bandara Cengkareng Ambrol, Kereta Bandara Disetop | | Tembok di Jl Bandara Cengkareng Ambrol,... | | Korban Longsor, Jenazah Dyanti Dyah Ayu Dimakamkan diSerang Reporter : Joniansyah (Kontributor) Editor : Elik Susanto Selasa, 6 Februari 2018 09:41 WIB Lokasi longsor di terowongan BandaraSoekarno-Hatta, Jalan Perimeter Selatan setelah proses evakuasi korban. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO TEMPO.CO, Tangerang - Satudari dua korban tertimbun longsor Underpass Jalan Parimeter BandaraSoekarno-Hatta, Tangerang, Banten, meninggal pagi tadi, Selasa, 6 Februari2018. Dyanti Dyah Ayu Chayani Putri, 25 tahun, nama korban yang sempatdiselamatkan tim gabungan pada Selasa dinihari, jenazahnya dibawa ke Seranguntuk dimakamkan. Dyanti tertimbun bersama Mutmainah yangmengendarai Honda Brio. Saat melintas di underpass, keduanya tertimpa dindingterowongan akibat longsor pada Senin, 5 Februari 2018 pukul 17.45. Saatperistiwa terjadi, karyawan GMF Garuda ini bersama rekannya, Mutmainah, 25tahun, melintas di Jalan Perimeter Selatan di kawasan bandara. Baca: Cerita Penyelamatan 2 Korban Longsor di Underpass Bandara Korban Dyanti lebih dulu diselamatkanoleh petugas sekitar pukul 03.00 WIB. Baru kemudian Mutmainah yang dievakuasidari timbunan tanah sekitar pukul 07.00 WIB tadi. Mutmainah dibawa ke RSUDTangerang untuk mendapatkan perawatan dan berdasarkan laporan Antara, korban inidipindahkan ke ke RS Mayapada. Vice President Corporate Secretary PTGMF, M. Arif Faisal, membenarkan dua karyawannya menjadi korban longsor diunderfpass bandara. "Korban kondisinya melemah setelah sekitar 10jam tertimbun longsor. Jenazah akan disemayamkan di rumah duka di Serang, Banten,"kata Arif. Proses penyelamatan korban longsordipimpin Ketua Basarnas Muhammadm Syaugi. Berbagai alat berat digunakan untukmenggali tanah yang menutupi jalan. Jumlah personel yang dikerahkan mencapai120 orang. Selama proses penyelamatan, komunikasi antara korban dan petugasterus berjalan. Hingga akhirnya kedua korban berhasil dievakuasi dalam waktuberbeda.
