"Tanah bagi penggarap" adalah salah satu semboyan reforma agraria. Penerapannya 
sudah tentu  disesuaikan dengan kondisi kongkrit tiap daerah. Misalnya ada 
daerah yang tanahnya tidak akan cukup kalau dibagikan kepada semua kaum tani. 
Orang sering berpikir bahwa reforma agraria adalah bagi-bagi tanah. Bukan hanya 
itu isi dari reforma agraria.  Tujuan atau hakekat dari reforma agraria yang 
benar adalah membebaskan kaum tani dari penghisapan dan penindasan feodalisme. 
Hanya dengan begitu tenaga kerja kaum tani bisa berkembang. Dan itu hanya bisa 
dicapai dengan menghancurkan monopoli atas tanah, monopoli atas alat produksi 
pertanian, monopoli atas input, produk pertanian dan monopoli dalam perdagangan 
produk pertanian (melenyapkan tukang ijon, tengkulak). Jokowi mengira dengan 
pembangunan  megaproyek dalam infrasturktur, Indonesia akan "berkembang" 
seperti Tiongkok kapitalis!!! Mimpi di tengah hari bolong! Dia tidak tahu bahwa 
di Tiongkok, ketika  Deng revisionis mengubah haluan perkembangan menjadi 
kapitalis, di tiongkok sudah selesai Revolusi Demokrasi Baru, artinya hubungan 
produksi feodal sudah dihancurkan, kaum tani sudah dibebaskan dari penghisapan 
dan penindasan feodal, basis sudah siap untuk meneruskan pembangunan industri 
nasional: Tiongkok sudah siap untuk tinggal landas. Sebaliknya Indonesia, 
sampai bongkokpun tidak akan tercipta industri nasional kalau tidak 
diselesaikan masalah tanah, kalau kaum tani tidak dibebaskan dari penghisapan 
dan penindasan feodal!!! 

    On Tuesday, February 20, 2018 12:30 AM, "kh djie [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

     Bung Sunny,Di Indonesia, menurut UUPA, tuan tanah dapat ganti rugi untuk 
tanahyang diambil pemerintah dan dibagikan pada petani miskin. Tetapiundang2 
pemberian ganti ruginya per ha berapa, belum ada. Uangnyajuga tidak ada saat 
itu.Jadi kalau tidak ada uang ganti rugi, ya tuan tanahnya akan melawanpakai 
tentara, kalau ada yang melaksanakan land reform. UUPAnya disetujui, tetapi 
tinggal aturan saja, tidak ada undang2 pelaksanaannya.Jadi saya pikir2, apa 
waktu itu PKI dipancing ? Waktu  di beberapatempat, landreform dilaksankan, 
tentara dan ormas islam, yang anggotanya banyak jadi tuan tanah, melawan.Kalau 
landreform tanah milik tuan tanah, kan sampai sekarang tidakdilaksanakan 
ataukah diam2 dialihkan ke tumpang sari sambil diberi tugas ikut merawat hutan, 
 transmigrasi  dll.?Pernah dengar cerita orang dengan konsekwen berikan tanah 
kelebihannyadari maximum menurut UUPA. Celakanya, waktu setelah peristiwa 65, 
orang ini malah ditangkap, dibunuh, karena dianggap mesti PKI, kok 
bagikantanahnya secara sukarela.........Tetapi kalau tuan tanah tidak dapat 
ganti rugi yang layak, atau diganti denganandil dari perusahaan industri BUMN 
yang jalan baik, mereka akan  melawan.Salam,KH
2018-02-19 23:09 GMT+01:00 kh djie <[email protected]>:

Bung Sunny,Satu setengah bulan yang lalu kami ke Taiwan.Suami teman sekuliah 
saya dulu ulang tahun ke 80.Mereka suami istri kerjanya dulu di Toronto.Tetapi 
famili suaminya semua tinggal di Taipei.Jadi perayaan ulang tahunnya di 
sana.Kemudian kami 16 orang bikin tur keliling Taiwan sepanjang pantai. 
Guidenya ex pilot pesawat tempurTaiwan. Bahasa Inggrisnya bagus.Saya tanya 
tentang landreform di Taiwan. Dia bilang,kalau tanah2 ex Jepang yang lari ke 
negerinya, gampang,langsung dibagi-bagi pada penduduk di situ. Kalau miliktuan 
tanah besar Taiwan, tanah yang melebihi maximumpemilikan yang diijinkan, dibeli 
oleh pemerintah Taiwan dalam bentuk surat2 andil industri.Suami teman bilang, 
wah itu dulu hasil dari andil dapatnyasedikit.Kemudian saya tanya guide kami, 
apa betul begitu, hasil dari andil hanya sedikit. Dia bilang, ya, mula2 memang 
sedikit,tetapi sekarang ini perusahaan tersebut sudah jadi perusahaan raksaksa. 
Dividend dari andilnya sekarang besar sekali.Di kota2 besar, industrinya bukan 
main. Di pegunungan, hutannya terpelihara. Sawah2nya bagus, teririgasi baik. 
Tidak semua tanahhasil land reform untuk sawah. Ada yang untuk sayur mayur.Ada 
yang dijadikan petak2 pemeliharaan ikan. Dari bus langsungkelihatan ada air 
yang disemburkan ke udara dengan pompa, yangbalik masuk kolam, bawa oksigen 
dari udara untuk menaikkan kadaroksigen dalam kolam ikan.Kabarnya patung ibu 
Chiang Kaishek akan digeser. istri Chiang kaishekdibenci banyak orang. Anak 
Chiang Kaishek banyak bikin maju Taiwan, dan keras berantas korupsi. Bangun 
highway sepanjang pantai,dengan banyak gunakan tenaga zeni Angkatan Darat 
Taiwan, Bikinjalanan menembus gunung, sepanjang pantai. Kalau Chiang Chenkuo 
dihormati. Boleh ditiru Jokowi, atau sudah dilakukan di Papua ?Lalu saya tanya 
tentang Chang Hsue liang. Wah, guidenya tidak tahu.Lalu cari di Google. Dia 
bilang, dulu banyak yang menghormati, tetapi ada juga yang menganggap dia 
penghianat. Kalau generasi muda sudahtidak tahu tentang dia. Dalam hati saya 
tertawa. Lha, dia yang umur 60 tahunan saja tidak tahu siapa Chang Hsueliang, 
apalagi yang muda2 ?Saya bilang, waktu Chang Hsueliang meninggal di Hawaii, 
dua2 perwakilanTiongkok Daratan dan Taiwan, hadir, beri penghormatan 
terakhir.....Salam,KH

2018-02-19 22:30 GMT+01:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

     
Reform agaria biasanya dikonfiskasi tanah milik tuan tanah  dengan ganti rugi 
atau tanpa ganti rugi dan diserahkan kepada yang mengerjakan tanah ( kaum 
tani). Tetapi kalau tanah ulayat diambil dan dibagi-dibagikan kepada siapa saja 
termasuk konco bin sahabat, itu bukan reform agararia. Saya kira begitu.

2018-02-19 20:21 GMT+01:00 Tatiana Lukman <[email protected]>:

Pembagian "sertifikat tanah" termasuk dalam reforma agrarianya Jokowi dan 
kedengarannya memang bagus. Karena itu juga maka banyak orang dan kaum tani 
yang tertipu. Untuk jelasnya, silahkan baca bahan dari AGRA di bawah ini..
(Pernyataan Sikap Pimpinan Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria  (PP-AGRA) 
menyambut peringatan 56 tahun Hari Tani Nasional 24 September 2016)“Tolak 
reforma agraria palsu, laksanakan reforma agraria sejati untuk mengakhiri 
monopoli tanah dan menjamin hak rakyat atas tanah”Reforma Agraria (RA) yang 
akan dijalankan oleh Pemerintah Jokowi-JK adalah reforma agraria palsu. Ini 
bukanlah reforma agraria sejati sebagaimana harapan kaum tani dan rakyat 
Indonesia di seluruh penjuru negeri. Reforma agraria sejati harus dapat menjadi 
jalan untuk mengakhiri penghisapan dan penindasan kaum tani dan rakyat 
Indonesia akibat monopoli, perampasan tanah, dan konflik agraria.Tahun 2016, 
Jokowi telah mengumumkan program percepatan pelaksanaan program strategis 
nasional reforma agraria. Kebijakan ini berdasar pada Rencana Kerja Pemerintah 
(RKP) tahun 2017, khsususnya untuk prioritas nasional reforma agraria yang 
dipimpin melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 
(ATR/BPN) dan Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 
(Bappenas).Lebih lanjut, pada 3 Juni 2016, telah dibentuk Tim Kerja Reforma 
Agraria melalui Kantor Staf Kepresidenan (KSP) yang telah menyusun persiapan 
dan pelaksanaan reforma agraria dengan koordinasi dengan sejumlah Kementerian 
dan Lembaga terkait. Strategi Nasional (Stranas) Pelaksanaan Reforma Agraria 
2016-2019 telah disosialisasikan di provinsi Jambi, Kalimantan Barat, dan 
Sulawesi Tengah (Juli – Agustus 2016).Dari Stranas ini dapat dicermati bahwa 
target pencapaian utama RA Jokowi melalui dua skema pelaksanaan. Pertama, 
terget pencapaian 9 juta Ha; 4,5 juta Ha untuk legalisasi dan 4,5 juta Ha untuk 
redistribusi lahan. dengan rincian sebagai berikut 4,1 pelepasan kawasan Hutan 
yang akan terhubung dengan program trasmigrasi. 3,9 juta hektar berasal dari 
tanah milik masyarakat yag akan di legaliasai oleh BPN dan 1 juta hektar 
merupakan tanah HAK (HGU, tanah Transmigrasi belum tersertifikasi dan tanah 
terlantar) terdiri dari 0,6 juta hektar tanah transmigrasi yang belum di 
sertifikat dan 0,4 juta hektar tanah eks HGU dan tanah terlantar.Kedua, target 
pencapaian 12,7 juta Ha untuk alokasi Perhutanan Sosial seperti Hutan 
Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD), dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR).Dari 
kedua target ini diketahui bahwa:Pertama, Inti dari kebijakan RA Jokowi adalah 
legalisasi asset atau sertifikatisasi yang justru berorientasi untuk memperluas 
pasar tanah (land market) dan kredit perbankan. Dalam jangka panjang, program 
ini semakin membuka peluang perampasan tanah karena sertifikasi hanya akan 
memudahkan praktik jual-beli tanah yang menguntungkan tuan tanah dan perbankan 
yang menyita asset kaum tani. Program ini terkait dengan skema Bank Dunia 
sebelumnya melalui Land Administration Project (LAP).Tanah perhutanan tidak 
dibagikan dengan memberikan hak penuh kepada rakyat namun dijalankan dengan 
skema tumpang sari yang memungkinkan terjadinya sistem bagi hasil yang tidak 
adil. Selain itu, lahan hasil redistribusi intinya hanya menyasar seluas 
400.000 Ha tanah bekas HGU dan tanah telantar, bukan mengakhiri eksistensi 
monopoli tanah yang saat ini masih berlanjut. Dengan program ini, Reforma 
Agraria pemerintahan Jokowi justru akan melestarikan monopoli tanah oleh 
korporasi skala besar yang tetap berkuasa memonopoli  tanah, menghisap dan 
menindas buruh tani dan tani miskin.Kedua,  Program Reforma Agraria Jokowi 
tidak memiliki ketegasan terhadap penguasaan tanah besar jutaan hektar 
(perkebunan besar, hutan, Taman Nasional, dan pertambangan raksasa) oleh tuan 
tanah besar yang diwakili korporasi raksasa milik asing, perusahaan besar 
Negara, dan swasta dalam negeri sebagai dasar kokohnya sistem monopoli tanah 
dalam sistem pertanian terbelakang di Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan 
keterbelakangan tenaga produktif di perdesaan, kemiskinan dan kemalaratan yang 
meluas, dan kekerasan yang dialami petani dan rakyat akibat perampasan 
tanah.Ketiga, Program RA Jokowi tidak memiliki kontrol atas sarana produksi 
(bibit, pupuk, obat-obatan, teknologi dan alat kerja) dan harga produk 
pertanian sehingga dapat melindungi kaum tani. Sebaliknya, Negara hanya 
memberikan keleluasaan bagi perusahaan besar asing mengontrol sarana produksi 
dan harga pertanian. Kondisi ini akan semakin memburuk ketika Pemerintah tidak 
mampu menjamin upah dan perbaikan penghidupan kaum tani, semakin besarnya 
peribaan (bunga kredit perbankan, lintah darat) karena kegagalan dalam 
meningkatkan produksi dan perekonomian tani.Keempat, RA Jokowi tidak lahir dari 
dukungan langsung dan menyeluruh dari kaum tani Indonesia melalui organisasi 
massa tani. Proses penyusunan program dan tim kerja RA Jokowi tidak mewakili 
posisi kaum tani dan organisasinya di dalam keseluruhan proses persiapan dan 
pelaskanaan RA Jokowi.AGRA dan kaum tani berpendirian bahwa reforma agraria 
sejati memastikan perombakan struktur agraria secara menyeluruh, tidak parsial. 
Reforma agraria sejati menjadi dasar utama pembangunan industri nasional 
sehingga dapat menjadi jalan bagi seluruh masalah rakyat Indonesia secara 
ekonomi, politik, dan kebudayaan.Oleh karena itu AGRA menyatakan sikap:   
   - Menolak Reforma Agraria Jokowi-JK dan menuntut pelaksanaan Reforma Agraria 
Sejati.
   - Hentikan persiapan dan pelaksanaan reforma agraria yang saat ini 
dijalankan karena hanya akan membiaskan makna Reforma Agraria Sejati dan 
membohongi rakyat dengan konsep reforma agraria palsu..
   - Hentikan monopoli dan perampasan tanah kaum tani dan rakyat Indonesia di 
berbagai daerah akibat pengembangan investasi di berbagai sektor: perkebunan 
skala besar, kehutanan, pertambangan, energi, infrastruktur, pariwisata, proyek 
reklamasi di seluruh wilayah pesisir Indonesia, dan pembangunan pusat-pusat 
bisnis dan properti komersil di perkotaan.
   - Hentikan penggusuran, intimidasi, teror, kekerasan, kriminalisasi terhadap 
kaum tani dan seluruh rakyat indonesia yang memperjuangkan hak-hak 
demokratisnya. Berikan ganti rugi kepada rakyat dan berikan jaminan atas kerja 
dan penghidupan bagi kaum tani yang telah menderita akibat operasi khusus 
Negara, seperti operasi khusus Tinombala di Sulawesi Tengah, yang telah 
merampas hak hidup kaum tani untuk dapat bekerja di lahan mereka..
   - Menyerukan kepada seluruh kaum tani dan rakyat Indonesia untuk bersatu 
menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak demokratis, khususnya dalam momentum 
peringatan Hari Tani Nasional 2016.
 Hidup perjuangan kaum tani Indonesia!Hidup perjuangan rakyat !  

    On Monday, February 19, 2018 7:51 PM, "Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

     

Jokowi dan kelompoknya pergi ke berbagai daerah membagi-membagikan "sertifikat 
tanah". Apakah pemberrian sertifikat adalah perampasan tanah?  
  

   

   



  #yiv3610412194 #yiv3610412194 -- #yiv3610412194ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-mkp #yiv3610412194hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-mkp #yiv3610412194ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-mkp .yiv3610412194ad 
{padding:0 0;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-mkp .yiv3610412194ad p 
{margin:0;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-mkp .yiv3610412194ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-sponsor 
#yiv3610412194ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-sponsor #yiv3610412194ygrp-lc #yiv3610412194hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-sponsor #yiv3610412194ygrp-lc .yiv3610412194ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3610412194 #yiv3610412194actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3610412194
 #yiv3610412194activity span {font-weight:700;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv3610412194 #yiv3610412194activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3610412194 #yiv3610412194activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv3610412194 #yiv3610412194activity span 
.yiv3610412194underline {text-decoration:underline;}#yiv3610412194 
.yiv3610412194attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv3610412194 .yiv3610412194attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv3610412194 .yiv3610412194attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3610412194 .yiv3610412194attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3610412194 .yiv3610412194attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv3610412194 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv3610412194 .yiv3610412194bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3610412194 
.yiv3610412194bold a {text-decoration:none;}#yiv3610412194 dd.yiv3610412194last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3610412194 dd.yiv3610412194last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3610412194 
dd.yiv3610412194last p span.yiv3610412194yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv3610412194 div.yiv3610412194attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv3610412194 div.yiv3610412194attach-table 
{width:400px;}#yiv3610412194 div.yiv3610412194file-title a, #yiv3610412194 
div.yiv3610412194file-title a:active, #yiv3610412194 
div.yiv3610412194file-title a:hover, #yiv3610412194 div.yiv3610412194file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3610412194 div.yiv3610412194photo-title a, 
#yiv3610412194 div.yiv3610412194photo-title a:active, #yiv3610412194 
div.yiv3610412194photo-title a:hover, #yiv3610412194 
div.yiv3610412194photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3610412194 
div#yiv3610412194ygrp-mlmsg #yiv3610412194ygrp-msg p a 
span.yiv3610412194yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3610412194 
.yiv3610412194green {color:#628c2a;}#yiv3610412194 .yiv3610412194MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv3610412194 o {font-size:0;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194photos div {float:left;width:72px;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3610412194
 #yiv3610412194reco-category {font-size:77%;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194reco-desc {font-size:77%;}#yiv3610412194 .yiv3610412194replbq 
{margin:4px;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-mlmsg select, #yiv3610412194 input, #yiv3610412194 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-mlmsg pre, #yiv3610412194 code {font:115% 
monospace;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-mlmsg #yiv3610412194logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-msg 
p#yiv3610412194attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-reco #yiv3610412194reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-sponsor 
#yiv3610412194ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-sponsor #yiv3610412194ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-sponsor #yiv3610412194ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv3610412194 #yiv3610412194ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3610412194 
#yiv3610412194ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv3610412194 

   

Kirim email ke