https://nasional.tempo.co/read/1085875/gatot-nurmantyo-sakit-saya-kalau-masjid-
dilarang-bicara-politik?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_1
Gatot Nurmantyo: Sakit Saya Kalau Masjid
Dilarang Bicara Politik
Reporter:
Pribadi Wicaksono (Kontributor)
Editor:
Juli Hantoro
Jumat, 4 Mei 2018 20:23 WIB
0 komentar
<https://nasional.tempo.co/read/1085875/gatot-nurmantyo-sakit-saya-kalau-masjid-dilarang-bicara-politik?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_1#comments>
21005
#
#
#
#
Relawan Selendang Putih Nusantara resmi mendeklarasikan Gatot Nurmantyo
menjadi Calon Presiden. Deklarasi dilakukan dengan seremoni pengalungan
selendang putih di Menara Kompas, Jakarta. 23 April 2018. Dok. Relawan
Selendang Putih Nusantara
<https://statik.tempo.co/data/2018/04/24/id_700552/700552_720.jpg>
Relawan Selendang Putih Nusantara resmi mendeklarasikan Gatot Nurmantyo
menjadi Calon Presiden. Deklarasi dilakukan dengan seremoni pengalungan
selendang putih di Menara Kompas, Jakarta. 23 April 2018. Dok. Relawan
Selendang Putih Nusantara
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot
Nurmantyo
<https://nasional.tempo.co/read/1084776/eks-drummer-nidji-dukung-gatot-nurmantyo-jadi-capres-2019>angkat
bicara terkait polemik masjid yang dikabarkan dilarang untuk membahas
politik.
"Sakit (hati) saya kalau ada yang bilang masjid dilarang untuk bicara
politik," ujar Gatot Nurmantyo saat mengikuti dialog di masjid Kampus
UGM Yogya, Jumat 4 Mei 2018.
Gatot menuturkan yang menyampaikan larangan masjid agar tak dipakai
untuk membahas politik ada dua golongan. Pertama kalau orang itu
beragama Islam artinya dia tidak tahu tentang agama. Dan golongan kedua
kalau dia bukan umat Islam artinya orang itu sok tahu tentang agama
Islam. "Rasullulah saja berbicara masalah politik pemerintaham di
Raudah," ujar Gatot.
Baca juga: Pengamat: Ingin Nyapres, Gatot Nurmantyo Harus Punya Rp 7
Triliun
<https://nasional.tempo.co/read/1083675/pengamat-ingin-nyapres-gatot-nurmantyo-harus-punya-rp-7-triliun>
Gatot Nurmantyo menambahkan Islam itu merupakan rahmat bagi semesta
alam. Sehingga di dalam Al Quran, ujar Gatot, memuat berbagai ilmu yang
kini turunannya sangat banyak dalam berbagai bidang kehidupan.
"Mulai dari ilmu kedokteran asalnya dari Al Quran, ilmu astronomi atau
kebintangan, cek saja, penemu kebintangan dan Al-Quran duluan mana,"
ujarnya.
Termasuk juga, ujar Gatot, ilmu tentang pemerintahan dan politik juga
ada di Al Quran.
Dengan kondisi itu maka Gatot menyatakan kalau pembicaraan politik
dilarang dalam masjid, padahal isi Al Quran itu tentang manusia selalu
terkait politik, ia pun bingung bagaimana selanjutnya harus bersikap.
"Seorang muslim itu melakukan ibadah apa pun juga meniru rasulnya, Nabi
Muhammad," ujarnya.
Gatot menuturkan, ketika rasul itu berbicara tentang pemerintahan atau
tentang politik di Raudah di Masjid Nabawi, namun hal itu dilarang
ditiru tentu akan membingungkan.
"Seharusnya yang dilarang bukan bicara politik di masjid, tapi bicara
yang mengadu domba, mengajak yang tidak benar, itu baru benar," ujar Gatot.
Baca juga: PAN Anggap Gatot Nurmantyo Patut Diperhitungkan di Pilpres
2019
<https://nasional.tempo.co/read/1083370/pan-anggap-gatot-nurmantyo-patut-diperhitungkan-di-pilpres-2019>
Toh, Gatot Nurmantyo mengatakan, politik itu tujuannya mulia, hanya
sering disalahartikan saja.
"Jadi perlu diluruskan soal polemik masjid dilarang untuk bicara politik
ini, nanti kalau itu terjadi orang akan takut ke masjid," ujar Gatot
Gatot Nurmantyo
<https://nasional.tempo.co/read/1083943/survei-capres-alternatif-gatot-nurmantyo-raih-dukungan-terbanyak>
pun meyakini polemik soal masjid dilarang untuk bicara politik itu hanya
isu, bukan terjadi sebenarnya.
"Tidak mungkin pemerintah melarang (masjid untuk bicara politik) itu,
nggak mungkin, itu hanya isu saja," ujarnya.
Perbincangan soal boleh tidaknya obrolan politik di tempat ibadah muncul
setelah Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais
mengatakan politik harus disisipkan dalam acara keagamaan atau pengajian.
Amien menyampaikan hal itu dalam peringatan satu tahun Ustazah Peduli
Negeri di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. “Ini dalam
rangka ulang tahun ustazah peduli negeri, pengajian disisipkan politik
itu harus,” ujar Amien.