Omar Dhani menjawab, “Pertama, mereka tidak melakukan revisi rencana operasi, 
itu kecerobohan. Kedua, tiga kapal Belanda, kalau benar laporan Kolonel 
Mursyid, bukannya sedang patroli seperti yang diberitakan pers, tetapi mereka 
berhenti pada jalur pelayaran kapal kita. Maar we werden opgewacht, tetapi tiga 
kapal kita disanggong. Ini berarti rencana kita sudah bocor, dan bocornya bukan 
di Aru, tetapi di Jakarta. Bapak masih ingat peristiwa di Padang tahun dulu?”

 ...
 Tragedi Aru https://newhistorian.wordpress.com/2008/02/25/tragedi-aru/ Feb25 
https://newhistorian.wordpress.com/2008/02/25/tragedi-aru/
 
 MENGENANG TRAGEDI DI LAUT ARU
 https://newhistorian.files.wordpress.com/2008/02/navy_destroyer_kortenaer.jpg

 Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat, yang merenggut nyawa Komodor Yos 
Sudarso dan banyak anggota TNI-AL di Kepulauan Aru, 15 Januari 1962, sempat 
menjadi lembaran kelam sejarah angkatan bersenjata kita. Kini saatnya untuk 
melihat dengan lebih jernih bahwa pihak TNI-AU, yang dituding sebagai penyebab 
tragedi karena ketidaksiapannya ikut operasi gabungan itu, tak sepenuhnya patut 
disalahkan.
 Peristiwa di Kepulauan Aru, 15 Januari 1962, sebenarnya telah lama terkubur 
dalam kotak kenangan “Sejarah AURI/TNI-AU”. Di masa Orde Baru sempat mengemuka 
kembali karena komentar mantan Ketua DPA Laksamana TNI (Purn.) Sudomo bahwa 
AURI ternyata tidak siap menghadapi Operasi Trikora. Pernyataan itu menyengat 
para sesepuh TNI-AU yang sebelumnya – sejak pendiri dan Bapak AURI Laksamana 
Suryadarma, KSAU sejak 1946, dipaksa mengundurkan diri dari jabatannya pada 19 
Januari 1962 sebagai bukti “kesalahannya” dalam tragedi Aru – lebih banyak 
diam.Generasi muda TNI-AU pun bertanya-tanya, apakah sedemikian “berdosa” korps 
dirgantara yang mereka masuki? Tidakkah semua terjadi karena kekacauan politik 
pada masa itu? Apakah tidak ada “kesengajaan” mendiamkan sebuah peristiwa 
tertutup kabut tebal sehingga pihak yang mestinya bertanggung jawab bisa 
bersembunyi dari kesalahan?
 Kisah ini dihadirkan kembali bukan untuk menciptakan permusuhan baru, masalah 
baru, melainkan untuk memberi gambaran yang lebih jelas agar wawasan para 
prajurit menjadi lebih luas.
 Bukan operasi gabungan
 Peristiwa Aru bermula dari suatu operasi rahasia untuk menyusupkan sukarelawan 
suku Irian yang telah dilatih oleh TNI-AD ke Irian Barat. Komando Trikora 
memang sudah terbentuk, namun misi tersebut dilaksanakan bukan dalam konteks 
operasi gabungan. Komando berdiri sendiri sebagai task force dengan misi 
tertentu.
 Hampir semua kekuatan yang akan dilibatkan dalam Operasi Trikora belum siap. 
Bahkan semua kekuatan udara masih stand by di Jawa. Namun ternyata Angkatan 
Darat telah mendahului dengan melakukan penyusupan sukarelawan. Untuk 
melaksanakan misi itu, AD minta bantuan ALRI untuk mengangkut pasukan dari 
Jakarta menuju pantai Irian. Sedangkan AURI hanya diminta mengerahkan dua 
pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan dari Jakarta menuju target yang 
nantinya ditentukan oleh ALRI.
 Karena misi itu sangat rahasia, di Mabes AURI hanya beberapa petinggi yang 
mengetahui. Walaupun nyatanya tidak rumit, hanya mengangkut pasukan ke sebuah 
pangkalan di dalam negeri dengan terbang rendah. Batas tugas AURI hanya 
memindahkan pasukan dengan Hercules, selebihnya tidak menjadi tanggung jawab 
Mabes AURI.
 Pada 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. Kedua Hercules 
kembali ke pangkalan, dan AURI pun menjalankan tugas rutinnya. Namun tanggal 18 
Januari muncul situasi yang kurang mengenakkan, saat ada pimpinan angkatan lain 
melapor ke Bung Karno bahwa tiadanya perlindungan dari AURI telah menyebabkan 
sebuah operasi gagal. Sampai saat itu pihak AURI belum mengetahui apa yang 
sebenarnya terjadi. Apa yang dimaksudkan operasi, dan apanya yang gagal?
 Ternyata pada 15 Januari telah terjadi kontak senjata antara armada ALRI 
dengan AL Belanda di Laut Aru yang menyebabkan gugurnya Komodor Yos Sudarso dan 
prajurit-prajurit ALRI lainnya. Kalau dikatakan AURI tidak melindungi kapal 
beserta para prajurit ALRI, bukankah tugas AURI hanya mengangkut pasukan dengan 
dua Hercules dalam operasi penyusupan ke Irian?
 Tidak ada kesalahan dalam peristiwa itu, namun AURI disalahkan. Padahal mereka 
yang tahu rumitnya mengkoordinasikan operasi udara, apalagi dengan pengeboman 
untuk melindungi kapal perang, pasti akan berpikir seratus kali lipat untuk 
menudingkan kesalahan seperti itu. Tapi begitulah. Orang yang tidak tahu, dan 
tidak mau tahu, telah menudingkan kesalahan – dan pemegang kekuasaan tertinggi 
pun membenarkan.
 Yos Sudarso kobarkan semangat tempur
 Hari H untuk pelaksanaan operasi penyusupan adalah Senin, 15 Januari 1962. 
Pada H minus tiga (-3), semua kapal ALRI telah merapat di rendezvous point di 
sebuah pulau di Kepulauan Aru. Pasukan yang sudah diturunkan dari Hercules AURI 
juga sudah diangkut kapal dari Letfuan menuju pulau tersebut. Pada hari pertama 
di titik itu, pesawat-pesawat Belanda sudah datang mengintai. Hal yang sama 
terjadi pada H -2 dan H -1.
 Hari H pukul 17.00 waktu setempat, tiga kapal mulai bergerak. KRI Harimau 
berada di depan, membawa antara lain Kol. Sudomo, Kol. Mursyid, dan Kapten 
Tondomulyo. Di belakangnya adalah KRI Macan Tutul yang dinaiki Komodor Yos 
Sudarso. Sedangkan di belakang adalah KRI Macan Kumbang.
 Menjelang pukul 21.00, Kol. Mursyid melihat radar blips pada lintasan depan 
yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di sebelah kanan dan satu di 
kiri. Blipstersebut tidak bergerak, menandakan kapal-kapal sedang berhenti. 
Ketiga KRI kemudian melaju. Tiba-tiba terdengar dengung pesawat mendekat, lalu 
menjatuhkan flare yang tergantung pada parasut. Keadaan tiba-tiba menjadi 
terang-benderang, dalam waktu cukup lama. Tiga kapal Belanda yang berukuran 
lebih besar ternyata sudah menunggu kedatangan ketiga KRI. Kapal Belanda 
melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kol. Sudomo 
memerintahkan untuk balas menembak namun tidak mengenai sasaran. Komodor Yos 
Sudarso memerintahkan ketiga KRI untuk kembali. Ketiga kapal pun serentak 
membelok 180o. Naas, KRI Macan Tutul macet dan terus membelok ke kanan. 
Kapal-kapal Belanda mengira manuver berputar itu untuk menyerang mereka. 
Sehingga mereka langsung menembaki kapal itu. Tembakan pertama meleset, namun 
tembakan kedua tepat mengenai KRI Macan Tutul. Menjelang tembakan telak 
menghantam kapal, Komodor Yos Sudarso meneriakkan perintah, “Kobarkan semangat 
pertempuran!”
 AURI berada dalam kondisi ditekan karena misi yang gagal itu. Orang mengira, 
kekuatan AURI mampu melayang-layang selamanya di udara dan mengawasi setiap 
jengkal wilayah RI. Negara superpower seperti AS pun tidak akan bisa 
melakukannya di era itu, apalagi kita. Bagaimana pesawat terbang melaksanakan 
misi bantuan serangan udara tanpa ada koordinasi sebelumnya? Bahkan operasi itu 
sendiri tidak pernah dibicarakan dengan pimpinan AURI. Namun saat gagal, 
kesalahan ditimpakan ke pihak AURI. Untuk mengakhiri polemik, KSAU Suryadarma 
mengundurkan diri pada 19 Januari 1962. AURI pun berduka cita.
 Gagal namun dinilai heroik
 Hari Sabtu, 20 Januari 1962, diadakan rapat di Istana Bogor yang dipimpin oleh 
Bung Karno, untuk mengangkat Laksamana Muda Omar Dhani sebagai KSAU yang baru. 
Setelah itu langsung diadakan brifing mengenai peristiwa Aru. Kolonel Mursyid 
sebagai komandan tim juga sudah kembali untuk memberikan paparan. Begitu 
paparan selesai, suasana di ruang rapat yang terletak di sayap kiri Istana 
Bogor itu jadi mencekam, serius, sepi, dan semua diam. Seakan-akan menikmati 
rasa kemenangan dan kepahlawanan. Yos Sudarso gugur, operasi gagal, namun 
dinilai heroik.
 Keheningan kemudian dipecahkan oleh Presiden Soekarno. “Siapa yang mau tanya 
atau minta penjelasan?”
 Ternyata, Omar Dhani satu-satunya yang bertanya, “Tadi dikatakan oleh Kolonel 
Mursyid bahwa hari H -3, H -2, H -1, bahkan pada hari H-nya sendiri sudah ada 
pesawat Belanda melakukan pengintaian di tempat rendezvous. Artinya, Belanda 
sudah tahu iring-iringan kapal kita. Sebagai seorang komandan, entah komandan 
regu, komandan batalyon, bahkan panglima angkatan sekalipun yang diberi tugas 
dengan target tertentu, dengan data dan info pada saat itu, kalau dalam 
melaksanakan tugasnya itu kemudian menemui situasi dan kondisi yang berbeda, 
apalagi bertentangan dengan data dan info yang ia dapatkan sebelumnya, mereka 
punya hak untuk mengubah taktik guna mencapai sasaran semula. Apakah pada misi 
tanggal 15 Januari itu dilakukan perubahan taktik? Yaitu, setelah jelas-jelas 
ada pengintaian pesawat Belanda yang terus-menerus?”
 Kolonel Mursyid menjawab, “Tidak ada perubahan karena ….” Lalu hadirin 
diberondong dengan retorika yang menggebu-gebu tentang tugas negara, tuntutan 
dan kepentingan rakyat, kolonialisme dan imperialisme, bangsa dan tanah air, 
patriotisme, serta hal-hal lain, panjang lebar.
 Bung Karno kemudian bertanya, “Bagaimana Omar Dhani?”
 Lalu Omar Dhani menjawab, “Sudah, Paduka Yang Mulia.”
 Rapat diskors dan semua menuju beranda untuk makan siang.
 Setelah mengambil makanan, Bung Karno duduk di kursi rotan sendirian. Ia 
memanggil Omar Dhani agar duduk di sebelah kirinya dan bertanya, “Kamu 
kelihatannya belum puas dengan jawaban Mursyid. Mengapa?”
 Omar Dhani menjawab, “Pertama, mereka tidak melakukan revisi rencana operasi, 
itu kecerobohan. Kedua, tiga kapal Belanda, kalau benar laporan Kolonel 
Mursyid, bukannya sedang patroli seperti yang diberitakan pers, tetapi mereka 
berhenti pada jalur pelayaran kapal kita. Maar we werden opgewacht, tetapi tiga 
kapal kita disanggong. Ini berarti rencana kita sudah bocor, dan bocornya bukan 
di Aru, tetapi di Jakarta. Bapak masih ingat peristiwa di Padang tahun dulu?”
 Langsung Presiden Soekarno bilang, “Je hebt gelijk, kamu benar.”
 Walau baru beberapa jam dilantik, ternyata Omar Dhani memiliki pengetahuan 
yang luas dan mampu memberikan analisis operasi yang tajam. Tidak salah bila 
dalam Operasi Dwikora Bung Karno nantinya memberi jabatan panglima kepadanya.
 Setelah makan siang selesai, rapat dilanjutkan namun hanya seperempat jam. 
Presiden mengimbau agar pesan terakhir Komodor Yos Sudarso dilaksanakan dan 
kerahasiaan ditingkatkan. Kebocoran dalam peristiwa Aru sama sekali tidak 
disinggung.
 Kebesaran Bung Karno
 “Akan aku ceritakan kepadamu sesuatu yang belum pernah kuceritakan pada orang 
lain,” kata Omar Dhani beberapa saat setelah keluar dari penjara. Mantan KSAU 
itu menyadari bahwa Bung Karno telah mengambil keputusan yang tepat. Lebih 
mendahulukan kepentingan nasional daripada kepentingan angkatan, apalagi 
kelompok yang lebih kecil. Bung Karno telah dengan sangat jeli mengetahui bahwa 
Omar Dhani tidak puas dengan jawaban Kol. Mursyid, dan dengan cara elegan serta 
luwes memaksa Omar Dhani untuk menyatakan keputusannya.
 Bung Karno tidak membongkar adanya kebocoran karena hal itu bisa menimbulkan 
rasa tidak enak antarangkatan. Bung Karno membiarkan suatu kegagalan dan 
kesalahan menjadi suatu tindakan yang heroik. Ia menjadikan teriakan tempur Yos 
Sudarso, “Kobarkan semangat pertempuran,” secara maksimal. Itulah kebesaran 
Bung Karno yang akhirnya bisa dimengerti para pimpinan AURI, yang sebenarnya 
tidak bisa menerima tuduhan yang sulit dimengerti itu. Sebagai ahli strategi 
militer, Bung Karno dengan cepat memanfaatkan kekalahan dalam satu pertempuran 
menjadi suatu kemenangan politis dan psikologis yang kemudian memenangkan 
peperangan.
 Peristiwa Aru kemudian berlalu begitu saja. Sampai saatnya nanti orang bisa 
menilai, pengorbanan batin para pimpinan AURI di masa itu adalah wujud nyata 
sikap tertinggi dalam disiplin prajurit, yaitu loyalitas.
 (Budhi “Phantom” Achmadi, jurnalis masalah Hankam, penerbang F-5 Tiger II 
TNI-AU) 
dikutip dari Intisari, Bulan Juli 2000.

 

 

Kirim email ke