Iyaaa, BETUUUL juga! Kenyataan masih berlanjut permainan LICIK jenderal Suharto dengan G30S, jelas dia yang datangkan Yon-530 Brawijaya dan Yon-454 Diponegoro dengan perlengkapan SIAP Tempur ke Jakarta, hanya untuk ikuti upacara Peringati Hari Angkatan Bersenjata, dan ternyata dari 2 pasukan inilah yang dijadikan induk kekuatan G30S, ... menjadi lebih konyol lagi, kekuatan ini pula yang digunakan untuk menumpas yg dituduhkan kekuatan G30S yang berada di Halim itu! Jelas-jelas permainan jenderal Suharto sendiri yg bertujuan menyingkirkan 7 jenderal diatasnya itu, kok yang dikambing-hitam PKI, dituduh DALANG G30S, ... partai komunis yang justru hendak dihancurkan CIA!

Dan, ... sebagaimana kita saksikan bersama, setelah jenderal Suharto berhasil naik kesinggasana kekuasaan RI, langsung saja MENGGADAIKAN tambang emas Irian barat itu pada Freeport-AS, membuat Indonesia tidak berkutik dengan perjanjian yang dipakukan untuk puluhan tahun ini.

Salam,

ChanCT



kh djie 於 24/5/2018 12:26 寫道:
Tidak saja tentang peristiwa Aru, Omar Dhani juga mencurigai mengapa tentara yang didrop di Malaysia, selalu langsung ketahuan dan tertangkap. Mesti ada kebocoran. Belakangan diketahui kalau Suharto kirim Ali Murtopo diam2 rundingan dengan Tengku Abdurrachman.
Tidak tahu apa yang dibicarakan ?

2018-05-24 6:18 GMT+02:00 ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:

    Dari penjelasan Omar Dhani yg baru beberapa hari menjabat KSAU
    menggantikan Suryadarma, memperTEGAS Tragedi Aru sepenuhnya adalah
    tanggungjawab jenderal Suharto, tidak seharusnya menyalahkan
    Suryadarma! Dalam menjalankan aksi, Suharto kurang mempersiapkan
    beberapa kemungkinan yg akan dan bisa terjadi! CEROBOH dalam
    perencanaan atau memang sengaja dibuat rencana selundupkan
    sepasukan ke Irian Barat yg dijalankan itu GAGAL? Lalu cari saiapa
    yg bisa dikambing-hitam kan saja, ...!

    Terimakasih, ...!

    Salam,

    ChanCT



    [email protected] <mailto:[email protected]>
    [GELORA45] 於 24/5/2018 11:19 寫道:


    Omar Dhani menjawab, “Pertama, mereka tidak melakukan revisi
    rencana operasi, itu kecerobohan. Kedua, tiga kapal Belanda,
    kalau benar laporan Kolonel Mursyid, bukannya sedang patroli
    seperti yang diberitakan pers, tetapi mereka berhenti pada jalur
    pelayaran kapal kita. Maar we werden opgewacht, tetapi tiga kapal
    kita disanggong. Ini berarti rencana kita sudah bocor, dan
    bocornya bukan di Aru, tetapi di Jakarta. Bapak masih ingat
    peristiwa di Padang tahun dulu?”

    ...


      Tragedi Aru
      <https://newhistorian.wordpress.com/2008/02/25/tragedi-aru/>

    Feb25 <https://newhistorian.wordpress.com/2008/02/25/tragedi-aru/>

    MENGENANG TRAGEDI DI LAUT ARU

    
<https://newhistorian.files.wordpress.com/2008/02/navy_destroyer_kortenaer.jpg>

    /Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat, yang merenggut nyawa
    Komodor Yos Sudarso dan banyak anggota TNI-AL di Kepulauan Aru,
    15 Januari 1962, sempat menjadi lembaran kelam sejarah angkatan
    bersenjata kita. Kini saatnya untuk melihat dengan lebih jernih
    bahwa pihak TNI-AU, yang dituding sebagai penyebab tragedi karena
    ketidaksiapannya ikut operasi gabungan itu, tak sepenuhnya patut
    disalahkan/.

    Peristiwa di Kepulauan Aru, 15 Januari 1962, sebenarnya telah
    lama terkubur dalam kotak kenangan “Sejarah AURI/TNI-AU”. Di masa
    Orde Baru sempat mengemuka kembali karena komentar mantan Ketua
    DPA Laksamana TNI (Purn.) Sudomo bahwa AURI ternyata tidak siap
    menghadapi Operasi Trikora. Pernyataan itu menyengat para sesepuh
    TNI-AU yang sebelumnya – sejak pendiri dan Bapak AURI Laksamana
    Suryadarma, KSAU sejak 1946, dipaksa mengundurkan diri dari
    jabatannya pada 19 Januari 1962 sebagai bukti “kesalahannya”
    dalam tragedi Aru – lebih banyak diam.Generasi muda TNI-AU pun
    bertanya-tanya, apakah sedemikian “berdosa” korps dirgantara yang
    mereka masuki? Tidakkah semua terjadi karena kekacauan politik
    pada masa itu? Apakah tidak ada “kesengajaan” mendiamkan sebuah
    peristiwa tertutup kabut tebal sehingga pihak yang mestinya
    bertanggung jawab bisa bersembunyi dari kesalahan?

    Kisah ini dihadirkan kembali bukan untuk menciptakan permusuhan
    baru, masalah baru, melainkan untuk memberi gambaran yang lebih
    jelas agar wawasan para prajurit menjadi lebih luas.

    Bukan operasi gabungan

    Peristiwa Aru bermula dari suatu operasi rahasia untuk
    menyusupkan sukarelawan suku Irian yang telah dilatih oleh TNI-AD
    ke Irian Barat. Komando Trikora memang sudah terbentuk, namun
    misi tersebut dilaksanakan bukan dalam konteks operasi gabungan.
    Komando berdiri sendiri sebagai /task force/ dengan misi tertentu.

    Hampir semua kekuatan yang akan dilibatkan dalam Operasi Trikora
    belum siap. Bahkan semua kekuatan udara masih /stand by/ di Jawa.
    Namun ternyata Angkatan Darat telah mendahului dengan melakukan
    penyusupan sukarelawan. Untuk melaksanakan misi itu, AD minta
    bantuan ALRI untuk mengangkut pasukan dari Jakarta menuju pantai
    Irian. Sedangkan AURI hanya diminta mengerahkan dua pesawat
    Hercules untuk mengangkut pasukan dari Jakarta menuju target yang
    nantinya ditentukan oleh ALRI.

    Karena misi itu sangat rahasia, di Mabes AURI hanya beberapa
    petinggi yang mengetahui. Walaupun nyatanya tidak rumit, hanya
    mengangkut pasukan ke sebuah pangkalan di dalam negeri dengan
    terbang rendah. Batas tugas AURI hanya memindahkan pasukan dengan
    Hercules, selebihnya tidak menjadi tanggung jawab Mabes AURI.

    Pada 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan.
    Kedua Hercules kembali ke pangkalan, dan AURI pun menjalankan
    tugas rutinnya. Namun tanggal 18 Januari muncul situasi yang
    kurang mengenakkan, saat ada pimpinan angkatan lain melapor ke
    Bung Karno bahwa tiadanya perlindungan dari AURI telah
    menyebabkan sebuah operasi gagal. Sampai saat itu pihak AURI
    belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang
    dimaksudkan operasi, dan apanya yang gagal?

    Ternyata pada 15 Januari telah terjadi kontak senjata antara
    armada ALRI dengan AL Belanda di Laut Aru yang menyebabkan
    gugurnya Komodor Yos Sudarso dan prajurit-prajurit ALRI lainnya.
    Kalau dikatakan AURI tidak melindungi kapal beserta para prajurit
    ALRI, bukankah tugas AURI hanya mengangkut pasukan dengan dua
    Hercules dalam operasi penyusupan ke Irian?

    Tidak ada kesalahan dalam peristiwa itu, namun AURI disalahkan.
    Padahal mereka yang tahu rumitnya mengkoordinasikan operasi
    udara, apalagi dengan pengeboman untuk melindungi kapal perang,
    pasti akan berpikir seratus kali lipat untuk menudingkan
    kesalahan seperti itu. Tapi begitulah. Orang yang tidak tahu, dan
    tidak mau tahu, telah menudingkan kesalahan – dan pemegang
    kekuasaan tertinggi pun membenarkan.

    Yos Sudarso kobarkan semangat tempur

    Hari H untuk pelaksanaan operasi penyusupan adalah Senin, 15
    Januari 1962. Pada H minus tiga (-3), semua kapal ALRI telah
    merapat di /rendezvous point/ di sebuah pulau di Kepulauan Aru.
    Pasukan yang sudah diturunkan dari Hercules AURI juga sudah
    diangkut kapal dari Letfuan menuju pulau tersebut. Pada hari
    pertama di titik itu, pesawat-pesawat Belanda sudah datang
    mengintai. Hal yang sama terjadi pada H -2 dan H -1.

    Hari H pukul 17.00 waktu setempat, tiga kapal mulai bergerak. KRI
    Harimau berada di depan, membawa antara lain Kol. Sudomo, Kol.
    Mursyid, dan Kapten Tondomulyo. Di belakangnya adalah KRI Macan
    Tutul yang dinaiki Komodor Yos Sudarso. Sedangkan di belakang
    adalah KRI Macan Kumbang.

    Menjelang pukul 21.00, Kol. Mursyid melihat radar /blips/ pada
    lintasan depan yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di
    sebelah kanan dan satu di kiri. /Blips/tersebut tidak bergerak,
    menandakan kapal-kapal sedang berhenti. Ketiga KRI kemudian
    melaju. Tiba-tiba terdengar dengung pesawat mendekat, lalu
    menjatuhkan /flare///yang tergantung pada parasut. Keadaan
    tiba-tiba menjadi terang-benderang, dalam waktu cukup lama. Tiga
    kapal Belanda yang berukuran lebih besar ternyata sudah menunggu
    kedatangan ketiga KRI. Kapal Belanda melepaskan tembakan
    peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kol. Sudomo
    memerintahkan untuk balas menembak namun tidak mengenai sasaran.
    Komodor Yos Sudarso memerintahkan ketiga KRI untuk kembali.
    Ketiga kapal pun serentak membelok 180o. Naas, KRI Macan Tutul
    macet dan terus membelok ke kanan. Kapal-kapal Belanda mengira
    manuver berputar itu untuk menyerang mereka. Sehingga mereka
    langsung menembaki kapal itu. Tembakan pertama meleset, namun
    tembakan kedua tepat mengenai KRI Macan Tutul. Menjelang tembakan
    telak menghantam kapal, Komodor Yos Sudarso meneriakkan perintah,
    “Kobarkan semangat pertempuran!”

    AURI berada dalam kondisi ditekan karena misi yang gagal itu.
    Orang mengira, kekuatan AURI mampu melayang-layang selamanya di
    udara dan mengawasi setiap jengkal wilayah RI. Negara superpower
    seperti AS pun tidak akan bisa melakukannya di era itu, apalagi
    kita. Bagaimana pesawat terbang melaksanakan misi bantuan
    serangan udara tanpa ada koordinasi sebelumnya? Bahkan operasi
    itu sendiri tidak pernah dibicarakan dengan pimpinan AURI. Namun
    saat gagal, kesalahan ditimpakan ke pihak AURI. Untuk mengakhiri
    polemik, KSAU Suryadarma mengundurkan diri pada 19 Januari 1962.
    AURI pun berduka cita.

    Gagal namun dinilai heroik

    Hari Sabtu, 20 Januari 1962, diadakan rapat di Istana Bogor yang
    dipimpin oleh Bung Karno, untuk mengangkat Laksamana Muda Omar
    Dhani sebagai KSAU yang baru. Setelah itu langsung diadakan
    brifing mengenai peristiwa Aru. Kolonel Mursyid sebagai komandan
    tim juga sudah kembali untuk memberikan paparan. Begitu paparan
    selesai, suasana di ruang rapat yang terletak di sayap kiri
    Istana Bogor itu jadi mencekam, serius, sepi, dan semua diam.
    Seakan-akan menikmati rasa kemenangan dan kepahlawanan. Yos
    Sudarso gugur, operasi gagal, namun dinilai heroik.

    Keheningan kemudian dipecahkan oleh Presiden Soekarno. “Siapa
    yang mau tanya atau minta penjelasan?”

    Ternyata, Omar Dhani satu-satunya yang bertanya, “Tadi dikatakan
    oleh Kolonel Mursyid bahwa hari H -3, H -2, H -1, bahkan pada
    hari H-nya sendiri sudah ada pesawat Belanda melakukan
    pengintaian di tempat rendezvous. Artinya, Belanda sudah tahu
    iring-iringan kapal kita. Sebagai seorang komandan, entah
    komandan regu, komandan batalyon, bahkan panglima angkatan
    sekalipun yang diberi tugas dengan target tertentu, dengan data
    dan info pada saat itu, kalau dalam melaksanakan tugasnya itu
    kemudian menemui situasi dan kondisi yang berbeda, apalagi
    bertentangan dengan data dan info yang ia dapatkan sebelumnya,
    mereka punya hak untuk mengubah taktik guna mencapai sasaran
    semula. Apakah pada misi tanggal 15 Januari itu dilakukan
    perubahan taktik? Yaitu, setelah jelas-jelas ada pengintaian
    pesawat Belanda yang terus-menerus?”

    Kolonel Mursyid menjawab, “Tidak ada perubahan karena ….” Lalu
    hadirin diberondong dengan retorika yang menggebu-gebu tentang
    tugas negara, tuntutan dan kepentingan rakyat, kolonialisme dan
    imperialisme, bangsa dan tanah air, patriotisme, serta hal-hal
    lain, panjang lebar.

    Bung Karno kemudian bertanya, “Bagaimana Omar Dhani?”

    Lalu Omar Dhani menjawab, “Sudah, Paduka Yang Mulia.”

    Rapat diskors dan semua menuju beranda untuk makan siang.

    Setelah mengambil makanan, Bung Karno duduk di kursi rotan
    sendirian. Ia memanggil Omar Dhani agar duduk di sebelah kirinya
    dan bertanya, “Kamu kelihatannya belum puas dengan jawaban
    Mursyid. Mengapa?”

    Omar Dhani menjawab, “Pertama, mereka tidak melakukan revisi
    rencana operasi, itu kecerobohan. Kedua, tiga kapal Belanda,
    kalau benar laporan Kolonel Mursyid, bukannya sedang patroli
    seperti yang diberitakan pers, tetapi mereka berhenti pada jalur
    pelayaran kapal kita. Maar we werden opgewacht, tetapi tiga kapal
    kita disanggong. Ini berarti rencana kita sudah bocor, dan
    bocornya bukan di Aru, tetapi di Jakarta. Bapak masih ingat
    peristiwa di Padang tahun dulu?”

    Langsung Presiden Soekarno bilang, “Je hebt gelijk, kamu benar.”

    Walau baru beberapa jam dilantik, ternyata Omar Dhani memiliki
    pengetahuan yang luas dan mampu memberikan analisis operasi yang
    tajam. Tidak salah bila dalam Operasi Dwikora Bung Karno nantinya
    memberi jabatan panglima kepadanya.

    Setelah makan siang selesai, rapat dilanjutkan namun hanya
    seperempat jam. Presiden mengimbau agar pesan terakhir Komodor
    Yos Sudarso dilaksanakan dan kerahasiaan ditingkatkan. Kebocoran
    dalam peristiwa Aru sama sekali tidak disinggung.

    Kebesaran Bung Karno

    “Akan aku ceritakan kepadamu sesuatu yang belum pernah
    kuceritakan pada orang lain,” kata Omar Dhani beberapa saat
    setelah keluar dari penjara. Mantan KSAU itu menyadari bahwa Bung
    Karno telah mengambil keputusan yang tepat. Lebih mendahulukan
    kepentingan nasional daripada kepentingan angkatan, apalagi
    kelompok yang lebih kecil. Bung Karno telah dengan sangat jeli
    mengetahui bahwa Omar Dhani tidak puas dengan jawaban Kol.
    Mursyid, dan dengan cara elegan serta luwes memaksa Omar Dhani
    untuk menyatakan keputusannya.

    Bung Karno tidak membongkar adanya kebocoran karena hal itu bisa
    menimbulkan rasa tidak enak antarangkatan. Bung Karno membiarkan
    suatu kegagalan dan kesalahan menjadi suatu tindakan yang heroik.
    Ia menjadikan teriakan tempur Yos Sudarso, “Kobarkan semangat
    pertempuran,” secara maksimal. Itulah kebesaran Bung Karno yang
    akhirnya bisa dimengerti para pimpinan AURI, yang sebenarnya
    tidak bisa menerima tuduhan yang sulit dimengerti itu. Sebagai
    ahli strategi militer, Bung Karno dengan cepat memanfaatkan
    kekalahan dalam satu pertempuran menjadi suatu kemenangan politis
    dan psikologis yang kemudian memenangkan peperangan.

    Peristiwa Aru kemudian berlalu begitu saja. Sampai saatnya nanti
    orang bisa menilai, pengorbanan batin para pimpinan AURI di masa
    itu adalah wujud nyata sikap tertinggi dalam disiplin prajurit,
    yaitu loyalitas.

    (Budhi “Phantom” Achmadi, jurnalis masalah Hankam, penerbang F-5
    Tiger II TNI-AU) /
    dikutip dari Intisari, Bulan Juli 2000./





    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
        不含病毒。www.avg.com
    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>


    <#m_-7617524381492438660_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke