Dari penjelasan Omar Dhani yg baru beberapa hari menjabat KSAU
menggantikan Suryadarma, memperTEGAS Tragedi Aru sepenuhnya adalah
tanggungjawab jenderal Suharto, tidak seharusnya menyalahkan Suryadarma!
Dalam menjalankan aksi, Suharto kurang mempersiapkan beberapa
kemungkinan yg akan dan bisa terjadi! CEROBOH dalam perencanaan atau
memang sengaja dibuat rencana selundupkan sepasukan ke Irian Barat yg
dijalankan itu GAGAL? Lalu cari saiapa yg bisa dikambing-hitam kan saja,
....!
Terimakasih, ...!
Salam,
ChanCT
[email protected] [GELORA45] 於 24/5/2018 11:19 寫道:
Omar Dhani menjawab, “Pertama, mereka tidak melakukan revisi rencana
operasi, itu kecerobohan. Kedua, tiga kapal Belanda, kalau benar
laporan Kolonel Mursyid, bukannya sedang patroli seperti yang
diberitakan pers, tetapi mereka berhenti pada jalur pelayaran kapal
kita. Maar we werden opgewacht, tetapi tiga kapal kita disanggong. Ini
berarti rencana kita sudah bocor, dan bocornya bukan di Aru, tetapi di
Jakarta. Bapak masih ingat peristiwa di Padang tahun dulu?”
...
Tragedi Aru <https://newhistorian.wordpress.com/2008/02/25/tragedi-aru/>
Feb25 <https://newhistorian.wordpress.com/2008/02/25/tragedi-aru/>
MENGENANG TRAGEDI DI LAUT ARU
<https://newhistorian.files.wordpress.com/2008/02/navy_destroyer_kortenaer.jpg>
/Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat, yang merenggut nyawa
Komodor Yos Sudarso dan banyak anggota TNI-AL di Kepulauan Aru, 15
Januari 1962, sempat menjadi lembaran kelam sejarah angkatan
bersenjata kita. Kini saatnya untuk melihat dengan lebih jernih bahwa
pihak TNI-AU, yang dituding sebagai penyebab tragedi karena
ketidaksiapannya ikut operasi gabungan itu, tak sepenuhnya patut
disalahkan/.
Peristiwa di Kepulauan Aru, 15 Januari 1962, sebenarnya telah lama
terkubur dalam kotak kenangan “Sejarah AURI/TNI-AU”. Di masa Orde Baru
sempat mengemuka kembali karena komentar mantan Ketua DPA Laksamana
TNI (Purn.) Sudomo bahwa AURI ternyata tidak siap menghadapi Operasi
Trikora. Pernyataan itu menyengat para sesepuh TNI-AU yang sebelumnya
– sejak pendiri dan Bapak AURI Laksamana Suryadarma, KSAU sejak 1946,
dipaksa mengundurkan diri dari jabatannya pada 19 Januari 1962 sebagai
bukti “kesalahannya” dalam tragedi Aru – lebih banyak diam.Generasi
muda TNI-AU pun bertanya-tanya, apakah sedemikian “berdosa” korps
dirgantara yang mereka masuki? Tidakkah semua terjadi karena kekacauan
politik pada masa itu? Apakah tidak ada “kesengajaan” mendiamkan
sebuah peristiwa tertutup kabut tebal sehingga pihak yang mestinya
bertanggung jawab bisa bersembunyi dari kesalahan?
Kisah ini dihadirkan kembali bukan untuk menciptakan permusuhan baru,
masalah baru, melainkan untuk memberi gambaran yang lebih jelas agar
wawasan para prajurit menjadi lebih luas.
Bukan operasi gabungan
Peristiwa Aru bermula dari suatu operasi rahasia untuk menyusupkan
sukarelawan suku Irian yang telah dilatih oleh TNI-AD ke Irian Barat.
Komando Trikora memang sudah terbentuk, namun misi tersebut
dilaksanakan bukan dalam konteks operasi gabungan. Komando berdiri
sendiri sebagai /task force/ dengan misi tertentu.
Hampir semua kekuatan yang akan dilibatkan dalam Operasi Trikora belum
siap. Bahkan semua kekuatan udara masih /stand by/ di Jawa. Namun
ternyata Angkatan Darat telah mendahului dengan melakukan penyusupan
sukarelawan. Untuk melaksanakan misi itu, AD minta bantuan ALRI untuk
mengangkut pasukan dari Jakarta menuju pantai Irian. Sedangkan AURI
hanya diminta mengerahkan dua pesawat Hercules untuk mengangkut
pasukan dari Jakarta menuju target yang nantinya ditentukan oleh ALRI.
Karena misi itu sangat rahasia, di Mabes AURI hanya beberapa petinggi
yang mengetahui. Walaupun nyatanya tidak rumit, hanya mengangkut
pasukan ke sebuah pangkalan di dalam negeri dengan terbang rendah.
Batas tugas AURI hanya memindahkan pasukan dengan Hercules, selebihnya
tidak menjadi tanggung jawab Mabes AURI.
Pada 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. Kedua
Hercules kembali ke pangkalan, dan AURI pun menjalankan tugas
rutinnya. Namun tanggal 18 Januari muncul situasi yang kurang
mengenakkan, saat ada pimpinan angkatan lain melapor ke Bung Karno
bahwa tiadanya perlindungan dari AURI telah menyebabkan sebuah operasi
gagal. Sampai saat itu pihak AURI belum mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi. Apa yang dimaksudkan operasi, dan apanya yang gagal?
Ternyata pada 15 Januari telah terjadi kontak senjata antara armada
ALRI dengan AL Belanda di Laut Aru yang menyebabkan gugurnya Komodor
Yos Sudarso dan prajurit-prajurit ALRI lainnya. Kalau dikatakan AURI
tidak melindungi kapal beserta para prajurit ALRI, bukankah tugas AURI
hanya mengangkut pasukan dengan dua Hercules dalam operasi penyusupan
ke Irian?
Tidak ada kesalahan dalam peristiwa itu, namun AURI disalahkan.
Padahal mereka yang tahu rumitnya mengkoordinasikan operasi udara,
apalagi dengan pengeboman untuk melindungi kapal perang, pasti akan
berpikir seratus kali lipat untuk menudingkan kesalahan seperti itu.
Tapi begitulah. Orang yang tidak tahu, dan tidak mau tahu, telah
menudingkan kesalahan – dan pemegang kekuasaan tertinggi pun membenarkan.
Yos Sudarso kobarkan semangat tempur
Hari H untuk pelaksanaan operasi penyusupan adalah Senin, 15 Januari
1962. Pada H minus tiga (-3), semua kapal ALRI telah merapat di
/rendezvous point/ di sebuah pulau di Kepulauan Aru. Pasukan yang
sudah diturunkan dari Hercules AURI juga sudah diangkut kapal dari
Letfuan menuju pulau tersebut. Pada hari pertama di titik itu,
pesawat-pesawat Belanda sudah datang mengintai. Hal yang sama terjadi
pada H -2 dan H -1.
Hari H pukul 17.00 waktu setempat, tiga kapal mulai bergerak. KRI
Harimau berada di depan, membawa antara lain Kol. Sudomo, Kol.
Mursyid, dan Kapten Tondomulyo. Di belakangnya adalah KRI Macan Tutul
yang dinaiki Komodor Yos Sudarso. Sedangkan di belakang adalah KRI
Macan Kumbang.
Menjelang pukul 21.00, Kol. Mursyid melihat radar /blips/ pada
lintasan depan yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di
sebelah kanan dan satu di kiri. /Blips/tersebut tidak bergerak,
menandakan kapal-kapal sedang berhenti. Ketiga KRI kemudian melaju.
Tiba-tiba terdengar dengung pesawat mendekat, lalu menjatuhkan
/flare///yang tergantung pada parasut. Keadaan tiba-tiba menjadi
terang-benderang, dalam waktu cukup lama. Tiga kapal Belanda yang
berukuran lebih besar ternyata sudah menunggu kedatangan ketiga KRI.
Kapal Belanda melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI
Harimau. Kol. Sudomo memerintahkan untuk balas menembak namun tidak
mengenai sasaran. Komodor Yos Sudarso memerintahkan ketiga KRI untuk
kembali. Ketiga kapal pun serentak membelok 180o. Naas, KRI Macan
Tutul macet dan terus membelok ke kanan. Kapal-kapal Belanda mengira
manuver berputar itu untuk menyerang mereka. Sehingga mereka langsung
menembaki kapal itu. Tembakan pertama meleset, namun tembakan kedua
tepat mengenai KRI Macan Tutul. Menjelang tembakan telak menghantam
kapal, Komodor Yos Sudarso meneriakkan perintah, “Kobarkan semangat
pertempuran!”
AURI berada dalam kondisi ditekan karena misi yang gagal itu. Orang
mengira, kekuatan AURI mampu melayang-layang selamanya di udara dan
mengawasi setiap jengkal wilayah RI. Negara superpower seperti AS pun
tidak akan bisa melakukannya di era itu, apalagi kita. Bagaimana
pesawat terbang melaksanakan misi bantuan serangan udara tanpa ada
koordinasi sebelumnya? Bahkan operasi itu sendiri tidak pernah
dibicarakan dengan pimpinan AURI. Namun saat gagal, kesalahan
ditimpakan ke pihak AURI. Untuk mengakhiri polemik, KSAU Suryadarma
mengundurkan diri pada 19 Januari 1962. AURI pun berduka cita.
Gagal namun dinilai heroik
Hari Sabtu, 20 Januari 1962, diadakan rapat di Istana Bogor yang
dipimpin oleh Bung Karno, untuk mengangkat Laksamana Muda Omar Dhani
sebagai KSAU yang baru. Setelah itu langsung diadakan brifing mengenai
peristiwa Aru. Kolonel Mursyid sebagai komandan tim juga sudah kembali
untuk memberikan paparan. Begitu paparan selesai, suasana di ruang
rapat yang terletak di sayap kiri Istana Bogor itu jadi mencekam,
serius, sepi, dan semua diam. Seakan-akan menikmati rasa kemenangan
dan kepahlawanan. Yos Sudarso gugur, operasi gagal, namun dinilai heroik.
Keheningan kemudian dipecahkan oleh Presiden Soekarno. “Siapa yang mau
tanya atau minta penjelasan?”
Ternyata, Omar Dhani satu-satunya yang bertanya, “Tadi dikatakan oleh
Kolonel Mursyid bahwa hari H -3, H -2, H -1, bahkan pada hari H-nya
sendiri sudah ada pesawat Belanda melakukan pengintaian di tempat
rendezvous. Artinya, Belanda sudah tahu iring-iringan kapal kita.
Sebagai seorang komandan, entah komandan regu, komandan batalyon,
bahkan panglima angkatan sekalipun yang diberi tugas dengan target
tertentu, dengan data dan info pada saat itu, kalau dalam melaksanakan
tugasnya itu kemudian menemui situasi dan kondisi yang berbeda,
apalagi bertentangan dengan data dan info yang ia dapatkan sebelumnya,
mereka punya hak untuk mengubah taktik guna mencapai sasaran semula.
Apakah pada misi tanggal 15 Januari itu dilakukan perubahan taktik?
Yaitu, setelah jelas-jelas ada pengintaian pesawat Belanda yang
terus-menerus?”
Kolonel Mursyid menjawab, “Tidak ada perubahan karena ….” Lalu hadirin
diberondong dengan retorika yang menggebu-gebu tentang tugas negara,
tuntutan dan kepentingan rakyat, kolonialisme dan imperialisme, bangsa
dan tanah air, patriotisme, serta hal-hal lain, panjang lebar.
Bung Karno kemudian bertanya, “Bagaimana Omar Dhani?”
Lalu Omar Dhani menjawab, “Sudah, Paduka Yang Mulia.”
Rapat diskors dan semua menuju beranda untuk makan siang.
Setelah mengambil makanan, Bung Karno duduk di kursi rotan sendirian.
Ia memanggil Omar Dhani agar duduk di sebelah kirinya dan bertanya,
“Kamu kelihatannya belum puas dengan jawaban Mursyid. Mengapa?”
Omar Dhani menjawab, “Pertama, mereka tidak melakukan revisi rencana
operasi, itu kecerobohan. Kedua, tiga kapal Belanda, kalau benar
laporan Kolonel Mursyid, bukannya sedang patroli seperti yang
diberitakan pers, tetapi mereka berhenti pada jalur pelayaran kapal
kita. Maar we werden opgewacht, tetapi tiga kapal kita disanggong. Ini
berarti rencana kita sudah bocor, dan bocornya bukan di Aru, tetapi di
Jakarta. Bapak masih ingat peristiwa di Padang tahun dulu?”
Langsung Presiden Soekarno bilang, “Je hebt gelijk, kamu benar.”
Walau baru beberapa jam dilantik, ternyata Omar Dhani memiliki
pengetahuan yang luas dan mampu memberikan analisis operasi yang
tajam. Tidak salah bila dalam Operasi Dwikora Bung Karno nantinya
memberi jabatan panglima kepadanya.
Setelah makan siang selesai, rapat dilanjutkan namun hanya seperempat
jam. Presiden mengimbau agar pesan terakhir Komodor Yos Sudarso
dilaksanakan dan kerahasiaan ditingkatkan. Kebocoran dalam peristiwa
Aru sama sekali tidak disinggung.
Kebesaran Bung Karno
“Akan aku ceritakan kepadamu sesuatu yang belum pernah kuceritakan
pada orang lain,” kata Omar Dhani beberapa saat setelah keluar dari
penjara. Mantan KSAU itu menyadari bahwa Bung Karno telah mengambil
keputusan yang tepat. Lebih mendahulukan kepentingan nasional daripada
kepentingan angkatan, apalagi kelompok yang lebih kecil. Bung Karno
telah dengan sangat jeli mengetahui bahwa Omar Dhani tidak puas dengan
jawaban Kol. Mursyid, dan dengan cara elegan serta luwes memaksa Omar
Dhani untuk menyatakan keputusannya.
Bung Karno tidak membongkar adanya kebocoran karena hal itu bisa
menimbulkan rasa tidak enak antarangkatan. Bung Karno membiarkan suatu
kegagalan dan kesalahan menjadi suatu tindakan yang heroik. Ia
menjadikan teriakan tempur Yos Sudarso, “Kobarkan semangat
pertempuran,” secara maksimal. Itulah kebesaran Bung Karno yang
akhirnya bisa dimengerti para pimpinan AURI, yang sebenarnya tidak
bisa menerima tuduhan yang sulit dimengerti itu. Sebagai ahli strategi
militer, Bung Karno dengan cepat memanfaatkan kekalahan dalam satu
pertempuran menjadi suatu kemenangan politis dan psikologis yang
kemudian memenangkan peperangan.
Peristiwa Aru kemudian berlalu begitu saja. Sampai saatnya nanti orang
bisa menilai, pengorbanan batin para pimpinan AURI di masa itu adalah
wujud nyata sikap tertinggi dalam disiplin prajurit, yaitu loyalitas.
(Budhi “Phantom” Achmadi, jurnalis masalah Hankam, penerbang F-5 Tiger
II TNI-AU) /
dikutip dari Intisari, Bulan Juli 2000./
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com