"In 1964, at the age of 19, Zheng went to Xinglong as a student from Huaqiao 
University majoring in tropical botany."
Sejak terbitnya UU Warga Negara 1958 orang2 Tionghoa mendadak sontak kehilangan 
kewarganegaraan Indonesia dan diharuskan menyatakan membuang kewarganegaraan 
Tiongkok kalau mau dapat kewarganegaraan Indonesia, ditambah PP 10 th 1959 
pengusiran orang2 Tionghoa dari kota2 kecil dan pedesaan seakan orang2 asing, 
banyak orang2 Tionghoa memilih "pulang" ke Tiongkok.
Tentang Zheng saya rasa ada 2 kemungkinan, pertama termasuk mereka yang 
"pulang" ke Tiongkok seperti diatas; sedang yang kedua kuliah di Tiongkok dan 
mendadak sontak tidak boleh pulang ke Indonesia, dipaksa jadi excile.
Terus terang saya bilang kebijaksanaan pemerintah Indonesia, baik SOEKARNO, 
maupun SOEHARTO, sangat RASIS sekali.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :


Lalu, ... apa salah mereka PULANG ke Tiongkok, negara leluhurnya? 


Setiap orang BEBAS untuk memilih jalan hidup yang dianggap lebih baik bagi      
     dirinya. Itulah kebebasan manusia yang harus dilindungi oleh setiap 
negara, ... bukan karena Tionghoa dia berhak kembali kenegara asal nenek 
moyangnya, bahkan orang Jawa pun boleh saja hendak hijrah hidup dan bekerja di 
Tiongkok. Itulah kebebasan hidup dijaman globalisasi sekarang ini, orang bisa 
dengan mudah untuk menentukan pilihan hidup nya sendiri.

Tentu disamping kebebasan seseorang memilih hendak hidup dimana yang dirasakan 
lebih nyaman dan hari-depan yang lebih baik, dari berbagai faktor objektif 
alam, sosial dan kebijakan PEMERINTAH yang berkuasa dalam menata masyarakat, 
menjamin keamanan, ketentraman dan menciptakan lapangan kerja bagi setiap warga 
sangat menentukan pilihan orang. Kalau diperhatikan kehidupan politik di 
tahun-tahun 40-an sampai 70-an, nampak sangat jelas adanya politik diskriminasi 
rasial terhadap Tionghoa Indonesia, bagaimana masalah kewarganegaraan saja 
bolak-balik dipersoalkan dan akhirnya sejak tahun 1958 ditetapkan ketentuan 
etnis Tionghoa harus memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI) untuk 
membuktikan dirinya adalah WNI. Dibidang ekonomi, usaha sejak awal 50 
diberlakukan politik Benteng, ijin import-eksport hanya diberikan pada 
pengusaha yang dinamakan "pribumi", sedang dibidang pendidikan, persoalan 
menjadi lebih serius, bukan saja terjadi pembatasan anak Tionghoa tidak lebih 
dari 3% yang bisa diterima masuk di Univ. Negeri, bahkan sejak tahun 1958 anak2 
Tionghoa yang WNI tidak lagi boleh masuk sekolah Tionghoa! Padahal pemerintah 
belum siap menyediakan bangku sekolah menampung semua anak-anak sekolah! 
Disinilah BAPERKI berperan membantu pemerintah mendirikan sekolah-sekolah dari 
SR sampai Univ., untuk menampung anak2 sekolah, ... termasuk anak-anak suku 
lain dan Agama berbeda. 


Dalam menghadapi suasa kehidupan didiskriminasi, tentu saja tidak sedikit 
Tionghoa mengambil sikap "PULANG" kenegara leluhur saja daripada meneruskan 
hidup dianak-tirikan bahkan dijadikan KAMBING-HITAM yang di KORBANKAN 
seenak-udelnya oleh sementara pejabat/jenderal untuk mencapai TUJUAN POLITIK! 
Begitulah kalau kita perhatikan bagaimana diawal tahun 1950, khususnya setelah 
razia Sukiman tahun 1951, dimana tidak sedikit Tionghoa juga ujug-ujug 
ditangkap tanpa dasar kesalahan, ... tentu saja tidak sedikit Tionghoa yang 
akhirnya mengambil keputusan PULANG saja kenegeri leluhur, sekalipun mereka 
berpendidikan Belanda dan sudah tidak lagi bisa bahasa Tionghoa. Bahkan Liem 
Koen Hian, pejuang kemerdekaan RI yang sejak awal tahun 30-an dengan Partai 
Tionghoa Indonesia sudah mempropagandakan "Menjadikan Indonesia sebagai 
TANAHAIR!", PATAH-HATI, tidak bisa menerima dan mengerti bagaimana PEMERINTAH 
yang dia perjuangkan pembentukkannya justru menangkap dirinya tanpa dasar, ... 
akhirnya mati merana dirantau!

Dipulau Hai Nan itu juga ada seorang Tionghoa asal Indonesia, The Tjeng Djin, 
ahli karet yang juga PULANG diawal tahun 50-an itu dianggap sangat BERJASA 
dalam mengembangkan perkebunan karet Tiongkok, bahkan menjadi anggota Kongres 
Rakyat, ... Sedang Cheng Wentai yang pulang ditahun 1964, hanya anak sekolah 
yang lulus SMA hendak melanjutkan sekolah saja, ... tentu dia PULANG tidak 
membawa tumbuhan tropis apalagi langka pula, ... TIDAK mungkin! 


Ini ada tulisan bung Djie disebelah: 
Cheng Wentai :
Tahun 1964, umur 19 tahun pergi ke Xinglong, Hainan dari Fujian.Dia belajar di 
universitas Huaqiao di Fujian : https://en.wikipedia.org/wiki/Huaqiao_University
Di situ dia mengambil pelajaran utama : Botani.Cheng lulusan Universitas Hong 
Kong di bidang Civil Engineering dan Arsitektur.Waktu Special Economic Zone 
dibuka untuk Hainan, dia membangun Hainan OverseasChinese Hotel.Tahun 1991 dia 
jatuh sakit. Waktu jatuh sakit, dia melakukan refleksi, dan memutuskan akan 
melakukan sesuatu yang berguna untuk Tanah Air dan Generasi y.a.d.Tahun 1992 
menjual semua assetnya, dan membangun Xinglong Tripical Garden untuk tanaman2 
tropis. Dia mendapat 387 hektare tanah dari Xinglong Overseas Chinese 
Farm.http://www.bjreview.com/Nation/201804/t20180408_800125880.html



Zheng Wentai (LIU SUNMOU)
Protector of tropical plants

Zheng Wentai, a returned overseas Chinese from Indonesia, spent 26 years 
building up a gene library for tropical plants in Xinglong, Hainan. The 
Xinglong Tropical Garden, a massive species gene library, was certificated by 
the Chinese Government as one of the four demonstration bases for ecological 
and environmental protection. It was also recommended to the United Nations for 
the Global 500 Roll of Honor for Environmental Achievement Award.

Zheng's ancestral home was in Fujian Province on the southeast coast of China. 
In 1964, at the age of 19, Zheng went to Xinglong as a student from Huaqiao 
University majoring in tropical botany. He regarded the experience as part of 
his accumulation of knowledge and nothing more. But it was actually the prelude 
to his indissoluble bond with Hainan.

After completing his studies in civil engineering and architecture at the 
University of Hong Kong, Zheng set off on a business career in cities such as 
Guangzhou and Hong Kong, and soon made a name for himself as a successful 
entrepreneur. In the midst of the establishment of the Hainan Special Economic 
Zone, he went back to the island and participated in the design and 
construction of the Hainan Overseas Chinese Hotel.

Zheng would have continued his career if it hadn't been for a serious illness 
in 1991. Lying in bed, he reflected on his life and decided to do something for 
his motherland and for future generations. The vision of establishing a species 
gene library for tropical plants sprang to his mind.

He conducted field trips to many areas before he finally realized that the 
optimal location was Xinglong in Wanning City in Hainan, which had favorable 
natural conditions but a poor infrastructure. It was an interesting coincidence 
that Xinglong, where Zheng worked as an urban student back in the 1960s, became 
his new starting point.

In 1992, he sold all his assets and flung himself into the construction of the 
Xinglong Tropical Garden. The Xinglong Overseas Chinese Farm provided him with 
a stretch of land covering 387 hectares where he was able to grow various 
tropical plants in what was otherwise a barren area.

The tropical garden has now entered the second phase of restoration with the 
covering area expanded to about 800 hectares. About 4,000 to 5,000 species grow 
vigorously here, saving many endangered species and helping them propagate and 
form plant communities. The garden has become the most distinctive garden of 
tropical forest landscape in China, integrating natural scenery, cultural 
heritage, garden art and ecological and environmental protection all in one.

The project has protected China's rainforests and saved a species gene library 
for future generations. According to Zheng, the provincial government and 
citizens of Hainan have long understood the great value of ecological and 
environmental protection, which laid the       groundwork for his efforts. The 
support he received from the government and other sectors facilitated the 
achievement of his dream. He is never alone in the path of protecting tropical 
plants.


Salam,

ChanCT





ajeg ajegilelu@... [GELORA45] 於 29/5/2018 15:46 寫道:


"Pulang"? 
"Pulang"..??
Dengan membawa tumbuhan tropis spesies langka pula.

Hmm.
--- SADAR@... wrote:



| Impian Hijau Seorang Keturunan Tionghoa Indonesia |
|   2018-05-29 11:47:55  Kantor Berita Xinhua |
| Cheng Wentai, seorang keturunan Tionghoa Indonesia yang telah pulang ke 
Tiongkok, adalah Direktur Taman Tropis Xinglong, Kapubaten Wanning, Provinsi 
Hainan Tiongkok. Cheng yang berusia 73 tahun itu seumur hidupnya telah berupaya 
untuk mewujudkan impian hijaunya dalam pembangunan taman tropis 
tersebut.Menurut data statistik, taman tropis Xinglong telah berhasil 
menyelamatkan                                                 4000 lebih 
spesies tumbuhan, di antaranya 65 spesies langka, dan 27 spesies yang telah 
dimasukkan dalam daftar "China Plant Red Data Book". Taman tersebut juga 
ditetapkan sebagai salah satu empat besar pusat pendidikan lingkungan dan 
ekologi serta gudang data gen spesies oleh negara.Melalui upaya selama 
bertahun-tahun, sejumlah besar tumbuhan langka telah mendapatkan perlindungan, 
pengembangbiakan dan membentuk komunitas. Siklus lingkungan ekologi yang baik 
perlahan-lahan pulih kembali.
     |





Kirim email ke