Lalu, ... apa salah mereka PULANG ke Tiongkok, negara leluhurnya?
Setiap orang BEBAS untuk memilih jalan hidup yang dianggap lebih baik
bagi dirinya. Itulah kebebasan manusia yang harus dilindungi oleh setiap
negara, ... bukan karena Tionghoa dia berhak kembali kenegara asal nenek
moyangnya, bahkan orang Jawa pun boleh saja hendak hijrah hidup dan
bekerja di Tiongkok. Itulah kebebasan hidup dijaman globalisasi sekarang
ini, orang bisa dengan mudah untuk menentukan pilihan hidup nya sendiri.
Tentu disamping kebebasan seseorang memilih hendak hidup dimana yang
dirasakan lebih nyaman dan hari-depan yang lebih baik, dari berbagai
faktor objektif alam, sosial dan kebijakan PEMERINTAH yang berkuasa
dalam menata masyarakat, menjamin keamanan, ketentraman dan menciptakan
lapangan kerja bagi setiap warga sangat menentukan pilihan orang. Kalau
diperhatikan kehidupan politik di tahun-tahun 40-an sampai 70-an, nampak
sangat jelas adanya politik diskriminasi rasial terhadap Tionghoa
Indonesia, bagaimana masalah kewarganegaraan saja bolak-balik
dipersoalkan dan akhirnya sejak tahun 1958 ditetapkan ketentuan etnis
Tionghoa harus memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI) untuk
membuktikan dirinya adalah WNI. Dibidang ekonomi, usaha sejak awal 50
diberlakukan politik Benteng, ijin import-eksport hanya diberikan pada
pengusaha yang dinamakan "pribumi", sedang dibidang pendidikan,
persoalan menjadi lebih serius, bukan saja terjadi pembatasan anak
Tionghoa tidak lebih dari 3% yang bisa diterima masuk di Univ. Negeri,
bahkan sejak tahun 1958 anak2 Tionghoa yang WNI tidak lagi boleh masuk
sekolah Tionghoa! Padahal pemerintah belum siap menyediakan bangku
sekolah menampung semua anak-anak sekolah! Disinilah BAPERKI berperan
membantu pemerintah mendirikan sekolah-sekolah dari SR sampai Univ.,
untuk menampung anak2 sekolah, ... termasuk anak-anak suku lain dan
Agama berbeda.
Dalam menghadapi suasa kehidupan didiskriminasi, tentu saja tidak
sedikit Tionghoa mengambil sikap "PULANG" kenegara leluhur saja daripada
meneruskan hidup dianak-tirikan bahkan dijadikan KAMBING-HITAM yang di
KORBANKAN seenak-udelnya oleh sementara pejabat/jenderal untuk mencapai
TUJUAN POLITIK! Begitulah kalau kita perhatikan bagaimana diawal tahun
1950, khususnya setelah razia Sukiman tahun 1951, dimana tidak sedikit
Tionghoa juga ujug-ujug ditangkap tanpa dasar kesalahan, ... tentu saja
tidak sedikit Tionghoa yang akhirnya mengambil keputusan PULANG saja
kenegeri leluhur, sekalipun mereka berpendidikan Belanda dan sudah tidak
lagi bisa bahasa Tionghoa. Bahkan Liem Koen Hian, pejuang kemerdekaan RI
yang sejak awal tahun 30-an dengan Partai Tionghoa Indonesia sudah
mempropagandakan "Menjadikan Indonesia sebagai TANAHAIR!", PATAH-HATI,
tidak bisa menerima dan mengerti bagaimana PEMERINTAH yang dia
perjuangkan pembentukkannya justru menangkap dirinya tanpa dasar, ...
akhirnya mati merana dirantau!
Dipulau Hai Nan itu juga ada seorang Tionghoa asal Indonesia, The Tjeng
Djin, ahli karet yang juga PULANG diawal tahun 50-an itu dianggap sangat
BERJASA dalam mengembangkan perkebunan karet Tiongkok, bahkan menjadi
anggota Kongres Rakyat, ... Sedang Cheng Wentai yang pulang ditahun
1964, hanya anak sekolah yang lulus SMA hendak melanjutkan sekolah saja,
.... tentu dia PULANG tidak membawa tumbuhan tropis apalagi langka pula,
.... TIDAK mungkin!
Ini ada tulisan bung Djie disebelah:
Cheng Wentai :
Tahun 1964, umur 19 tahun pergi ke Xinglong, Hainan dari Fujian.
Dia belajar di universitas Huaqiao di Fujian :
https://en.wikipedia.org/wiki/Huaqiao_University
Di situ dia mengambil pelajaran utama : Botani.
Cheng lulusan Universitas Hong Kong di bidang Civil Engineering dan
Arsitektur.
Waktu Special Economic Zone dibuka untuk Hainan, dia membangun Hainan
Overseas
Chinese Hotel.
Tahun 1991 dia jatuh sakit. Waktu jatuh sakit, dia melakukan refleksi,
dan memutuskan akan melakukan sesuatu yang berguna untuk Tanah Air dan
Generasi y.a.d.
Tahun 1992 menjual semua assetnya, dan membangun Xinglong Tripical
Garden untuk tanaman2 tropis. Dia mendapat 387 hektare tanah dari
Xinglong Overseas Chinese Farm.
http://www.bjreview.com/Nation/201804/t20180408_800125880.html
Zheng Wentai (LIU SUNMOU)
*Protector of tropical plants*
Zheng Wentai, a returned overseas Chinese from Indonesia, spent 26 years
building up a gene library for tropical plants in Xinglong, Hainan. The
Xinglong Tropical Garden, a massive species gene library, was
certificated by the Chinese Government as one of the four demonstration
bases for ecological and environmental protection. It was also
recommended to the United Nations for the Global 500 Roll of Honor for
Environmental Achievement Award.
Zheng's ancestral home was in Fujian Province on the southeast coast of
China. In 1964, at the age of 19, Zheng went to Xinglong as a student
from Huaqiao University majoring in tropical botany. He regarded the
experience as part of his accumulation of knowledge and nothing more.
But it was actually the prelude to his indissoluble bond with Hainan.
After completing his studies in civil engineering and architecture at
the University of Hong Kong, Zheng set off on a business career in
cities such as Guangzhou and Hong Kong, and soon made a name for himself
as a successful entrepreneur. In the midst of the establishment of the
Hainan Special Economic Zone, he went back to the island and
participated in the design and construction of the Hainan Overseas
Chinese Hotel.
Zheng would have continued his career if it hadn't been for a serious
illness in 1991. Lying in bed, he reflected on his life and decided to
do something for his motherland and for future generations. The vision
of establishing a species gene library for tropical plants sprang to his
mind.
He conducted field trips to many areas before he finally realized that
the optimal location was Xinglong in Wanning City in Hainan, which had
favorable natural conditions but a poor infrastructure. It was an
interesting coincidence that Xinglong, where Zheng worked as an urban
student back in the 1960s, became his new starting point.
In 1992, he sold all his assets and flung himself into the construction
of the Xinglong Tropical Garden. The Xinglong Overseas Chinese Farm
provided him with a stretch of land covering 387 hectares where he was
able to grow various tropical plants in what was otherwise a barren area.
The tropical garden has now entered the second phase of restoration with
the covering area expanded to about 800 hectares. About 4,000 to 5,000
species grow vigorously here, saving many endangered species and helping
them propagate and form plant communities. The garden has become the
most distinctive garden of tropical forest landscape in China,
integrating natural scenery, cultural heritage, garden art and
ecological and environmental protection all in one.
The project has protected China's rainforests and saved a species gene
library for future generations. According to Zheng, the provincial
government and citizens of Hainan have long understood the great value
of ecological and environmental protection, which laid the groundwork
for his efforts. The support he received from the government and other
sectors facilitated the achievement of his dream. He is never alone in
the path of protecting tropical plants.
Salam,
ChanCT
ajeg [email protected] [GELORA45] 於 29/5/2018 15:46 寫道:
"Pulang"?
"Pulang"..??
Dengan membawa tumbuhan tropis spesies langka pula.
Hmm.
--- SADAR@... wrote:
alt
*Impian Hijau Seorang Keturunan Tionghoa Indonesia*
2018-05-29 11:47:55 Kantor Berita Xinhua
Cheng Wentai, seorang keturunan Tionghoa Indonesia yang telah pulang
ke Tiongkok, adalah Direktur Taman Tropis Xinglong, Kapubaten Wanning,
Provinsi Hainan Tiongkok. Cheng yang berusia 73 tahun itu seumur
hidupnya telah berupaya untuk mewujudkan impian hijaunya dalam
pembangunan taman tropis tersebut.
Menurut data statistik, taman tropis Xinglong telah berhasil
menyelamatkan 4000 lebih spesies tumbuhan, di antaranya 65 spesies
langka, dan 27 spesies yang telah dimasukkan dalam daftar "China Plant
Red Data Book". Taman tersebut juga ditetapkan sebagai salah satu
empat besar pusat pendidikan lingkungan dan ekologi serta gudang data
gen spesies oleh negara.
Melalui upaya selama bertahun-tahun, sejumlah besar tumbuhan langka
telah mendapatkan perlindungan, pengembangbiakan dan membentuk
komunitas. Siklus lingkungan ekologi yang baik perlahan-lahan pulih
kembali.
<https://us-mg5.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c2eiteqdsuh0v&guccounter=1#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com