Kelihatannya memang pengetahuan yang terbatas.
Th 1964 berusia 19 tahun, Zheng tentu lahir th 1945 cuman kurang jelas sebelum 
atau sesudah proklamasi. Berdasarkan UU Warga Negara 1946 Zheng tentunya 
merupakan warga negara Indonesia, tetapi th 1958 mendadak sontak jadi orang 
asing kehilangan kewarga negaraan Indonesia begitu saja tanpa ada kesalahan 
yang dilakukan oleh individu2 tsb.
Saya kira pd th 1964 (atau mungkin sebelumnya) waktu Zheng pergi ke Tiongkok 
itu istilah "pulang" sangat tepat, sebagai akibat policy RASIS pemerintahan 
SOEKARNO.

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Anggap saja pengetahuan saya soal ini terbatas karena 
berdasarkan pengalaman, beberapa teman yang WNI 
keturunan (bukan hanya keturunan Cina) hanya melancong 
ke negara asal. Tidak lagi berpikir untuk pulang ke sana. 
Indonesia sudah menjadi kampung halamannya. 

Kalau bukan WNI ya jelas harus pulang dong. Kalau bisa 
tanpa membawa apa pun yang kategorinya dilindungi, 
langka. Kecuali dapat izin dari pihak berwenang.

--- sadar@... wrote:


Lalu, ... apa salah mereka PULANG ke Tiongkok, negara leluhurnya? 
Setiap orang BEBAS untuk memilih jalan hidup yang dianggap lebih baik bagi      
     dirinya. Itulah kebebasan manusia yang harus dilindungi oleh setiap 
negara, ... bukan karena Tionghoa dia berhak kembali kenegara asal nenek 
moyangnya, bahkan orang Jawa pun boleh saja hendak hijrah hidup dan bekerja di 
Tiongkok. Itulah kebebasan hidup dijaman globalisasi sekarang ini, orang bisa 
dengan mudah untuk menentukan pilihan hidup nya sendiri.Tentu disamping 
kebebasan seseorang memilih hendak hidup dimana yang dirasakan lebih nyaman dan 
hari-depan yang lebih baik, dari berbagai faktor objektif alam, sosial dan 
kebijakan PEMERINTAH yang berkuasa dalam menata masyarakat, menjamin keamanan, 
ketentraman dan menciptakan lapangan kerja bagi setiap warga sangat menentukan 
pilihan orang. Kalau diperhatikan kehidupan politik di tahun-tahun 40-an sampai 
70-an, nampak sangat jelas adanya politik diskriminasi rasial terhadap Tionghoa 
Indonesia, bagaimana masalah kewarganegaraan saja bolak-balik dipersoalkan dan 
akhirnya sejak tahun 1958 ditetapkan ketentuan etnis Tionghoa harus memiliki 
SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI) untuk membuktikan dirinya adalah WNI. 
Dibidang ekonomi, usaha sejak awal 50 diberlakukan politik Benteng, ijin 
import-eksport hanya diberikan pada pengusaha yang dinamakan "pribumi", sedang 
dibidang pendidikan, persoalan menjadi lebih serius, bukan saja terjadi 
pembatasan anak Tionghoa tidak lebih dari 3% yang bisa diterima masuk di Univ. 
Negeri, bahkan sejak tahun 1958 anak2 Tionghoa yang WNI tidak lagi boleh masuk 
sekolah Tionghoa! Padahal pemerintah belum siap menyediakan bangku sekolah 
menampung semua anak-anak sekolah! Disinilah BAPERKI berperan membantu 
pemerintah mendirikan sekolah-sekolah dari SR sampai Univ., untuk menampung 
anak2 sekolah, ... termasuk anak-anak suku lain dan Agama berbeda. 
Dalam menghadapi suasa kehidupan didiskriminasi, tentu saja tidak sedikit 
Tionghoa mengambil sikap "PULANG" kenegara leluhur saja daripada meneruskan 
hidup dianak-tirikan bahkan dijadikan KAMBING-HITAM yang di KORBANKAN 
seenak-udelnya oleh sementara pejabat/jenderal untuk mencapai TUJUAN POLITIK! 
Begitulah kalau kita perhatikan bagaimana diawal tahun 1950, khususnya setelah 
razia Sukiman tahun 1951, dimana tidak sedikit Tionghoa juga ujug-ujug 
ditangkap tanpa dasar kesalahan, ... tentu saja tidak sedikit Tionghoa yang 
akhirnya mengambil keputusan PULANG saja kenegeri leluhur, sekalipun mereka 
berpendidikan Belanda dan sudah tidak lagi bisa bahasa Tionghoa. Bahkan Liem 
Koen Hian, pejuang kemerdekaan RI yang sejak awal tahun 30-an dengan Partai 
Tionghoa Indonesia sudah mempropagandakan "Menjadikan Indonesia sebagai 
TANAHAIR!", PATAH-HATI, tidak bisa menerima dan mengerti bagaimana PEMERINTAH 
yang dia perjuangkan pembentukkannya justru menangkap dirinya tanpa dasar, ... 
akhirnya mati merana dirantau!Dipulau Hai Nan itu juga ada seorang Tionghoa 
asal Indonesia, The Tjeng Djin, ahli karet yang juga PULANG diawal tahun 50-an 
itu dianggap sangat BERJASA dalam mengembangkan perkebunan karet Tiongkok, 
bahkan menjadi anggota Kongres Rakyat, ... Sedang Cheng Wentai yang pulang 
ditahun 1964, hanya anak sekolah yang lulus SMA hendak melanjutkan sekolah 
saja, ... tentu dia PULANG tidak membawa tumbuhan tropis apalagi langka pula, 
... TIDAK mungkin! 
Ini ada tulisan bung Djie disebelah: 
Cheng Wentai :Tahun 1964, umur 19 tahun pergi ke Xinglong, Hainan dari 
Fujian.Dia belajar di universitas Huaqiao di Fujian : 
https://en.wikipedia..org/wiki/Huaqiao_University
Di situ dia mengambil pelajaran utama : Botani.Cheng lulusan Universitas Hong 
Kong di bidang Civil Engineering dan Arsitektur.Waktu Special Economic Zone 
dibuka untuk Hainan, dia membangun Hainan OverseasChinese Hotel.Tahun 1991 dia 
jatuh sakit. Waktu jatuh sakit, dia melakukan refleksi, dan memutuskan akan 
melakukan sesuatu yang berguna untuk Tanah Air dan Generasi y.a.d.Tahun 1992 
menjual semua assetnya, dan membangun Xinglong Tripical Garden untuk tanaman2 
tropis. Dia mendapat 387 hektare tanah dari Xinglong Overseas Chinese 
Farm.http://www.bjreview.com/Nation/201804/t20180408_800125880.html

Zheng Wentai (LIU SUNMOU)Protector of tropical plantsZheng Wentai, a returned 
overseas Chinese from Indonesia, spent 26 years building up a gene library for 
tropical plants in Xinglong, Hainan. The Xinglong Tropical Garden, a massive 
species gene library, was certificated by the Chinese Government as one of the 
four demonstration bases for ecological and environmental protection. It was 
also recommended to the United Nations for the Global 500 Roll of Honor for 
Environmental Achievement Award.Zheng's ancestral home was in Fujian Province 
on the southeast coast of China. In 1964, at the age of 19, Zheng went to 
Xinglong as a student from Huaqiao University majoring in tropical botany. He 
regarded the experience as part of his accumulation of knowledge and nothing 
more. But it was actually the prelude to his indissoluble bond with 
Hainan.After completing his studies in civil engineering and architecture at 
the University of Hong Kong, Zheng set off on a business career in cities such 
as Guangzhou and Hong Kong, and soon made a name for himself as a successful 
entrepreneur. In the midst of the establishment of the Hainan Special Economic 
Zone, he went back to the island and participated in the design and 
construction of the Hainan Overseas Chinese Hotel.Zheng would have continued 
his career if it hadn't been for a serious illness in 1991. Lying in bed, he 
reflected on his life and decided to do something for his motherland and for 
future generations. The vision of establishing a species gene library for 
tropical plants sprang to his mind.He conducted field trips to many areas 
before he finally realized that the optimal location was Xinglong in Wanning 
City in Hainan, which had favorable natural conditions but a poor 
infrastructure. It was an interesting coincidence that Xinglong, where Zheng 
worked as an urban student back in the 1960s, became his new starting point.In 
1992, he sold all his assets and flung himself into the construction of the 
Xinglong Tropical Garden. The Xinglong Overseas Chinese Farm provided him with 
a stretch of land covering 387 hectares where he was able to grow various 
tropical plants in what was otherwise a barren area.The tropical garden has now 
entered the second phase of restoration with the covering area expanded to 
about 800 hectares. About 4,000 to 5,000 species grow vigorously here, saving 
many endangered species and helping them propagate and form plant communities. 
The garden has become the most distinctive garden of tropical forest landscape 
in China, integrating natural scenery, cultural heritage, garden art and 
ecological and environmental protection all in one.The project has protected 
China's rainforests and saved a species gene library for future generations. 
According to Zheng, the provincial government and citizens of Hainan have long 
understood the great value of ecological and environmental protection, which 
laid the       groundwork for his efforts. The support he received from the 
government and other sectors facilitated the achievement of his dream. He is 
never alone in the path of protecting tropical plants.
Salam,ChanCT


ajeg 於 29/5/2018 15:46 寫道:


 "Pulang"? 
"Pulang"..??
Dengan membawa tumbuhan tropis spesies langka pula.

Hmm.
--- SADAR@... wrote:



| Impian Hijau Seorang Keturunan Tionghoa Indonesia |
|   2018-05-29 11:47:55  Kantor Berita Xinhua |
| Cheng Wentai, seorang keturunan Tionghoa Indonesia yang telah pulang ke 
Tiongkok, adalah Direktur Taman Tropis Xinglong, Kapubaten Wanning, Provinsi 
Hainan Tiongkok. Cheng yang berusia 73 tahun itu seumur hidupnya telah berupaya 
untuk mewujudkan impian hijaunya dalam pembangunan taman tropis 
tersebut.Menurut data statistik, taman tropis Xinglong telah berhasil 
menyelamatkan                                                 4000 lebih 
spesies tumbuhan, di antaranya 65 spesies langka, dan 27 spesies yang telah 
dimasukkan dalam daftar "China Plant Red Data Book". Taman tersebut juga 
ditetapkan sebagai salah satu empat besar pusat pendidikan lingkungan dan 
ekologi serta gudang data gen spesies oleh negara.Melalui upaya selama 
bertahun-tahun, sejumlah besar tumbuhan langka telah mendapatkan perlindungan, 
pengembangbiakan dan membentuk komunitas. Siklus lingkungan ekologi yang baik 
perlahan-lahan pulih kembali.
     |







Kirim email ke