anda hanya sekedar bersilat lidah

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Berarti tidak / belum ada bukti Zheng Wentai pulang ke Cina 

 karena masalah rasialis seperti isu yang dikipas si jonathan itu. 

 Zheng pulang ke Cina karena statusnya memang bukan WNI, 

 atau memakai istilah Chan, Zheng pulang karena pilihan bebasnya.
 Biasa saja toh, sebagai tamu di Indonesia Zheng lalu pulang ke 

 rumahnya. 

 

 Entah kenapa si jonathan berusaha sekali menggiring topik 

 kepulangan Zheng ini dengan isu rasial. Juga di topik-topik lain. 

 

 Ya baguslah, kita dapat tontonan mental rasis secara gratis. 

 
 --- djiekh@... wrote:

 


   
 Chen bukan balik ke Tiongkok tahun 1964. Tiak disebutkan kapan dia balik ke 
Tiongkok. Yang jelas dia pernah masuk Universitas Hua Chiao.
 Dia pergi dari Fujian ke Xinglong di tahun 1964, waktu umur 19 tahun. Jadi dia 
lahir tahun 1945.
 Menilik umurnya, mungkin dia 1-2 tahun kuliah di Fujian , sebelum akhirnya 
kuliah di Hong Kong.

 
 2018-05-30 3:46 GMT+02:00 ChanCT :
 Hahahaa, ... jadi diskusi menarik. Teringat tuduhan Jusuf Kala setelah Tragedi 
Mei '98 meletup, bahwa Cina-Cina itu TIDAK perlakukan Indonesia sebagai 
tanahairnya, tapi seperti Hotel, lari dan meninggalkan begitu ada masalah! 
Kira-kira begitulah inti ucapannya, ... 
 
 Tentu saya tidak menyangkal ada sementara Tionghoa yang bersikap perlakukan 
Indonesia spt hotel, tapi ucapan rasis begitu TIDAK PANTAS keluar dari mulut 
pejabat! TANPA berani melihat bisa TERJADI digondol-larinya BLBI 600triliun 
oleh konglomerat Cina itu, ... justru KESALAHAN Pemerintah sendiri! Pertanyaan 
mendasar, kenapa pemerintah setujui instruksi IMF untuk kucurkan dana BLBI 
dengan serampangan begitu??? Jelas-jelas terjadi persekongkolan penguasa dengan 
pengusaha selama ORBA itu, dan mereka nikmati bersama uang RAKYAT yang digondol 
keluar itu, tanpa pedulikan kehidupan rakyat banyak dan ekonomi nasional makin 
terpuruk! Kenapa DOSA-KESALAHAN nya pemerintah sendiri itu ditimpakan pada 
mayoritas Tionghoa yang juga menjadi KORBAN persekongkolan penguasa-pengusaha 
yang terjadi selama lebih 32 tahun itu!
 Nampak jelas jiwa rasis sementara pejabat/jenderal yang menjadikan kelompok 
Tionghoa sebagai kambing-hitam, yang dikorbankan untuk mencapai tujuan politik 
mereka. Dan oleh karenanya, sudah sepatutnya diungkap dan lanjutkan usaha 
menarik keluar DALANG dan tokoh yang harus bertanggungjawab atas kerusuhan Mei 
1998 itu sesungguhnya, ... ajukan kepengadilan dan jatuhi HUKUMAN 
seberat-beratnya untuk mentuntaskan pelanggaran HAM-berat dalam perjalanan 
sejarah bangsa ini TIDAK TERULANG kembali! Jangan biarkan PELANGGARAN HAM-BERAT 
berlalu seperti tidak terjadi apa-apa, ... justru karena pelanggaran HAM 
dibiarkan lewat puluhan tahun, setiap saat akan terulang kembali! 
 
 Namun saya juga SETUJUUU, jangan biarkan konglomerat-konglomerat yang 
kebetulan mayoritas dari etnis Tionghoa yang megondol lari BLBI itu menikmati 
jarahannya! TINDAK TEGAS, tuntut bayar keembali semua uang jarahan yang 
digondol lari dan membuat ekonomi nasional makin terpuruk itu! Berlakukan saja 
HUKUM yang adil itu, ... sebaik-baiknya!
 
 Disatu pihak kita harus menuntut setiap warga dengan segala perbedaan yang 
ada, ya beda suku, beda etnis, beda Agama bahkan juga beda pandangan 
ideologi/politik, ... tetap HARUS diperlakukan sama! Dipihak lain sebvagai 
warga negara tentu dalam praktek kehidupan bermasyarakat mempunyai HAK dan 
Kewajiban yang SAMA pula! Berusaha keras lah mewujudkannya dalam praktek 
kehidupan bermasyarakat dengan sebaik-baiknya, ... menjadi anak bangsa 
Indonesia yang baik!
 Namun demikian, saya masih TETAP berpendapat, setiap orang BEBAS memilih dan 
meneentukan jalan hidup nya sendiri dimana dan bagaimana yang dianggap lebih 
nyaman bagi dirinya sendiri! Itulah kebebasan seseorang yang TIDAK bisa di 
salahkan!
 Saya kasih contoh konkrit, ... Ternyata, dimasa perang revolusioner Tiongkok, 
ada beberapa warga Amerika dan Canada yang sengaja datang masuk ke TIongkok 
daratan untuk membantu rakyat Tiongkok! Bahkan ada yang dasarnya bukan dari 
ideologi komunis, beranjak dari segi kemanusiaan, hendak MEMBANTU kehidupan 
rakyat Tiongkok yang terbelakang dan miskin saja. Seorang pemuda AS pemelihara 
sapi datang ke Yen An, basis PKT/Mao saat perang anti-Jepang yang sangat TANDUS 
dan melarat ketika itu, lupa saya namanya. Lalu, mendatangkan calon istri dan 
mereka berdua lah yang bertugas jadi pemelihara sapi di Yen An, ... setelah 
revolusi menang terbentuk RRT, mereka berdua TETAP menjadi AHLI pemelihara sapi 
di propinsi Shan Shi, tidak mau dipindah ke Beijing. Saat RBKP mereka tergolong 
jadi korban yang diganyang, dituduh mata-mata dan sempat dipenjara tanpa proses 
pengadilan yang sah! Cukup keputusan pengadilan rakyat, rapat Garda Merah saja. 
Sekalipun pernah diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi, keluarga Amerika 
ini sudah menjadikan Tiongkok sebagai pilihan hidupnya! Mereka TETAP 
mempertahankan hidupnya di Tiongkok, baru setelah yang peria meninggal, ibu 
melewati hari-tuanya bersama ke-3 anaknya pindah ke Beijing, sudah ditahun 
80-an, memasuki jaman Reformasi dan Keterbukaan. Aneh rasanya dimata orang 
banyak, tapi pilihan HIDUP mereka itu, TIDAK BISA DISALAHKAN! Bahkan putranya 
yg tertua pernah mencoba kembali hidup di Amerika sampai belasan tahun, tapi 
akhirnya kembali lagi hidup di Tiongkok dimana dia dilahirkan dan dibesarkan, 
dia walaupun berdarah Amerika, sudah menganggap Tiongkok-lah tanahair nya yang 
nyaman bagi hidupnya!
 Sedang bagi Cheng kemungkinan besar adalah golongan Tionghoa yang tetap 
pertahankan WN Tiongkok dan PULANG ditahun 1964 untuk melanjutkan sekolahnya 
saja, ... jadi bukan tergolong Tionghoa yang tergusur, sebagai korban 
PP-10/1960 atau kerusuhan 1965 misalnya, yg berakibatkan banyak Tionghoa hijrah 
PULANG kembali kenegeri leluhur. Tentu, sekalipun mayoritas mereka adalah 
WN-Tiongkok, diantara mereka ada juga yang belum sempat memilih, masih dalam 
proses dipengadilan atau bahkan ada juga yang tergolong sudah TIDAK bisa 
berbahasa Tionghoa lagi, semata jatuh jadi KORBAN POLITIK saja! Jadi, kalau mau 
dinilai KESALAHAN, yang SALAH adalah kebijakan PEMERINTAH ketika itu! KEBIJAKAN 
yang berbau RASIALIS!
 Itu saja tambahan saya, ...
 Salam,
 ChanCT
 
 

 
 Jonathan Goeij jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] 於 
30/5/2018 2:15 寫道:

   Omongan anda benar untuk saat sekarang, tetapi ngaco ngawur dalam diskusi 
ini.
 

 Pengalaman teman2 anda itu tahun berapa?
 

 

 --- ajegilelu@... mailto:ajegilelu@... wrote :
 
 Banyak kok WNI keturunan (bukan cuma keturunan Cina) 
 
 yang tidak merasa perlu pulang ke negara asal, selain untuk
 
 melancong, bertamu. 
 
 
 
 Kalau berstatus pendatang / tamu ya jelas harus pulang 
 
 ke negaranya. Semua orang tahu itu. 
 
 
 
 Itu yang harus Anda ketahui.
 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 
 
 Kelihatannya memang pengetahuan yang terbatas.
 

 Th 1964 berusia 19 tahun, Zheng tentu lahir th 1945 cuman kurang jelas sebelum 
atau sesudah proklamasi. Berdasarkan UU Warga Negara 1946 Zheng tentunya 
merupakan warga negara Indonesia, tetapi th 1958 mendadak sontak jadi orang 
asing kehilangan kewarga negaraan Indonesia begitu saja tanpa ada kesalahan 
yang dilakukan oleh individu2 tsb.
 

 Saya kira pd th 1964 (atau mungkin sebelumnya) waktu Zheng pergi ke Tiongkok 
itu istilah "pulang" sangat tepat, sebagai akibat policy RASIS pemerintahan 
SOEKARNO.
 

 

 --- ajegilelu@... wrote :
 
 Anggap saja pengetahuan saya soal ini terbatas karena 
 
 berdasarkan pengalaman, beberapa teman yang WNI 
 
 keturunan (bukan hanya keturunan Cina) hanya melancong 
 
 ke negara asal. Tidak lagi berpikir untuk pulang ke sana. 
 
 Indonesia sudah menjadi kampung halamannya. 
 
 
 
 Kalau bukan WNI ya jelas harus pulang dong. Kalau bisa 
 
 tanpa membawa apa pun yang kategorinya dilindungi, 
 
 langka. Kecuali dapat izin dari pihak berwenang.
 
 
 
 --- sadar@... wrote:
 
 
 Lalu, ... apa salah mereka PULANG ke Tiongkok, negara leluhurnya? 
 
 Setiap orang BEBAS untuk memilih jalan hidup yang dianggap lebih baik bagi     
      dirinya. Itulah kebebasan manusia yang harus dilindungi oleh setiap 
negara, ... bukan karena Tionghoa dia berhak kembali kenegara asal nenek 
moyangnya, bahkan orang Jawa pun boleh saja hendak hijrah hidup dan bekerja di 
Tiongkok. Itulah kebebasan hidup dijaman globalisasi sekarang ini, orang bisa 
dengan mudah untuk menentukan pilihan hidup nya sendiri.
 Tentu disamping kebebasan seseorang memilih hendak hidup dimana yang dirasakan 
lebih nyaman dan hari-depan yang lebih baik, dari berbagai faktor objektif 
alam, sosial dan kebijakan PEMERINTAH yang berkuasa dalam menata masyarakat, 
menjamin keamanan, ketentraman dan menciptakan lapangan kerja bagi setiap warga 
sangat menentukan pilihan orang. Kalau diperhatikan kehidupan politik di 
tahun-tahun 40-an sampai 70-an, nampak sangat jelas adanya politik diskriminasi 
rasial terhadap Tionghoa Indonesia, bagaimana masalah kewarganegaraan saja 
bolak-balik dipersoalkan dan akhirnya sejak tahun 1958 ditetapkan ketentuan 
etnis Tionghoa harus memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI) untuk 
membuktikan dirinya adalah WNI. Dibidang ekonomi, usaha sejak awal 50 
diberlakukan politik Benteng, ijin import-eksport hanya diberikan pada 
pengusaha yang dinamakan "pribumi", sedang dibidang pendidikan, persoalan 
menjadi lebih serius, bukan saja terjadi pembatasan anak Tionghoa tidak lebih 
dari 3% yang bisa diterima masuk di Univ. Negeri, bahkan sejak tahun 1958 anak2 
Tionghoa yang WNI tidak lagi boleh masuk sekolah Tionghoa! Padahal pemerintah 
belum siap menyediakan bangku sekolah menampung semua anak-anak sekolah! 
Disinilah BAPERKI berperan membantu pemerintah mendirikan sekolah-sekolah dari 
SR sampai Univ., untuk menampung anak2 sekolah, ... termasuk anak-anak suku 
lain dan Agama berbeda. 
 
 Dalam menghadapi suasa kehidupan didiskriminasi, tentu saja tidak sedikit 
Tionghoa mengambil sikap "PULANG" kenegara leluhur saja daripada meneruskan 
hidup dianak-tirikan bahkan dijadikan KAMBING-HITAM yang di KORBANKAN 
seenak-udelnya oleh sementara pejabat/jenderal untuk mencapai TUJUAN POLITIK! 
Begitulah kalau kita perhatikan bagaimana diawal tahun 1950, khususnya setelah 
razia Sukiman tahun 1951, dimana tidak sedikit Tionghoa juga ujug-ujug 
ditangkap tanpa dasar kesalahan, ... tentu saja tidak sedikit Tionghoa yang 
akhirnya mengambil keputusan 

(Message over 64 KB, truncated) 











































Kirim email ke