Tatyana itu orang kiri. Sejalan dengan ideologinya dia benar was was benci dan 
antipati dengan imf worldbank dll. Bukan hanya orang kiri, orang yg waras 
ditengah maupun dikanan kalau melihat kelemahan imf worldbank dll ini juga bisa 
mengeritik. Dulu jelas imf worldbank adalah perpanjangan tangan pemenang PD2. 
Lalu lambat laun dunia kan berubah, begitu juga wajah imf worldbank juga 
berubah. Banyak orang asing kerja buat imf worldbank dll termasuk orang 
Indonesia baik secara professional maupun sbg representative dari negaranya. 
Ini menunjukkan adanya profesionalisme dalam arti tertentu. Sampai sekarang 
mereka tetap membantu masalah perekonomian negara berkembang dan miskin. 
Masalah kajian mereka apakah benar, ini yang harus dipikirkan baik2 oleh negara 
yang dibantu. Terapi buat Indonesia dulu 1998 jelas salah. Diluar memang ada 
keinginan utk menurunkan soeharto, tetapi setelah itu memang ada kesalahan 
dalam Analisa sehingga kacau balau ekonomi Indonesia. Ditambah orang2 indonesia 
sendiri gak bener ya jadilah krisis keuangan itu menghancurkan perekonomian 
Indonesia. Negara lain seperti korea selatan, Malaysia, Thailand dll sudah 
selesai, Indonesia tetap terpuruk dan rupiahnya masih stabil sampai sekarang 
lemahnya.

 

Yang ingin saya tekankan sama Tatyana dan yang kirinya kiri sekali adalah: 
musuhnya itu bukan imf worldbank dll. Musuhnya itu adalah siapa saja yang mau 
mengrogoti Indonesia. Jangan berhenti sama imf worldbank dll saja. Lembaga 
keuangan dunia saingan imf worldbank dll seperti AIIB dan bank yg didirikan 
oleh negara2 BRICS itu begitu gencar bersaing dengan imf worldbank dll. Ini 
masalah kepentingan siapa yg kuat dan yg akan menang.

 

Indonesia ya pinter2lah bermain. Jaga2. Bersih2 diri sebelum bertempur. Ini kan 
kata orang tua. Kalau diri kita sendiri saja gak beres, gimana mau bertanding 
sama orang lain?

 

Yang saya kritisi sama orang2 kiri sekali ini adalah: mereka buta dengan 
kenyataan riil yaitu kenyataan riil bagaimana membela rakyat itu. Kenyataan 
riil dimana rakyat kita masih miskin itu harus ditanggulangi. Inikan masalah 
cara. Nah cara ini yg tidak ada bagi orang2 sangat kiri ini. 

 

Tatyana kan gak pernah kasih cara ini. Paling2 dia bilang urusin tanah. Siajeg 
masih mendingan kasih cara: koperasi. Sayangnya dari tulisannya yg singkat itu 
kelihatan sekali dia kurang mengerti artinya koperasi, korporasi, bank dll. 
Lemah pengetahuannya. Jadi keinginannya hanyalah dalam bentuk idealisme saja. 

 

Ini kan kelemahan para kelompok sangat kiri ini. Kita gak bisa mengganti begitu 
saja system yg sdh berjalan seperti sekarang yaitu perbankan dengan koperasi 
begitu saja. Bisa rontok NKRI itu terutama perekonomian nya. Mana ada dan mana 
bisa koperasi menggantikan peran bank?

 

Dulu mubyarto yg begitu getol ngomongin ekonomi kerakyatan saja gak berani 
terang2an koperasi adalah solusinya. Makanya penekanan dia adalah ekonomi 
kerakyatan bukan koperasi! Dia tahu dan gak gegabah utk mengatakan bank harus 
diganti sama koperasi! 

 

Persoalannya bagaimana mencari jalan terbaik buat perekonomian Indonesia? Ini 
PR Bersama orang Indonesia. Tetapi jelas caranya bukan menggoblok2an Jokowi. 
Sedangkan financing buat usaha kecil seperti UKM, UMKM dan yg barusan 
disodorkan oleh bung djie LKM itu kan dari dulu sudah ada. Persoalannya micro 
financing itu jalannya tersendat2 dilapangan. Dari jaman soeharto pun sudah 
ada. Saya dulu sekolah pernah bikin paper ttg micro financing ini dijaman 
soeharto. Gimana bisa jalan? Bayangkan seorang pengangguran, buka gerobak 
jualan ayam goreng lalu dapet pinjaman micro financing ini. Persyaratannya 
sederhana sekali: tanda tangan secarik kerta yg Namanya formulir. Isinya bilang 
term of payment. Sangsi kalau gak bayar apa? Gak ada. Ya kalau dia bangkrut ya 
duit hutang micro finance itu  juga lenyap. Dan ini terjadi dimana2. Malahan yg 
tidak bangkrut juga ngaburin duitnya hehehehehe. Lucu. Jadi kayak sinterklas 
bagi2 duit posisinya Lembaga micro financing ini. Ini kan jelas sekali 
penerapan dilapangan gak siap.

 

Kalau bank kan lain. Ada sifat prudential dll. Ada jaminan yg ditaruh sebelum 
ambil kredit dll. Jadi gak sembarangan boleh pinjam duit.

 

LKM itu micro financing. LKM itu bukan koperasi loh, tetapi LKM bisa berbentuk 
koperasi. Ini yg siajeg bingung. Dia gila kehebatannya koperasi tetapi gak 
menyinggung sama sekali ttg LKM/micro financing ini. 

 

Sori mesti sering tiarap.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Sunday, June 10, 2018 12:35 AM
To: [email protected]; nesare <[email protected]>; Tatiana Lukman 
<[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Structural Adjustment

 

  

Selamat muncul kembali bersuara di GELORA45, bung Nesare, ...! Lama tidak 
terdengar suaranya, mudah-mudahan saja karena tenggelam dengan kesbukan yang 
yang dikerjakan saja dan TETAP sehat-sehat, ya!

SETUJUUU, ... dalam kenyataan yang terjadi yang dinamakan pasar bebas , hanya 
relatif saja. Disaat tertentu pemerintah akhirnya juga ikut campur-tangan, 
berusaha mengendalikan juga. Hanya saja untuk kepentingan segelintir 
kapitalis-monopoli atau kepentingan rakyat banyak saja!

Tapi, adalah juga kenyataan, dengan ekonomi sepenuhnya berencana, diatur 
pemerintah secara terpusat, juga tidak baik! Jadi, yang benar adalag Deng, 
dengan berani memadukan ekonomi pasar dengan ekonomi berencana, untuk maju 
lebih baik dan lebih cepat.

Mudah-mudahan bung bisa tetap sering-sering mengajukan pemikiran yang 
mencerahkan, ... Terimakasih!

Salam,

ChanCT

 

'nesare' [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 於 9/6/2018 
23:16 寫道:

  

Saya sambil dengerin videonya dan sambil nulis.

Pasar bebas itu gak ada. Dinegara manapun selalu ada regulasi yg datang dari 
pemerintah.

Trade itu natural dimana manusia bertukar produk dan jasa. Dasarnya adalah: 
need and want, kebutuhan dan keinginan. Gak ada urusannya dgn imperialisme.. 
Imperialism itu bukan trading, melainkan menjarah. Ini jaman dulu. Kalau jman 
sekarang saya setuju memang ada imperialisme gadungan dalam global/world trade. 
Tetapi tidak benar mengatakan imperialisme mendorong free trade ke dunia 
ketiga. Gak ada imperialismepun trade dan termasuk global trade akan selalu ada 
krn sekali lagi ada need and want nya manusia. Ini yg saya katakan natural.

 

Structural Adjustment ini kan produknya imf dan world bank yg kasih bantuan 
kenegara yg sedang krisis. Ya kalau perlu ya ditolak saja. Masalahnya bukan 
disini. Masalahnya lebih ke politiknya yaitu berani enggak menolak krn ada 
konsekwensi dikucilkan. Ini yg harus dipikirkan oleh negara yg sedang krisis 
ini. Sekarang imf dan world bank itu wajahnya sudah berubah banyak gak seperti 
jaman dulu dimana memang kedua institusi ini adalah perpanjangan imperialism 
pemenang PD2. Wong memang imf dan world bank ini produk PD2. Belakangan jaman 
sekarang kan memang imf dan world bank sudah kehilangan pamor dimata negara2 
berkembang. Contohnya kan sudah banyak yg menolak mereka seperti Malaysia, 
Bolivia dll.

 

Jangan terlalu terpaku sama imf dan world bank nya. Lembaga keuangan dunia lain 
kan saingan imf dan world bank kan juga ada. Sekarang ini kan orang sudah pada 
tahu duit nya china luar biasa. Lihat AIIB. Lihat bank yg dibikin oleh negara 
BRICS dishanghai dll. Waspadanya sama semuanya bukan hanya imf dan worldbank 
saja. Pinter2 ngatur negara sendiri. Mulai dari urus berbenah dalam negeri. 
Jangan hanya complain sama orang luar melulu sedangkan dalam negeri banyak 
masalah.

 

Salam

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>   
<mailto:[email protected]> <[email protected]> 
Sent: Saturday, June 9, 2018 10:54 AM
To: Yahoogroups  <mailto:[email protected]> 
<[email protected]>; Daeng  <mailto:[email protected]> 
<[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]> ; Harry 
Singgih  <mailto:[email protected]> <[email protected]>; WIN DJOYO  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Rachmat 
Hadi-Soetjipto  <mailto:[email protected]> <[email protected]>; 
Mitri  <mailto:[email protected]> <[email protected]>; 
[email protected] <mailto:[email protected]> ; Farida Ishaja  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Oman Romana  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Lingkar Sitompul  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Gol  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Harsono Sutedjo  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Billy Gunadi  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Sie Tik Tan  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Sahala Silalahi  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Ronggo A.  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Andreas Sungkono  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Tjoa  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; GELORA_In  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Nunu Nugroho  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>; Everistus Kayep  
<mailto:[email protected]> <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Structural Adjustment

 

  

Bahan pelajaran lagi tentang Structural Adjustment yang selalu dituntut oleh 
IMF-Bank Dunia kepada negeri Dunia Ketiga...

Orang-orang revisionis seperti Chan dengan terang-terangan menyatakan 
kecintaannya pada pasar bebas yang terus didorong oleh kaum imperialis . Ingat, 
free trade didorong/dipaksa masuk ke Dunia Ketiga oleh kaum imperialis. Jadi 
sebenarnya, kalau orang mau jujur, mereka yang gandrung dengan pasar bebas, 
secara sadar atau tidak sadar, mendukung proyeknya imperialis.

 

 <http://static2.globalissues.org/video/%0A%20martinkhor/sap.webm> 
http://static2.globalissues.org/video/martinkhor/sap.webm

 

 


 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 

不含病毒。 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 www.avg.com 



Kirim email ke