Di Solo dan Semarang, ada sekolah gratis dari SD sd. SMP dari perkumpulan
Khong Kauw hwee (Confucianisme).
Di solo dulu ada kebiasaan, kalau satu keluarga meninggal, teman2 dan
familinya menyumbang. Keluarga yang
meninggal mengatur supaya sumbangan itu dikirimkan ke orang tertentu, yang
selalu menyediakan waktu terima
sumbangan dan mencatatnya. Keluarga yang meninggal menentukan apa sumbangan
kematiann itu dihibahkan
pada Rumah Sakit Dr. Oen untuk mengongkosi patient2 miskin, atau untuk
membeayai anak2 sekolah miskin
dari perkumpulan Confucianisme. Apa sekarang masih ada kebiasaann itu, saya
tidak tahu.
Kalau di Semarang, dulu yang cari dananya unuk sekolah miskin ketuanya
adalah Ir. Sih Ing Liong, lulusan Kimia
Teknik ITB, masuk angkatan 55. Di samping itu dulu dia aktif di Sam Po
Kong. Semasa dia pegang pimpinan, orang
masuk Sam Po Kong itu gratis, seperti idee Oei Tjie Sien, bapak dari oei
Tiong ham.
Yayasan Buddhis Tsu Chi banyak bantu pendidikan. Sekolah2 Islam juga
dibantu.
Di Antwerpen ada perkumpulan BAPPi, BantuanPemuda Pelajar Indonesia, beri
bantuan pada Sekolah Katolik di
karanganyar, keresidenan Solo.
Di Jakarta ada Yayasan pelangi dari Perkumpulan INTI, beri bantuan pada
pelajar2 berprestasi. A Hok pernah
menganjurkan, alihkan saja bantuan itu keluar Jakarta, yang betul2
membutuhkan, karena menurut A Hok pelajar2
di jakarta sudah dapat bantuan cukup.

2018-07-01 7:41 GMT+02:00 'Karma, I Nengah [PT. BI-POS]'
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>:

>
>
> Mestinya pemerinah mambuat sekolah dan kampus/PTN tersendiri yang bisa
> menampung orang miskin tapi IP nya lebih besar 9.0.
>
> Dibali utara ada sekolah SMA bali mandara milik pemda bali yang sepecial
> menampung anak miskin tapi Genius, tempatnya dipegunungan kalau tidak salah
> di desa Tajun singaraja.
>
>
>
>
>
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]]
> *Sent:* Sunday, July 01, 2018 12:31 PM
> *To:* [email protected]
> *Subject:* [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] AGAR SI JENIUS PULANG KAMPUNG
>
>
>
>
>
> Yang terjadi pada Raeni adalah realita. Dan, itu mematahkan
>
> realita palsu yang Anda imani: "makin kaya keluarga
>
> prestasi akademis juga makin tinggi".
>
>
>
> Persoalannya tinggal, mampukah Anda menerima realita ini?
>
>
>
> Termasuk, memahami bahwa 'amanat' adalah kewajiban, bukan
>
> 'campurtangan' seperti tudingan Anda. Jadi, UUD'45 memberi tugas
>
> (kewajiban) kepada pemerintah untuk membiayai pendidikan
>
> kepada setiap warganegara. Sedangkan kartu "ATM pinter" lebih
>
> bersifat investasi kepada pemilih pemula dari kalangan kurang mampu.
>
>
>
> Pertanyaan Anda itu yah cuma membuktikan hasil pendidikan
>
> dari keluarga mampu yang bermental menak, sekolahnya tinggi tapi
>
> minta disuapi melulu. Ya cari sendirilah contoh-contoh Raeni lainnya.
>
> Kan udah gede. Mestinya lebih pinter dibanding waktu balita.
>
>
>
> --- jonathangoeij@... wrote:
>
>
>
> yg terkadi pd Raeni adalah exception, itupun diperlukan faktor luar berupa
> bea siswa yg menjadi substitusi dana.
>
>
> Secara masal utk memenuhi amanat UUD 45 diperlukan campur tangan
> pemerintah agar mereka yg miskin juga bisa mendapat pendidikan, mungkin
> kartu ATM "pinter" merupakan salah satu bentuk pemenuhan amanat tsb.
>
>
>
> kalau anda hanya mengandalkan seperti Raeni ini, jawab pertanyaan ini
> "Btw, berita itu Juni 2014, setelah lewat 4 tahun sampai sekarang ada
> berapa banyakkah Raeni2 yang lain?"
>
>
>
> --- ajegilelu@... wrote
>
>
>
> Kisah Raeni itu sekedar informasi untuk membantah keyakinan Anda:
>
>
>
> "kita bisa bilang prestasi belajar anak searah atau berbanding lurus
>
> dengan kekayaan keluarga, makin kaya keluarga prestasi akademis
>
> juga makin tinggi."
>
>
>
> Apa yang terjadi pada Raeni memang tidak perlu dijadikan norma
>
> karena seperti itulah harusnya wujud dari amanat UUD'45; kemiskinan
>
> bukan halangan untuk mengikuti pendidikan - atau juga untuk bagi-bagi
>
> kartu ATM "pinter".
>
>
>
> --- jonathangoeij@... wrote:
>
>
>
> Selamat untuk keberhasilan Raeni!
>
>
>
> Terlihat Raeni berhasil mengatasi/mensubstitusi masalah kekayaan/dana
> keluarga dengan bea siswa "Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil
> Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri
> Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar
> ayahnya dengan becak." Ada faktor diluar Raeni dan keluarganya (dalam
> bentuk bea siswa) yg berhasil mengangkat Raeni keluar dari lingkaran setan.
> Tetapi bagaimanapun motivasi tekat dan ketekunan Raeni memang terpuji yg
> menghasilkan prestasi akademik yang cukup bagus.
>
>
>
> Ada faktor dari luar yg dibutuhkan untuk mengangkat anak2 miskin
> bermotivasi tinggi untuk keluar dari lingkaran setan, swasta atau
> masyarakat dalam hal ini memang bisa berperan dengan menyediakan bea siswa,
> tetapi lebih penting lagi adalah upaya pemerintah seberapa besar perhatian
> pemerintah dan dana yang disediakan karena bisa menjangkau dalam jumlah
> besar.
>
>
>
> Btw, berita itu Juni 2014, setelah lewat 4 tahun sampai sekarang ada
> berapa banyakkah Raeni2 yang lain?
>
> Maksud saya disini yg terjadi pada Raeni janganlah dijadikan norma jangan
> dijadikan rule of thumb.
>
>
>
>
>
> --- ajegilelu@... wrote :
>
>
> *Kisah Raeni si Anak Tukang Becak
> <https://www.liputan6.com/news/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris>*
>
>
>
>
>
> --- jonathangoeij@... wrote:
>
>
>
> "Wah, kalau sudah begini, ya kekayaan orang tua dan motivasi belajar anak
> dua2nya ikut menentukan."
>
>
>
> Kurang lebih ya begitulah bung Djie kekayaan keluarga ikut menentukan,
> dengan asumsi "all other things being equal" kita bisa bilang prestasi
> belajar anak searah atau berbanding lurus dengan kekayaan keluarga, makin
> kaya keluarga prestasi akademis juga makin tinggi. Atau dengan kata lain
> kita bisa bilang makin miskin keluarga academic achievement juga makin
> rendah.
>
>
>
> Keadaan diatas seakan lingkaran setan yg tidak ada habisnya, makin lama
> gap akan semakin membesar.
>
>
>
> Mereka yang berpandangan kiri/progressive/liberal menekankan pentingnya
> peranan pemerintah dalam membantu, sedang yang kanan/kapitalis/konservatif
> lebih menyerahkan pada pasar alias tidak berbuat apa2.
>
>
>
> Catatan, pengertian progressive dalam hal ini: "(of a group, person, or
> idea) favoring or implementing social reform or new, liberal ideas."
>
>
>
>
>
> On Thursday, June 28, 2018, 12:01:37 AM PDT, kh djie wrote:
>
>
>
> Di beberapa kota seperti di Inggris dan kanada ada peraturan anak2 harus
> disekolahkan
>
> di sekolahan daerahnya.Satu orang sengaja pindah rumah, meskipun rumah
> daerah itu
>
> lebih mahal, agar anak2nya bisa masuk sekolah terbaik. Menurut dia, tidak
> saja sekolah
>
> itu terkenal, terbaik, tetapi anak2 di sana kebanyakan anak2nya pengusaha..
> Jadi dia
>
> sengaja masukkan anaknya di sana supaya waktu sekolah sudah punya netwerk
> untuk
>
> hari kemudian.Kok sekolah itu bisa jadi sekolah terbaik ? katanya karena
> banyak dapat
>
> sumbangan dari orang2 tua murid yang kaya2. Gurunya saja guru pilihan.
> Wah, kalau
>
> sudah begini, ya kekayaan orang tua dan motivasi belajar anak dua2nya ikut
> menentukan.
>
> Sekolah2 terkenal dengan asrama di Inggris, punya murid anak2 pejabat
> besar berbagai
>
> negeri, Afrika, Asia, Inggris. Ada yang sengaja sekolahkan anaknya di
> situ, supaya sejak
>
> muda sudah punya netwerk dengan calon2 orang penting dari berbagai negeri..
>
> Kalau kita baca riwayatnya Robert Kuo, wah kebetulan dia teman satu
> sekolah dengan
>
> Mahathir. Bisa keluar masuk rumah Mahathir begitu saja. Mahathir kalau
> perlu bantuan,
>
> ya tinggal telpon dia saja. Padahal kalau Mahathir ke tempat temannya yang
> lain, pengawalnya
>
> masuk dulu dalam rumah, lihat keamanan. Bisa2 keluarga tuan rumah sedang
> disandera ???
>
> Kalau di Belanda mutu sekolah dan universitas hampir sama, tidak ada orang
> tua sengaja
>
> pindah rumah, pindah kota, sengaja supaya anaknya dapat
> sekolah/universitas tertentu.
>
> Jaman dulu, ada orang tua yang sekolahkan anaknya di Surabaya, dan punya
> kartu penduduk
>
> Surabaya, karena Universitas Airlangga mengutamakan lulusa2 SMA Jatim.
>
> Sekarang ada kecendrungan sekolah2 di Jakarta, berebutan merayu murid2
> sekolah yang
>
> jadi juara2 di perlombaan matematika, kimia, robot, fifika, biologi sambil
> pasang spanduk
>
> besar kalau di sekolahnya banyak juara2nya. juara2 tidak usah bayar
> sekolah, malah di luar
>
> jam sekolah dapat pendidikan extra dari guru khusus, supaya tahun depannya
> tetap juara lagi.
>
> Ya, tapi sekolah2 terkenal ini, narik bayaran uang sekolahnya tinggi.
>
> Ada juga anak2 orang kaya yang tidak bermotivasi untuk belajar, jadi
> foya2, nak mobil lux dll.
>
> Dulu di ITB bagian mesin, ada mahasiswa yang bisa cepat selesai karena
> selalu dibantu
>
> temannya yang pandai2. Orang2 suka tertawai dia, karena dia selalu dibantu
> orang. Tetapi
>
> akhirnya dia punya perusahaan besar, ngepalai banyak insinyur. Dia bilang
> pada teman
>
> saya, dulu kalian suka ngrasani saya, pelajaran sudah dikunyah orang lain
> dulu, baru dimakan.
>
> lihat, sampai sekarang saya kan orang yang bisa pakai orang, meskipun
> orang bilang bukan
>
> dari kepandaian sendiri. Ya, orangnya memang ramah, kalau ngomong agak
> seenaknya, tetapi
>
> suka bantu orang. Dia nawari tinggal di hotel gratis, karena dia punya
> jatah kamar untuk
>
> tamu2 perusahaannya.
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke