Mestinya pemerinah mambuat sekolah dan kampus/PTN tersendiri yang bisa menampung orang miskin tapi IP nya lebih besar 9.0. Dibali utara ada sekolah SMA bali mandara milik pemda bali yang sepecial menampung anak miskin tapi Genius, tempatnya dipegunungan kalau tidak salah di desa Tajun singaraja.
From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, July 01, 2018 12:31 PM To: [email protected] Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] AGAR SI JENIUS PULANG KAMPUNG Yang terjadi pada Raeni adalah realita. Dan, itu mematahkan realita palsu yang Anda imani: "makin kaya keluarga prestasi akademis juga makin tinggi". Persoalannya tinggal, mampukah Anda menerima realita ini? Termasuk, memahami bahwa 'amanat' adalah kewajiban, bukan 'campurtangan' seperti tudingan Anda. Jadi, UUD'45 memberi tugas (kewajiban) kepada pemerintah untuk membiayai pendidikan kepada setiap warganegara. Sedangkan kartu "ATM pinter" lebih bersifat investasi kepada pemilih pemula dari kalangan kurang mampu. Pertanyaan Anda itu yah cuma membuktikan hasil pendidikan dari keluarga mampu yang bermental menak, sekolahnya tinggi tapi minta disuapi melulu. Ya cari sendirilah contoh-contoh Raeni lainnya. Kan udah gede. Mestinya lebih pinter dibanding waktu balita. --- jonathangoeij@... wrote: yg terkadi pd Raeni adalah exception, itupun diperlukan faktor luar berupa bea siswa yg menjadi substitusi dana. Secara masal utk memenuhi amanat UUD 45 diperlukan campur tangan pemerintah agar mereka yg miskin juga bisa mendapat pendidikan, mungkin kartu ATM "pinter" merupakan salah satu bentuk pemenuhan amanat tsb. kalau anda hanya mengandalkan seperti Raeni ini, jawab pertanyaan ini "Btw, berita itu Juni 2014, setelah lewat 4 tahun sampai sekarang ada berapa banyakkah Raeni2 yang lain?" --- ajegilelu@... wrote Kisah Raeni itu sekedar informasi untuk membantah keyakinan Anda: "kita bisa bilang prestasi belajar anak searah atau berbanding lurus dengan kekayaan keluarga, makin kaya keluarga prestasi akademis juga makin tinggi." Apa yang terjadi pada Raeni memang tidak perlu dijadikan norma karena seperti itulah harusnya wujud dari amanat UUD'45; kemiskinan bukan halangan untuk mengikuti pendidikan - atau juga untuk bagi-bagi kartu ATM "pinter". --- jonathangoeij@... wrote: Selamat untuk keberhasilan Raeni! Terlihat Raeni berhasil mengatasi/mensubstitusi masalah kekayaan/dana keluarga dengan bea siswa "Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak." Ada faktor diluar Raeni dan keluarganya (dalam bentuk bea siswa) yg berhasil mengangkat Raeni keluar dari lingkaran setan. Tetapi bagaimanapun motivasi tekat dan ketekunan Raeni memang terpuji yg menghasilkan prestasi akademik yang cukup bagus. Ada faktor dari luar yg dibutuhkan untuk mengangkat anak2 miskin bermotivasi tinggi untuk keluar dari lingkaran setan, swasta atau masyarakat dalam hal ini memang bisa berperan dengan menyediakan bea siswa, tetapi lebih penting lagi adalah upaya pemerintah seberapa besar perhatian pemerintah dan dana yang disediakan karena bisa menjangkau dalam jumlah besar. Btw, berita itu Juni 2014, setelah lewat 4 tahun sampai sekarang ada berapa banyakkah Raeni2 yang lain? Maksud saya disini yg terjadi pada Raeni janganlah dijadikan norma jangan dijadikan rule of thumb. --- ajegilelu@... wrote : Kisah Raeni si Anak Tukang Becak<https://www.liputan6.com/news/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris> --- jonathangoeij@... wrote: "Wah, kalau sudah begini, ya kekayaan orang tua dan motivasi belajar anak dua2nya ikut menentukan." Kurang lebih ya begitulah bung Djie kekayaan keluarga ikut menentukan, dengan asumsi "all other things being equal" kita bisa bilang prestasi belajar anak searah atau berbanding lurus dengan kekayaan keluarga, makin kaya keluarga prestasi akademis juga makin tinggi. Atau dengan kata lain kita bisa bilang makin miskin keluarga academic achievement juga makin rendah. Keadaan diatas seakan lingkaran setan yg tidak ada habisnya, makin lama gap akan semakin membesar. Mereka yang berpandangan kiri/progressive/liberal menekankan pentingnya peranan pemerintah dalam membantu, sedang yang kanan/kapitalis/konservatif lebih menyerahkan pada pasar alias tidak berbuat apa2. Catatan, pengertian progressive dalam hal ini: "(of a group, person, or idea) favoring or implementing social reform or new, liberal ideas." On Thursday, June 28, 2018, 12:01:37 AM PDT, kh djie wrote: Di beberapa kota seperti di Inggris dan kanada ada peraturan anak2 harus disekolahkan di sekolahan daerahnya.Satu orang sengaja pindah rumah, meskipun rumah daerah itu lebih mahal, agar anak2nya bisa masuk sekolah terbaik. Menurut dia, tidak saja sekolah itu terkenal, terbaik, tetapi anak2 di sana kebanyakan anak2nya pengusaha. Jadi dia sengaja masukkan anaknya di sana supaya waktu sekolah sudah punya netwerk untuk hari kemudian.Kok sekolah itu bisa jadi sekolah terbaik ? katanya karena banyak dapat sumbangan dari orang2 tua murid yang kaya2. Gurunya saja guru pilihan. Wah, kalau sudah begini, ya kekayaan orang tua dan motivasi belajar anak dua2nya ikut menentukan. Sekolah2 terkenal dengan asrama di Inggris, punya murid anak2 pejabat besar berbagai negeri, Afrika, Asia, Inggris. Ada yang sengaja sekolahkan anaknya di situ, supaya sejak muda sudah punya netwerk dengan calon2 orang penting dari berbagai negeri. Kalau kita baca riwayatnya Robert Kuo, wah kebetulan dia teman satu sekolah dengan Mahathir. Bisa keluar masuk rumah Mahathir begitu saja. Mahathir kalau perlu bantuan, ya tinggal telpon dia saja. Padahal kalau Mahathir ke tempat temannya yang lain, pengawalnya masuk dulu dalam rumah, lihat keamanan. Bisa2 keluarga tuan rumah sedang disandera ??? Kalau di Belanda mutu sekolah dan universitas hampir sama, tidak ada orang tua sengaja pindah rumah, pindah kota, sengaja supaya anaknya dapat sekolah/universitas tertentu. Jaman dulu, ada orang tua yang sekolahkan anaknya di Surabaya, dan punya kartu penduduk Surabaya, karena Universitas Airlangga mengutamakan lulusa2 SMA Jatim. Sekarang ada kecendrungan sekolah2 di Jakarta, berebutan merayu murid2 sekolah yang jadi juara2 di perlombaan matematika, kimia, robot, fifika, biologi sambil pasang spanduk besar kalau di sekolahnya banyak juara2nya. juara2 tidak usah bayar sekolah, malah di luar jam sekolah dapat pendidikan extra dari guru khusus, supaya tahun depannya tetap juara lagi. Ya, tapi sekolah2 terkenal ini, narik bayaran uang sekolahnya tinggi. Ada juga anak2 orang kaya yang tidak bermotivasi untuk belajar, jadi foya2, nak mobil lux dll. Dulu di ITB bagian mesin, ada mahasiswa yang bisa cepat selesai karena selalu dibantu temannya yang pandai2. Orang2 suka tertawai dia, karena dia selalu dibantu orang. Tetapi akhirnya dia punya perusahaan besar, ngepalai banyak insinyur. Dia bilang pada teman saya, dulu kalian suka ngrasani saya, pelajaran sudah dikunyah orang lain dulu, baru dimakan. lihat, sampai sekarang saya kan orang yang bisa pakai orang, meskipun orang bilang bukan dari kepandaian sendiri. Ya, orangnya memang ramah, kalau ngomong agak seenaknya, tetapi suka bantu orang. Dia nawari tinggal di hotel gratis, karena dia punya jatah kamar untuk tamu2 perusahaannya.
