https://x.detik.com/detail/intermeso/20180622/Agar-Para-Jenius-Mau-Pulang-Kampung/index.php
AGAR SI JENIUS PULANG KAMPUNG
“Orang-orang bertanya, mengapa aku pulang kampung. Jawabannya sederhana,
aku masih muda dan aku mau mengejar mimpiku”
Foto-foto: Getty Images
Sabtu 23 Juni 2018
Saat laboratorium antariksa Tiangong-2 terbang ke langit didorong roket
Longmarch 2F dari pangkalan peluncuran di tengah Gurun Gobi, China, pada
pertengahan September 2016, Deng Weiwei hanya bisa menonton videonya di
internet dan mengikuti kabar lewat sosial media. Dia hanya bisa
menyimpan iri mendengar kabar beberapa teman sekolahnya dulu terlibat
dalam proyek bersejarah bagi tanah air itu.
Deng yang mendapatkan gelar doktor dari kampus prestisius di Amerika
Serikat, Universitas Yale, saat itu merupakan dosen dan peneliti muda di
Virginia Polytechnic Institute and State University. Karirnya sangat
menjanjikan dengan gaji lebih dari cukup, sekitar US$ 110 ribu atau
sekitar Rp 1,5 miliar per tahun. Lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Amerika Serikat, sudah seperti rumah kedua baginya. Dia sudah 15 tahun
tinggal di sana dan merasa nyaman.
Tapi delapan bulan setelah Tiangong terbang ke antariksa, Deng berkemas.
Setelah memberikan kuliah terakhir, dia segera terbang pulang kembali ke
kampung halamannya, Tiongkok. Ada tawaran yang sulit dia tolak : bekerja
di kampung halaman dengan gaji hampir sama besar dan tak perlu pusing
lagi mencari dana riset. Di kampus barunya, Southern University of
Science & Technology (SUSTech) di Shenzhen, China, Deng mendapatkan dana
riset 9,5 juta Yuan atau hampir Rp 21 miliar per tahun selama tiga tahun.
Penelitian virus HIV di Shanghai Xuhui District Central Hospital pada
Desember 2006
“Selama tiga tahun, aku bisa mengerjakan apa pun yang aku mau, tanpa
perlu bersusah-susah membuat proposal penelitian,” kata Deng, dikutip
Nature, beberapa waktu lalu. Tak cuma gaji besar dan dana riset
berlimpah yang membuat Deng tak ragu pulang kampung. Lingkungan akademis
di kampusnya tak beda jauh dengan kampus lamanya di Amerika.
Selama tiga tahun, aku bisa mengerjakan apa pun yang aku mau, tanpa
perlu bersusah-susah membuat proposal penelitian,”
Dia sama sekali tak kekurangan teman diskusi dan peneliti yang punya
kemampuan, pengalaman dan pengetahuan yang setara dengannya. Beberapa
seniornya di SUSTech juga alumni dari kampus dan lembaga penelitian di
Amerika. Bosnya di Departemen Teknik Mesin dan Antariksa, Xiaowen Shan,
misalnya, mendapatkan doktor dari Dartmouth College dan lebih dari 20
tahun bekerja di Amerika. Profesor Xiaowen pernah bekerja di
Laboratorium Nasional Los Alamos dan Microsoft.
Deng Weiwei, Xiaowen Shan, Wang Junfeng, dan ribuan peneliti lain,
merupakan bagian dari gelombang besar ilmuwan-ilmuwan China di pelbagai
negara yang pulang kampung untuk bekerja di tanah kelahiran mereka.
Sebelum pulang ke Tiongkok untuk mengepalai Laboratorium Biomolekuler
NMR (Nuclear Magnetic Resonance), Wang Junfeng sempat menjadi peneliti
di Sekolah Kedokteran Universitas Harvard. Ada beberapa alumni Harvard
yang turut bergabung bersama Wang.
Pada Desember 2008, Pemerintah Tiongkok mencanangkan program Thousand
Talents Plan. Lewat program ini, Pemerintah China berharap bisa menarik
pulang ribuan ilmuwan top dan pengusaha, terutama mereka yang memang
lahir di Tiongkok. Selain gaji lumayan besar dan dana riset plus
fasilitas penelitian yang setara dengan negara-negara maju, banyak
‘gula-gula’ ditawarkan agar para ilmuwan dan pengusaha yang sudah hidup
nyaman di negeri orang, mau pulang ke tanah kelahiran, misalnya
kemudahan mendapatkan pekerjaan bagi pasangan mereka dan subsidi sekolah
bagi keluarga. Setelah sepuluh tahun program itu berjalan, ribuan
ilmuwan asal Tiongkok di perantauan pulang kampung dan kini bekerja di
pelbagai kampus dan lembaga riset di China
Sekarang China merupakan tempat terbaik untuk memulai laboratoriummu
sendiri”
Jose Pastor-Pareja, peneliti Universitas Tsinghua
Para peneliti di salah satu kampus di China
*Foto : Xinhua*
“Mereka yang datang bergabung tak melulu tertarik gaji yang besar. Yang
paling penting adalah fasilitas kami….Kami punya fasilitas riset setara,
bahkan mungkin lebih baik ketimbang yang ada di Amerika. Itu semua
berkat investasi pemerintah selama beberapa tahun terakhir,” Tao Cheng,
Direktur State Key Laboratory of Experimental Hematology (SKLEH) di kota
Tianjin, menuturkan kepada ScienceMag. Sebelum bergabung di SKLEH, Cheng
merupakan peneliti di Sekolah Kedokteran Harvard.
Pemerintah China paham betul, bahwa supaya bisa berkompetisi dengan
negara-negara maju seperti Amerika dalam segala hal, supaya mesin
ekonominya terus melaju kencang, penguasaan sains dan teknologi
merupakan kunci utama. Menurut data dari Badan Persatuan Bangsa-bangsa
untuk Pendidikan (UNESCO), besar dana riset China kini hanya kalah dari
Amerika Serikat. Total dana riset China sebesar US$ 370 miliar atau Rp
5154 triliun dalam setahun, nomor dua setelah Amerika Serikat, US$ 479
miliar atau Rp 6673 triliun setahun.
Belanja riset besar-besaran itu tak sia-sia. Menurut majalah sains
kondang, Nature, China sudah menempati urutan kedua dalam publikasi
ilmiah setelah Amerika Serikat. Dari tahun ke tahun, publikasi ilmiah
dari para ilmuwan Negeri Panda ini terus bertambah. “Di antara sepuluh
negara teratas, hanya China yang tumbuh dua digit selama periode 2012
hingga 2015,” Nature menulis dalam pernyataannya.
Peneliti di laboratorium genetika kedokteran di Central South
University, China, pada Juni 2006
**
Bagi para jenius di dunia penelitian, Amerika, negara-negara Eropa atau
Jepang, bukan lagi satu-satunya tempat menarik untuk berkarir. Zhu
Xiang, 30 tahun tahun, menolak tawaran bekerja di salah satu lembaga
penelitian di Prancis dan memilih pulang ke Tiongkok. “Orang-orang
bertanya, mengapa aku pulang kampung. Jawabannya sederhana, aku masih
muda dan aku mau mengejar mimpiku,” ujar Xiang dikutip ChinaDaily.
Sekarang, bersama beberapa temannya, dia mendirikan perusahaan start-up
di bidang medis dan punya jutaan pelanggan.
Tak hanya bagi para ilmuwan kelahiran Tiongkok, bagi sebagian peneliti,
berkarir di China sekarang kadang lebih menarik ketimbang di Amerika.
Jose Pastor Pareja pergi kuliah di Amerika dengan mimpi besar. Tapi
setelah mendapatkan pekerjaan di kampus kondang, Universitas Yale, Jose
malah berubah pikiran. Dia terbang ke China, meninggalkan Yale dan
bergabung dengan Universitas Tsinghua di Beijing pada 2012.
Jose seorang biolog dengan spesialisasi biologi sel menggunakan lalat
buah. Di Amerika, dana riset untuk bidang itu terus dipangkas.
Sebaliknya di China, laboratorium sejenis terus tumbuh. “Sekarang China
merupakan tempat terbaik untuk memulai laboratoriummu sendiri,” kata
Jose kepada Washington Post beberapa hari lalu.
Pada 2016 lalu, pemerintah Tiongkok memperkenalkan sistem pemeringkatan
baru bagi warga negara asing yang akan mendapatkan keistimewaan visa
untuk tinggal di negeri itu. Bagi pemenang penghargaan Nobel, ilmuwan
top kelas dunia, pengusaha sukses atau direktur lembaga seni, pemerintah
di Beijing bersedia memberikan visa 'khusus' dengan jangka waktu hingga
10 tahun. Bagi mereka, pintu gerbang 'Tembok Besar China' terbuka lebar.
------------------------------------------------------------------------
*Editor:* Sapto Pradityo