Tak usah impor, karena sebentar lagi Kementrian Agama akan mempersiapkan
5.000 PhD, jadi jalan dunia mau surgawi akan rata bagus. Ilmu-ilmu duniawi
yang dikembangkan oleh para kafirum tidak penting, sebab kehidupan di dunia
ini hanya sebentar, tetapi di sana di dunia seberang ada kehidupan kekal
yang berlimpah-limpah untuk kebutuhan jasmaniah dan rochaniah. Jasmaniah
akan mendapat pelayanan istimewa
dari bidadari-bidadari cantik nan sexy. Jadi tak usah panik.

2018-06-25 10:04 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Seperti yg saya tulis di posting saya 226505. Indonesia harus berani
> membayar gaji yg. tinggi utk. menarik profesor/dosen LN
> kelas wahid utk. mengajar di Indonesia. Gaji yg. ditawarkan oleh Indonesia
> adalah cuma setinggi
> gaji dari tukang ledeng/plumber di Amerika Utara. Tetapi yg. lebih penting
> dari gaji utk. profesor kelas
> wahid adalah harus ada infrastrukter/laboratorium riset yg hebat seperti
> di Tiongkok yg. lebih baik dari
> AS.
>
>
> ---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :
>
> Pada dasarnya dibawah ini cara Tiongkok menarik kembali para orang pintar,
> gaji yang tinggi setidaknya setara dan fasilitas/dana riset. Indonesia
> sebenarnya sdh cukup bagus berusaha menarik orang2 pintar, sayangnya umpan
> yg diberikan terlalu kecil, lha paling yg datang hanya ikan2 kecil.
>
> kutipan:
>
> Deng yang mendapatkan gelar doktor dari kampus prestisius di Amerika
> Serikat, Universitas Yale, saat itu merupakan dosen dan peneliti muda di
> Virginia Polytechnic Institute and State University. Karirnya sangat
> menjanjikan dengan gaji lebih dari cukup, sekitar US$ 110 ribu atau sekitar
> Rp 1,5 miliar per tahun. Lebih dari Rp 100 juta per bulan. Amerika
> Serikat, sudah seperti rumah kedua baginya. Dia sudah 15 tahun tinggal di
> sana dan merasa nyaman.
>
> Tapi delapan bulan setelah Tiangong terbang ke antariksa, Deng berkemas.
> Setelah memberikan kuliah terakhir, dia segera terbang pulang kembali ke
> kampung halamannya, Tiongkok. Ada tawaran yang sulit dia tolak : bekerja
> di kampung halaman dengan gaji hampir sama besar dan tak perlu pusing lagi
> mencari dana riset. Di kampus barunya, Southern University of Science &
> Technology (SUSTech) di Shenzhen, China, Deng mendapatkan dana riset 9,5
> juta Yuan atau hampir Rp 21 miliar per tahun selama tiga tahun.
>
>
> ---In [email protected], <j.gedearka@...> wrote :
>
>
>
> https://x.detik.com/detail/intermeso/20180622/Agar-Para-
> Jenius-Mau-Pulang-Kampung/index.php
> AGAR SI JENIUS PULANG KAMPUNG
>
> “Orang-orang bertanya, mengapa aku pulang kampung. Jawabannya sederhana,
> aku masih muda dan aku mau mengejar mimpiku”
>
> Foto-foto: Getty Images
> Sabtu 23 Juni 2018
>
> Saat laboratorium antariksa Tiangong-2 terbang ke langit didorong roket
> Longmarch 2F dari pangkalan peluncuran di tengah Gurun Gobi, China, pada
> pertengahan September 2016, Deng Weiwei hanya bisa menonton videonya di
> internet dan mengikuti kabar lewat sosial media. Dia hanya bisa menyimpan
> iri mendengar kabar beberapa teman sekolahnya dulu terlibat dalam proyek
> bersejarah bagi tanah air itu.
>
> Deng yang mendapatkan gelar doktor dari kampus prestisius di Amerika
> Serikat, Universitas Yale, saat itu merupakan dosen dan peneliti muda di
> Virginia Polytechnic Institute and State University. Karirnya sangat
> menjanjikan dengan gaji lebih dari cukup, sekitar US$ 110 ribu atau sekitar
> Rp 1,5 miliar per tahun. Lebih dari Rp 100 juta per bulan. Amerika Serikat,
> sudah seperti rumah kedua baginya. Dia sudah 15 tahun tinggal di sana dan
> merasa nyaman.
>
> Tapi delapan bulan setelah Tiangong terbang ke antariksa, Deng berkemas.
> Setelah memberikan kuliah terakhir, dia segera terbang pulang kembali ke
> kampung halamannya, Tiongkok. Ada tawaran yang sulit dia tolak : bekerja di
> kampung halaman dengan gaji hampir sama besar dan tak perlu pusing lagi
> mencari dana riset. Di kampus barunya, Southern University of Science &
> Technology (SUSTech) di Shenzhen, China, Deng mendapatkan dana riset 9,5
> juta Yuan atau hampir Rp 21 miliar per tahun selama tiga tahun.
>
> Penelitian virus HIV di Shanghai Xuhui District Central Hospital pada
> Desember 2006
>
> “Selama tiga tahun, aku bisa mengerjakan apa pun yang aku mau, tanpa perlu
> bersusah-susah membuat proposal penelitian,” kata Deng, dikutip Nature,
> beberapa waktu lalu. Tak cuma gaji besar dan dana riset berlimpah yang
> membuat Deng tak ragu pulang kampung. Lingkungan akademis di kampusnya tak
> beda jauh dengan kampus lamanya di Amerika.
>
> Selama tiga tahun, aku bisa mengerjakan apa pun yang aku mau, tanpa perlu
> bersusah-susah membuat proposal penelitian,”
>
> Dia sama sekali tak kekurangan teman diskusi dan peneliti yang punya
> kemampuan, pengalaman dan pengetahuan yang setara dengannya. Beberapa
> seniornya di SUSTech juga alumni dari kampus dan lembaga penelitian di
> Amerika. Bosnya di Departemen Teknik Mesin dan Antariksa, Xiaowen Shan,
> misalnya, mendapatkan doktor dari Dartmouth College dan lebih dari 20 tahun
> bekerja di Amerika. Profesor Xiaowen pernah bekerja di Laboratorium
> Nasional Los Alamos dan Microsoft.
>
> Deng Weiwei, Xiaowen Shan, Wang Junfeng, dan ribuan peneliti lain,
> merupakan bagian dari gelombang besar ilmuwan-ilmuwan China di pelbagai
> negara yang pulang kampung untuk bekerja di tanah kelahiran mereka. Sebelum
> pulang ke Tiongkok untuk mengepalai Laboratorium Biomolekuler NMR (Nuclear
> Magnetic Resonance), Wang Junfeng sempat menjadi peneliti di Sekolah
> Kedokteran Universitas Harvard. Ada beberapa alumni Harvard yang turut
> bergabung bersama Wang.
>
> Pada Desember 2008, Pemerintah Tiongkok mencanangkan program Thousand
> Talents Plan. Lewat program ini, Pemerintah China berharap bisa menarik
> pulang ribuan ilmuwan top dan pengusaha, terutama mereka yang memang lahir
> di Tiongkok. Selain gaji lumayan besar dan dana riset plus fasilitas
> penelitian yang setara dengan negara-negara maju, banyak ‘gula-gula’
> ditawarkan agar para ilmuwan dan pengusaha yang sudah hidup nyaman di
> negeri orang, mau pulang ke tanah kelahiran, misalnya kemudahan mendapatkan
> pekerjaan bagi pasangan mereka dan subsidi sekolah bagi keluarga. Setelah
> sepuluh tahun program itu berjalan, ribuan ilmuwan asal Tiongkok di
> perantauan pulang kampung dan kini bekerja di pelbagai kampus dan lembaga
> riset di China
>
> Sekarang China merupakan tempat terbaik untuk memulai laboratoriummu
> sendiri”
> Jose Pastor-Pareja, peneliti Universitas Tsinghua
>
> Para peneliti di salah satu kampus di China
> *Foto : Xinhua*
>
> “Mereka yang datang bergabung tak melulu tertarik gaji yang besar.. Yang
> paling penting adalah fasilitas kami….Kami punya fasilitas riset setara,
> bahkan mungkin lebih baik ketimbang yang ada di Amerika. Itu semua berkat
> investasi pemerintah selama beberapa tahun terakhir,” Tao Cheng, Direktur
> State Key Laboratory of Experimental Hematology (SKLEH) di kota Tianjin,
> menuturkan kepada ScienceMag. Sebelum bergabung di SKLEH, Cheng merupakan
> peneliti di Sekolah Kedokteran Harvard.
>
> Pemerintah China paham betul, bahwa supaya bisa berkompetisi dengan
> negara-negara maju seperti Amerika dalam segala hal, supaya mesin
> ekonominya terus melaju kencang, penguasaan sains dan teknologi merupakan
> kunci utama. Menurut data dari Badan Persatuan Bangsa-bangsa untuk
> Pendidikan (UNESCO), besar dana riset China kini hanya kalah dari Amerika
> Serikat. Total dana riset China sebesar US$ 370 miliar atau Rp 5154 triliun
> dalam setahun, nomor dua setelah Amerika Serikat, US$ 479 miliar atau Rp
> 6673 triliun setahun.
>
> Belanja riset besar-besaran itu tak sia-sia. Menurut majalah sains
> kondang, Nature, China sudah menempati urutan kedua dalam publikasi ilmiah
> setelah Amerika Serikat. Dari tahun ke tahun, publikasi ilmiah dari para
> ilmuwan Negeri Panda ini terus bertambah. “Di antara sepuluh negara
> teratas, hanya China yang tumbuh dua digit selama periode 2012 hingga
> 2015,” Nature menulis dalam pernyataannya.
>
> Peneliti di laboratorium genetika kedokteran di Central South University,
> China, pada Juni 2006
>
> Bagi para jenius di dunia penelitian, Amerika, negara-negara Eropa atau
> Jepang, bukan lagi satu-satunya tempat menarik untuk berkarir. Zhu Xiang,
> 30 tahun tahun, menolak tawaran bekerja di salah satu lembaga penelitian di
> Prancis dan memilih pulang ke Tiongkok. “Orang-orang bertanya, mengapa aku
> pulang kampung. Jawabannya sederhana, aku masih muda dan aku mau mengejar
> mimpiku,” ujar Xiang dikutip ChinaDaily. Sekarang, bersama beberapa
> temannya, dia mendirikan perusahaan start-up di bidang medis dan punya
> jutaan pelanggan.
>
> Tak hanya bagi para ilmuwan kelahiran Tiongkok, bagi sebagian peneliti,
> berkarir di China sekarang kadang lebih menarik ketimbang di Amerika. Jose
> Pastor Pareja pergi kuliah di Amerika dengan mimpi besar. Tapi setelah
> mendapatkan pekerjaan di kampus kondang, Universitas Yale, Jose malah
> berubah pikiran. Dia terbang ke China, meninggalkan Yale dan bergabung
> dengan Universitas Tsinghua di Beijing pada 2012.
>
> Jose seorang biolog dengan spesialisasi biologi sel menggunakan lalat
> buah. Di Amerika, dana riset untuk bidang itu terus dipangkas. Sebaliknya
> di China, laboratorium sejenis terus tumbuh. “Sekarang China merupakan
> tempat terbaik untuk memulai laboratoriummu sendiri,” kata Jose kepada
> Washington Post beberapa hari lalu.
>
> Pada 2016 lalu, pemerintah Tiongkok memperkenalkan sistem pemeringkatan
> baru bagi warga negara asing yang akan mendapatkan keistimewaan visa untuk
> tinggal di negeri itu. Bagi pemenang penghargaan Nobel, ilmuwan top kelas
> dunia, pengusaha sukses atau direktur lembaga seni, pemerintah di Beijing
> bersedia memberikan visa 'khusus' dengan jangka waktu hingga 10 tahun. Bagi
> mereka, pintu gerbang 'Tembok Besar China' terbuka lebar.
> ------------------------------
>
> *Editor:* Sapto Pradityo
>
>
>
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke