Hidup Golput!
On Sunday, August 12, 2018 8:57 PM, "'j.gedearka' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
https://tirto.id/membedah-potensi-gelombang-golput-di-pilpres-2019-cRYi
Membedah Potensi Gelombang Golput
di Pilpres 2019
Warga yang memiliki hak pilih menunjukkan surat suara dari dalam bilik suara
saat pelaksanaan Simulasi Nasional Pemilihan Umum Serentak 2019 tahap II di
Desa Kadungmangu, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu
(30/9/2017). ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya
Oleh: Rio Apinino - 12 Agustus 2018 Dibaca Normal 2 menit "Saatnya
capres-cawapres yang beradu program menarik pemilih. Faktor program calon dan
profil calon memang bisa mempengaruhi minat pemilih" tirto.id - Mereka yang
punya hak pilih tapi secara sadar memilih untuk tak menggunakannya atau biasa
disebut golongan putih alias golput selalu ada dalam setiap Pemilu. Pada pemilu
1999, tingkat partisipasi pemilih mencapai 90 persen lebih, setelahnya, golput
selalu melebihi angka 15 persen dari jumlah pemilih pada Pemilu legislatif
maupun eksekutif.
Pada Pemilu legislatif (Pileg) 2004, jumlah golput mencapai 15,9 persen. Angka
itu meningkat pada pemilu presiden putaran pertama dan kedua. Angka golput saat
Pilpres 2004 mencapai 21,8 persen dan 23,4 persen.
Pada Pileg 2009, jumlah golput meningkat hingga 29,1 persen. Pada Pilpres
tahun yang sama, jumlah pemilih yang tak menggunakan suaranya berjumlah 28,3
persen. Keberadaan golput berlanjut di Pileg 2014, dengan 24,89 persen pemilih
masuk kategori ini. Pada saat Pilpres 2014, angka golput mencapai titik
tertinggi yakni 30 persen lebih dari jumlah pemilih.
Bagaimana pada pemilihan tahun depan? Ajakan untuk absen memilih pada Pilpres
2019 mulai marak diungkapkan warganet di sosial media. Ajakan itu muncul dari
sejumlah pihak, terutama pendukung Basuki Tjahaja Purnama yang merasa kecewa
dengan sikap Joko Widodo yang memilih Ma'ruf Amin. Ma'ruf adalah saksi yang
memberatkan Ahok, pasangan Jokowi pada pemilihan gubernur DKI lalu, atas kasus
penistaan agama.
Imbauan agar masyarakat tidak golput selalu disampaikan peserta, pegiat,
penyelenggara, hingga pengawas Pemilu. Seruan serupa juga disampaikan jelang
dimulainya Pemilu serentak tahun depan. Imbauan agar pemilih menggunakan hak
suaranya mulai dikumandangkan sejak jauh-jauh hari. Soalnya, ada kemungkinan
angka golput tetap tinggi.
Baca juga:
- Pendukung Cagub Menggonggong, Golput Jalan Terus
Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin mengatakan golput
memang pilihan setiap pemegang hak suara, dan itu dijamin Undang-undang..
Haris Azhar dalam Hukumonline menyebut golput sah secara hukum karena dijamin
pada Pasal 28 UUD dan Pasal 23 UU tentang HAM . Pasal 28 UUD berisi apa-apa
saja yang dianggap hak asasi tiap manusia, sementara Pasal 23 UU HAM berisi:
"(1) Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya; (2)
Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat
sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun
elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban,
kepentingan umum, dan keutuhan bangsa."
Meski begitu, kata Afif, pemilih sebaiknya menggunakan haknya."Penyelenggara
harapkan dalam Pemilu 2019 semakin besar partisipasi pemilih. Semakin banyak
masyarakat memilih, akan semakin baik legitimasi Pemilu kita," ujar Afifuddin
kepada Tirto, Minggu (12/8/2018).
Menurut Afif, tanggung jawab menaikkan tingkat partisipasi ada pada pundak
semua pemangku kepentingan Pemilu. Namun, ia meminta agar kandidat pada Pileg
maupun Pilpres, lebih aktif untuk menarik atensi calon pemilih. "Saatnya
capres-cawapres yang beradu program menarik pemilih. Faktor program calon dan
profil calon memang bisa mempengaruhi minat pemilih," katanya.
Rasa Kecewa dan Faktor Lain
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin mengatakan
salah satu faktor yang bisa membuat pemilih tidak menggunakan suaranya adalah
rasa kecewa. "Ancaman tingginya golput bisa saja diembuskan karena kekecewaan
sebagian masyarakat terhadap kandidat," kata Ujang.
Baca juga:
- Maruf Amin Minta Pemilih Muda Tak Golput di Pilpres 2019
Selain karena rasa kecewa, golput juga bisa muncul karena masyarakat merasa
tidak diberi kesempatan mengusulkan capres dan cawapresnya sendiri.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, pengusulan
capres-cawapres memang hanya bisa dilakukan partai politik peserta pemilihan
periode sebelumnya. Pencalonan juga dibatasi hanya bisa dilakukan parpol atau
koalisi yang mencapai ambang batas tertentu.
"Rakyat tidak diberi kesempatan untuk mengusulkan calonnya sendiri. Golput
juga dipengaruhi karena sikap apolitis masyarakat. Padahal seluruh hidup dan
kehidupan rakyat ditentukan oleh itu," kata Ujang.
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Luky Sandra Amalia
mengatakan yang perlu diperjelas terlebih dulu adalah konsep golput. Mereka
yang memilih golput beda dengan pemilih yang tak menggunakan hak suara. Mereka
yang lebih memilih libur alih-alih ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) misalnya,
tak bisa disebut golput.
"Pemilih yang tidak memilih itu tidak sama dengan golput. Filosofinya beda..
Sejarah golput dasarnya ideologi," ujar Luky.
Menurutnya, kejenuhan publik melihat capres-cawapres yang itu-itu saja dapat
membuat tingkat partisipasi pemilih rendah. Selain karena itu, pemilih juga
bisa tak menggunakan haknya jika para kandidat atau tim sukses masih memainkan
sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).
Baca juga:
- Nasib Suram Kaum Minoritas di antara Impitan Kubu Jokowi & Prabowo
Apa yang dikatakan dua akademisi itu satu pendangan dengan Nining Elitos,
Ketua Umum Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Nining
mengatakan KASBI bakal menyerukan anggotanya untuk golput karena tak ada hal
baru dalam pemilu tahun ini, juga pada tahun-tahun sebelumnya.
Ia juga mengatakan banyak buruh kecewa dengan kebiasaan elite melupakan
kepentingan rakyat.
"Jokowi juga terbukti sesudah berkuasa, yang dulu janjinya rakyat harus hidup
layak, mendapat pekerjaan yang layak, upah layak, BPJS gratis, pada
kenyataannya tidak terjadi alias janji kosong," kata Nining.
Nining menyindir keputusan pemerintahan Jokowi yang mengeluarkan Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang menambah susah
kehidupan kelas pekerja. Selain itu, ia menyinggung lemahnya penegakan hukum,
terutama terhadap para buruh yang terlibat kasus dengan perusahaan.
"Sedangkan Prabowo terlibat pelanggaran HAM masa lalu. Jadi kedua-duanya,
dalam pandangan kami, hanya berambisi berkuasa," tutur Nining.
Baca juga:
- Nasib Suram Kaum Minoritas di antara Impitan Kubu Jokowi & Prabowo
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik)
Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Rio Apinino
Editor: Rio Apinino Angka golput tahun depan mungkin akan tetap tinggi
#yiv7122672627 #yiv7122672627 -- #yiv7122672627ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-mkp #yiv7122672627hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-mkp #yiv7122672627ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-mkp .yiv7122672627ad
{padding:0 0;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-mkp .yiv7122672627ad p
{margin:0;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-mkp .yiv7122672627ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-sponsor
#yiv7122672627ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-sponsor #yiv7122672627ygrp-lc #yiv7122672627hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-sponsor #yiv7122672627ygrp-lc .yiv7122672627ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7122672627 #yiv7122672627actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7122672627
#yiv7122672627activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7122672627
#yiv7122672627activity span {font-weight:700;}#yiv7122672627
#yiv7122672627activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7122672627 #yiv7122672627activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7122672627 #yiv7122672627activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7122672627 #yiv7122672627activity span
.yiv7122672627underline {text-decoration:underline;}#yiv7122672627
.yiv7122672627attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7122672627 .yiv7122672627attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7122672627 .yiv7122672627attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7122672627 .yiv7122672627attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7122672627 .yiv7122672627attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7122672627 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7122672627 .yiv7122672627bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7122672627
.yiv7122672627bold a {text-decoration:none;}#yiv7122672627 dd.yiv7122672627last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7122672627 dd.yiv7122672627last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7122672627
dd.yiv7122672627last p span.yiv7122672627yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7122672627 div.yiv7122672627attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7122672627 div.yiv7122672627attach-table
{width:400px;}#yiv7122672627 div.yiv7122672627file-title a, #yiv7122672627
div.yiv7122672627file-title a:active, #yiv7122672627
div.yiv7122672627file-title a:hover, #yiv7122672627 div.yiv7122672627file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7122672627 div.yiv7122672627photo-title a,
#yiv7122672627 div.yiv7122672627photo-title a:active, #yiv7122672627
div.yiv7122672627photo-title a:hover, #yiv7122672627
div.yiv7122672627photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7122672627
div#yiv7122672627ygrp-mlmsg #yiv7122672627ygrp-msg p a
span.yiv7122672627yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7122672627
.yiv7122672627green {color:#628c2a;}#yiv7122672627 .yiv7122672627MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7122672627 o {font-size:0;}#yiv7122672627
#yiv7122672627photos div {float:left;width:72px;}#yiv7122672627
#yiv7122672627photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7122672627
#yiv7122672627photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7122672627
#yiv7122672627reco-category {font-size:77%;}#yiv7122672627
#yiv7122672627reco-desc {font-size:77%;}#yiv7122672627 .yiv7122672627replbq
{margin:4px;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-mlmsg select, #yiv7122672627 input, #yiv7122672627 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-mlmsg pre, #yiv7122672627 code {font:115%
monospace;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-mlmsg #yiv7122672627logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-msg
p#yiv7122672627attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-reco #yiv7122672627reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-sponsor
#yiv7122672627ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-sponsor #yiv7122672627ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-sponsor #yiv7122672627ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7122672627 #yiv7122672627ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7122672627
#yiv7122672627ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7122672627