Harus mengurangi resiko yg tidak menguntungkan utk minoritas, jadi jangan 
golput. Choose the less evil one from the two evils. 


---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :

 
Golput itu nggak milih keduanya bung Chan. 

 Pd waktu Jokowi memilih Ma'ruf Amin tentu merupakan "assumable risk" akan 
ditinggalkan.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 Lalu, ... apa TUJUAN GOLPUT? Dalam hati, biarlah Prabowo-Sandi berkuasa jadi 
Presiden RI, ...!
 Begituuu???
 
 
 Tatiana Lukman jetaimemucho1@... mailto:jetaimemucho1@... [GELORA45] 於 
13/8/2018 3:19 寫道:
 
   Hidup Golput!
 
 
 
 On Sunday, August 12, 2018 8:57 PM, "'j.gedearka' j.gedearka@... 
mailto:j.gedearka@... [GELORA45]" <[email protected]> 
mailto:[email protected] wrote:
 
 
 
   
 
 
 https://tirto.id/membedah-potensi-gelombang-golput-di-pilpres-2019-cRYi 
https://tirto.id/membedah-potensi-gelombang-golput-di-pilpres-2019-cRYi
 
 https://tirto.id/q/politik-bpt
 Membedah Potensi Gelombang Golput 
                    di Pilpres 2019 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Warga yang memiliki hak pilih menunjukkan surat suara dari dalam bilik suara 
saat pelaksanaan Simulasi Nasional Pemilihan Umum Serentak 2019 tahap II di 
Desa Kadungmangu, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu 
(30/9/2017). ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya 
 
 Oleh: Rio Apinino - 12 Agustus 2018
 Dibaca Normal 2 menit
 
 "Saatnya capres-cawapres yang beradu program menarik pemilih. Faktor program 
calon dan profil calon memang bisa mempengaruhi minat pemilih"
 tirto.id https://tirto.id/ - Mereka yang punya hak pilih tapi secara sadar 
memilih untuk tak menggunakannya atau biasa disebut golongan putih alias golput 
selalu ada dalam setiap Pemilu. Pada pemilu 1999, tingkat partisipasi pemilih 
mencapai 90 persen lebih, setelahnya, golput selalu melebihi angka 15 persen 
dari jumlah pemilih pada Pemilu legislatif maupun eksekutif.
 
 Pada Pemilu legislatif (Pileg) 2004, jumlah golput mencapai 15,9 persen. Angka 
itu meningkat pada pemilu presiden putaran pertama dan kedua. Angka golput saat 
Pilpres 2004 mencapai 21,8 persen dan 23,4 persen.
 
 Pada Pileg 2009, jumlah golput meningkat hingga 29,1 persen. Pada Pilpres 
tahun yang sama, jumlah pemilih yang tak menggunakan suaranya berjumlah 28,3 
persen. Keberadaan golput berlanjut di Pileg 2014, dengan 24,89 persen pemilih 
masuk kategori ini. Pada saat Pilpres 2014, angka golput mencapai titik 
tertinggi yakni 30 persen lebih dari jumlah pemilih.
 
 Bagaimana pada pemilihan tahun depan? Ajakan untuk absen memilih pada Pilpres 
2019 mulai marak diungkapkan warganet di sosial media. Ajakan itu muncul dari 
sejumlah pihak, terutama pendukung Basuki Tjahaja Purnama yang merasa kecewa 
dengan sikap Joko Widodo yang memilih Ma'ruf Amin. Ma'ruf adalah saksi yang 
memberatkan Ahok, pasangan Jokowi pada pemilihan gubernur DKI lalu, atas kasus 
penistaan agama. 
 
 Imbauan agar masyarakat tidak golput selalu disampaikan peserta, pegiat, 
penyelenggara, hingga pengawas Pemilu. Seruan serupa juga disampaikan jelang 
dimulainya Pemilu serentak tahun depan. Imbauan agar pemilih menggunakan hak 
suaranya mulai dikumandangkan sejak jauh-jauh hari. Soalnya, ada kemungkinan 
angka golput tetap tinggi.
 
 Baca juga: Pendukung Cagub Menggonggong, Golput Jalan Terus 
https://tirto.id/pendukung-cagub-menggonggong-golput-jalan-terus-chTo 
 
 Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin mengatakan golput 
memang pilihan setiap pemegang hak suara, dan itu dijamin Undang-undang. 
 
 Haris Azhar dalam Hukumonline menyebut golput sah secara hukum karena dijamin 
pada Pasal 28 UUD dan Pasal 23 UU tentang HAM . Pasal 28 UUD berisi apa-apa 
saja yang dianggap hak asasi tiap manusia, sementara Pasal 23 UU HAM berisi: 
"(1) Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya; (2) 
Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat 
sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun 
elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, 
kepentingan umum, dan keutuhan bangsa."
 
 Meski begitu, kata Afif, pemilih sebaiknya menggunakan haknya."Penyelenggara 
harapkan dalam Pemilu 2019 semakin besar partisipasi pemilih. Semakin banyak 
masyarakat memilih, akan semakin baik legitimasi Pemilu kita," ujar Afifuddin 
kepada Tirto, Minggu (12/8/2018).
 
 Menurut Afif, tanggung jawab menaikkan tingkat partisipasi ada pada pundak 
semua pemangku kepentingan Pemilu. Namun, ia meminta agar kandidat pada Pileg 
maupun Pilpres, lebih aktif untuk menarik atensi calon pemilih. "Saatnya 
capres-cawapres yang beradu program menarik pemilih. Faktor program calon dan 
profil calon memang bisa mempengaruhi minat pemilih," katanya.
 
 Rasa Kecewa dan Faktor Lain 
 Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin mengatakan 
salah satu faktor yang bisa membuat pemilih tidak menggunakan suaranya adalah 
rasa kecewa. "Ancaman tingginya golput bisa saja diembuskan karena kekecewaan 
sebagian masyarakat terhadap kandidat," kata Ujang.
 
 Baca juga: Maruf Amin Minta Pemilih Muda Tak Golput di Pilpres 2019 
 
 Selain karena rasa kecewa, golput juga bisa muncul karena masyarakat merasa 
tidak diberi kesempatan mengusulkan capres dan cawapresnya sendiri.
 
 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, pengusulan 
capres-cawapres memang hanya bisa dilakukan partai politik peserta pemilihan 
periode sebelumnya. Pencalonan juga dibatasi hanya bisa dilakukan parpol atau 
koalisi yang mencapai ambang batas tertentu.
 
 "Rakyat tidak diberi kesempatan untuk mengusulkan calonnya sendiri. Golput 
juga dipengaruhi karena sikap apolitis masyarakat. Padahal seluruh hidup dan 
kehidupan rakyat ditentukan oleh itu," kata Ujang.
 
 Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Luky Sandra Amalia 
mengatakan yang perlu diperjelas terlebih dulu adalah konsep golput. Mereka 
yang memilih golput beda dengan pemilih yang tak menggunakan hak suara. Mereka 
yang lebih memilih libur alih-alih ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) misalnya, 
tak bisa disebut golput. 
 
 "Pemilih yang tidak memilih itu tidak sama dengan golput. Filosofinya beda. 
Sejarah golput dasarnya ideologi," ujar Luky.
 
 Menurutnya, kejenuhan publik melihat capres-cawapres yang itu-itu saja dapat 
membuat tingkat partisipasi pemilih rendah. Selain karena itu, pemilih juga 
bisa tak menggunakan haknya jika para kandidat atau tim sukses masih memainkan 
sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). 
 
 Baca juga: Nasib Suram Kaum Minoritas di antara Impitan Kubu Jokowi & Prabowo 
 
 Apa yang dikatakan dua akademisi itu satu pendangan dengan Nining Elitos, 
Ketua Umum Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Nining 
mengatakan KASBI bakal menyerukan anggotanya untuk golput karena tak ada hal 
baru dalam pemilu tahun ini, juga pada tahun-tahun sebelumnya. 
 
 Ia juga mengatakan banyak buruh kecewa dengan kebiasaan elite melupakan 
kepentingan rakyat. 
 
 "Jokowi juga terbukti sesudah berkuasa, yang dulu janjinya rakyat harus hidup 
layak, mendapat pekerjaan yang layak, upah layak, BPJS gratis, pada 
kenyataannya tidak terjadi alias janji kosong," kata Nining.
 
 Nining menyindir keputusan pemerintahan Jokowi yang mengeluarkan Peraturan 
Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang menambah susah 
kehidupan kelas pekerja. Selain itu, ia menyinggung lemahnya penegakan hukum, 
terutama terhadap para buruh yang terlibat kasus dengan perusahaan.
 
 "Sedangkan Prabowo terlibat pelanggaran HAM masa lalu. Jadi kedua-duanya, 
dalam pandangan kami, hanya berambisi berkuasa," tutur Nining.
 
 Baca juga: Nasib Suram Kaum Minoritas di antara Impitan Kubu Jokowi & Prabowo 
 
 
 Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 
https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword 
atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino 
https://tirto.id/author/rioapinino?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 
 
 (tirto.id - Politik) 
 
 Reporter: Lalu Rahadian
 Penulis: Rio Apinino
 Editor: Rio Apinino
 
 
 
 
 
 
 
 Angka golput tahun depan mungkin akan tetap tinggi
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 不含病毒。www.avg.com 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 #DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2
 


Kirim email ke