Kok...? bung Chan menunggu fatwa Rizieq?

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :


Ini kan sama dengan saat Mega berpasangan dengan Prabowo yg akibatkan lebih 
banyak pilih GOLPUT dan akhirnya SBY menang berkuasa, 10 tahun! 


Sekarang Jokowi jadi berpasangan deengan Maruf yang juga bermasalah HAM, .... 
tinggal dilihat saja bagaimana keputusan Rizieq dengan keluarkan ijtimak ulama 
II, dukung siapa, yang akan lebih mudah membuat pilihan dari 2 pasang yang 
jelek-jelek itu. Jangan biarkang yang terjelek, terkejam berhasil berkuasa!




Tatiana Lukman 於 20/8/2018 20:22 寫道:


Ha...ha... jadi bingung ??? Mau pilih Prabowo sekarang?? Jangan lupa Prabowo 
juga pelanggar HAM!!!! Sejak kampanye 2014, saya sudah bilang di kedua kubu 
yang bertarung, sama-sama terdapat pelanggar HAM berat. Sudah saya postingkan 
berita dimana jelas Wiranto dan Hendropriyono adalah pelanggar HAM yang ada di 
kubunya Jokowi. Tapi pendukung setia dan buta Jokowi sama sekali tidak 
berkomentar tentang kriminal-kriminal itu. Nah, sekarang kaget dengan peran 
sang cawapres dalam pembantaian!!! Tanpa itupun sebenarnya sudah jelas politik 
Jokowi selama ini sangat merugikan rakyat dan bangsa. Eh, tapi masih ada saja 
yang dengan sengaja membutakan dirinya terus menerus dengan menyatakan Jokowi 
sebagai "negarawan ulung .... yg bersih, jujur, kerja nyata buat rakyatnya & 
dunia...." ya betul negarawan ulung , sangat ulung bagi IMF dan Bank Dunia, 
makanya pujian bertubi-tubi datang dari lembaga-lembaga imperialis itu!! Jokowi 
juga cengar cengir terus merasa bangga karena Indonesia masuk G20..."Negarawan 
ulung" tapi tidak ngerti apa sebetulnya peran Indonesia dalam G20 yang tidak 
lain dan tidak bukan, menyediakan Indonesia terus sebagai "sapi perahan" kaum 
pemodal asing melalui penyerahan sumber kekayaan alam dan Indonesia sebagai 
pasar produk asing melalui "free trades"..... Jokowi kerja nyata buat 
rakyatnya???? Iya, betul, kerja                         nyatanya adalah 
merampas tanah rakjyat, menggusur rakyat, menghilangkan mata pencahariannya, 
merobohkan tempat tinggalnya, demi pembangunan infrstrukturnya.... Membabati 
hutan dan merampas tanah adat milik suku bangsa di segala pulau untuk dijadikan 
perkebunan kelapa sawit!!! Pendukung buta Jokowi sejenis ini betul-betul tidak 
punya perasaan kemanusian terhadap penderitaan NYATA rakyat di berbagai pelosok 
tanah air!! Sungguh memalukan dan memuakkan!!!



On Monday, August 20, 2018 2:00 AM, "ChanCT SADAR@... [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:


 Seandainya saja data Ma'ruf Amin tercatat Anti-HAM benar, kemudian didukung 
Habib Rizieq dengan keluarkan ijtimak ulama II, PERLU dan HARUS dipertimbangkan 
kembali mana lebih BAIK, pilih pasangan Jokowi-Maruf atau Prabowo-Sandi, 
...!Tentu HARUS dipertimbangkan lebih serius Pasangan mana yang lebih jelek dan 
akan membuat rakyat banyak lebih menderita kalau berkuasa, ...

Noroyono 1963 noroyono1963@... [GELORA45] 於 20/8/2018 3:44 寫道:

 HRW: Cawapres Indonesia Punya Catatan Anti-HAM  

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo (kedua dari kiri), Kepala 
Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin (ketiga dari kiri), mantan Presiden 
Megawati Sukarnoputri (kiri), dan pemimpin partai koalisi Jokowi, menyerahkan 
dokumen mereka di kantor Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, pada tanggal 10 
Agustus 2018, saat Jokowi dan Amin mendaftar untuk pemilihan presiden 2019 
sebagai kandidat presiden dan wakil presiden. (Foto: AFP) 
Sumberwww.eurasiareview.comPosted on August 11, 2018     Human Rights Watch 
(HRW) mengatakan bahwa salah satu calon wakil presiden Indonesia, Ma’ruf Amin, 
memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia, di mana Ma’ruf Amin sebelumnya 
telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang dilihat oleh HRW melanggar hak asasi 
manusia dan memicu diskriminasi. Namun benarkah begitu? Berikut beberapa 
pandangan dari HRW. Baca juga: Ma’ruf Amin: Ulama Cawapres Jokowi di Pilpres 
2019 Oleh: Eurasia Review Keputusan Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo 
untuk memilih Ma’ruf Amin sebagai wakil presidennya dalam pemilihan Presiden 
2019, menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Jokowi untuk meningkatkan 
perlindungan hak asasi manusia bagi semua rakyat Indonesia, kata Human Rights 
Watch (HRW). Amin—yang telah menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), 
organisasi semi-resmi yang memayungi kelompok Islam—sejak tahun 2007, dan 
pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama—organisasi Muslim terbesar di 
Indonesia—sejak tahun 2015, telah memainkan peran penting dalam memicu 
diskriminasi yang memburuk terhadap agama dan gender minoritas di negara itu. 
Selama dua dekade terakhir di MUI, Amin telah membantu menyusun dan menjadi 
pendukung vokal fatwa terhadap hak-hak agama minoritas—termasuk komunitas 
Ahmadiyah dan Syiah di negara itu—juga lesbian, gay, biseksual, dan orang 
transgender (LGBT). Fatwa-fatwa itu—meskipun tidak mengikat secara hukum—telah 
digunakan untuk mengesahkan retorika kebencian oleh para pejabat pemerintah 
terhadap kaum LGBT, dan dalam beberapa kasus, memicu kekerasan mematikan oleh 
kelompok Islam militan terhadap agama minoritas. “Amin telah menjadi pusat dari 
beberapa elemen yang paling tidak toleran dalam budaya agama dan politik 
kontemporer Indonesia, sehingga ketakutan akan dampak negatifnya terhadap hak 
dan keamanan agama dan gender minoritas sangat terasa,” kata Phelim Kine, Wakil 
Direktur Divisi Asia di Human Rights Watch. Jokowi menjelaskan keputusannya 
untuk menjadikan Amin pasangannya dengan dasar bahwa “kita saling melengkapi, 
nasionalistik                                               dan religius.” 
Jokowi telah menjadi sasaran serangan oleh lawan-lawannya yang mempertanyakan 
kesalehan agamanya, dengan menuduhnya mengejar “sekularisme liberal,” dan 
diam-diam adalah Kristen atau putra dari orang tua komunis. Terpilihnya Amin 
setidaknya menunjukkan upaya untuk menyangkal serangan-serangan ini. Ma’ruf 
Amin memiliki sejarah pandangan intoleran yang terdokumentasi dengan baik: Pada 
Oktober 2016, MUI menyatakan bahwa Gubernur Jakarta saat itu, Basuki “Ahok” 
Purnama—seorang Kristen—telah melakukan penodaan agama terhadap Islam. Itu 
memicu pembentukan aliansi anti-Ahok Islamis radikal, yang menyebabkan 
kejatuhan politiknya, dan ia akhirnya dipenjara karena melanggar undang-undang 
penodaan agama. 
Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo (kiri tengah), dan pasangannya Ma’ruf 
Amin (tengah kanan), menyambut para pendukung mereka sebelum pendaftaran resmi 
sebagai kandidat untuk Pemilihan Presiden 2019, di Jakarta, Indonesia, pada 
Jumat, 10 Agustus 2018. Pertempuran untuk Pemilihan Presiden 2019 Indonesia 
dimulai pada Jumat (10/8), ketika Presiden Jokowi secara resmi terdaftar 
sebagai kandidat, setelah memilih seorang ulama konservatif Islam sebagai 
pasangannya. (Foto: Associated Press/Tatan Syuflana) Pada Februari 2016, MUI 
mengeluarkan fatwa yang menyerukan kriminalisasi aktivitas LGBT. Amin secara 
pribadi membenarkan fatwa tersebut atas dasar bahwa “homoseksualitas, baik 
lesbian maupun gay,                                               dan sodomi 
adalah haram secara hukum dan adalah sebuah bentuk kejahatan.” Fatwa itu telah 
membantu meningkatkan bahaya diskriminasi anti-LGBT dan menyebabkan 
penggerebekan sewenang-wenang dan melanggar hukum oleh polisi dan militan 
Islamis, di ranah pribadi para LGBT. Pada bulan Maret 2015, MUI mengeluarkan 
fatwa yang menyerukan agar aktivitas sesama jenis dikenakan hukuman, mulai dari 
hukuman cambuk sampai hukuman mati. Fatwa tersebut menyamakan homoseksualitas 
dengan penyakit yang bisa disembuhkan, dan tindakan seksual terkait “harus 
dihukum berat.” Baca juga: Pilpres 2019: Jokowi-Ma’ruf Amin vs Prabowo-Sandiaga 
Uno Pada tahun 2008, MUI menanggapi larangan Menteri Kesehatan pada tahun 2006 
terkait sunat terhadap perempuan (FGM),  dengan mengeluarkan fatwa yang 
mendukung FGM dan menyatakan bahwa “itu                                         
      adalah bentuk kehormatan bagi perempuan.” Pada tahun 2005—ketika Amin 
memimpin komisi fatwa MUI—organisasi itu mengeluarkan fatwa yang menetapkan 
bahwa Ahmadiyah, sebuah gerakan revivalis Islam, menyimpang dari ajaran Al 
Qur’an. Pemerintah menanggapi fatwa itu pada tahun 2008 dengan mengeluarkan 
keputusan anti-Ahmadiyah nasional yang melarang Ahmadiyah melakukan dakwah 
mereka. Sejak itu, para militan Islam berulang kali menyerang komunitas 
Ahmadiyah, seringkali dengan keterlibatan pejabat pemerintah dan pasukan 
keamanan yang pasif maupun aktif. Keputusan Jokowi untuk menjadikan Amin 
pasangannya akan mencampur sinisme publik yang luas tentang kegagalan 
pemerintahannya dalam memenuhi janji-janji pemilu untuk mengatasi masalah hak 
asasi manusia yang menekan Indonesia. Dia telah membebaskan beberapa tahanan 
politik Papua, dan telah mengumumkan rencana yang tidak jelas untuk 
menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia selama puluhan tahun, termasuk 
pembantaian terhadap hingga satu juta orang pada tahun 1965-1966. Namun, Jokowi 
telah mengabaikan kekebalan hukum yang dimiliki pasukan keamanan atas 
pelanggaran hak asasi manusia, hak-hak perempuan, dan kebebasan beragama. Dia 
juga telah menggunakan hukuman mati terhadap para pengedar narkoba yang 
dihukum, dan hanya berbicara sekali—dan dalam istilah yang sangat ambigu—dalam 
membela populasi LGBT yang terkepung di negara itu. Selama proses Universal 
Periodic Review (UPR) Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia pada bulan Mei 
2017, pemerintah Indonesia menolak beberapa rekomendasi oleh negara-negara 
anggota PBB, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan hak-hak orang LGBT, 
undang-undang penodaan agama, dan hukuman mati. Seorang pejabat Departemen Luar 
Negeri Indonesia menggambarkan rekomendasi tersebut “sulit untuk diterima”, 
karena alasan termasuk pengertian “kondisi Indonesia” yang tidak jelas dan 
tidak terdefinisi. “Ma’ruf Amin telah menunjukkan bahwa dia tidak ragu-ragu 
menempatkan minoritas menjadi rentan dalam bahaya,” kata Kine. “Jokowi perlu 
membuktikan bahwa ia menghargai kewajibannya untuk membela hak dan martabat 
semua rakyat Indonesia, di atas nafsu intoleransi ekstrem, untuk mendapatkan 
keuntungan politik jangka pendek.” 
https://www.matamatapolitik.com/hrw-cawapres-indonesia-punya-catatan-anti-ham/



|  | 不含病毒。www.avg.com |






Kirim email ke