Hahahaa, ... rupanya bung Nesare lama menghilang karena pulang kampung,
menjelajahi masalah kelapa Sawit, ... Senang saya bisa ikuti kembali
ulasan bung masalah ekonomi, dan kali ini khusus masalah NILAI mata uang
yg sedang hangat terjadi didunia ini. Lebih menarik lagi, ternyata
permainan dan serangan NILAI mata uang ini bisa bikin jeblok satu
pemerintah, bahkan memaksa pergantian penguasa. Sungguh luar biasa, ...
Sejak awal Trump naik panggung kekuasaan, juga sudah berteriak menuntut
RMB naik nilainya, karena dianggap tidak sesuai dengan harga pasar.
Menuduh pemerintah Tk. bermain. Pemerintah Tk menampik tuduhan
kendalikan nilai RMB, RRT mendorong eksport tidak bersandar dengan
melemahkan nilai RMB! Beberapa bulan terakhir ini, kenyataan yang
terjadi nilai RMB kenyataan dipasar turun turun, lebih-lebih setelah
Trump jalankan kebijakan perang-dagang dengan RRT. RMB turun sebaliknya
US$ naik. Yang terjadi kebalikan dari kehendak Trump sendiri, ... Entah
apa sesungguhnya yang terjadi? Membuktikan lemahnya ekonomi Tk,
khususnya dampak perang-dagang yg sedang berlangsung? Tidak juga! Pihak
pemerintah RRT, justru menjadikan perang-dagang yg dilancarkan AS ini
sebagai cambuk untuk kembali BERDIKARI! Berusaha untuk produksi sendiri,
jangan ada bagian tertentu tergantung dari negara lain, apalagi hanya
menggantungkan diri pada satu negara! Mengejar ketertinggalan teknologi
canggih, ... yang kenyataan masih banyak tergantung pada AS! Sedang
produksi pertanian juga nampaknya kembali akan berusaha sebagian BESAR
bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri, termasuk kedele yang sudah
sebagian besar, lebih 60% kebutuhan kedele tergantung dari AS itu. Tapi,
melihat dari kemampuan pemerintah Tk nampak tidak terkendala dgn
dilancarkannya perang-dagang, tetap saja meneruskan dukungan usaha
"OBOR" (One Belt One Road) nya dengan Afrika, sekalipun di ASEAN,
khususnya Malaysia dan Indonesia terjadi kendala.
Mengingat kembali keadaan RI masa ORLA, disamping Sukarno harus
meenghadapi gangguan besar perusuh-perusuh yang dihadapi, DI-TII,
PRRI/Permesta, ... perpaduan asing dengan gol. kanan didalam negeri,
kita sebetulnya juga bisa melihat kesalahan-kesalahan kebijakan yang
dikeluarkan pemerintah. TIDAK menyatukan dan berusaha menggunakan semua
kekuatan untuk mendorong maju ekonomi nasional. Sejak awal tahun 50-an
sudah jalankan politik Benteng, mendahulukan yg dinamakan pribumi dengan
menyingkirkan pengusaha Tionghoa. Menjalankan usaha pribumisasi ekonomi
untuk menggantikan posisi pedagang Tionghoa dengan yang dinamakan
pribumi. Kalau saja pemerintah bisa memusatkan tenaga untuk mendorong
maju ekonomi nasional, tidak jalankan pribumisasi, ... mungkin ekonomi
nasional masih bisa terangkat maju lebih baik. Ini pertama.
Kedua, setelah tahun 58, dijalanakn NASIONALISASI modal-ASING! Saya
perhatikan ini juga mengakibatkan kemajuan ekonomi nasional terganggu,
.... Mengapa? Karena kenyataan SDM ketika itu belum memungkinkan utk
nasionalisasi semua modal-Asing. Itu hanya semangat nasionalis yg
terlalu tinggi, tanpa melihat kemampuan diri sendiri! Belum ada
kader-kader yg berkemampuan memanajemen perusahaan bisa terus berjalan
baik, belum ada pejabat-pejabat yg mengerti teknologi produksi minyak
dsb. dan, ... yg tidak kalah peentingnya, belum tercipta kader-kader yg
bermental teguh mengabdi RAKYAT! Akhirnya, dengan nasionalisasi, segera
saja dikuasai pejabat-pejabat KORUP, jenderal-jenderal menjadi kabir
yang menguasai BUMN-BUMN itu yang sangat merugikan rakyat dan negara!
Perusahaan modal-asing itu sebetulnya boleh saja dibiarkan terus
berlangsung dahulu, jangan diganggu kelancaran produksinya, ...
sementara pemerintah lebih dahulu siapkan kader-kader yang berkemampuan
dan tangguh untuk mengambil oper. Jadi, membuat perubahan jangan sampai
terjadi kekacauan yg merugikan. Ini yg tidak dipikirkan, hanya terdorong
dengan SEMANGAT nasionalis nya saja! Kesalahan ekstrim kiri.
Satu pelajaran pahit, ... akhirnya ekonomi morat-marit, Rupiah jeblok
dan Sukarno terjungkel!
Salam,
ChanCT
'nesare' [email protected] [GELORA45] 於 3/9/2018 22:10 寫道:
Pertama naik turun suatu mata uang itu tergantung dari negaranya.
Untuk kasus Venezuela saya yakin itu intervensi asing terutama USA
yang takut dengan gebrakan Maduro yang sama2 dengan Chavez adalah
politikus dari partai sosialis Venezuela. Duit yang
beredar/outstanding money terutama di perbatasan Venezuela dan
Columbia berkurang alias hilang. Disinyalir duitnya diborong habis
oleh pihak tidak dikenal. Ini mengakibatkan hiperinflasi, lalu maduro
mengeluarkan petro yaitu cryptocurrency kayak bitcoin awal tahun ini.
Ini bikin trump ngamuk tambah berat sangsi dan mengharamkan petro.
Turki masalahnya lain. Begitu juga jaman Orla bung Karno kena
hiperinflasi parah karena ada yang mengganggu. RI jaman Orla/bung
Karno itu masalah politik. Sekarang RI beda masalahnya ekonomi, jadi
harus dituntaskan berdasarkan proses ekonomi bukan politik seperti
jaman Orla.
Kalau pengin tahu lebih banyak ttg RI jaman Orla kenapa terjadi
hiperinflasi, saya cut and paste dari tulisan saya di tionghoa net,
Sun 5/6/2007 6:55 PM :
Dalam kaitannya dengan elite politik saat itu (Parpol, TNI, Bung
Karno), Jeffrey Winters (JW) juga berpendapat: Perekonomian jaman
Orla ini tidak dapat disangkal sangat sulit. Parah sekali dari sisi
ekonominya. Dari rentang waktu 1950 - 1966, pemerintah memang
tidak efektif dalam mengelola sisi ekonomi ini (mengelola investasi;
penciptaan lowongan pekerjaan; meningkatkan produktifitas;
mengontrol inflasi) dll.
Kalau kita melihat lebih jauh kenapa sektor ekonomi ini hancur luluh,
mau tidak mau kita harus melihat sejarah periode itu - sejarah
non ekonomis yang dapat menjelaskan lebih komprehensif/lengkap mengapa
ekonomi Indonesia gagal total di jaman Bung Karno itu.
Selanjutnya JW menekankan ada 2 peristiwa penting yang dapat disebut
sebagi turning point (titik tolak) dalam sejarah Orla: Pemilu
1955 dan Pemilu Daerah 1957. JW melihat periode 1955 keatas penting
sekali dan yang lebih penting lagi adalah periode 1957 keatas.
Penjelasannya seperti yang dibawah ini:
Pada Pemilu tahun 1955, PKI menang dalam perolehan suara yang cukup
signifikan. Ternyata PKI sangat popular. PKI mendapat dukungan
akar rumput (grass root) dan terus berkembang. PKI yang popular ini
sangat mengagetkan Masyumi yang yakin akan memenangkan pemilu
1955 ini dengan mutlak. Tetapi hasilnya Masyumi tidak keluar sebagai
pemenang mutlak sedangkan PKI masuk dalam 4 besar. Sebelumnya
PKI tidak dapat satu kursipun di parlemen pada Pemilu sebelumnya. PKI
dapat 16% pemilih dan masuk "4 besar" bersama PNI (23%),
Masyumi (22%) dan NU (18%).
Dalam Pemilu Daerah 1957 (ini sejarah yang berusaha dihapus selama
Orba), PKI sudah jadi parpol paling besar di Jawa. Pemilih PKI di
Jawa itu sudah mencapai 31%. Begitu juga pada Pemilu Daerah 1957 untuk
memilih anggota DPRD. Pemilu 1957 ini PNI dan NU kehilangan
dukungan yang lari ke PKI. Memang tidak semua propinsi bisa
melaksanakan Pemilu Daerah karena ada pemberontakan bersenjata. Selain
di Jawa, pemilu daerah hanya bisa dikerjakan di SumSel dan Kalimantan.
Hasilnya PKI naik jadi partai pertama di Jawa (31% pemilih)
dan suaranya naik di semua propinsi yang sempat bikin Pemilu Daerah.
Hasil Pemilu Daerah 1957 itu membuat kaum elite pada waktu itu, dalam
semua partai, merasa gentar. Inilah sebabnya Pemilu berikutnya
yang rencananya akan dilakukan tahun 1959/1960 dibatalkan. JW setuju
dan bilang semua pihak khawatir PKI menang dan menjadi Parpol
nomor 1 yang dapat meraih suara diatas 50% kalau PKI dapat menguasai
luar daerah (non Jawa). JW melihat kemenangan ini sangat
mungkin terjadi jikalau terjadi koalisi antara PKI dan PNI Sukarno
yang bersifat permanen. Ini juga yang menyebabkan timbulnya
pemberontakan PRRI/Permesta yang disponsori oleh Amerika yang
ketakutan dengan Bung Karno sebagai komunis. Belanda yang masih ingin
menguasai Hindia Belanda (Indonesia saat itu) mempengaruhi Amerika
dengan mengatakan Bung Karno adalah komunis.
Lalu mayoritas para elite politik waktu itu berpaling ke Angkatan
Darat yang dianggap punya kekuatan untuk membendung PKI. Itu
sebabnya juga prakarsa Angkatan Darat (AD) untuk menjalankan Demokrasi
Terpimpin itu pilihan yang lebih menguntungkan bagi para
elite waktu itu dan karena itu banyak pendukungnya. Yang akhirnya
menyebabkan para elite politik waktu itu menobatkan BK sebagai
presiden seumur hidup. Memang bisa dirasakan ketakutan para elite saat
itu.
JW juga melihat ketakutan para elit politik ini. Dia berpendapat
ketakutan elite itu atas kemenangan PKI itu juga terutama karena
takut PKI bisa menang tanpa kekerasan/senjata. Jadi kalau PKI bisa
menang lewat pemilu yang damai, pendapat bahwa partai komunis
hanya dapat menang dengan senjata dapat dibantah. Kemenangan PKI dalam
pemilu 1959/1960 yang diperkirakan itu adalah kemenangan
dalam Pemilu yang damai dan demokratis. JW mengingatkan para elite
biasanya sangat toleran dan suka akan kemenangan lewat jalur
demokrasi Pemilu. Tetapi sayangnya banyak yang masih memanfaatkan
dalam arti mengontrol jalur demokrasi ini untuk kepentingan
kelompoknya sendiri. Ini dirasakan oleh bangsa Indonesia pada rejim
Orba yang Pemilunya selalu demokratis tapi yang menang Golkar
terus.
JW juga melihat perkembangan PKI sebagai kekuatan politik di Indonesia
dan nasionalisasi perusahaan Belanda (yang akhirnya menjadi
BUMN dan resource base untuk TNI) mengirim signal kepada dunia bisnis
dan pemilik modal bahwa Indonesia adalah lokasi yang berisiko
tinggi. Katanya country risk yang tinggi ini tidak mungkin diatasi
dengan "solusi teknokrat". Jadi teori pasar, teori strukturisasi
dan teori teori bisnis lainnya tidak dapat memecahkan masalah tersebut
krn masalah struktural yang terjadi bukan hasil dari
kebijaksanaan (policy) yang kurang baik. Situasi ini adalah hasil
konstelasi kekuatan politik, di mana salah satu kompetitor (PKI)
makin lama makin kuat karena rakyat memilih alternatif tersebut.
Dengan kata lain JW mengingatkan pada saat itu kepentingan rakyat
bertentangan dengan kepentingan elite lokal dan internasional.
Akibatnya: investasi swasta merosot, produksi merosot, peluang
penciptaan lapangan pekerjaan (job creation) merosot, dll. Dan faktor
krisis ekonomi menjadi faktor tambahan dalam situasi yang
sudah sangat konfliktual (Parpol saling nyari dukungan rakyat).
Jadi kurang bijaksana kalau ada orang yang mau bilang bahwa faktor
ekonomi adalah faktor penyebab rusaknya perekonomian Indonesia
jaman Bung Karno. JW bilang ekonomi menjadi faktor sekunder. Justru
perekonomian mengalami krisis karena basis kapitalisme terancam
dengan alasan private property (asset swasta) yang harus aman dalam
kapitalisme menjadi tidak aman.
Penjelasan lain JW tentang mengapa perekonomian jaman Orla parah
adalah tidak adanya "musuh bersama" lagi setelah proklamasi
kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebelumnya semua komponen bangsa
Indonesia mempunyai musuh yang namanya "Belanda". Begitu juga alasan
ini dapat menjadi pelajaran buat bangsa Indonesia supaya waspada
dengan "nation bonding" = "musuh bersama" ini. Seyogyanya walaupun
tidak ada musuh bersama, seluruh komponen bangsa harus siap bersama
sama membangun bangsanya.
Diskusi dapat bergulir selanjutnya dengan membandingkan data bung
Yohannes Sulaiman dan data JW.
Bung Yohanes menggunakan tahun 1952 = 100 dan JW menggunakan tahun
1957 = 100 sebagai basis dalam menghitung cost of living index
tahun berikutnya. Tahun yang dijadikan basis ini mempengaruhi hasil
tahun selanjutnya. Saya dapat mengerti pendapat JW karena dia
berpendapat 1955 keatas adalah periode yang penting dan terutama 1957
keatas sebagai "turning point" sejarah Orla dengan memberikan
argumen seperti yang ditulis diatas.
Ini data Yohanes Sulaiman:
1952: 100
1953: 111
1958 (Ali II) 263
1959 (Dekrit) 307
1960: 388
1961: 1,243
1962 (Maret): 1,910
Dan ini data yang dipakai oleh JW:
1957 = 100
1960 = 348
1965 = 36,000
1966 = 150,000
Salam,
nesare
*From:* [email protected] <[email protected]>
*Sent:* Sunday, September 2, 2018 9:22 PM
*To:* [email protected]
*Subject:* RE: [GELORA45] Sri Mulyani: Rp14 Ribu
Saya juga tertarik dgn. cara apa supaya Rupiah bisa menguat (kalau
mata uang negara2 lain juga melemah)??
---In [email protected] <mailto:[email protected]>,
<nesare1@... <mailto:nesare1@...>> wrote :
Ente Kutak katiknya hanya naik turunnya rupiah.
Jelas sekali sasaran ente adalah Jokowi nya.
Kalau ente memang mau melihat kondisi RI secara keseluruhan ya lain
komentarnya. Coba gimana pendapat ente supaya rupiah bisa kuat?
Lain kan kritik dan sasaran kritiknya?!
Nesare
*From:* [email protected] <mailto:[email protected]>
<[email protected] <mailto:[email protected]>>
*Sent:* Saturday, September 1, 2018 11:40 PM
*To:* [email protected] <mailto:[email protected]>
*Subject:* Re: [GELORA45] Sri Mulyani: Rp14 Ribu
Sebelum kejauhan mundurnya (20 th) kita lihat saja,
dengan tercucuk nuruti WB-IMF apa Sri Mulyani masih
ingat omongannya 3 bulan lalu: "Rp 14 ribu /USD
hingga 2019".
--- sadar@... wrote:
Sudah lupa dengan pengalaman menghadapi krisis memasuki tahun 1998?
Bukankah karena Suharto TETAP nuruti printah AS/IMF, lalu menuruti
perintah kucurkan BLBI secepatnya itu membuat ekonomi makin terpuruk
sampai nyaris bankrut tidak tertolong lagi, ... dan dampaknya masih
dirasakan sampai sekarang setelah lewat 20 tahun!
Sunny ambon 於2/9/2018 5:43 寫道:
*Kalau rezim neo-Mojopahit baik-baik dan ikut nasehat USA, maka pasti
Rupiah selalu kuat seperti orang minum jamu kuat otot paha.
kencang.hehehehehe*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com