Saya bukan pulang kampung menjelajahi sawit. Saya keliling2 indonesia melihat negara indah yg salah pengelolaannya terutama di jaman Harto. Sampai2 skrg dimana SDA yg begitu kaya belum dapat memakmurkan rakyatnya. Indah luar biasa negara ini. Kalau punya kesempatan kebagian timur yg skrng sdh bergejolak utk memajukan pariwisatanya, bung akan terngangah2 melihat kemajuannya.. Ini semua berkat infrastruktur era Jokowi. Tidak bisa dipungkiri!
Bekas kerajaan banggai dari kota luwuk, pagimana dan bunta s/d ampana poros ke togean island yg terkenal sbg pesaing raja ampat luar biasa pesat pergerakan ekonominya. Kabupaten banggai dan kab. Ampana sudah beriak skrg dibandingkan poso yg sdh terkenal sebelumnya. Festival music poso yg begitu tua di danau poso dan terhalang krn kasus poso tempo hari lambat laun skrg sudah berjalan lagi. Puluhan ribu penonton mengunjungi festival music dan kebudayaan poso setiap tahun. Masalah mata uang suatu negara itu hanya 2 penyebabnya: alasan politik dan ekonomi. Persoalannya lebih kompleks ketika factor non ekonomis terutama politis mempengaruhi jalannya ekonomi shg luar biasa susahnya utk mengerti kenapa suatu mata uang sampai suatu negara bisa jatuh. Banyak orang sampai skrg pun masih percaya bahwa jatuhnya bung karno itu krn tidak mampu mengelola ekonominya. Contoh klasik yg diambil adalah hiperinflasi, rupiah anjlok dll. Ini semua bukan penyebabnya koq. Wong penyebabnya adalah RI diserang habis2an oleh imperialis anti komunis yg menganggap bung karno pro komunis. Bersekongkol dengan soeharto klop lah scenario menjatuhkan bung karno. Ini jelas2 yg dikatakan oleh pak pram pada suatu malam: KITA DIKEPUNG!.. Pak yoesoef isak almarhum juga mengulang2 2 kata ini sampai akhir hayatnya! Masih terngiang2 ditelinga saya sampai sekarang! Sigoblok jonathan dengan lagaknya seorang analis mata uang menyerukan rupiah anjlok disebabkan 2 faktor Fed naikin suku bunga dan GSP plus sawit. Sedangkan ajeg bilang alat produksi, fondasi ekonomi dll didiamkan sama sigoblok. Kita kan bisa lihat main2nya kan dilevel penyebab yg belum tentu benar. Seorang analis itu selalu paling pandai melihat satu mata uang KALAU sudah jatuh. Kalau belum jatuh mah mereka2 ini gak ngerti. Mereka2 ini pikir itulah penyebabnya. Mereka2 ini gak ngerti ekonomi dan currency market. Gak ada seorangpun didunia ini bisa melihat menguat atau melemahnya 1 mata uang!!!! Krn factor pembentuknya luar biasa banyaknya! Repotnya masalah mata uang ini digunakan oleh orang2 yg suka bermain politik utk menyalahkan lawan politiknya. Disini yg paling parah yg saya lihat! Disini juga posisi saya utk meluruskannya! Nesare From: [email protected] <[email protected]> Sent: Monday, September 3, 2018 11:24 PM To: [email protected]; nesare <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Sri Mulyani: Rp14 Ribu Hahahaa, ... rupanya bung Nesare lama menghilang karena pulang kampung, menjelajahi masalah kelapa Sawit, ... Senang saya bisa ikuti kembali ulasan bung masalah ekonomi, dan kali ini khusus masalah NILAI mata uang yg sedang hangat terjadi didunia ini. Lebih menarik lagi, ternyata permainan dan serangan NILAI mata uang ini bisa bikin jeblok satu pemerintah, bahkan memaksa pergantian penguasa. Sungguh luar biasa, ... Sejak awal Trump naik panggung kekuasaan, juga sudah berteriak menuntut RMB naik nilainya, karena dianggap tidak sesuai dengan harga pasar. Menuduh pemerintah Tk. bermain. Pemerintah Tk menampik tuduhan kendalikan nilai RMB, RRT mendorong eksport tidak bersandar dengan melemahkan nilai RMB! Beberapa bulan terakhir ini, kenyataan yang terjadi nilai RMB kenyataan dipasar turun turun, lebih-lebih setelah Trump jalankan kebijakan perang-dagang dengan RRT. RMB turun sebaliknya US$ naik. Yang terjadi kebalikan dari kehendak Trump sendiri, ... Entah apa sesungguhnya yang terjadi? Membuktikan lemahnya ekonomi Tk, khususnya dampak perang-dagang yg sedang berlangsung? Tidak juga! Pihak pemerintah RRT, justru menjadikan perang-dagang yg dilancarkan AS ini sebagai cambuk untuk kembali BERDIKARI! Berusaha untuk produksi sendiri, jangan ada bagian tertentu tergantung dari negara lain, apalagi hanya menggantungkan diri pada satu negara! Mengejar ketertinggalan teknologi canggih, ... yang kenyataan masih banyak tergantung pada AS! Sedang produksi pertanian juga nampaknya kembali akan berusaha sebagian BESAR bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri, termasuk kedele yang sudah sebagian besar, lebih 60% kebutuhan kedele tergantung dari AS itu. Tapi, melihat dari kemampuan pemerintah Tk nampak tidak terkendala dgn dilancarkannya perang-dagang, tetap saja meneruskan dukungan usaha "OBOR" (One Belt One Road) nya dengan Afrika, sekalipun di ASEAN, khususnya Malaysia dan Indonesia terjadi kendala. Mengingat kembali keadaan RI masa ORLA, disamping Sukarno harus meenghadapi gangguan besar perusuh-perusuh yang dihadapi, DI-TII, PRRI/Permesta, ... perpaduan asing dengan gol. kanan didalam negeri, kita sebetulnya juga bisa melihat kesalahan-kesalahan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. TIDAK menyatukan dan berusaha menggunakan semua kekuatan untuk mendorong maju ekonomi nasional. Sejak awal tahun 50-an sudah jalankan politik Benteng, mendahulukan yg dinamakan pribumi dengan menyingkirkan pengusaha Tionghoa. Menjalankan usaha pribumisasi ekonomi untuk menggantikan posisi pedagang Tionghoa dengan yang dinamakan pribumi. Kalau saja pemerintah bisa memusatkan tenaga untuk mendorong maju ekonomi nasional, tidak jalankan pribumisasi, ... mungkin ekonomi nasional masih bisa terangkat maju lebih baik. Ini pertama. Kedua, setelah tahun 58, dijalanakn NASIONALISASI modal-ASING! Saya perhatikan ini juga mengakibatkan kemajuan ekonomi nasional terganggu, ... Mengapa? Karena kenyataan SDM ketika itu belum memungkinkan utk nasionalisasi semua modal-Asing. Itu hanya semangat nasionalis yg terlalu tinggi, tanpa melihat kemampuan diri sendiri! Belum ada kader-kader yg berkemampuan memanajemen perusahaan bisa terus berjalan baik, belum ada pejabat-pejabat yg mengerti teknologi produksi minyak dsb. dan, ... yg tidak kalah peentingnya, belum tercipta kader-kader yg bermental teguh mengabdi RAKYAT! Akhirnya, dengan nasionalisasi, segera saja dikuasai pejabat-pejabat KORUP, jenderal-jenderal menjadi kabir yang menguasai BUMN-BUMN itu yang sangat merugikan rakyat dan negara! Perusahaan modal-asing itu sebetulnya boleh saja dibiarkan terus berlangsung dahulu, jangan diganggu kelancaran produksinya, ... sementara pemerintah lebih dahulu siapkan kader-kader yang berkemampuan dan tangguh untuk mengambil oper. Jadi, membuat perubahan jangan sampai terjadi kekacauan yg merugikan. Ini yg tidak dipikirkan, hanya terdorong dengan SEMANGAT nasionalis nya saja! Kesalahan ekstrim kiri. Satu pelajaran pahit, ... akhirnya ekonomi morat-marit, Rupiah jeblok dan Sukarno terjungkel! Salam, ChanCT 'nesare' [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 3/9/2018 22:10 寫道: Pertama naik turun suatu mata uang itu tergantung dari negaranya. Untuk kasus Venezuela saya yakin itu intervensi asing terutama USA yang takut dengan gebrakan Maduro yang sama2 dengan Chavez adalah politikus dari partai sosialis Venezuela. Duit yang beredar/outstanding money terutama di perbatasan Venezuela dan Columbia berkurang alias hilang. Disinyalir duitnya diborong habis oleh pihak tidak dikenal. Ini mengakibatkan hiperinflasi, lalu maduro mengeluarkan petro yaitu cryptocurrency kayak bitcoin awal tahun ini. Ini bikin trump ngamuk tambah berat sangsi dan mengharamkan petro. Turki masalahnya lain. Begitu juga jaman Orla bung Karno kena hiperinflasi parah karena ada yang mengganggu. RI jaman Orla/bung Karno itu masalah politik. Sekarang RI beda masalahnya ekonomi, jadi harus dituntaskan berdasarkan proses ekonomi bukan politik seperti jaman Orla. Kalau pengin tahu lebih banyak ttg RI jaman Orla kenapa terjadi hiperinflasi, saya cut and paste dari tulisan saya di tionghoa net, Sun 5/6/2007 6:55 PM : Dalam kaitannya dengan elite politik saat itu (Parpol, TNI, Bung Karno), Jeffrey Winters (JW) juga berpendapat: Perekonomian jaman Orla ini tidak dapat disangkal sangat sulit. Parah sekali dari sisi ekonominya. Dari rentang waktu 1950 - 1966, pemerintah memang tidak efektif dalam mengelola sisi ekonomi ini (mengelola investasi; penciptaan lowongan pekerjaan; meningkatkan produktifitas; mengontrol inflasi) dll. Kalau kita melihat lebih jauh kenapa sektor ekonomi ini hancur luluh, mau tidak mau kita harus melihat sejarah periode itu - sejarah non ekonomis yang dapat menjelaskan lebih komprehensif/lengkap mengapa ekonomi Indonesia gagal total di jaman Bung Karno itu. Selanjutnya JW menekankan ada 2 peristiwa penting yang dapat disebut sebagi turning point (titik tolak) dalam sejarah Orla: Pemilu 1955 dan Pemilu Daerah 1957. JW melihat periode 1955 keatas penting sekali dan yang lebih penting lagi adalah periode 1957 keatas. Penjelasannya seperti yang dibawah ini: Pada Pemilu tahun 1955, PKI menang dalam perolehan suara yang cukup signifikan. Ternyata PKI sangat popular. PKI mendapat dukungan akar rumput (grass root) dan terus berkembang. PKI yang popular ini sangat mengagetkan Masyumi yang yakin akan memenangkan pemilu 1955 ini dengan mutlak. Tetapi hasilnya Masyumi tidak keluar sebagai pemenang mutlak sedangkan PKI masuk dalam 4 besar. Sebelumnya PKI tidak dapat satu kursipun di parlemen pada Pemilu sebelumnya. PKI dapat 16% pemilih dan masuk "4 besar" bersama PNI (23%), Masyumi (22%) dan NU (18%). Dalam Pemilu Daerah 1957 (ini sejarah yang berusaha dihapus selama Orba), PKI sudah jadi parpol paling besar di Jawa. Pemilih PKI di Jawa itu sudah mencapai 31%. Begitu juga pada Pemilu Daerah 1957 untuk memilih anggota DPRD. Pemilu 1957 ini PNI dan NU kehilangan dukungan yang lari ke PKI. Memang tidak semua propinsi bisa melaksanakan Pemilu Daerah karena ada pemberontakan bersenjata. Selain di Jawa, pemilu daerah hanya bisa dikerjakan di SumSel dan Kalimantan. Hasilnya PKI naik jadi partai pertama di Jawa (31% pemilih) dan suaranya naik di semua propinsi yang sempat bikin Pemilu Daerah. Hasil Pemilu Daerah 1957 itu membuat kaum elite pada waktu itu, dalam semua partai, merasa gentar. Inilah sebabnya Pemilu berikutnya yang rencananya akan dilakukan tahun 1959/1960 dibatalkan. JW setuju dan bilang semua pihak khawatir PKI menang dan menjadi Parpol nomor 1 yang dapat meraih suara diatas 50% kalau PKI dapat menguasai luar daerah (non Jawa). JW melihat kemenangan ini sangat mungkin terjadi jikalau terjadi koalisi antara PKI dan PNI Sukarno yang bersifat permanen. Ini juga yang menyebabkan timbulnya pemberontakan PRRI/Permesta yang disponsori oleh Amerika yang ketakutan dengan Bung Karno sebagai komunis. Belanda yang masih ingin menguasai Hindia Belanda (Indonesia saat itu) mempengaruhi Amerika dengan mengatakan Bung Karno adalah komunis. Lalu mayoritas para elite politik waktu itu berpaling ke Angkatan Darat yang dianggap punya kekuatan untuk membendung PKI. Itu sebabnya juga prakarsa Angkatan Darat (AD) untuk menjalankan Demokrasi Terpimpin itu pilihan yang lebih menguntungkan bagi para elite waktu itu dan karena itu banyak pendukungnya. Yang akhirnya menyebabkan para elite politik waktu itu menobatkan BK sebagai presiden seumur hidup. Memang bisa dirasakan ketakutan para elite saat itu. JW juga melihat ketakutan para elit politik ini. Dia berpendapat ketakutan elite itu atas kemenangan PKI itu juga terutama karena takut PKI bisa menang tanpa kekerasan/senjata. Jadi kalau PKI bisa menang lewat pemilu yang damai, pendapat bahwa partai komunis hanya dapat menang dengan senjata dapat dibantah. Kemenangan PKI dalam pemilu 1959/1960 yang diperkirakan itu adalah kemenangan dalam Pemilu yang damai dan demokratis. JW mengingatkan para elite biasanya sangat toleran dan suka akan kemenangan lewat jalur demokrasi Pemilu. Tetapi sayangnya banyak yang masih memanfaatkan dalam arti mengontrol jalur demokrasi ini untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Ini dirasakan oleh bangsa Indonesia pada rejim Orba yang Pemilunya selalu demokratis tapi yang menang Golkar terus. JW juga melihat perkembangan PKI sebagai kekuatan politik di Indonesia dan nasionalisasi perusahaan Belanda (yang akhirnya menjadi BUMN dan resource base untuk TNI) mengirim signal kepada dunia bisnis dan pemilik modal bahwa Indonesia adalah lokasi yang berisiko tinggi. Katanya country risk yang tinggi ini tidak mungkin diatasi dengan "solusi teknokrat". Jadi teori pasar, teori strukturisasi dan teori teori bisnis lainnya tidak dapat memecahkan masalah tersebut krn masalah struktural yang terjadi bukan hasil dari kebijaksanaan (policy) yang kurang baik. Situasi ini adalah hasil konstelasi kekuatan politik, di mana salah satu kompetitor (PKI) makin lama makin kuat karena rakyat memilih alternatif tersebut. Dengan kata lain JW mengingatkan pada saat itu kepentingan rakyat bertentangan dengan kepentingan elite lokal dan internasional. Akibatnya: investasi swasta merosot, produksi merosot, peluang penciptaan lapangan pekerjaan (job creation) merosot, dll. Dan faktor krisis ekonomi menjadi faktor tambahan dalam situasi yang sudah sangat konfliktual (Parpol saling nyari dukungan rakyat). Jadi kurang bijaksana kalau ada orang yang mau bilang bahwa faktor ekonomi adalah faktor penyebab rusaknya perekonomian Indonesia jaman Bung Karno. JW bilang ekonomi menjadi faktor sekunder. Justru perekonomian mengalami krisis karena basis kapitalisme terancam dengan alasan private property (asset swasta) yang harus aman dalam kapitalisme menjadi tidak aman. Penjelasan lain JW tentang mengapa perekonomian jaman Orla parah adalah tidak adanya "musuh bersama" lagi setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebelumnya semua komponen bangsa Indonesia mempunyai musuh yang namanya "Belanda". Begitu juga alasan ini dapat menjadi pelajaran buat bangsa Indonesia supaya waspada dengan "nation bonding" = "musuh bersama" ini. Seyogyanya walaupun tidak ada musuh bersama, seluruh komponen bangsa harus siap bersama sama membangun bangsanya. Diskusi dapat bergulir selanjutnya dengan membandingkan data bung Yohannes Sulaiman dan data JW. Bung Yohanes menggunakan tahun 1952 = 100 dan JW menggunakan tahun 1957 = 100 sebagai basis dalam menghitung cost of living index tahun berikutnya. Tahun yang dijadikan basis ini mempengaruhi hasil tahun selanjutnya. Saya dapat mengerti pendapat JW karena dia berpendapat 1955 keatas adalah periode yang penting dan terutama 1957 keatas sebagai "turning point" sejarah Orla dengan memberikan argumen seperti yang ditulis diatas. Ini data Yohanes Sulaiman: 1952: 100 1953: 111 1958 (Ali II) 263 1959 (Dekrit) 307 1960: 388 1961: 1,243 1962 (Maret): 1,910 Dan ini data yang dipakai oleh JW: 1957 = 100 1960 = 348 1965 = 36,000 1966 = 150,000 Salam, nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> <mailto:[email protected]> <[email protected]> Sent: Sunday, September 2, 2018 9:22 PM To: [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Sri Mulyani: Rp14 Ribu Saya juga tertarik dgn. cara apa supaya Rupiah bisa menguat (kalau mata uang negara2 lain juga melemah)?? ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... <mailto:nesare1@...> > wrote : Ente Kutak katiknya hanya naik turunnya rupiah. Jelas sekali sasaran ente adalah Jokowi nya. Kalau ente memang mau melihat kondisi RI secara keseluruhan ya lain komentarnya. Coba gimana pendapat ente supaya rupiah bisa kuat? Lain kan kritik dan sasaran kritiknya?! Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> <[email protected] <mailto:[email protected]> > Sent: Saturday, September 1, 2018 11:40 PM To: [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Sri Mulyani: Rp14 Ribu Sebelum kejauhan mundurnya (20 th) kita lihat saja, dengan tercucuk nuruti WB-IMF apa Sri Mulyani masih ingat omongannya 3 bulan lalu: "Rp 14 ribu /USD hingga 2019". --- sadar@... wrote: Sudah lupa dengan pengalaman menghadapi krisis memasuki tahun 1998? Bukankah karena Suharto TETAP nuruti printah AS/IMF, lalu menuruti perintah kucurkan BLBI secepatnya itu membuat ekonomi makin terpuruk sampai nyaris bankrut tidak tertolong lagi, ... dan dampaknya masih dirasakan sampai sekarang setelah lewat 20 tahun! Sunny ambon 於 2/9/2018 5:43 寫道: Kalau rezim neo-Mojopahit baik-baik dan ikut nasehat USA, maka pasti Rupiah selalu kuat seperti orang minum jamu kuat otot paha. kencang.hehehehehe <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> 不含病毒。 <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> www.avg.com
