Ada baiknya kalau mereka yang bilang Jokowi antek asing mendengarkan dan
mempelajari pendapat banyak ormas yang sudah sadar.Menyebut Jokowi antek asing,
HANYA karena banyaknya TKA di Indonesia, sudahtentu masih kurang. Dan yang
kurang itu justru yang pokok. Pertama-tama, harus diklarifikasi apa dan siapa
yang dimaksud dengan "asing".Tidak semua yang "asing" itu buruk atau jahat atau
setan! Kalau kitabilang Jokowi antek kaum pemodal besar asing, nah itu betul
karena dibuktikanoleh kebijakannya sendiri yang mengundang mereka dengan
menjanjikan incredibleprofit. Bagaimana incredible profit ini bisa dicapai?
Pertama-tama denganmempertahankan politik buruh murah bagi korporasi-korporasi
asing, memberitax-holiday, tax-allowance, bahkan tanah gratispun ditawarkan
kepada pemodal...Bayangkan, dengan senang hati membebaskan kaum pemodal dari
pembayaran pajakdan juga meringankan pajak, tapi tidak mau memenuhi tuntutan
para guru honoreryang jelas-jelas telah mengabdi kepada rakyat dibidang
pendidikan. Katanya maurevolusi mental, tapi para pendidiknya ditelantarkan
nasibnya!
Jokowi antek Imperialis sertalembaga keuangannya seperti IMF-Bank
Dunia-Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),nah ini juga betul dibuktikan dalam
kenyataannya. Pejabat senior Bank DuniaKarsten Fuelster, pernah bilang keadaan
infrastruktur mengakibatkan terganggunyasektor bisnis, etc. Nah, sekarang kita
lihat sendiri bagaimana Jokowi mengemismodal asing untuk mendorong pembangunan
megaproyek infrastruktur. Untuk apa dansiapa? Mega infrastruktur itu tidak
dibutuhkan oleh rakyat jelata, bukan merekayang akan menggunakannya. Rakyat
butuh sekolah, butuh rumah sakit, butuhjalan-jalan layak di desa-desa.. Mereka
tidak butuh bandara mewah, tidak butuhjalan tol, perhotelan mewah, etc.
Juga dibuktikan dalam sikapJokowi terhadap bencana alam luarbiasa yang terjadi
di Lombok dan Sulawesi.Jumlah korban sudah begitu tinggi, tapi ia tetap menolak
menyatakan statusbencana alam nasional...hanya untuk melindungi turisme.
Bantuan negara sangatminim sekali untuk para korban, tapi tidak ragu-ragu
mengucurkan dana untuk penyelenggaraanpertemuan IMF-Bank Dunia!! Sudah berapa
kali Jokowi dipuji IMF-Bank Dunia.Jokowi serta para pendukungnya tentu senang
dan bangga, bukan?? Teruscengengesan!!! Sungguh orang yang picik dan
ketinggalan kesadarannya, jika tidak tahu peran besar IMF-Bank Dunia dalam
ekonomi dunia yangmencelakakan rakyat sedunia.
Jokowi antek kaum pemodalkhususnya Tiongkok, nah ini juga dibuktikan dalam
prakteknya. Jokowi maumenerima syarat-syarat yang diajukan pemodal Tkk dengan
mengorbankankepentingan kaum buruh Indonesia dan kepentingan bangsa Indonesia
untukmembangun industri nasionalnya sendiri. Apa yang diocehkan para pejabat
Tkkkapitalis, untuk "kemajuan bersama", "keuntungan bersama","menang bersama"
adalah penipuan ditengah hari bolong!!!
Supaya tidak cape bacanya, mengingatbanyak orang tidak suka baca
panjang-panjang, saya tampilkan saja beberapakutipan dari sebuah tulisan yang
menyangkut penanaman modal Tiongkok di Afrikapada jaman Mao dan setelah Deng
xiaoping dan kliknya berkuasa dan merestorasikapitalisme.
Padajaman Mao, bantuan Tkk betul-betul diabdikan untuk membantu negeri itu dan
Tkksosialis tidak menggunakan bantuan itu untuk mengeksplotasi kekayaan
alamnegeri itu.
Sebaliknya,setelah tahun 2000, Tkk kapitalis menggunakan kebutuhan
negeri-negeri Afrikauntuk membangun infrastrukturnya guna mendapatkan
keuntungan untuk dirinyasendiri. Bantuan Tkk untuk pembangunan infrastruktur,
pada umumnyamenguntungkan korporasi Tkk sendiri, melalui syarat penggunaan
perlengkapan danbahan yang diproduksi oleh korporasinya sendiri. Inilah yang
saya bilang, dalamkeadaan krisis dunia dimana Tkk sendiri mengalami kelambatan
pertumbuhan danmenurunnya permintaan dari AS dan Eropa, maka syarat ini adalah
untukmenyelamatkan korporasi Tkk dari kebangkrutan karena turun permintaan
atasproduknya.
Apajaminan yang diberikan negeri pengutang kepada Tkk?? Sumber kekayaan
negeriitu!!! Tidak heran kalau modal yang ditumplekkan Tkk di Afrika
umumnyaberkaitan dengan penguasaan Tkk atas sumber alamnya. Tahun 2008, China
Railway Group mendapatkan hak menambang tembaga dan cobalt di Kongo dengan
mengibarkan slogan "proyek infrastruktur untuk sumber alam". Disamping untuk
mendapatkan kekayaan alam Afrika, modal Tkk mengalir ke Afrika juga untuk
menciptakan kesempatan bisnis bagi korporasi Tkk sendiri. Analis Tkk sendiri
mengakui:"Ketika kami memberi bantuan sebesar RMB 1 miliar kepada Afrika, kami
akan mendapatkan kontrak layanan senilai USD 1 miliar (RMB 6 miliar) dari
Afrika." Sebagai imbalan untuk sebagian besar bantuan keuangan Tkk ke Afrika,
Beijing mengharuskan pembangunan infrastruktur dan kontrak lainnya mendukung
korporasi penyedia layanan Tkk: 70 persen dari kontrak itu harus dengan
perusahaan yang sudah "disetujui," kebanyakan milik negara, baru sisanya
terbuka untuk perusahaan lokal, tapi ha...ha..banyak di antaranya juga
merupakan usaha patungan dengan kelompok Tkk. Jadi , apa yang dilihat banyak
orang sebagai "bantuan" Tkk ke Afrika sebenarnya, dalam prakteknya, menciptakan
bisnis bagi perusahaan Tkk dan menciptakan pekerjaan untuk pekerja Tkk. Inilah
sebetulnya tujuan pokok dari strategi 'going out" dari Tkk.Ni ming bai ma??
Mengertikah anda???
Apa itu neo-kolonialisme? Apakah neo-kolonialisme perlu mengirim pasukannya???
Cukup dengan mengirim modalnya saja, kan? Kenapa dulu Bung Karno koar-koar :"go
to hell with your aid! dan sangat anti neo-kolonialisme??? Tanyalah kepada
rumput yang bergoyang.....begitu jawab si Ebiet!!!
During the Cold War, foreign aid an important political toolthat China used to
gain Africa’s diplomatic recognition and to compete with theUnited States and
the Soviet Union for Africa’s support. Between 1963 and 1964, ZhouEnlai visited
10 African countries and announced the well-known “EightPrinciples of Foreign
Economic and Technological Assistance.”[10] These aid principles were designed
tocompete simultaneously with the “imperialists” (the United States) and
the“revisionists” (the Soviet Union) for Africa’s approval and support.
These efforts wereenhanced during the Cultural Revolution under the influence
of a radicalrevolutionary ideology, motivatingChina to provide large amounts of
foreign aid to Africa despite its owndomestic economic difficulties.. [11] One
famous example was the Tanzania-ZambiaRailway built between 1970 and 1975, for
which China provided a zero-interestloan of RMB 980 million. By the mid-1980s,
China’s generous assistance hadopened the door to diplomatic recognition with
44 African countries. [12]
Since thebeginning of China’s reform and opening up, especially after 2000,
Africa has become anincreasingly important economic partner for China. Africa
enjoys rich naturalresources and market potential, and urgently needs
infrastructure anddevelopment finance to stimulate economic growth. Chinese
development finance, combined with the aid, aimsat not only benefiting the
local recipient countries, but also China itself.For example, China’s “tied
aid” forinfrastructure usually favors Chinese companies (especially
state-ownedenterprises), while its loans are in many cases backed by African
naturalresources.
Much Chinese financing toAfrica is associated with securing thecontinent’s
natural resources. Using what is sometimescharacterized as the “Angola Model,”
Chinas frequently provides low-interestloans to nations who rely on
commodities, such as oil or mineral resources, ascollateral.[13] In these
cases, the recipient nationsusually suffer from low credit ratings and have
great difficulty obtainingfunding from the international financial market;
China makes financingrelatively available—with certain conditions.
Though commodity-backed loans were not created by China –leading Western banks
were making such loans to African countries, includingAngola and Ghana, before
China Eximbank and Angola completed their firstoil-backed loan in March 2004 –
but the Chinese built the model to scale andapplied it using a systematic
approach. In Angola in 2006, USD 4 billion insuch loans probably helped Chinese
oil companies win the exploitation rights tomultiple oil blocks.[14] In 2010,
Sinopec’s acquisition of a 50percent stake in Block 18 coincided with the
disbursement of the first trancheof Eximbank funding, and in 2005, Sinopec’s
acquisition of rights to Block 3/80coincided with the announcement of a new USD
2 billion loan from China Eximbankto the Angolan government.[15] In 2008, the
China Railway Group used the same model tosecure the mining rights to the
Democratic Republic of Congo’s copper andcobalt mines under the slogan
“(Infrastructure) projects for resources.”[16] Accordingto Debra Brautigam, a
top expert on China-Africa relations, between 2004 and2011, China reached
similar unprecedented deals with at leastseven resource-rich African countries,
with a total volume ofnearly USD 14 billion.[17]
In addition to securingAfrica’s natural resources, China’s capital flows into
Africa also create businessopportunities for Chinese service contractors, such
as construction companies.According to Chinese analysts, Africa is China’s
second-largest supplier ofservice contracts, and “when weprovide Africa
assistance of RMB 1 billion, we will get service contracts worthUSD 1 billion
(RMB 6 billion) from Africa.”[18] Inexchange for most Chinese financial aid to
Africa, Beijing requires thatinfrastructure construction and other contracts
favor Chinese serviceproviders: 70 percent of them go to “approved,” mostly
state-owned, Chinesecompanies, and the rest are open to local firms, many of
which are also jointventures with Chinese groups.[19] In this sense, China’s
financing toAfrica, including aid, createsbusiness for Chinese companies and
employment opportunities for Chineselaborers, a critical goal of Beijing’s
Going Out strategy.
Hasilnya, industri digital Cina pun berkembang sangat pesat. Sama seperti itu,
Cina sekarang ingin menjadi “Silicon Valley-nya Indonesia”.
On Saturday, November 3, 2018 7:29 PM, "Awind [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
https://nasional.tempo.co/read/1142727/tki-di-cina-lebih-banyak-jokowi-di-sana-yang-antek-indonesia/full&view=ok
TKI di Cina Lebih Banyak, Jokowi: Di Sana yang
Antek Indonesia
Reporter:
Friski Riana
Editor:
Kukuh S. Wibowo
Sabtu, 3 November 2018 16:02 WIB Presiden Joko Widodo atau Jokowi
menggunakan jaket model Parka produksi AME Raincoat saat membuka Ideafest 2018
di JCC, Senayan, 26 Oktober 2018. Jaket itu baru Jokowi beli di ruang pameran
dengan harga Rp 499 ribu. TEMPO/Ahmad Faiz TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden
nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi, mengklarifikasi tuduhan antek asing
terhadap dirinya karena disebut-sebut mendatangkan tenaga kerja asing (TKA) di
Indonesia. Menurut Jokowi, ia pernah diterpa isu bahwa Indonesia akan
mendatangkan 10 juta tenaga kerja asing dari Cina. Padahal yang ia harapkan
adalah kedatangan 10 juta turis dari Cina. "Waktu saya ketemu dengan Presiden
Xi Jin Ping, saya minta 10 juta (turis), tanda tangan dah 10 juta. Lah, ini
yang dipikir 10 juta itu TKA dari Tiongkok. Yang dipelintir kan di situ,"
katanya dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional Relawan Pengusaha Muda
Nasional di Hotel Fairmont Jakarta, Sabtu, 3 November 2018. Baca: Jokowi
Mendorong Pengusaha Muda Manfaatkan Peluang Sekecil ... Jokowi menuturkan
jumlah tenaga kerja asing yang ada di Indonesia tidak sampai 1 persen.
Dibandingkan dengan negara lain, kata Jokowi, jumlah TKA di Uni Emirate Arab 80
persen, Arab Saudi 33 persen, Brunei Darussalam 32 persen, Singapura 24 persen,
dan Malaysia 5,4 persen. "Kita 0,03 persen. TKA yang mana? Tunjukkan," ujarnya.
Menurut Jokowi, TKA di Indonesia memang ada. Namun, kata dia, jumlahnya tak
sebanyak tenaga kerja Indonesia yang ada di luar negeri. Ia menyebutkan TKA
Cina di Indonesia sekitar 24 ribu orang. Sedangkan tenaga kerja Indonesia di
Cina ada 80 ribu orang. "Belum ditambah yang di Hong Kong mungkin 200 ribu,
Taiwan hampir 200 ribuan. Antek asing yang mana?" ucapnya. Simak: Jokowi Minta
Pengusaha Muda Berhijrah
Jokowi pun berkelakar bahwa banyak antek Indonesia di luar negeri. "Kalau
dibalik, ya, ini tenaga kerja kita di sana lebih banyak, berarti di sana yang
antek Indonesia. Kalau bicara antek-antekan," tuturnya. Dalam acara Rapat
Kerja Nasional Relawan Pengusaha Muda Nasional, sejumlah tamu yang datang
mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Jokowi dan Ma'ruf Amin.. FRISKI RIANA
| ANTARA
#yiv0360004967 #yiv0360004967 -- #yiv0360004967ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-mkp #yiv0360004967hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-mkp #yiv0360004967ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-mkp .yiv0360004967ad
{padding:0 0;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-mkp .yiv0360004967ad p
{margin:0;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-mkp .yiv0360004967ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-sponsor
#yiv0360004967ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-sponsor #yiv0360004967ygrp-lc #yiv0360004967hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-sponsor #yiv0360004967ygrp-lc .yiv0360004967ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0360004967 #yiv0360004967actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0360004967
#yiv0360004967activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0360004967
#yiv0360004967activity span {font-weight:700;}#yiv0360004967
#yiv0360004967activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0360004967 #yiv0360004967activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0360004967 #yiv0360004967activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0360004967 #yiv0360004967activity span
.yiv0360004967underline {text-decoration:underline;}#yiv0360004967
.yiv0360004967attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0360004967 .yiv0360004967attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0360004967 .yiv0360004967attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0360004967 .yiv0360004967attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0360004967 .yiv0360004967attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0360004967 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0360004967 .yiv0360004967bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0360004967
.yiv0360004967bold a {text-decoration:none;}#yiv0360004967 dd.yiv0360004967last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0360004967 dd.yiv0360004967last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0360004967
dd.yiv0360004967last p span.yiv0360004967yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0360004967 div.yiv0360004967attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0360004967 div.yiv0360004967attach-table
{width:400px;}#yiv0360004967 div.yiv0360004967file-title a, #yiv0360004967
div.yiv0360004967file-title a:active, #yiv0360004967
div.yiv0360004967file-title a:hover, #yiv0360004967 div.yiv0360004967file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0360004967 div.yiv0360004967photo-title a,
#yiv0360004967 div.yiv0360004967photo-title a:active, #yiv0360004967
div.yiv0360004967photo-title a:hover, #yiv0360004967
div.yiv0360004967photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0360004967
div#yiv0360004967ygrp-mlmsg #yiv0360004967ygrp-msg p a
span.yiv0360004967yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0360004967
.yiv0360004967green {color:#628c2a;}#yiv0360004967 .yiv0360004967MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0360004967 o {font-size:0;}#yiv0360004967
#yiv0360004967photos div {float:left;width:72px;}#yiv0360004967
#yiv0360004967photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0360004967
#yiv0360004967photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0360004967
#yiv0360004967reco-category {font-size:77%;}#yiv0360004967
#yiv0360004967reco-desc {font-size:77%;}#yiv0360004967 .yiv0360004967replbq
{margin:4px;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-mlmsg select, #yiv0360004967 input, #yiv0360004967 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-mlmsg pre, #yiv0360004967 code {font:115%
monospace;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-mlmsg #yiv0360004967logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-msg
p#yiv0360004967attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-reco #yiv0360004967reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-sponsor
#yiv0360004967ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-sponsor #yiv0360004967ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-sponsor #yiv0360004967ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0360004967 #yiv0360004967ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0360004967
#yiv0360004967ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0360004967