Maaf, kalimat  dibawah ini terkirim, sementara tanggapannya masih belum dibuat.
Hasilnya, industri digital Cina pun berkembang sangat pesat. Sama seperti itu, 
Cina sekarang ingin menjadi “Silicon Valley-nya Indonesia”. 

    On Sunday, November 4, 2018 1:10 PM, "Tatiana Lukman 
[email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
 

     Ada baiknya kalau mereka yang bilang Jokowi antek asing mendengarkan dan 
mempelajari pendapat banyak ormas yang sudah sadar.Menyebut Jokowi antek asing, 
HANYA karena banyaknya TKA di Indonesia, sudahtentu masih kurang. Dan yang 
kurang itu justru yang pokok. Pertama-tama, harus diklarifikasi apa dan siapa 
yang dimaksud dengan "asing".Tidak semua yang "asing" itu buruk atau jahat atau 
setan! Kalau kitabilang Jokowi antek kaum pemodal besar asing, nah itu betul 
karena dibuktikanoleh kebijakannya sendiri yang mengundang mereka dengan 
menjanjikan incredibleprofit. Bagaimana incredible profit ini bisa dicapai? 
Pertama-tama denganmempertahankan politik buruh murah bagi korporasi-korporasi 
asing, memberitax-holiday, tax-allowance, bahkan tanah gratispun ditawarkan 
kepada pemodal...Bayangkan, dengan senang hati membebaskan kaum pemodal dari 
pembayaran pajakdan juga meringankan pajak, tapi tidak mau memenuhi tuntutan 
para guru honoreryang jelas-jelas telah mengabdi kepada rakyat dibidang 
pendidikan. Katanya maurevolusi mental, tapi para pendidiknya ditelantarkan 
nasibnya!Jokowi antek Imperialis sertalembaga keuangannya seperti IMF-Bank 
Dunia-Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),nah ini juga betul dibuktikan dalam 
kenyataannya. Pejabat senior Bank DuniaKarsten Fuelster, pernah bilang keadaan 
infrastruktur mengakibatkan terganggunyasektor bisnis, etc. Nah, sekarang kita 
lihat sendiri bagaimana Jokowi mengemismodal asing untuk mendorong pembangunan 
megaproyek infrastruktur. Untuk apa dansiapa? Mega infrastruktur itu tidak 
dibutuhkan oleh rakyat jelata, bukan merekayang akan menggunakannya. Rakyat 
butuh sekolah, butuh rumah sakit, butuhjalan-jalan layak di desa-desa. Mereka 
tidak butuh bandara mewah, tidak butuhjalan tol, perhotelan mewah, etc. Juga 
dibuktikan dalam sikapJokowi terhadap bencana alam luarbiasa yang terjadi di 
Lombok dan Sulawesi.Jumlah korban sudah begitu tinggi, tapi ia tetap menolak 
menyatakan statusbencana alam nasional...hanya untuk melindungi turisme. 
Bantuan negara sangatminim sekali untuk para korban, tapi tidak ragu-ragu 
mengucurkan dana untuk penyelenggaraanpertemuan IMF-Bank Dunia!! Sudah berapa 
kali Jokowi dipuji IMF-Bank Dunia.Jokowi serta para pendukungnya tentu senang 
dan bangga, bukan?? Teruscengengesan!!! Sungguh orang yang picik dan 
ketinggalan kesadarannya, jika tidak tahu peran besar IMF-Bank Dunia dalam 
ekonomi dunia yangmencelakakan rakyat sedunia.  Jokowi antek kaum 
pemodalkhususnya Tiongkok, nah ini juga dibuktikan dalam prakteknya. Jokowi 
maumenerima syarat-syarat yang diajukan pemodal Tkk dengan 
mengorbankankepentingan kaum buruh Indonesia dan kepentingan bangsa Indonesia 
untukmembangun industri nasionalnya sendiri. Apa yang diocehkan para pejabat 
Tkkkapitalis, untuk "kemajuan bersama", "keuntungan bersama","menang bersama" 
adalah penipuan ditengah hari bolong!!!  Supaya tidak cape bacanya, 
mengingatbanyak orang tidak suka baca panjang-panjang, saya tampilkan saja 
beberapakutipan dari sebuah tulisan yang menyangkut penanaman modal Tiongkok di 
Afrikapada jaman Mao dan setelah Deng xiaoping dan kliknya berkuasa dan 
merestorasikapitalisme.Padajaman Mao, bantuan Tkk betul-betul diabdikan untuk 
membantu negeri itu dan Tkksosialis tidak menggunakan bantuan itu untuk 
mengeksplotasi kekayaan alamnegeri itu.  Sebaliknya,setelah tahun 2000, Tkk 
kapitalis menggunakan kebutuhan negeri-negeri Afrikauntuk membangun 
infrastrukturnya guna mendapatkan keuntungan untuk dirinyasendiri. Bantuan Tkk 
untuk pembangunan infrastruktur, pada umumnyamenguntungkan korporasi Tkk 
sendiri, melalui syarat penggunaan perlengkapan danbahan yang diproduksi oleh 
korporasinya sendiri. Inilah yang saya bilang, dalamkeadaan krisis dunia dimana 
Tkk sendiri mengalami kelambatan pertumbuhan danmenurunnya permintaan dari AS 
dan Eropa, maka syarat ini adalah untukmenyelamatkan korporasi Tkk dari 
kebangkrutan karena turun permintaan atasproduknya.Apajaminan yang diberikan 
negeri pengutang kepada Tkk?? Sumber kekayaan negeriitu!!! Tidak heran kalau 
modal yang ditumplekkan Tkk di Afrika umumnyaberkaitan dengan penguasaan Tkk 
atas sumber alamnya. Tahun 2008, China Railway Group mendapatkan hak menambang 
tembaga dan cobalt di Kongo dengan mengibarkan slogan "proyek infrastruktur 
untuk sumber alam". Disamping untuk mendapatkan kekayaan alam Afrika, modal Tkk 
mengalir ke Afrika juga untuk menciptakan kesempatan bisnis bagi korporasi Tkk 
sendiri. Analis Tkk sendiri mengakui:"Ketika kami memberi bantuan sebesar RMB 1 
miliar kepada Afrika, kami akan mendapatkan kontrak layanan senilai USD 1 
miliar (RMB 6 miliar) dari Afrika."  Sebagai imbalan untuk sebagian besar 
bantuan keuangan Tkk ke Afrika, Beijing mengharuskan pembangunan infrastruktur 
dan kontrak lainnya mendukung korporasi penyedia layanan Tkk: 70 persen dari 
kontrak itu harus dengan perusahaan yang  sudah "disetujui," kebanyakan milik 
negara, baru sisanya terbuka untuk perusahaan lokal, tapi ha...ha..banyak di 
antaranya juga merupakan usaha patungan dengan kelompok Tkk.   Jadi , apa yang 
dilihat banyak orang sebagai "bantuan" Tkk ke Afrika sebenarnya, dalam 
prakteknya, menciptakan bisnis bagi perusahaan Tkk  dan menciptakan pekerjaan 
untuk pekerja Tkk. Inilah sebetulnya tujuan pokok dari strategi 'going out" 
dari Tkk.Ni ming bai ma?? Mengertikah anda??? 
Apa itu neo-kolonialisme? Apakah neo-kolonialisme perlu mengirim pasukannya??? 
Cukup dengan mengirim modalnya saja, kan? Kenapa dulu Bung Karno koar-koar :"go 
to hell with your aid! dan sangat anti neo-kolonialisme??? Tanyalah kepada 
rumput yang bergoyang.....begitu jawab si Ebiet!!!


 


During the Cold War, foreign aid an important political toolthat China used to 
gain Africa’s diplomatic recognition and to compete with theUnited States and 
the Soviet Union for Africa’s support. Between 1963 and 1964, ZhouEnlai visited 
10 African countries and announced the well-known “EightPrinciples of Foreign 
Economic and Technological Assistance.”[10] These aid principles were designed 
tocompete simultaneously with the “imperialists” (the United States) and 
the“revisionists” (the Soviet Union) for Africa’s approval and support.These 
efforts wereenhanced during the Cultural Revolution under the influence of a 
radicalrevolutionary ideology, motivatingChina to provide large amounts of 
foreign aid to Africa despite its owndomestic economic difficulties. [11] One 
famous example was the Tanzania-ZambiaRailway built between 1970 and 1975, for 
which China provided a zero-interestloan of RMB 980 million. By the mid-1980s, 
China’s generous assistance hadopened the door to diplomatic recognition with 
44 African countries. [12]Since thebeginning of China’s reform and opening up, 
especially after 2000, Africa has become anincreasingly important economic 
partner for China. Africa enjoys rich naturalresources and market potential, 
and urgently needs infrastructure anddevelopment finance to stimulate economic 
growth. Chinese development finance, combined with the aid, aimsat not only 
benefiting the local recipient countries, but also China itself..For example, 
China’s “tied aid” forinfrastructure usually favors Chinese companies 
(especially state-ownedenterprises), while its loans are in many cases backed 
by African naturalresources.Much Chinese financing toAfrica is associated with 
securing thecontinent’s natural resources. Using what is sometimescharacterized 
as the “Angola Model,” Chinas frequently provides low-interestloans to nations 
who rely on commodities, such as oil or mineral resources, ascollateral.[13] In 
these cases, the recipient nationsusually suffer from low credit ratings and 
have great difficulty obtainingfunding from the international financial market; 
China makes financingrelatively available—with certain conditions.Though 
commodity-backed loans were not created by China –leading Western banks were 
making such loans to African countries, includingAngola and Ghana, before China 
Eximbank and Angola completed their firstoil-backed loan in March 2004 – but 
the Chinese built the model to scale andapplied it using a systematic approach. 
In Angola in 2006, USD 4 billion insuch loans probably helped Chinese oil 
companies win the exploitation rights tomultiple oil blocks.[14] In 2010, 
Sinopec’s acquisition of a 50percent stake in Block 18 coincided with the 
disbursement of the first trancheof Eximbank funding, and in 2005, Sinopec’s 
acquisition of rights to Block 3/80coincided with the announcement of a new USD 
2 billion loan from China Eximbankto the Angolan government.[15]  In 2008, the 
China Railway Group used the same model tosecure the mining rights to the 
Democratic Republic of Congo’s copper andcobalt mines under the slogan 
“(Infrastructure) projects for resources.”[16] Accordingto Debra Brautigam, a 
top expert on China-Africa relations, between 2004 and2011, China reached 
similar unprecedented deals with at leastseven resource-rich African countries, 
with a total volume ofnearly USD 14 billion.[17]In addition to securingAfrica’s 
natural resources, China’s capital flows into Africa also create 
businessopportunities for Chinese service contractors, such as construction 
companies.According to Chinese analysts, Africa is China’s second-largest 
supplier ofservice contracts, and “when weprovide Africa assistance of RMB 1 
billion, we will get service contracts worthUSD 1 billion (RMB 6 billion) from 
Africa.”[18] Inexchange for most Chinese financial aid to Africa, Beijing 
requires thatinfrastructure construction and other contracts favor Chinese 
serviceproviders: 70 percent of them go to “approved,” mostly state-owned, 
Chinesecompanies, and the rest are open to local firms, many of which are also 
jointventures with Chinese groups.[19] In this sense, China’s financing 
toAfrica, including aid, createsbusiness for Chinese companies and employment 
opportunities for Chineselaborers, a critical goal of Beijing’s Going Out 
strategy.
Hasilnya, industri digital Cina pun berkembang sangat pesat. Sama seperti itu, 
Cina sekarang ingin menjadi “Silicon Valley-nya Indonesia”.
 

    On Saturday, November 3, 2018 7:29 PM, "Awind [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

      
  
https://nasional.tempo.co/read/1142727/tki-di-cina-lebih-banyak-jokowi-di-sana-yang-antek-indonesia/full&view=ok
  
 TKI di Cina Lebih Banyak, Jokowi: Di Sana yang 
 
 
Antek Indonesia 
   Reporter: 
Friski Riana
   Editor: 
Kukuh S. Wibowo
  Sabtu, 3 November 2018 16:02 WIB     Presiden Joko Widodo atau Jokowi 
menggunakan jaket model Parka produksi AME Raincoat saat membuka Ideafest 2018 
di JCC, Senayan, 26 Oktober 2018. Jaket itu baru Jokowi beli di ruang pameran 
dengan harga Rp 499 ribu. TEMPO/Ahmad Faiz  TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden 
nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi, mengklarifikasi tuduhan antek asing 
terhadap dirinya karena disebut-sebut mendatangkan tenaga kerja asing (TKA) di 
Indonesia. Menurut Jokowi, ia pernah diterpa isu bahwa Indonesia akan 
mendatangkan 10 juta tenaga kerja asing dari Cina. Padahal yang ia harapkan 
adalah kedatangan 10 juta turis dari Cina.  "Waktu saya ketemu dengan Presiden 
Xi Jin Ping, saya minta 10 juta (turis), tanda tangan dah 10 juta. Lah, ini 
yang dipikir 10 juta itu TKA dari Tiongkok. Yang dipelintir kan di situ," 
katanya dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional Relawan Pengusaha Muda 
Nasional di Hotel Fairmont Jakarta, Sabtu, 3 November 2018.  Baca: Jokowi 
Mendorong Pengusaha Muda Manfaatkan Peluang Sekecil ...  Jokowi menuturkan 
jumlah tenaga kerja asing yang ada di Indonesia tidak sampai 1 persen. 
Dibandingkan dengan negara lain, kata Jokowi, jumlah TKA di Uni Emirate Arab 80 
persen, Arab Saudi 33 persen, Brunei Darussalam 32 persen, Singapura 24 persen, 
dan Malaysia 5,4 persen. "Kita 0,03 persen. TKA yang mana? Tunjukkan," ujarnya. 
   Menurut Jokowi, TKA di Indonesia memang ada. Namun, kata dia, jumlahnya tak 
sebanyak tenaga kerja Indonesia yang ada di luar negeri. Ia menyebutkan TKA 
Cina di Indonesia sekitar 24 ribu orang. Sedangkan tenaga kerja Indonesia di 
Cina ada 80 ribu orang. "Belum ditambah yang di Hong Kong mungkin 200 ribu, 
Taiwan hampir 200 ribuan. Antek asing yang mana?" ucapnya.  Simak: Jokowi Minta 
Pengusaha Muda Berhijrah
 
 Jokowi pun berkelakar bahwa banyak antek Indonesia di luar negeri. "Kalau 
dibalik, ya, ini tenaga kerja kita di sana lebih banyak, berarti di sana yang 
antek Indonesia. Kalau bicara antek-antekan," tuturnya.  Dalam acara Rapat 
Kerja Nasional Relawan Pengusaha Muda Nasional, sejumlah tamu yang datang 
mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Jokowi dan Ma'ruf Amin..  FRISKI RIANA 
| ANTARA  
  
  
  
  
   

     #yiv9083899624 #yiv9083899624 -- #yiv9083899624ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-mkp #yiv9083899624hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-mkp #yiv9083899624ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-mkp ..yiv9083899624ad 
{padding:0 0;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-mkp .yiv9083899624ad p 
{margin:0;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-mkp .yiv9083899624ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-sponsor 
#yiv9083899624ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-sponsor #yiv9083899624ygrp-lc #yiv9083899624hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-sponsor #yiv9083899624ygrp-lc .yiv9083899624ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9083899624 #yiv9083899624actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9083899624
 #yiv9083899624activity span {font-weight:700;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9083899624 #yiv9083899624activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9083899624 #yiv9083899624activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9083899624 #yiv9083899624activity span 
.yiv9083899624underline {text-decoration:underline;}#yiv9083899624 
.yiv9083899624attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9083899624 .yiv9083899624attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9083899624 .yiv9083899624attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9083899624 .yiv9083899624attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9083899624 .yiv9083899624attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9083899624 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9083899624 .yiv9083899624bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9083899624 
.yiv9083899624bold a {text-decoration:none;}#yiv9083899624 dd.yiv9083899624last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9083899624 dd.yiv9083899624last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9083899624 
dd.yiv9083899624last p span.yiv9083899624yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9083899624 div.yiv9083899624attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9083899624 div.yiv9083899624attach-table 
{width:400px;}#yiv9083899624 div.yiv9083899624file-title a, #yiv9083899624 
div.yiv9083899624file-title a:active, #yiv9083899624 
div.yiv9083899624file-title a:hover, #yiv9083899624 div.yiv9083899624file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9083899624 div.yiv9083899624photo-title a, 
#yiv9083899624 div.yiv9083899624photo-title a:active, #yiv9083899624 
div.yiv9083899624photo-title a:hover, #yiv9083899624 
div.yiv9083899624photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9083899624 
div#yiv9083899624ygrp-mlmsg #yiv9083899624ygrp-msg p a 
span.yiv9083899624yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9083899624 
.yiv9083899624green {color:#628c2a;}#yiv9083899624 .yiv9083899624MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9083899624 o {font-size:0;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624photos div {float:left;width:72px;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9083899624
 #yiv9083899624reco-category {font-size:77%;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624reco-desc {font-size:77%;}#yiv9083899624 .yiv9083899624replbq 
{margin:4px;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-mlmsg select, #yiv9083899624 input, #yiv9083899624 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-mlmsg pre, #yiv9083899624 code {font:115% 
monospace;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-mlmsg #yiv9083899624logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-msg 
p#yiv9083899624attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-reco #yiv9083899624reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-sponsor 
#yiv9083899624ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-sponsor #yiv9083899624ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-sponsor #yiv9083899624ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9083899624 #yiv9083899624ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9083899624 
#yiv9083899624ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9083899624 

   

Kirim email ke