Di Fujian kami dibantu orang yang "menggojekkan diri gratis".
Kami serombongan dengan bus meninjau Rumah "Hakka" Tulou, bundar,
seperti benteng, dengan banyak jendela untuk memanah musuh. Pintu
masuk Tulou hanya satu besar, tebal, lapis besi. Sumurnya ada di dalam.
jadi kalau dikurung musuh tidak sampai mati kehausan.
Busnya berhenti di jalan besar, kemudian kami harus jalan kaki. Tidak apa2,
jalannya menurun.
Habis tinjau Tulou, kami makan di rumah makan sederhana, makanan Hakka.
Habis makan, mau balik ke bus. Ada lima orang minta pemilik rumah makan
panggilkan taxi, karena tidak sanggup jalan mendaki ke bus. Pemiliknya
bilang,
taxi adanya hanya di kota. Terus dia tawarkan diri memboncengkan kita
bergiliran
ke bus. Kami tanya berapa ongkosnya. Dia bilang, tidak usah. Gratis.
Ya, memang betul gratis, Waktu turunkan saya, saya mau beri, dia tetap
tidak mau.
Di Fujian juga, di rumah2 makan, kami mau beri tip. Mereka tidak mau
terima. Lain
dengan di tempat lain.
Teman saya menyelidiki tentang Tulou. Ternyata itu bukan buatan orang
Hakka, tetapi
benteng peninggalan jaman dynasti Tang yang kirim militernya mengamankan
yang
sekarang jadi Fujian, di bawah jendral Chen ( Tan Wan Kong ), yang baru
berumur 12 tahun,
menggantikan ayahnya yang meninggal dalam perjalanan. Dia dipimpin
neneknya, ahli
strategi militer.
Lain dari jendral2 yang pakai kekuatan pasukan, dia lebih banyak
membereskan dengan
perjanjian adil, assimilasi antara pendatang dengan suku asli, membuat
kemakmuran,
memberskan permusuhan.
Nah, benteng2 peninggalan ini kemudian didiami orang2 Hakka yang lari ke
selatan, setelah
daerah utara diserbu negara2 di luar tembok besar. Orang2 Hakka yang
pelarian dari
utara hanya dapat tempat2 jauh dari kota, di gunung2, sedangkan tempat2
subur
dan kota sudah didiami penghuni sebelumnya. Sampai2 orang di Tiongkok dulu
bilang, di
tiap gunung ada orang Hakkanya.



On Mon, 12 Nov 2018 at 07:32, Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:

>
>
> Bung Lin apa pernah naik Go Jek pengemudi wanita?
>
> On Sunday, November 11, 2018, 9:48:12 PM PST, Hsin Hui Lin <
> [email protected]> wrote:
>
>
> Bg BHJO.
> Gojek,
> Banyak pengemudi Gojek adalah wanita yg chusus untuk penumpang
> wanita......Dan kalau bg BHJ coba ngandol BG akan dikecewakan
>
> On 12 Nov 2018 10:02 a.m., "[email protected] [GELORA45]" <
> [email protected]> wrote:
>
>
>
>
> Go Jek rasanya cuman bisa jalan di-negara2 berkembang yg masih menggunakan
> sepeda motor sebagai ojek, mungkin seperti Vietnam, Thailand.
>
> ---In [email protected], <bhjo@...> wrote :
>
> Kutipan:"Negara tetangga kita takut sekali dengan yang namanya Go-Jek,
> takut banget, mereka ngomong ke saya kok, sehingga mereka menghambat setiap
> kita akan masuk ke pasar yang ada di sana," kata Presiden Jokowi di Kota
> Tangerang, Banten, Minggu malam".
>
> Tidak diterangkan kenapa takutnya atau apa motifnya negara lain tidak mau
> menganut Go-Jek. Pendapat saya sebagai orang Timur, tidak akan
> memperbolehkan anak perempuan saya naik Go-Jek dimana saja. Barangkali
> orang Barat juga akan berpendapat seperti saya dimana badan penumpang akan
> bersentuhan dgn pengendara yg tidak dikenal. Dan kelakuan pengendara tidak
> bisa diduga sebelumnya. Go-Jek dgn berlainan jenis kelamin harus dilarang..
>
> BH Jo
>
> 
>

Kirim email ke